Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Gagal Nikah
Bab 31
Gagal Nikah
Berkali-kali, dengan tangan gemetar, Dika mencoba menghubungi Lyra begitu ia dan Marina sudah berada di rumah dinasnya, bukan di kontrakan Lyra. Rumah dinas yang menjadi saksi bisu bagaimana hari-hari ia merindukan Lyra ketika mereka belum menjalin hubungan, kini rumah itu terasa asing dan hampa.
Meskipun Dika tak pernah lagi tidur di rumah dinasnya itu selama beberapa bulan terakhir, tetapi rumah itu tetap rapi dan bersih. Lyra selalu rajin membersihkannya, hingga sentuhan Lyra terasa di setiap sudut ruangan, mengingatkannya pada janji-janji manis yang pernah ia ucapkan pada Lyra.
"Ck!"
Dika berdecak kesal. Raut wajahnya menunjukkan campuran antara gusar, marah, kesal, dan juga gelisah. Sejak tadi, ia hanya mondar-mandir di depan ibunya yang duduk tenang di ruang tamu, mengamati tingkah laku anaknya dengan tatapan prihatin.
Perasaan cemas dan panik tak bisa lagi Dika tutupi. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, napasnya tersengal-sengal, dan kedua tangannya mengepal erat. Terlebih lagi, nomor kontak Lyra sama sekali tidak terhubung, hanya ada balasan operator yang menjawab "Nomor yang Anda hubungi sedang berada di luar jangkauan."
"Haaaah...!"
Dika membuang napas kasar sembari menghempaskan bokongnya di kursi yang tidak berada jauh dari ibunya. Dengan frustrasi, ia menjambak rambutnya dengan kasar sambil menatap layar handphone-nya, melihat pesan-pesan yang ia kirim namun tak kunjung dibaca oleh Lyra.
"Ada apa Dik? Jadi dimana wanita yang akan kamu nikahi itu?" tanya Marina pura-pura tidak tahu. Karena ia yakin Lyra sudah pergi sesuai apa yang telah di ceritakan Iqbal dan Novia mengenai rencana mereka.
"Aku nggak tahu Bu, tiba-tiba dia nggak bisa dihubungi. Rumah juga dikunci, jadi aku nggak tahu dia dimana," jawab Dika dengan nada putus asa, mengakui ketidakberdayaannya.
"Terus bagaimana?" tanya Marina, mencoba menyembunyikan rasa puasnya melihat Dika kebingungan.
"Nggak tahu lah Bu. Aku aja bingung. Ibu tunggu disini dulu ya, aku mau cari dia. Siapa tahu tetangga sekitar sini tahu," kata Dika dengan nada memohon, berharap ibunya bisa memahami situasinya.
"Jangan lama-lama Dik, Ibu laper."
"Nanti sekalian aku beliin Ibu makan malam. Ibu istirahat saja dulu di kamar ya."
Tanpa menunggu jawaban, Dika segera keluar dari rumah, mencari Lyra di sekitar kawasan rumahnya dengan langkah tergesa-gesa. Ia bertanya kepada beberapa tetangga, berharap ada yang melihat Lyra.
"Bu, apa Ibu ada lihat Lyra hari ini?" tanya Dika kepada Murti, ibu pemilik warung pertigaan dekat rumahnya, dengan nada penuh harap.
"Kayaknya dia pergi. Tapi Ibu nggak lihat sih, yang lihat itu Bu Dwi. Coba Pak Dika tanya dia saja," jawab Murti, mengarahkan Dika kepada tetangga di sebelah rumahnya.
"Baik Bu, terima kasih. Saya akan coba tanya ke beliau."
Murti mengangguk. Lalu memandangi Dika sampai jauh sembari celingak celinguk ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"Tok... Tok... Tok...!"
Dika mengetuk pintu rumah Dwi, tetangga yang tinggal tepat di samping rumah kontrakan Lyra.
"Tok... Tok... Tok...!"
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam."
Ketukan ke dua barulah pintu di buka.
Dwi mengerutkan dahinya begitu melihat Dika berada di depan pintunya.
"Ada apa ya Pak Dika?"
"Anu... Bu Dwi, saya mau tanya. Apa Bu Dwi tahu, Lyra kemana?"
Raut wajah Dwi langsung berubah, sinis. Rasa tidak sukanya terhadap hubungan kotor Lyra dan Dika terlihat jelas di wajahnya.
