Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kejadian tidak terduga
"Baiklah, aku harus pergi dulu karena ada pertemuan dengan klien. Kalau telat, aku bisa dipecat." ucap Liora sambil bersiap bangkit dari kursinya.
Laki-laki di hadapannya itu menatap dengan tatapan datar yang sulit ditembus, namun suaranya melunak. "Hheemmm... tetap hati-hati. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa."
Liora menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap pria itu dengan binar jahil di matanya. "Ternyata kamu peduli juga padaku?"
"Tentu saja aku peduli padamu. Aku tidak ingin siapa pun menyakitimu." jawabnya tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Uuh, aku jadi terharu." canda Liora sambil berpura-pura mengusap air mata di sudut matanya.
"Dasar kamu ini." ucap laki-laki itu pelan sambil terkekeh, lalu tangannya terulur mengacak-acak pucuk rambut Liora dengan sayang.
Setelah itu, Liora bergegas meninggalkan laki-laki tadi untuk segera menuju kantor. Ia tidak boleh terlambat menghadiri pertemuan penting dengan klien besar pilihan bosnya.
Liora mengendarai mobilnya membelah keramaian jalanan kota. Hanya suara musik yang mengalun pelan di dalam mobil, menemani pikirannya yang sibuk menyusun rencana. Namun, saat ia melewati sebuah tikungan yang cukup sepi, pemandangan di depannya seketika membuatnya menginjak rem.
Tiga orang preman sedang menghadang seorang wanita paruh baya yang masih tampak elegan. Tas mewah wanita itu ditarik paksa hingga ia terduduk lemas di trotoar. Liora tidak bisa tinggal diam: ia segera turun dari mobil.
"Hei, kalian!" teriak Liora lantang.
Para preman itu menoleh dan tertawa sinis. "Jangan mengganggu urusan kami, gadis kecil!" ancam salah satu dari mereka.
Liora menatap wanita tua itu dengan iba, lalu kembali menatap para preman dengan dingin. "Aku tidak ingin mengganggu kalian. Tapi kalian benar-benar tidak punya hati. Badan besar dan berotot tapi memalak seorang wanita? Dasar memalukan!"
"Kenapa kita tidak sekalian bermain dengannya saja, Bos?" usul salah satu preman dengan tatapan kurang ajar.
"Bagus juga idemu. Sekalian kita bersenang-senang." jawab ketuanya sambil melangkah maju.
"Tidak! Jangan lakukan itu!" teriak wanita itu dengan suara bergetar. "Sebaiknya kamu pergi, Nak! Mereka membawa senjata tajam!"
Liora memberikan tatapan menenangkan. "Tidak apa-apa, tante. Aku akan membantumu."
"Banyak bacot!" Salah satu preman merangsek maju dan mencoba mencengkeram tangan Liora. Dengan gerakan kilat, Liora menangkap pergelangan tangan itu dan memutarnya dengan teknik kuncian mematikan. KREEK!
"Aarrggghh! Sialan!" Pria itu menjerit kesakitan sambil memegangi tangannya yang terkulai. Liora hanya memberikan smirk intimidasi. "Itu baru pemanasan." bisik Liora dingin.
Seketika salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat dan langsung menyerang Liora.
"Yah, Om... kenapa harus pakai senjata tajam?
Aku, kan, masih gadis kecil." ledek Liora menirukan kalimat yang mereka lontarkan. Wajahnya tiba-tiba berubah memelas dengan mata yang berkaca-kaca. Preman itu tertegun, mendadak merasa iba melihat kerapuhan palsu Liora.
Bodoh! cibir Liora dalam hati. Tanpa membuang sedetik pun, Liora melancarkan tendangan kilat tepat ke pergelangan tangan pria itu. Dughhh! Pisau lipat itu terlempar jauh ke udara sebelum menghantam aspal.
Wanita paruh baya itu berdiri dengan napas tersengal, menatap Liora dengan takjub. "Ya ampun, Nak... kamu benar-benar luar biasa." gumamnya.
