Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Di gerbang, beberapa guru berdiri berjejer.
Sebagian sibuk menyalami murid dan orang tua.
Sebagian hanya mengamati dari jauh.
Aku berjalan pelan melewati mereka.
Tidak ada yang menungguku.
Tidak ada yang memanggil namaku dengan bangga.
Namun langkahku hari itu terasa berbeda.
Bu Ratna tiba-tiba memanggilku.
“Senja.”
Aku berhenti. Menoleh.
Beliau tersenyum tipis, tapi sorot matanya hangat.
“Kamu tahu kenapa saya selalu minta kamu baca tulisanmu di depan kelas?”
Aku menggeleng pelan.
“Karena kamu punya suara. Dan suara itu tidak boleh hilang hanya karena keadaan.”
Aku terdiam.
Keadaan.
Kata itu terasa begitu dekat dengan hidupku.
Keadaan yang membuatku harus berjualan sepulang sekolah.
Keadaan yang membuat ibu menahan sakit tanpa pernah mengeluh.
Keadaan yang membuatku sering merasa tidak pantas bermimpi terlalu tinggi.
“Tapi hidup saya biasa saja, Bu,” jawabku lirih.
Bu Ratna menggeleng.
“Tidak ada hidup yang biasa jika dijalani dengan hati yang kuat.”
Kalimat itu menancap dalam.
Aku tidak tahu apakah aku benar-benar kuat.
Aku hanya tahu aku tidak punya pilihan lain selain bertahan.
Sebelum aku pergi, beliau berkata lagi,
“Jangan biarkan dunia menentukan seberapa jauh kamu boleh melangkah.”
Aku pulang dengan langkah yang lebih mantap.
Rumah kecil kami terlihat sama seperti kemarin.
Cat temboknya mulai pudar.
Atapnya sedikit bocor saat hujan deras.
Namun hari itu… rumah itu terasa berbeda.
Ibu masih menjemur pakaian.
Tangan kasarnya bergerak cepat, seolah lelah bukan bagian dari tubuhnya.
“Ibu…” suaraku sedikit bergetar.
Ia menoleh, wajahnya polos seperti biasa.
Aku menyerahkan kertas kelulusan itu.
Ibu membacanya perlahan.
Setiap huruf seperti ia rasakan satu per satu.
Ketika sampai di bagian hasil akhir,
ia berhenti.
Tangannya gemetar.
“Lulus…” bisiknya.
Aku mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku melihat ibu menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Tangis itu bukan karena sedih.
Bukan karena lelah.
Tangis itu seperti pelepasan dari bertahun-tahun kekhawatiran yang ia simpan sendiri.
“Ibu tidak bisa kasih kamu apa-apa, Nak…” katanya tersedu.
Aku langsung memeluknya.
“Ibu sudah kasih semuanya.”
Ia menangis di pundakku.
Dan aku sadar—
hari ini bukan hanya tentang kelulusanku.
Hari ini tentang perjuangan ibu yang tidak pernah berhenti.
Tentang ayah yang mungkin melihat kami dari tempat yang lebih tenang.
Tentang malam-malam panjang dengan lampu redup dan buku yang hampir usang.
Tentang doa-doa yang tidak pernah terdengar orang lain.
Sore itu, aku duduk di lapangan bersama Alfa.
Langit berubah jingga keemasan.
Angin sore berembus lembut.
“Kak…” panggil Alfa pelan.
“Kita sekarang sudah hampir jadi orang sukses ya?”
Aku tertawa kecil.
“Belum.”
“Terus kapan?”
Aku menatap langit.
“Mungkin sukses itu bukan tentang punya banyak uang.”
“Terus apa?”
“Bisa menyelesaikan apa yang kita mulai.”
Alfa terdiam, lalu mengangguk seolah mengerti.
Di kejauhan, Kak Rini berdiri di depan rumah.
Tatapannya sulit ditebak.
Dulu, tatapan itu selalu membuatku merasa kecil.
Seolah aku selalu kurang.
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini aku tidak merasa di bawah siapa pun.
Karena aku tahu…
aku sudah melewati sesuatu yang tidak semua orang sanggup lewati.
Kelulusan ini tidak langsung mengubah hidup kami.
Besok aku tetap harus membantu ibu.
Besok aku tetap harus memikirkan biaya untuk ke kota agar tidak membebankan ibu
Besok aku tetap akan bangun pagi dengan realita yang sama.
Tapi hari ini…
aku punya bukti bahwa aku mampu.
Mampu bertahan.
Mampu menyelesaikan.
Mampu melangkah meski takut.
Dan mungkin…
itulah awal dari perubahan.
Aku berdiri.
Menatap langit yang perlahan menggelap.
Namaku Senja.
Orang bilang senja adalah akhir dari hari.
Tapi mereka lupa—
Senja juga adalah tanda bahwa esok pasti datang.
Jika hari ini aku bisa menutup satu bab,
maka aku juga bisa membuka bab berikutnya.
Hidupku belum mudah.
Mimpiku belum tercapai.
Jalanku masih panjang dan berliku.
Tapi untuk pertama kalinya…
aku tidak takut lagi pada masa depan.
Karena sekarang aku tahu—
aku bukan hanya gadis yang bertahan.
Aku adalah gadis yang akan bangkit.
Dan suatu hari nanti…
dunia akan mengenal namaku bukan karena kasihan,
bukan karena cerita sedihku,
melainkan karena keberanianku untuk terus berjalan.
Langit semakin gelap.
Namun hatiku justru terasa terang.
Dan di antara langkah-langkah kecil menuju rumah,
aku berjanji dalam hati
Aku akan menulis takdirku sendiri.