Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Rencana Bertemu Pengacara
.
Jam 08.00 pagi, Almira sudah berdandan rapi dan siap untuk keluar rumah.
Di ruang tamu suasana masih tegang antara Bu Rosidah dan Lila. Almira melihat itu tapi ia tak peduli.
Rini yang melihat Almira hendak pergi, segera menghampiri dan bertanya penasaran, "Bu Mira mau ke mana?"
Almira melirik ke arah Trio Kwek Kwek lalu mendengus, memasang wajah judes dan memutar bola matanya seolah ia dan Rini bermusuhan.
"Untuk apa kamu bertanya? Sebenarnya kamu senang kan kalau aku keluar dari rumah ini selamanya?" tanya Almira, menatap sengit ke arah Rini.
Rini menggelengkan kepala berkali-kali, dengan ekor mata yang juga melirik ke arah ruang tamu. "Saya tidak seperti itu, Bu. Sungguh. Saya hanya butuh keadilan," ucap Rini memelas, padahal sebenarnya ingin tertawa..
Almira mencibir, tidak percaya dengan ucapan Rini. "Alah, pembohong. Padahal selama ini aku baik padamu. Tapi kamu…" bantah Almira sinis. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar rumah.
Lila mengejar langkah Almira dan memanggilnya membuat Almira terpaksa berhenti. "Ada apa?” tanya Almira Sabil bersedekap dan menatap sinis.
"Apa Mbak Almira akan membiarkan saja pernikahan itu benar-benar terjadi?" tanya Lila yang merasa Almira kali ini bisa menjadi sekutu.
"Bukankah kamu senang mendapatkan adik madu? Dan apa bedanya buat aku? Sudah punya satu adik madu, tambah satu lagi sepertinya nggak masalah.”
Lyla melawan ludahnya kasar. Tadinya dia pikir Almira bisa diajak kerjasama.
Almira tak lagi mempedulikan keberadaan Lila. Ia segera melangkah menuju mobilnya. Ia punya agenda yang harus mulai ia jalankan hari ini.
Lyla menatap mobil Almira yang menjauh dengan tatapan geram. "Dasar wanita bodoh! Pantas saja diselingkuhi. Seharusnya dia bisa membantah ibu mertua, kenapa malah menurut saja?”
.
Mobil Almira melaju membelah jalanan kota. Tujuannya adalah toko miliknya, sebuah toko pakaian besar yang sama sekali tak diketahui oleh keluarga suaminya.
Setibanya di toko, Almira langsung disambut oleh para karyawannya dengan senyum hormat. Ia membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat, lalu segera menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai dua.
Di ruang kerjanya, Almira mulai memeriksa laporan penjualan, membalas email dari para supplier, dan menyusun strategi pemasaran untuk meningkatkan omset toko. Ia juga menyempatkan diri untuk mendesain beberapa model pakaian baru yang akan segera diproduksi.
Tepat pukul 09.00 pagi, Sifa datang. Mereka memang sudah berjanji untuk bertemu sebelumnya. Almira menghubungi Sifa sebelum ia berangkat dari rumah.
"Almira," sapa Sifa.
Almira segera berdiri dari duduknya menyambut pelukan dari sang sahabat.
"Terima kasih, Fa," balas Almira. “Aku senang kamu datang."
"Kamu ini ngomong apa sih?” ucap Sifa, "kita ini berteman sejak kecil. Masalahmu akan menjadi masalahku juga."
“Aku benar-benar beruntung memiliki kamu," ucap Almira kembali memeluk Sifa.
"Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Sifa setelah mereka duduk berdampingan di sebuah sofa.
"Kalau kamu akan menggugat cerai sekarang, aku punya kenalan seorang pengacara hebat. Dia sudah menangani banyak kasus perceraian, dan dia tidak akan mengecewakanmu."
Sifa kemudian mengambil sebuah kartu nama dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Almira. "Ini kartu nama pengacaranya. Kamu bisa menghubunginya kapan saja. Dia akan membantu."
Almira menerima kartu nama yang disodorkan Sifa dengan tangan gemetar. Ia terkejut melihat nama yang tertera di sana. "Damar Prayoga, S.H., M.H.," bisiknya dalam hati. Ia tahu betul reputasi pengacara itu. Damar Prayoga adalah pengacara yang handal, dikenal dengan ketegasannya dan kemampuannya memenangkan setiap kasus yang ia tangani.
"Dari mana kamu mengenal pengacara ini, Sifa?" tanya Almira penasaran.
