Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31.
Rizky sudah duduk di kursinya belum lama. Ia menelusuri daftar stok di layar lap top kios. Sesekali ia melirik ke arah Aurely yang baru saja berdiri tak jauh darinya, ponsel masih digenggam, wajahnya terlihat tegang. Dering ponsel masih terdengar.
“Diterima dulu,” ucap Rizky lembut tanpa menoleh. “Siapa tahu ada hal penting. Biar kamu juga bisa kerja dengan tenang.”
Aurely menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. Ia tahu Rizky tidak ingin mencampuri urusan pribadinya, tapi tetap memberi ruang aman.
Aurely lalu duduk di kursi kasir, tepat di dekat rak minuman dan etalase roti.
Kios masih sepi, Santi dan karyawan lainnya sedang bersiap siap. Sesekali motor lewat di depan kios tapi belum ada orang berkunjung ke kios.
“Iya… mumpung masih sepi,” gumamnya lirih.
Ia meraih ponselnya lagi. Tidak ada suara dering. Hanya notifikasi yang tertinggal: panggilan tak terjawab dari nomor asing. Tepat setelah itu, sebuah pesan masuk.
Nomor tak dikenal:
Rel, ini aku Riko. Kita harus bicara. Ini bukan cuma soal foto. Tolong jangan bikin ini makin ribet.
Dada Aurely menegang. Jarinya sempat ragu di atas layar, ingin menutup aplikasi, mengabaikannya. Tapi akhirnya ia menarik napas panjang dan membuka riwayat pesan.
Riko: Gue pikir… gue harus jelasin satu hal.
Riko: Foto bokap lo di pasar itu… bokap gue yang ambil.
Aurely menelan ludah.
Riko: Waktu itu bokap gue lagi tugas dinas ke Yogya. Lewat pasar, sopirnya berhenti mau beli air minum. Bokap gue kaget lihat bokap lo. Terus dia ambil foto.
Riko: Dikirim ke gue. Awalnya cuma buat cerita di tongkrongan. Tapi kebablasan.
Aurely membaca pesan-pesan itu berulang kali. Tidak ada permintaan maaf di awal. Tidak ada kata-kata manis. Tapi ada kejujuran yang telanjang, yang justru terasa lebih menyakitkan.
Aurely: Kenapa sembunyi-sembunyi?
Balasan datang cepat.
Riko: Gue tahu itu salah. Dan karena… jujur aja, gue pengen ngerasa lebih tinggi.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada ejekan mana pun. Aurely memejamkan mata. Ia teringat wajah Ayahnya—keringat yang menetes di pelipis, bahu yang kini sering sakit, senyum kecil yang selalu muncul setiap kali pulang kerja, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Riko: Gue nggak mikir sejauh ini, Rel. Lo bakal cek CCTV, lapor polisi. Gue waktu itu cuma mikir… “Untung bukan bokap gue.”
Aurely membuka mata. Dadanya terasa penuh, bukan hanya oleh marah, tapi juga lelah.
Aurely: Ayah gue kerja. Bukan minta dikasihani. Dan bukan buat jadi bahan pembanding hidup orang lain.
Lama tidak ada balasan. Waktu berjalan pelan, seolah ikut menunggu. Lalu satu pesan masuk.
Riko: Lo benar. Dan gue salah.
Riko: Gue cuma minta lo nggak memperpanjang urusan ini. Bokap gue juga marah ke gue.
Aurely menatap layar cukup lama. Dulu, mungkin ia akan menulis paragraf panjang—menumpahkan amarah, menuntut keadilan, ingin semua orang tahu betapa salahnya perbuatan itu. Tapi sekarang, rasanya ia sudah terlalu capek.
Ia mengetik satu kalimat saja.
Aurely: Terima kasih sudah jujur. Tolong hapus semua fotonya. Dan jangan ulangi ke siapa pun.
Tidak ada ancaman. Tidak ada drama.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Riko: Sudah. Dan… maaf, Rel.
Aurely mematikan layar ponsel.
Rizky yang sejak tadi memperhatikan dari balik catatan stok akhirnya menoleh penuh.
“Kamu kelihatan… lega.”
Aurely mengangguk pelan. “Riko sudah mengakui. Benar bokapnya yang ambil foto-foto Ayah.”
“Terus?” tanya Rizky singkat.
“Aku nggak marah lagi,” jawab Aurely jujur. “Capek.”
Ia terdiam sebentar, lalu menambahkan, “Aku juga bakal minta Ayah cabut laporannya.”
Rizky tersenyum tipis. “Itu tanda kamu sudah naik level.”
