Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah yang terpendam
Beberapa jam kemudian. Adnan menerima panggilan dari ibunya. Pun itu setelah melewati beberapa panggilan tak terjawab.
"Adnan! Kamu dimana?!" Suara Mama terdengar menekan. Bahkan tanpa salam seperti biasa, wanita paruh baya itu langsung mencecar.
"Di kantor, Ma. Kerjaan lagi banyak banget. Bahkan?"
"Bisa-bisanya kamu lebih mentingin pekerjaan dan membiarkan istrimu harus menanggung rasa kehilangan anak kalian sendirian?!"
Deg!
"A-anak?" Adnan terbata. "Anak? Anak siapa yang Mama Maksud?"
"Allahu rabbi... jangan bilang kamu?" Mama hampir memekik. Terdengan hembusan nafas berat.
"Ma?" suara Adnan berubah.
"Cepat datang ke rumah sakit Elisabet dekat tempat kerja istrimu. Setelah itu kamu akan tau semuanya."
Panggilan terputus. Tubuh Adnan limbung. Selama ini Mama memang sering bahas Anak dan juga Zahra. Tapi Ia sama sekali tidak mendengarkan, dan malah justru terkesan mengabaikan hal tersebut. Adnan segera mengemasi barangnya, dan bergegas pergi menuju rumah sakit yang sudah di beritahukan tadi.
🥀🥀🥀
Langkah pria itu terasa berat saat memasuki kawasan rumah sakit. Ia tidak pernah berpikir, bahwa perbuatannya yang hanya sekali itu bisa menghasilkan benih yang tumbuh subur di dalam rahim wanita yang tak pernah ia tatap dengan cinta. Yang semula ia anggap sebagai basa-basi paska pernikahan agar dirinya tak terlalu berdosa karena telah mengabaikannya. Justru membawanya pada lembah penyesalan yang tak bisa lagi ia perbaiki.
Saat dirinya tiba. Semua berkumpul. Menunggu Zahra di ruang khusus bersalin sebelum dipindahkan ke bangsal perawatan paska proses pengambilan bayi dari dalam rahimnya.
Tatapan kesedihan ada di wajah-wajah yang ada di sana. Papa terutama Mama seperti menahan rasa tak enak hati pada besannya. Sementara Pak Huda nampak diam dan mengalihkan perhatian ke sudut lain.
Tak lama, pintu terbuka lebar. Dua orang perawat menarik dan mendorong ranjang dari arah yang berlawanan secara bersamaan. Tubuh lemah itu tidak memejamkan mata. Zahra bahkan tak banyak membalas tatapan semua orang. Kecuali suaminya yang kini berdiri tepat di depannya. Tatapan penuh amarah yang tertahan terus tertuju pada pria itu. Tangan Zahra terkepal kuat di bawah selimut. Air mata mengalir pelan hingga ke dekat telinga. Wajahnya pun berpaling sebelum semakin mendekat, dan akhirnya melewati tubuh pria itu.
Tubuh Adanan semakin kaku. Tatapan penuh penghakiman hampir semuanya tertuju pada Adnan. Wajar saja, mereka pasti kecewa karena dirinya tak ada di sisi Zahra. Dan datang dalam keadaan sudah sangat terlambat.
Saat semua sudah melewatinya. Mama dan Papa kini mendekati Adnan. Yang sepersekian detik berikutnya, tangan yang semula penuh kehangatan dengan ringannya melayang dan mendarat keras ke pipi Putra tunggalnya itu.
Adnan tak mengelak. Ia menerima bahkan saat ibunya memukulnya lagi, hingga ke tiga kalinya tangan yang sudah tak lagi mulus itu berhenti di udara.
"Kamu udah gila ya, Adnan? Bisa-bisanya kamu nggak tau kalau istrimu lagi hamil lima bulan bahkan sampai anak kalian meninggal dalam kandungan!" Tangis Mama pecah. Di sisinya Papa menenangkan istrinya. Karena takut Istrinya itu akan lepas kontrol.
