Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA KERJA SAFA
Hari pertama kerja tiba dengan cerahnya matahari pagi. Safa bangun sangat pagi untuk mempersiapkan diri dengan seksama.
Dia mengenakan baju kerja baru – blus biru muda dan rok panjang warna abu-abu yang membuatnya terlihat profesional namun tetap cantik. Riki sudah menyiapkan sarapan hangat di meja makan.
"Semangat ya sayang!" ucap Riki sambil membawakan mangkuk bubur ayam yang hangat. "Ini sarapan kesukaanmu agar kamu punya energi yang cukup hari ini."
Safa tersenyum dan mengambil tangan Riki. "Terima kasih sudah selalu ada untukku. Tanpamu, aku tidak akan bisa sampai sejauh ini."
Setelah sarapan, Riki mengantar Safa sampai di depan gedung utama Innovate Solusi. Gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang modern membuat Safa merasa sedikit tertegun, namun dia segera mengingat nasihat Riki untuk tetap tenang dan percaya diri.
"Aku akan menunggumu pulang jam lima ya," ucap Riki dengan senyum. "Kalau ada yang kamu butuhkan, hubungiku kapan saja."
Setelah Safa masuk ke gedung, Riki segera pergi ke kantor kecil yang disewanya untuk mengganti pakaiannya menjadi seragam teknisi – kaos polo biru tua dan celana panjang hitam yang sudah dipersiapkan.
Dia mengambil peralatan perbaikan seperti obeng, kabel data, dan alat tes listrik, kemudian kembali ke gedung utama dengan berpura-pura sedang melakukan patroli rutin.
Safa diantar ke departemen administrasi oleh petugas resepsionis yang ramah. Ruangan kerja yang luas dan bersih dengan meja-meja yang teratur membuatnya merasa kagum.
Dia diperkenalkan kepada Kepala Departemen Administrasi, Bu Dewi, yang memberikan senyum ramah dan memperkenalkannya pada rekan kerja barunya.
"Selamat datang di tim kita Safa," ucap Bu Dewi dengan suara yang hangat. "Kita sangat senang bisa memiliki kamu di sini. Ini meja kerja kamu, di sebelah Kak Siti yang akan membimbingmu selama masa percobaan."
Safa merasa sangat diterima dengan baik. Rekan kerja barunya seperti Siti, Andi, dan Lina sangat ramah dan dengan senang hati membantu dia memahami tugas-tugas yang harus dilakukan.
Mereka menunjukkan cara menggunakan sistem komputer perusahaan, cara mengatur arsip dokumen, dan berbagai prosedur kerja yang harus diikuti.
Sementara itu, Riki sedang berpura-pura memperbaiki komputer di ruang kerja di lantai dua.
Dia sering melihat ke arah departemen administrasi yang berada di lantai tiga untuk memastikan bahwa Safa sedang baik-baik saja.
Karyawan yang sudah tahu tentang rahasia Riki sering memberikan informasi tentang kondisi Safa padanya.
"Bu Safa sedang belajar dengan cepat Pak Raka," ucap Kak Siti yang datang ke lantai dua untuk meminta bantuan memperbaiki printer. "Dia sudah bisa menginput data dengan benar dan bahkan sudah membantu menyusun laporan mingguan."
Riki merasa sangat senang mendengarnya. "Itu bagus sekali. Tolong bantu dia ya jika ada yang dia tidak mengerti. Saya juga akan siap membantu jika ada masalah dengan peralatan komputer."
Setelah selesai memperbaiki printer, Riki sengaja melalui koridor yang dilewati karyawan untuk pergi ke kantin.
Saat dia sedang berjalan, dia melihat Safa yang sedang membawa tumpukan berkas dokumen menuju ruang rapat. Safa melihatnya dan merasa wajahnya sangat mirip dengan suaminya.
"Maaf mas... apakah kamu baru di sini?" tanya Safa dengan sedikit ragu. "Wajahmu sangat mirip dengan suamiku lho."
Riki segera mengingat identitasnya sebagai "Raka" dan memberikan senyum ramah. "Saya memang baru beberapa minggu bekerja di sini Bu. Nama saya Raka Wijaya, teknisi kantor. Mungkin hanya kemiripan saja ya Bu, banyak orang bilang saya mirip dengan orang terkenal."
Safa mengangguk dengan senyum. "Ya mungkin saja mas. Terima kasih ya jika ada masalah dengan komputer nanti saya akan minta bantuan."
"Tentu saja Bu, silakan saja kapan saja," jawab Riki dengan tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tidak mencurigakan. Setelah Safa pergi, dia merasa sedikit lega karena berhasil menyembunyikan identitasnya dengan baik.
Pada jam makan siang, Safa pergi ke kantin bersama rekan kerja barunya. Mereka duduk di meja dekat jendela dan mulai berbincang tentang pekerjaan serta kehidupan sehari-hari.
Safa melihat "Raka" yang sedang makan sendirian di sudut kantin, dengan beberapa karyawan yang datang menyapa dia dengan sopan.
"Kenapa semua orang begitu hormat pada mas Raka ya?" tanya Safa pada Kak Siti. "Padahal dia cuma teknisi biasa kan?"
Kak Siti tersenyum. "Meskipun dia baru kerja tidak lama, tapi dia sangat pintar Bu. Hampir semua masalah teknis di kantor bisa dia selesaikan dengan cepat. Selain itu, dia juga sangat ramah dan suka membantu orang, jadi semua orang menghargainya."
Safa mengangguk dengan pemahaman. Dia merasa penasaran dengan pria yang wajahnya mirip suaminya, namun tidak terlalu banyak berpikir karena dia harus fokus pada pekerjaannya.
Pada akhir hari kerja, Safa merasa sangat senang karena telah menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepadanya.
Dia keluar dari gedung dan menemukan Riki yang sudah menunggunya dengan senyum lebar.
"Bagaimana hari pertama kerja mu sayang?" tanya Riki dengan penuh perhatian.
"Sangat menyenangkan!" jawab Safa dengan mata yang bersinar. "Rekan kerja saya sangat ramah dan pekerjaannya juga menarik. Dan tau tidak sayang? Ada teknisi di kantor yang wajahnya sangat mirip denganmu! Namanya Raka Wijaya."
Riki tertawa ringan. "Oh ya? Mungkin memang ada orang yang mirip dengan aku ya. Semoga dia bisa membantu kamu jika ada masalah dengan komputer ya."
Mereka pulang bersama sambil bercerita tentang aktivitas mereka sepanjang hari.