Sifa tersenyum misterius. "Tentu saja aku mengenalnya," jawab Sifa, dengan nada santai. "Perusahaan orang tuaku juga sering menggunakan jasa beliau untuk berbagai urusan hukum." Sifa sengaja tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa pengacara itu direkomendasikan oleh Revan, mantan kekasih Almira.
Almira mengangguk-angguk. Keluarga Syifa adalah keluarga konglomerat besar. Tidak heran jika memiliki hubungan kerja dengan pengacara Damar Prayoga.
“Aku ingin surat gugatan itu sudah ada saat hari pernikahan Gilang dan Rini," ucap Almira. "Aku ingin memberikan kejutan untuk Gilang."
Sifa tersenyum penuh arti. "Tenang saja, itu pasti bisa diatur," jawab Sifa meyakinkan. "Pengacara Damar adalah orang yang profesional. Dia akan melakukan apa pun untuk membantumu."
Almira mengangguk, merasa lega. Ia berharap, rencananya untuk menceraikan Gilang bisa berjalan lancar. Ia tidak ingin lagi hidup dalam pernikahan yang penuh dengan kepalsuan dan pengkhianatan.
"Terima kasih, Sifa," ucap Almira, dengan nada tulus. "Kamu benar-benar sahabat terbaikku."
Sifa memeluk Almira dengan erat. "Kamu tidak perlu berterima kasih, Almira," balas Sifa, dengan nada lembut. "Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."
*
Setelah Sifa pergi, Almira segera meraih ponselnya untuk menghubungi nomor yang tertera pada kartu nama Pak. Damar Prayoga. Jantungnya berdebar kencang, berharap pengacara terkenal itu menerima panggilan dan bersedia membantunya.
*
Sementara itu, di sebuah gedung perusahaan firma hukum yang megah, pengacara Damar Prayoga sedang membaca berkas perkara di ruangannya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah keheningan ruangan. Damar meraih ponselnya dan terbelalak mendapati nomor yang tertera di layar. Nomor itu sudah tersimpan di ponselnya dengan nama "Almira Abimanyu".
Ia ingat betul, nomor itu diberikan oleh Tuan Revan, seorang klien penting di firma hukum ini. Revan bahkan secara khusus mengatakan bahwa ia harus melayani Almira dengan baik.
"Almira Abimanyu," gumam pengacara Damar dalam hati, tidak menyangka, wanita yang disebutkan Tuan Revan itu akan menghubunginya secepat ini.
Dengan sedikit ragu, Pengacara Damar menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan tersebut. "Selamat pagi, dengan Damar Prayoga di sini," ucapnya ramah dan profesional.
Dari seberang telepon, terdengar suara seorang wanita yang terdengar sedikit gugup. "Selamat pagi, Pak Damar. Saya Almira Abimanyu. Saya mendapatkan nomor Anda dari teman saya, Sifa."
Pengacara Damar tersenyum tipis, sudah menduga bahwa Almira akan menyebut nama Sifa. "Ah, iya, Ibu Almira. Saya sudah mendapatkan informasi tentang Anda dari Ibu Sifa sebelumnya. Apa yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Anda, Pak" jawab Almira. "Saya ingin berkonsultasi mengenai masalah hukum yang sedang saya hadapi. Apakah Anda memiliki waktu luang dalam waktu dekat?"
Pengacara Damar berpikir sejenak. Ia sedang memiliki jadwal yang padat, tetapi ia tidak bisa menolak perintah Tuan Revan. "Begini saja, Ibu Almira, bisakah Anda memberikan alamat Anda? Kebetulan saya sedang longgar saat ini. Saya yang akan berkunjung ke tempat Anda," tawar Pengacara Damar.
Almira merasa terkejut mendengar tawaran itu. Ia merasa tidak enak hati karena pengacara itu yang harus datang ke tempatnya. "Oh, tidak perlu, Pak. Seharusnya saya yang datang ke kantor Anda. Saya tidak ingin merepotkan Anda."
"Tidak masalah, Bu Almira. Saya tidak merasa direpotkan sama sekali," pengacara Damar terkekeh kecil, berusaha meyakinkan Almira. "Apalagi, Ibu adalah teman dari Nona Sifa. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memberikan pelayanan yang terbaik."
Almira masih merasa ragu, tetapi ia tidak ingin menolak tawaran pengacara Damar. "Baiklah, Pak," jawab Almira, akhirnya. "Saya akan share alamat saya. Saya tunggu kedatangan Anda."
"Baik, Bu Almira. Saya akan berangkat sekarang juga.”
Pengacara Damar segera membereskan berkas-berkas yang tadi ia periksa. Urusan Tuan Revan lebih penting dari apapun.
*
*
*
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