"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Akhir dari Sebuah Kerajaan Kaca
Udara di dalam ruang tamu yang hancur itu terasa menyesakkan, dipenuhi bau mesiu dan debu dari plafon yang runtuh.
Elena berdiri mematung, menatap pistol yang disodorkan Eros. Berat benda logam dingin itu di telapak tangannya terasa seperti berat seluruh penderitaan yang ia tanggung selama ini.
Di depannya, Arkan bersimpuh, wajahnya yang biasanya angkuh kini basah oleh keringat dan air mata pengecut.
"Tarik pelatuknya, Elena..." suara Eros terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan kekasih, namun matanya yang gelap menatap Arkan dengan kebencian yang murni.
"Satu gerakan kecil, dan semua mimpi buruk mu berakhir. Dia tidak akan bisa lagi menjambak rambutmu, tidak akan bisa lagi meludahi mu, tidak akan bisa lagi mengancam ayahmu."
Arkan menatap moncong pistol itu, lalu beralih menatap mata Elena. "Elena... tolong... aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu... aku hanya ingin kamu kembali padaku..."
PLAK!
Bukan peluru yang keluar, melainkan tangan kiri Elena yang mendarat keras di pipi Arkan. Sebuah tamparan yang begitu kuat hingga kepala Arkan terlempar ke samping.
Elena mengembalikan pistol itu ke tangan Eros dengan jari yang gemetar, namun tatapannya sangat tajam.
"Membunuhmu hanya akan membuatku sama rendahnya denganmu, Arkan," suara Elena keluar, dingin dan stabil.
"Kematian terlalu mudah bagimu. Aku ingin kamu hidup. Aku ingin kamu hidup setiap hari dengan ingatan bahwa kamu telah kehilangan segalanya. Kamu kehilangan perusahaanmu, kamu kehilangan hartamu, dan yang paling penting... kamu tidak akan pernah memiliki jiwaku."
Eros tersenyum tipis, sebuah senyum bangga. Ia memberi isyarat pada anak buahnya.
"Kalian dengar Nyonya? Jangan bunuh dia. Tapi pastikan dia menyaksikan kehancurannya sendiri."
Anak buah Eros bergerak cepat. Mereka menyeret Arkan keluar, mengabaikan teriakan histeris pria itu yang memanggil-manggil nama Elena. Selin, yang sejak tadi bersembunyi di balik sofa, mencoba lari, namun salah satu anak buah Eros menahannya.
"Lepaskan aku! Aku tidak tahu apa-apa! Arkan yang melakukan semuanya!" teriak Selin, segera mengkhianati pria yang baru saja ia puja semalam.
Ibu Widya keluar dari kamar dengan wajah pucat, melihat rumah mewahnya sudah dikuasai oleh pria-pria bersenjata. "Apa yang kalian lakukan? Ini rumahku! Pergi kalian!"
Eros menatap Ibu Widya dengan pandangan meremehkan. "Rumah ini sudah disita atas kasus pencucian uang dan penggelapan pajak yang dilakukan anakmu selama tiga tahun terakhir. Besok, semua rekening kalian akan dibekukan. Silakan menikmati sisa hidup kalian di jalanan, Nyonya Besar."
Elena melihat sekeliling ruangan yang kini terasa asing baginya. Semua kemewahan ini ternyata hanyalah istana pasir yang dibangun di atas penderitaan orang lain. Ia merasa sangat lelah, seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis.
"Mari kita pergi dari sini, El," Eros mengulurkan tangannya. "Ayahmu sudah menunggumu di tempat yang aman."
Begitu mereka keluar dari gerbang rumah, Elena melihat sebuah tumpukan barang di halaman depan. Itu adalah semua gaun-gaun mahal, tas, dan perhiasan yang diberikan Arkan padanya.
Arkan dipaksa berlutut di depan tumpukan itu.
Eros mengeluarkan sebuah pemantik api perak. Ia menyerahkannya pada Elena.
"Ini adalah akhir dari masa lalu mu yang pahit, El. Bakar semuanya."
Elena menerima pemantik itu. Ia melangkah maju ke arah tumpukan barang yang melambangkan
"sangkar emas"-nya. Tanpa ragu, ia menyulutkan api pada salah satu gaun sutra yang paling mahal—gaun yang ia kenakan saat dipaksa melayani Selin tempo hari.
Api berkobar dengan cepat, melalap kain-kain mewah itu. Cahaya jingga menerangi wajah Elena, menghapus bayangan kesedihan yang selama ini menetap di sana.
Arkan berteriak saat melihat hartanya terbakar, tapi suaranya tenggelam oleh deru api dan angin malam.
"Ayo pergi," ajak Eros lagi.
Saat mereka masuk ke dalam mobil SUV hitam milik Eros, Elena menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Rumah itu tampak gelap, dengan api yang masih menyala di halamannya. Kerajaan Arkan sudah runtuh.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tenang. Eros menggenggam tangan Elena yang dingin, memberikan kehangatan yang selama ini ia rindukan.
"Eros..." bisik Elena.
"Ya, Sayang?"
"Apa ini nyata? Aku tidak sedang bermimpi di gudang itu, kan?"
Eros menarik tangan Elena dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Ini sangat nyata. Dan aku berjanji, tidak akan ada lagi pria yang berani menyentuh seujung rambutmu pun tanpa izinmu."
Mobil melaju membelah malam, meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan pahit. Namun, di tengah perjalanan, ponsel Eros bergetar. Ia melihat sebuah pesan masuk yang membuatnya mengernyitkan dahi.
Ia menatap Elena sebentar, lalu beralih menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras.
Ada sesuatu yang belum ia katakan pada Elena. Sesuatu tentang alasan sebenarnya mengapa ia menghilang selama lima tahun, dan siapa sebenarnya orang yang menjebak Ayah Elena dalam utang tersebut.
Eros menoleh ke arah Elena yang mulai tertidur di bahunya karena kelelahan. Di dalam hatinya, ia bergumam, "Maafkan aku, Elena. Arkan memang iblisnya, tapi aku... aku adalah alasan mengapa iblis itu bisa menemukanmu."
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya