NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rafa Yang Runtuh

Kabar itu sampai pada Amara melalui telepon Ibu Marni yang terdengar sepuluh tahun lebih tua.

"Amara... Rafa," suaranya terputus-putus, seperti berjuang untuk berbicara. "Dia... di-force leave dari kantornya."

Amara sedang memotong pola kain di studio barunya, gunting besar di tangannya terhenti di udara. "Apa? Kenapa?"

"Minggu lalu, dia melakukan kesalahan besar dalam presentasi ke klien utama. Data yang salah, presentasi berantakan. Mereka bilang dia seperti tidak ada di sana. Dan itu bukan yang pertama.

Sudah beberapa bulan performanya turun drastis. Mereka khawatir, dan menyuruhnya cuti sampai... sampai dia stabil." Ibu Marni menarik napas berat.

"Aku menemukan dia di apartemennya (Rafa sudah pindah ke apartemen sementara seminggu yang lalu) dalam keadaan... tidak karuan. Ruangan berantakan, dia tidak mandi berhari-hari, hanya menatap tembok."

Gambaran itu sulit dibayangkan. Rafa, yang selalu terkendali, rapi, perfeksionis. Rapuh seperti itu.

"Apakah dia... apakah dia minum?" tanya Amara hati-hati.

"Tidak, syukurnya tidak. Tapi lebih buruk. Dia seperti... mati rasa. Aku harus memaksanya untuk makan. Dia bilang, 'Untuk apa, Bu? Aku sudah menghancurkan segalanya. Karir, keluarga, semuanya.'" Suara Ibu Marni bergetar.

"Amara, aku takut. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini."

Konflik batin yang liar mengamuk di dada Amara. Di satu sisi, suara kemarahan yang tua mendesis: Biarkan. Biarkan dia merasakan konsekuensi dari tindakannya.

Biarkan dia merasakan kehancuran yang dia ciptakan. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang lebih dalam, lebih manusiawi: sebuah rasa iba yang menusuk. Dia mengenal pria itu selama lima belas tahun lebih.

Dia pernah mencintainya. Dan melihat seseorang yang dulu begitu kuat, begitu percaya diri, hancur berantakan, terasa... salah. Bukan untuk Rafa, tapi untuk kemanusiaan mereka berdua.

"Ibu sudah coba apa?" tanya Amara, suaranya datar.

"Aku sudah cari bantuan. Seorang psikiater spesialis gangguan kecemasan dan burnout. Aku sudah buatkan janji untuknya besok. Tapi... dia butuh lebih dari itu. Dia butuh... alasan untuk peduli." Ibu Marni terdiam sejenak.

"Aku tahu aku tidak punya hak memintamu apa-apa. Tapi... tolong. Apapun perasaanmu padanya, dia adalah ayah Luna. Jika dia benar-benar... jika sesuatu terjadi, Luna yang akan menanggungnya."

Pukulan bawah itu akurat. Luna. Selalu Luna.

"Apakah dia mau menjalani terapi?" tanya Amara.

"Aku paksa. Aku bilang, kalau tidak, aku akan jemput Luna dan tidak akan izinkan dia bertemu lagi. Dia... mengangguk. Tapi matanya kosong."

Amara menutup mata. "Baik, Bu. Terima kasih sudah memberi tahu. Tolong jaga dia. Untuk Luna."

Setelah menutup telepon, ruangan studio yang biasanya penuh dengan potensi kreatif tiba-tiba terasa sempit dan sunyi. Dia melihat ke tangannya yang masih memegang gunting.

Di sinilah kekuatannya. Dalam tindakan memotong, membentuk, mencipta. Tapi di luar sana, di apartemen kumuh yang dia bayangkan, ada seseorang yang sedang hancur, tidak mampu membentuk apapun, bahkan dirinya sendiri.

Dua hari berlalu. Amara mencoba fokus pada penyusunan proposal untuk Anton. Tapi pikirannya melayang. Dia memeriksa ponselnya berkali-kali, setengah berharap, setengah takut, ada kabar dari Ibu Marni.

Hanya ada pembaruan singkat: Rafa sudah ke psikiater, mendapatkan resep, tapi masih sangat tertutup.

