Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Makan
Pagi itu, meja makan di ndalem sudah penuh dengan hidangan nasi kebuli dan berbagai camilan tradisional. Suasananya begitu ramai; ada Abi, Umi, Ustadzah Aisyah, kedua kakak laki-laki Zayn beserta istri mereka, dan tentu saja keponakan-keponakan Zayn yang menggemaskan.
Zayn duduk di kursi kayu jati dengan wajah yang..meski mencoba terlihat datar, memancarkan aura kepuasan yang tidak bisa disembunyikan. Matanya sedikit sayu, namun ia tampak segar setelah mandi wajib kedua kalinya pagi itu.
"Zayn," panggil Aisyah sambil menuangkan teh, matanya melirik tajam ke arah adiknya dengan senyum menggoda. "Tadi Subuh Mbak lihat kamu jalannya agak buru-buru ke masjid. Kenapa? Takut ketinggalan jamaah atau..."
Abi dan Umi spontan tertawa kecil mendengarnya. Zayn hanya berdeham, pura-pura sibuk membetulkan letak pecinya.
"Mbak Aisyah ini bicara apa," sahut Zayn singkat, berusaha tetap wibawa.
"Loh, mana Abigail? Ini sudah jam sepuluh siang, masa belum keluar kamar? Apa jangan-jangan dia Sakit gara-gara suaminya terlalu bersemangat semalam?" goda kakak ipar Zayn yang satunya, membuat suasana semakin riuh dengan tawa.
Di tengah pembicaraan itu, Khalid, keponakan Zayn yang berumur 3 tahun, tiba-tiba berdiri dari kursinya. Bocah itu sangat menyukai Abigail karena sering diberi cokelat.
"Aunty Abby mana? Khalid mau gendong! Mau main sama Aunty Abby!" celoteh Khalid sambil menarik-narik ujung baju koko Zayn. "Om Zayn, panggil Aunty! Khalid rindu!"
Zayn menatap keponakannya, lalu melirik ke arah pintu kamar mereka yang masih tertutup rapat. Ia tahu persis kondisi istrinya di dalam sana. Semalam benar-benar luar biasa, dan ia sadar ia sedikit "berlebihan" memberikan pelajaran pada Abigail.
"Abigail lagi istirahat, Khalid. Aunty capek," ujar Zayn mencoba memberi pengertian.
"Nggak mau! Mau Aunty sekarang!" Khalid mulai merengek, membuat seisi meja makan menatap Zayn dengan tatapan menuntut.
Akhirnya, Zayn menyerah. Ia berdiri dan berjalan menuju kamar. Di dalam, ia menemukan Abigail masih meringkuk di bawah selimut, wajahnya pucat namun merona. Saat melihat Zayn masuk, Abigail langsung menatapnya dengan tatapan "ingin membunuh".
"Gus... aku benar-benar nggak bisa jalan. Kakiku rasanya gemetar semua," bisik Abigail parau. "Kamu jahat banget semalam, nggak kasih aku istirahat sama sekali."
Zayn justru tersenyum tipis, senyuman yang jarang diperlihatkan pada orang lain. Ia mendekat, lalu dengan lembut membantu Abigail duduk. "Khalid merengek di luar. Semua orang menunggu. Kamu harus keluar sebentar, Sayang."
"Tapi aku lemas!" protes Abigail.
Zayn tidak banyak bicara. Ia mengambilkan gamis Abigail, membantunya memakainya dengan sangat telaten, lalu memakaikan kerudung instan pada istrinya. Saat Abigail mencoba berdiri, ia hampir terjatuh jika Zayn tidak sigap menangkap pinggangnya.
"Sini," bisik Zayn. Ia merangkul bahu Abigail dengan sangat erat, menyangga sebagian besar berat badan istrinya agar Abigail bisa melangkah.
Saat pintu kamar terbuka dan mereka muncul di ruang makan, suasana mendadak hening sejenak sebelum pecah oleh suara Khalid yang berlari mendekat.
"Aunty Abby!"
Abigail berjalan sangat pelan, langkahnya terlihat agak kaku, sesuatu yang membuat para wanita di meja makan langsung saling pandang dan menahan tawa.
"Duh, pengantin baru jalannya sampai pelan-pelan begitu," celetuk Aisyah sambil menutup mulutnya. "Zayn, kamu itu kasih makan apa istrimu sampai lemas begitu?"
Wajah Abigail merah padam seperti kepiting rebus. Ia mencoba melepaskan rangkulan Zayn agar tidak terlalu mencolok, tapi Zayn justru semakin mempererat pegangannya.
"Sudah, jangan digoda terus," bela Umi Khadizah sambil tersenyum bijak. "Sini, Abby... duduk dekat Umi. Makan yang banyak ya, biar staminanya pulih."
Abigail duduk dengan sangat hati-hati, sementara Khalid langsung naik ke pangkuannya. Zayn duduk tepat di sampingnya, diam-diam di bawah meja, ia menggenggam tangan Abigail dan mengelusnya lembut, seolah meminta maaf sekaligus menunjukkan rasa bangganya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