Preman itu merogoh sesuatu dari balik pinggangnya—sebuah belati yang lebih besar.
"Kau akan menyesal telah ikut campur!" teriak sang ketua sambil berlari menerjang.
Liora tidak menghindar. Ia justru bergerak maju, menyelinap di bawah ayunan senjata pria itu, dan memberikan serangan siku tepat ke ulu hati sang ketua. Pria itu terbatuk hebat, namun sebelum ia sempat jatuh, Liora menarik kerah bajunya dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kalian pergi sekarang atau aku panggil polisi." bisik Liora pelan namun terdengar mengerikan di telinga mereka.
Liora kemudian mendorongnya hingga tersungkur di samping kedua temannya yang lain.
"Pergi sebelum aku benar-benar memasukan kalian kepenjara!" ancam Liora. Ketiga pria itu segera lari terbirit-birit, bahkan mengabaikan rasa sakit mereka.
Suasana kembali sunyi. Liora mengatur napasnya, lalu segera menghampiri wanita itu.
"Tante tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Liora, wajahnya kembali menjadi lembut dan penuh perhatian, seolah sosok tadi tidak pernah ada.
Wanita itu memegang tangan Liora dengan gemetar, matanya menatap Liora dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Tante tidak apa-apa, Nak. Terima kasih banyak. Kamu telah menyelamatkan tante. Siapa namamu?"
Liora tersenyum manis. "Nama saya Liora, Tan."
Wanita itu mengangguk-angguk kecil, masih tampak kagum. "Liora... nama yang indah. Aku ingin membalas kebaikanmu, Nak."
Liora baru saja hendak menjawab saat ia melirik jam tangan peraknya. Matanya membelalak seketika. "Astaga!" seru Liora sambil menepuk jidatnya dengan keras. "Aduh, aku bisa terlambat! Aku bisa dipecat kalau sampai telat di pertemuan ini!" gumamnya panik.
Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat perubahan ekspresi Liora yang mendadak cemas. "astaga! Kamu ada pertemuan penting, Nak?"
"Iya, tante. Maaf sekali, aku harus segera pergi sekarang juga. Tante benar-benar sudah aman, kan?" tanya Liora memastikan sambil mulai melangkah mundur menuju mobilnya.
"Tante aman, Nak. Pergilah! Kejar pertemuanmu!" ucap wanita itu sambil melambaikan tangan. Liora tidak sempat lagi berbasa-basi: ia masuk ke mobil dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan wanita itu yang masih menatap kepergiannya.
Sepuluh menit kemudian, Liora sampai di depan gedung perkantoran mewah. Ia berlari melewati lobi, merapikan rambut dan kemejanya yang sedikit berantakan akibat perkelahian tadi. Dengan napas tersengal, ia membuka pintu ruang rapat.
"Maaf, saya terlambat!" ucap Liora sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap bosnya yang sudah duduk di sana.
"Liora! Kamu ini bagaimana?" tegur bosnya dengan nada kesal. "Perkenalkan, ini Tuan Kevandra, klien utama kita."
Liora perlahan mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup kencang saat matanya bertemu dengan tatapan tajam dan dingin milik Kevandra. Pria itu duduk dengan angkuh, memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Maaf saya terlambat, tadi ada sedikit kendala di jalan." ucap Liora dengan professional.
"Tidak apa-apa." jawab Kevandra datar.
Kini Liora dan Kevandra berada dalam satu ruangan yang sama. Mereka duduk berhadapan di meja panjang ruang meeting, berkas-berkas terbuka rapi, suara Kevandra terdengar stabil memaparkan agenda. Namun di sudut ruangan, Kevandra tak sepenuhnya hadir dalam diskusi.
Pandangan Kevandra sesekali teralih pada Liora.
Ada sesuatu yang berbeda darinya hari ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak meeting dimulai, Kevandra menyadari satu hal yang membuat dadanya berdegup kencang—sementara Liora sedang berusaha terlihat baik-baik saja, padahal jelas tidak. Ia menyadari Kevandra diam-diam memperhatikannya.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag