NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:389
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Mantu!

Sepasang kaki berbalut sepatu dengan sol yang mulai menipis melaju di sepanjang koridor. Aroma obat-obatan bercampur desinfektan bukan lagi hal yang asing bagi penciumannya. Bahkan hidungnya sudah tak dapat menangkapnya karena terlalu sering menghirupnya.

Berlarian ke sana kemari juga sudah menjadi rutinitas wajib baginya. Jika tak begitu, dia tak akan dapat bertahan hidup. Baginya, pekerjaan adalah prioritas selain mengabdi kepada sang ibu.

Alana menghentikan langkahnya begitu sampai di ruang cuci darah. Dia menyerahkan beberapa lembar dokumen pasien rawat inap yang emang membutuhkan prosedur cuci darah hari ini.

"Ini aja, Sus?" tanya seorang perawat lain yang bertugas di ruang cuci darah.

Alana mengangguk. "Iya."

Lalu, perawat tadi mendongak. "Bukannya kemarin katanya ada sekitar tiga pasien yang masuk? Kok ini cuma dua pasien?" tanyanya lagi.

Alana menghela nafasnya. Hal ini bukan lagi yang pertama kali baginya. Setidaknya ada satu pasien yang berkurang setiap dia menyerahkan dokumen cuci darah. "Pasien nggak setuju buat prosedur ini."

"Keluarganya juga?" tanya perawat tadi.

Alana kembali mengangguk. "Setahu saya sih begitu."

Setelah mendapat jawaban tersebut, perawat yang bertugas di ruang cuci darah itu terdiam. Namun, ketukan berkas pada meja sudah pasti menunjukkan dia kesal. Tampak jelas dari sorot matanya yang berubah sinis.

"Kalau begini kan jadi kosong satu! Tahu gitu kemarin saya nggak perlu ngotot buat nambah bed di sini!" gerutunya kesal.

Alana tersenyum tak enak hati. Pasalnya, bukan dia yang menyetorkan jumlah pasien ke ruang cuci darah tadi pagi. Dia bahkan baru tahu kalau dia masih harus menunggu surat persetujuan dari salah satu keluarga pasien ang ternyata tak menyetujui prosedur ini.

"Maaf, Sus. Saya juga nggak tahu kalau bakal nggak disetujui," ucap Alana.

Perawat dengan beberapa dokumen di tangannya itu melirik ke arah Alana. "Saya nggak nyalahin kamu. Memang kebiasaan Suster Bintan yang ngerjain kerjaan setengah-setengah."

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Sus," pamit Alana sambil berjalan keluar dari ruang hemodialisa.

Alana bahkan tak mendengar sedikit pun jawaban dari perawat itu. Sudah pasti dia cukup kesal. Bukan padanya, tapi kepada Bintan yang sering kali tak mengerjakan tugasnya sampai tuntas.

Berbeda dengan sebelumnya, langkahnya lebih santai kali ini. Tak ada lagi lembaran dokumen pasien dalam pelukannya. Hanya beberapa botol infus kosong yang baru saja dia ganti dari kamar pasien lain. Alana bisa merasakan tungkainya menapak dengan baik kali ini.

"Alana!" panggil sebuah suara dari balik tubuhnya.

Bersama dengan itu, terdengar suara ketukan heels pendek yang berderap di sepanjang koridor dingin rumah sakit. Alana tentu mengenal suara dan tempo langkah kaki yang sering dia dengar beberapa waktu yang lalu. Hal itu membuatnya mengeratkan genggamannya pada botol infus kosong di tangannya.

Begitu tubuhnya berbalik, sebuah senyuman menyapa pandangannya. Seorang wanita dengan rambut yang disasak dan dicepol rendah begitu rapi. Sepasang anting berlian kecil menghiasi kedua telinganya. Serta satu kantung plastik dengan nama salah satu toko roti ternama di kota mereka, bergelayut di salah satu tangannya.

Alana tersenyum ramah. "Bu Ella," sahutnya pelan.

Mungkin semesta memang pandai mengatur agar takdir setiap manusia terjadi dengan rapi. Namun, Alana tidak yakin jika dirinya termasuk dalam daftar nama manusia dengan takdir mulus itu. Alana bahkan harus berhadapan dengan keadaan yang tidak dia harapkan berturut-turut.

"Kemarin anaknya, sekarang ibunya," bisik seseorang tepat di samping telinganya.

Betari yang entah muncul dari mana, tersenyum di samping wajahnya. Senyum yang entah mengapa tampak menyebalkan di mata Alana hari ini. "Kamu pura-pura nggak tahu aja!" desis Alana.

Betari mengangguk. Dia tarik satu garis horizontal di depan bibirnya guna mengunci setiap kata yang keluar dari sana. Lalu, dia ambil beberapa botol infus yang ada dalam genggaman Alana.

"Biar aku aja yang naruh. Kamu ladenin dulu calon mertuamu itu," ucap Betari sambil berlalu begitu saja.

Melihat Betari yang tersenyum singkat kepadanya sebelum pergi, Ella membalasnya dengan senyuman yang tak kalah cerah. Wanita itu bahkan melambaikan tangannya sejenak sebelum Betari benar-benar berlari menuju ruang jaga perawat.

Alana yang melihat kecocokan watak keduanya itu sedikit mengernyit heran. Kalau lebih sefrekuensi dengan Betari, mengapa Ella malah memilihnya?

"Saya ganggu kamu, Lan?" tanya Betari begitu sampai di hadapan Alana.

Alana yang pada dasarnya memang tidak enakan itu malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, Bu. Bu Ella kenapa ke sini?" tanyanya.