"Dia sudah pergi. Bawa tas gede pagi-pagi, nggak tahu pergi kemana."
Singkat, padat, jelas, dan menghantam dada Dika bagai palu logam. Mengguncang jiwa dan mimpi-mimpinya hingga runtuh, lalu hancur berantakan.
Tangan Dika terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras seperti batu, dan emosinya melonjak naik ke ubun-ubun yang siap meledak kapan saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa pamit kepada Dwi, Dika berbalik badan dengan kasar, dengan langkah kaki yang menghentak-hentak tanah ia berjalan cepat menuju rumah kontrakan Lyra.
Setibanya di depan pintu kontrakan, tanpa ragu sedikit pun ia mengangkat kakinya dan menendang pintu itu dengan keras, mendobraknya dengan brutal hingga engselnya jebol. Suara debuman keras itu memecah keheningan, menyebabkan kegaduhan yang luar biasa, hingga para tetangga dekat rumah itu berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Bahkan Marina yang sedang merebahkan diri di kamarnya pun ikut terkejut dan langsung keluar, mencari tahu dari mana asal suara gaduh itu.
Dika tak peduli dengan tatapan penasaran dan bisik-bisik tetangga. ia menerobos masuk ke rumah itu, dan mencari keberadaan Lyra di seluruh ruangan, bahkan ke kamar mandi. Nihil! Lyra benar-benar tidak ada.
Dengan napas terengah-engah, Dika lalu menuju lemari pakaian dan membuka kasar pintu lemari itu, membantingnya hingga nyaris lepas dari engselnya. Beberapa rak terlihat kosong, hanya menyisakan beberapa helai pakaian lusuh yang tidak berharga. Juga surat-surat penting milik Lyra, seperti kartu identitas dan surat berharga lainnya, tidak ada di tempatnya. Dan tas besar yang selalu ada di atas lemari pun, sudah tidak ada. Ucapan Dwi, tetangganya yang sinis itu, benar adanya. Lyra sudah pergi meninggalkannya, membawa serta seluruh harapan dan impiannya.
"AAARRGH!!" teriak Dika histeris, meluapkan seluruh amarah dan kekecewaannya.
Brakk...! Brakk...! Dengan brutal, ia meninju dinding kamar itu berulang kali, melampiaskan rasa sakit dan frustrasinya. Lalu, dengan lemas, ia bersandar di dinding dan merosot ke lantai dengan kedua tangan menjambak rambutnya kasar, mencabutinya dengan putus asa. Napasnya memburu dan dadanya sesak oleh amarah, kecewa dan patah hati.
"Lyra...." ucapnya lirih dan bergetar. Tangannya mengepal erat, seolah-olah itu adalah Lyra yang sedang ia genggam erat, tak ingin melepaskannya.
Tapi semua sudah terlambat. Lyra telah pergi tanpa jejak, menghilang entah kemana. Dan Dika pun tak tahu harus mencari kemana, bagaimana cara menemukan wanita yang telah mencuri hatinya dan kemudian menghancurkannya.
"Dika! Kamu ngapain sih?!" seru Marina dengan nada kesal, menarik Dika kembali ke dunia nyata. Ia menatap nanar ke arah anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya. Ia merasa malu dan bersalah melihat perilaku Dika yang sampai menjadi tontonan warga sekitar. Malu karena perilaku Dika yang selingkuh.
Dika membeku, tak mampu berkata-kata. Jangankan ingin merespon ibunya, bahkan ia tak tahu harus berbuat apa atau berkata apa, karena pikirannya hanya dipenuhi oleh Lyra, Lyra, dan Lyra. Otaknya terasa kosong, hampa, dan berputar-putar tanpa arah. Ia benar-benar kehilangan pegangan.
Dika merasa hidupnya telah hancur berkeping-keping, merasa dunia ini tak lagi memiliki warna dan kebahagiaan untuknya. Bahkan sosok istri dan anak yang telah ia miliki, yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaannya pun terasa hambar dan tak berarti. Mereka terlupakan, terabaikan, tak lagi dikenang oleh Dika, karena hatinya kini telah terisi penuh oleh Lyra, seutuhnya dan tanpa sisa. Sebuah obsesi yang menghancurkan segalanya.
-
-
-
Bersambung...
Like ya jangan lupa 😊