Aurely terkekeh kecil. “Level hidup desa?”
“Level dewasa,” koreksi Rizky ringan.
“Iya, Mas,” ucap Aurely sambil menarik napas lega. “Aku maafkan… supaya aku dan Ayah bisa fokus ke pekerjaan dan hidup baru kami.”
“Bagus,” sahut Rizky mantap.
Aurely memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil, lalu menyimpannya di laci meja kasir. Ia menyalakan layar komputer, merapikan posisi duduk, dan menatap kios yang perlahan mulai hidup.
Di tempat barunya ini, ia ingin bekerja tanpa beban lama. Dan setelah sekian hari menyimpan beban, kini dadanya terasa lebih ringan.
Waktu terus bergulir, satu persatu mahasiswa sudah mulai berdatangan membeli sarapan. Aurely menatap mereka. Mahasiswa mahasiswa dengan pakaian sederhana. Sangat berbeda dengan teman teman kampusnya dulu.
Menjelang siang kios semakin ramai.. Rizky tidak canggung canggung ikut turun tangan.. Ikut membungkus nasi, ikut membantu membuatkan minuman.
Aurley yang sibuk di meja kasir, sesekali menoleh ke arah Rizky. Dadanya menghangat..
Saat antrean mulai berkurang, Aurely baru sadar punggungnya terasa kaku. Ia menggeser posisi duduk, merapikan tumpukan uang kertas di laci kasir, lalu melirik layar monitor yang menampilkan daftar transaksi pagi itu. Kios masih ramai, tapi ritmenya sudah lebih teratur—suara pesanan dipanggil, Suara plastik dibuka, uang receh beradu, dan panggilan pesanan bersahutan—semua terasa… normal. Menenangkan.
“Pesanan nasi telur satu, roti cokelat dua,” panggil Rizky , suaranya jelas menembus keramaian.
Aurely mengangguk, menekan tombol cetak struk, lalu menyelipkannya ke nampan. Tangannya bergerak cepat dan rapi, kebiasaan yang baru ia sadari sudah mulai terbentuk.
Ia menyerahkan struk pada pelanggan berikutnya, senyum tipis terlatih terpasang.
Sesekali ia melirik ke arah Rizky. Lelaki itu masih mondar-mandir, membantu Santi membungkus nasi, mengambil roti dari etalase, sesekali bercanda ringan dengan pelanggan.
Singkat. Biasa saja. Tapi Aurely merasakannya. Sikap Rizky yang hangat pada siapa saja.
Tanpa Aurely sadari. Rizky juga sedang menoleh dan menatap diri nya.
Aurely menunduk cepat, pura-pura mengecek layar kasir. Dadanya berdebar kecil, bukan karena lelah.
Rizky tersenyum lalu melangkah mendekati Aurely, ia mencondongkan badan sedikit. “Kalau capek, bilang. Jangan sok kuat.”
Aurely mendengus pelan. “Mas Rizky juga jangan sok jago. Dari tadi nggak berhenti.”
Rizky tertawa pendek. “Kalau kios rame gini, capeknya beda. Capek yang bikin tidur nyenyak.”
Aurely diam. Ada benarnya. Capek hari ini bukan capek karena memendam amarah atau menahan malu. Ini capek yang jujur—capek bekerja.
Seorang mahasiswa menghampiri kasir, memesan roti dan kopi sachet. Setelah transaksi selesai, Aurely melirik jam di pojok layar. Sudah lewat tengah hari.
Ia baru sadar… sejak pesan terakhir Riko tadi pagi, ia belum sekalipun merasa ingin menangis. Itu bukan berarti lukanya hilang. Tapi mungkin, ia sudah berhenti mengorek-ngorek.
“Mas,” panggilnya pelan saat kios agak lengang.
“Hm?”
“Terima kasih ya. Tadi pagi.”
Rizky menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Justru itu,” jawab Aurely. “Mas nggak maksa, nggak ikut campur, tapi ada.”
Rizky terdiam sebentar. Lalu ia mengangguk kecil. “Kadang orang cuma butuh ditemani, bukan diselamatkan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, Aurely menyimpannya dalam-dalam.
Sore nanti ia masih harus pulang, mengatakan pada Ayah, menjelaskan soal laporan yang akan dicabut. Hidupnya belum sepenuhnya rapi. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa tertinggal atau kalah.
Ia hanya sedang berjalan. Pelan. Dengan langkahnya sendiri. Dan di kios kecil ini, di antara bunyi sendok dan tawa ringan, Aurely merasa… ia tidak sendirian.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting