Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. AMSALIR
Malam itu, setelah memastikan suasana paviliun sepi, Zhen Yi mengganti pakaian dengan pakaian serba hitam. Ia menyelinap keluar, melewati penjaga dengan gerakan yang sangat lincah hingga tiba di kamar kecil tempat tinggal Dayang Xia Yue.
Xia Yue baru saja hendak mematikan lampion saat sebuah tangan membekap mulutnya dan sebilah pisau dingin menempel di lehernya.
"Jangan berteriak jika kau masih sayang nyawamu," bisik Zhen Yi dengan suara mengancam.
Xia Yue gemetar hebat. Matanya membelalak saat melihat sosok di balik penutup wajah itu adalah Zhen Yi. "Selir ... Selir Zhen? Apa yang Anda lakukan?"
Zhen Yi tidak membuang waktu. Ia menekan pisaunya sedikit lebih keras. "Katakan padaku, di mana Permaisuri menyembunyikan Tabib istana yang dulu? Aku tahu kau adalah orang terakhir yang menemuinya sebelum dia menghilang."
Xia Yue menggeleng kuat-kuat dengan wajah pucat pasi. "Saya ... saya tidak tahu apa-apa, Yang Mulia! Saya bersumpah!"
Zhen Yi tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Xia Yue berdiri. "Jangan coba-coba berbohong padaku, Xia Yue. Aku tahu rahasia terbesarmu. Aku punya bukti kuat bahwa kaulah yang menaruh racun di anggur pengantin saat malam pernikahanku dulu atas perintah Permaisuri."
Mendengar hal itu, napas Xia Yue seolah terhenti. Ia tidak menyangka Zhen Yi memiliki bukti tentang kejadian fatal itu.
"Jika aku menyerahkan bukti ini pada Kaisar sekarang juga, bukan hanya kau yang akan dihukum mati, tapi seluruh keluargamu juga akan habis. Kau tahu betapa kejamnya Kaisar jika ada yang mencoba meracuniku," ancam Zhen Yi lagi.
Xia Yue jatuh terduduk di lantai, kakinya lemas. Ia tahu posisinya terjepit. Jika ia bicara, Permaisuri akan membunuhnya. Tapi jika ia diam, Zhen Yi akan membuatnya dihukum pancung oleh Kaisar.
"Cepat katakan! Di mana tabib itu?" bentak Zhen Yi dengan nada tertahan.
Dengan suara bergetar dan air mata mulai menetes, Xia Yue akhirnya menyerah. "Dia ... dia tidak dibunuh. Permaisuri menyekapnya di ruang bawah tanah di gudang tua di pinggir hutan istana. Tolong jangan bunuh saya, Yang Mulia ... saya hanya menjalankan perintah!"
Zhen Yi tersenyum puas. Ia mendapatkan apa yang ia cari. Tanpa sepatah kata pun, ia memukul tengkuk Xia Yue hingga dayang itu pingsan seketika agar tidak bisa melapor lebih cepat.
"Dali, urus dia. Pastikan dia tidak pergi ke mana-mana sampai aku kembali," perintah Zhen Yi kepada Dali yang rupanya sudah berjaga di luar pintu.
Zhen Yi segera melesat menuju gudang tua itu. Ia harus menemukan tabib itu hidup-hidup untuk mengetahui bagaimana ibunya mati.
Zhen Yi bergerak cepat menembus kegelapan menuju gudang tua di pinggir hutan istana. Benar saja, di sana ada empat orang pengawal yang berjaga ketat. Mereka adalah orang-orang suruhan Permaisuri Zi-Wei.
Zhen Yi tidak mau membuang waktu. Ia mengambil beberapa batu kecil dan melemparkannya ke arah semak-semak di sisi berlawanan.
Krosak!
"Siapa itu?" teriak salah satu penjaga. Dua orang dari mereka segera pergi memeriksa sumber suara.
Saat itulah Zhen Yi bergerak. Dengan gerakan yang sudah ia pelajari secara bertahun-tahun, ia muncul dari balik bayangan dan memukul titik saraf di leher dua penjaga yang tersisa. Tanpa sempat berteriak, mereka langsung pingsan.
Zhen Yi segera mendobrak pintu gudang yang sudah tua itu. Aroma pengap dan bau obat-obatan tua langsung menusuk hidungnya. Di sudut ruangan yang gelap, ia melihat seorang pria tua dengan tangan terikat dan mulut disumpal kain.
"Tabib Han?" bisik Zhen Yi sambil mendekat.
Pria tua itu mendongak dengan wajah ketakutan. Saat Zhen Yi membuka penutup wajahnya, mata Tabib Han membelalak.
Zhen Yi segera memotong tali pengikatnya. "Cepat bangun. Kita harus pergi dari sini sebelum penjaga yang lain kembali."
"Terima kasih ... Terima kasih, Nona," ucap Tabib Han dengan suara parau.
Baru saja mereka hendak keluar dari gudang, tiba-tiba terdengar suara tawa dingin dari arah pintu.
"Wah, wah ... ternyata Selir kesayangan Kaisar punya hobi menyelinap di malam hari," ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
Zhen Yi tersentak. Itu adalah Panglima pengawal Permaisuri. Di belakangnya, belasan prajurit sudah mengepung gudang tersebut dengan pedang terhunus.
"Serahkan tabib itu, atau kalian berdua tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi," ancam Panglima itu dengan kejam.
Zhen Yi menarik Tabib Han ke belakang tubuhnya. Ia menggenggam erat belatinya. Ia tahu, jika ia tertangkap di sini bersama tabib ini, Permaisuri akan memutarbalikkan fakta dan menuduhnya sedang merencanakan pemberontakan.