Wanita itu mengangkat kantung plastik berisi roti di dalamnya. Aroma wangi roti dan gurihnya abon seketika menguar di hidung Alana. Isi di dalamnya sudah pasti masih cukup hangat.

"Saya bawain ini buat kamu. Biar semangat kerjanya!" ujar Ella.

Melihat itu, Alana tentu saja tergiur. Makanan favoritnya kini ada di depan mata dalam kondisi hangat dan aroma yang masih tercium dengan jelas. Perempuan itu bahkan menelan ludahnya tanpa sadar.

Namun, sebelum dia benar-benar lupa diri, Alana bergegas menggeleng. "Aduh... nggak usah repot-repot, Bu. Lagipula, Pak Kinan kan juga udah nggak di rawat di sini."

Mendengar itu, Ella tersenyum geli. "Ini saya bawain bukan sebagai bentuk terima kasih dari keluarga pasien. Tapi ini saya bawain sebagai bentuk perhatian saya ke calon mantu."

Meski suara Ella tidak terlalu lantang, tapi Alana yakin beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka tentu mendengarnya dengan jelas. Ingin sekali Alana membekap mulut itu, jika tak mengingat bahwa manusia di depannya ini jauh lebih tua darinya.

"Aduh, Bu. Saya kan belum nerima permintaan itu," sanggah Alana atas sebutannya sebagai 'calon mantu'.

Senyuman Ella semakin mengembang. "Belum bukan berarti menolak, kan?" timpalnya.

Alana menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia bahkan membiarkan Ella meraih tangannya dan menautkan pegangan plastik berisi roti itu di antara jemarinya. Kebetulan juga dia hanya sarapan dengan sebungkus susu kedelai tadi pagi.

Ella yang melihat Alana bertingkah canggung seperti itu lantas menariknya untuk duduk di kursi besi yang ada di depan jajaran kamar rawat inap. Dia biarkan dulu Alana beradaptasi dengan kedatangannya yang tiba-tiba ini.

"Lagi pula, jangan panggil saya Bu Ella. Panggil saja Mama, sama kayak Kinan," ucap Ella.

Mendengar itu, Alana semakin mematung. Senyum canggung semakin pekat terulas di wajahnya. Matanya berusaha menghindar dari tatapan Ella, namun tak bisa. Wanita itu seolah memiliki daya tarik yang mampu mengunci lawan bicaranya.

Alana mengatupkan bibirnya sejenak. Entah bagaimana caranya dia menjelaskan pertemuan tak sengaja antara dirinya dengan Kinan kemarin. Serta bagaimana cara mengatakan bahwa Alana masih belum siap menjalin sebuah kehidupan pernikahan.

"Maaf, Bu. Kayaknya saya nggak bisa sama Pak Kinan," ujar Alana setelah hening yang cukup lama.

Setelahnya, Alana dapat melihat senyuman di wajah Ella perlahan luntur. Meski tak sepenuhnya, tarikan bibir itu mengecil di mata Alana. Seolah ada sebuah beban yang memaksanya untuk turun.

Ella menundukkan kepalanya. "Saya itu, cuma mau anak saya hidup bersama seseorang yang sangat paham tentang dirinya yang sekarang, Alana. Dan, saya cuma bisa percaya sama kamu sekarang."

Alana menggigit bibirnya, matanya menyipit kecil begitu mendengar penuturan Ella. Tentu dia tak enak hati begitu melihat seorang ibu yang kini sedang mengusahakan kehidupan anaknya agar tak begitu menyakitkan. Belum lagi kondisi mental Kinan yang tentu masih mudah goyah saat ini.

Mengingat bagaimana Kinan yang hampir tenggelam dalam traumanya kemarin, membuat hati Alana sedikit tersentuh. Dia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana seseorang yang masih mengalami trauma pekat seperti Kinan harus menjalani hidup seorang diri.

Mendapati Alana yang seolah tak goyah, Ella beranjak dari tempatnya. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Alana. Saya harap kamu kembali memikirkan keputusan itu."

Alana ikut berdiri. "Sebelumnya, saya berterima kasih atas rotinya, Bu. Bu Ella sudah repot-repot ke sini."

"Di makan ya, janga dibuang," sahut Ella, membuat Alana semakin tak enak hati. Seolah Alana seburuk itu di matanya.

Namun sebelum langkahnya semakin menjauh, sebelum bahu layunya tak lagi terlihat di mata Alana. Dia harus menghentikan kembali langkahnya. Seulas senyum kembali terbit samar di wajahnya begitu mendengar kembali suara Alana.

"Sepertinya, saya harus berbicara langsung dengan Pak Kinan soal ini, Bu. Biar nggak berat sebelah," ujar Alana.

Alana memilih jemarinya yang menggantung di depan tubuhnya. "Kira-kira, kapan saya bisa bertemu dengan Pak Kinan."

Setelah berhasil menahan senyumannya, Ella berbalik ke arah Alana. "Di dalam situ ada alamat apartemen Kinan, kamu bisa ketemu dia di sana," ucap Ella sambil menunjuk kantung plastik di tangan Alana.

"Hah?!" Alana gelagapan. "Saya nggak bisa dat--"

"Halo, Pak? Iya, saya sudah selesai kok ini. Saya keluar sekarang," potong Ella yang kini berbicara dengan seseorang lewat ponsel.

Wanita itu bahkan dengan mudahnya kembali tersenyum cerah. Sebelah tangannya melambai ke arah Alana. Bahunya yang semula layu kembali tegap. Sementara, kakinya melangkah dengan lincah meninggalkan Alana seorang diri di koridor yang dingin.

Alana mematung di tempatnya dengan mata terbelalak kaget. "Bukannya tadi sedih?" herannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!