Pria di hadapan mereka berdua membisu. kepalanya tertunduk. Rasa pedih berdenyut di pipinya akibat tamparan keras Mama tak begitu ia rasakan. Sebaliknya, hatinya masih tidak mempercayai bahwa istrinya hamil.
"Dasar nggak punya hati! Mama bener-bener nggak bisa percaya ini semua terjadi padanya. Ya Allah... Adnan!" Kedua tangan renta itu memukul-mukul bahu kekar putranya yang tak melawan sama sekali.
"Ma, udah..." Papa terus menahan emosi istrinya.
"Harusnya Mama nggak membiarkan mu menikahi Anaknya Pak Huda, kalau tau bakal kaya gini..."
"Ma... Ma... Udah. Yuk, sebaiknya kita ikuti keluarga Zahra. Ayo kita kesana aja." Papa beralih pandang pada Adnan. "Renungkan semuanya. Setelah itu naik ke lantai tiga ruang Betania 1, dan temui istrimu."
Beliau lantas membawa istrinya yang masih terisak sambil memegang dada, meninggalkan Adanan yang terpaku di tempat. Langkahnya perlahan terseret pelan. Ia duduk dengan lunglai di kursi besi yang bisa di pakai untuk empat orang.
Bisa-bisanya kamu nggak tau kalau istrimu hamil lima bulan, bahkan sampai anak kalian meninggal dalam kandungan!
Kalimat itu benar-benar menghantam dadanya. Beberapa cuplikan ingatan soal sang istri yang berusaha berbicara padanya mulai bermunculan. Adnan pun membuka ponsel. Mencari nomor Zahra yang ia sematkan. Di sana, ratusan pesan tak pernah ia buka sama sekali selama berbulan-bulan. Tangannya gemetar sebelum ibu jarinya menekan ruang chattingnya dengan Zahra.
Kedua mata Adanan melebar, dimana ibu jarinya menggeser pelan, membaca setiap pesan bahkan foto-foto usg yang di kirim Zahra. Termasuk USG terakhirnya. Air mata pria itu pun jatuh.
[Wajahnya belum begitu jelas. Si Dede juga belum mau memperlihatkan kelaminnya, Kak. Mungkin ia menunggu Ayahnya melihat sendiri.]
Tangis Adnan pecah. Ia meremas ponselnya dan bergegas berdiri. Ia harus segera bertemu Zahra.
...🍂🍂🍂...
Di ruang rawat...
Zahra hanya di temani Umi. Ia menolak siapapun masuk untuk sementara waktu. Bahkan sebenarnya, Ia hanya ingin sendirian, tapi Umi bersikeras tetap menemani Zahra di dalam kamarnya. Membujuknya untuk makan sesuatu atau setidaknya hanya sekedar minum saja.
"Minum dulu, ya, Teh... sedikit aja," pinta Umi.
Tapi Zahra tetap diam. Tiduran dalam posisi miring menghadap jendela besar yang ada di sebelah ranjangnya. Hingga pintu di ketuk dan perlahan terbuka sebelum sosok pria tinggi dan berbahu lebar itu menunjukkan wajahnya. Umi bangkit, ia memilih keluar. Meninggalkan keduanya di dalam.
Sekarang, di sana hanya tinggal mereka berdua. Langkah Adnan kini semakin maju. Mengikis jarak diantara keduanya. Kemudian duduk dikursi ibu mertuanya duduk tadi. Posisi Zahra saat ini masih membelakangi. Hingga beberapa menit awal, belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Adnan.
"Aku minta maaf, Zahra. Aku bersalah padamu, pada...." kata-kata Adnan tersendat. Ia harus menormalkan suaranya yang parau. "Pada calon anak kita."
Setelah kalimat terakhir di ucapkan. Tak ada lagi sura. Zahra masih membisu di tempatnya. Selain air mata yang terus membasahi pipinya. Tangan Zahra mengepal kuat karena sakit yang tak tergambarkan saat ini.
moga aja otor beri penyiksaan yang lebih sakit dari sakit hatinya zahra😭😭😭😭
untung ketemu faqih,kalo ngak ngak kebayang gimana padahal zahra perlu penangan cepat.
pdhl mending khlngan suami drpd anak/Cry/
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.