Hari ketiga, di sore hari yang gerimis, saat Amara sedang menyusun moodboard fisik untuk proposalnya, ada ketukan pelan di pintu studio besinya yang berat.

Studio A.M.R.A terletak di lantai dua, hanya bisa diakses melalui tangga luar yang sempit. Hanya sedikit orang yang tahu tempat ini. Sari, Ibu Dewi, dan... Rafa. Dia pernah diberi alamat saat berkoordinasi jadwal Luna, untuk keadaan darurat.

Jantung Amara berdetak kencang. Dia mendekati pintu, mengintip melalui lubang pengintip.

Rafa berdiri di luar, basah kuyup oleh gerimis. Dia tidak membawa payung. Dia mengenakan hoodie abu-abu yang lusuh dan celana jeans sobek—pakaian yang tidak akan pernah dipakai Rafa yang dulu.

Rambutnya basah dan berantakan, wajahnya pucat dan tertutup janggut yang belum dicukur selama beberapa hari. Yang paling mengganggu adalah matanya: kosong, lelah, dan penuh dengan sebuah kesedihan yang begitu dalam hingga hampir tak berwujud.

Amara membuka pintu.

"Mara," gumamnya, suaranya serak. "Aku... aku tidak tahu harus ke mana lagi."

Dia tidak meminta izin masuk. Hanya berdiri di sana, seperti anak yang tersesat.

Amara melangkah mundur. "Masuklah. Kamu basah."

Rafa melangkah masuk, air dari bajunya menetes ke lantai beton. Dia melihat sekeliling studio, matanya perlahan-lahan merekam rak-rak yang penuh dengan gulungan kain, meja kerja yang berantakan dengan sketsa, moodboard yang penuh warna. Ekspresinya bukan iri atau penilaian, tetapi sesuatu seperti kekaguman yang sedih.

"Tempatmu... bagus," ucapnya, seolah-olah sulit menemukan kata.

"Terima kasih." Amara meraih handuk kecil dari kursi kerjanya, melemparkannya padanya. "Duduklah."

Rafa duduk di bangku kayu sederhana di dekat jendela, mengusap wajahnya dengan handuk. Keheningan menggantung, hanya diisi oleh suara hujan di atap seng dan tetesan air dari bajunya.

"Aku di-force leave," katanya tiba-tiba, menatap lantai.

"Aku tahu. Ibumu telepon."

"Karirku... mungkin habis. Aku tidak peduli." Dia mengangkat bahunya, sebuah gerakan yang hampa.

"Aneh, ya? Dulu, itu segalanya. Tapi sekarang... rasanya seperti mencoba mempertahankan pasir di kepalan tangan. Semakin kencang aku menggenggam, semakin banyak yang jatuh."

Amara duduk di kursi kerjanya, menjaga jarak.

"Ibumu bilang kamu mulai terapi lagi."

"Iya. Psikiater. Dia bilang aku punya... generalized anxiety disorder yang parah, dan kecenderungan workaholism sebagai mekanisme koping. Dan... dan masalah dengan keintiman dan kepercayaan yang merusak semua hubunganku." Dia mengatakannya dengan datar, seperti melaporkan diagnosa mesin.

"Semua ini... sudah ada sejak lama. Sejak sebelum menikah. Aku hanya pandai menyembunyikannya, bahkan dari diriku sendiri."

Dia menarik napas dalam-dalam, menatap tangannya yang gemetar. "Terapisku bertanya: apa yang paling aku sesali? Aku bilang, kehilanganmu dan Luna. Lalu dia bertanya lagi: apa yang lebih dalam dari penyesalan itu? Aku tidak tahu. Dan dia bilang, 'Cobalah jujur. Bahkan jika itu membuatmu tampak buruk.'"

Rafa mengangkat wajahnya. Mata yang kosong tadi kini dipenuhi oleh air mata yang tidak jatuh.

"Yang lebih dalam dari penyesalan... adalah rasa malu. Malu yang melumpuhkan. Karena aku tahu, Mara. Aku tahu sejak awal aku tidak cukup baik untukmu. Aku tahu aku tidak bisa memberimu kebahagiaan yang kamu butuhkan."

"Aku bukan pria yang kuat dan percaya diri seperti yang kuproyeksikan. Aku adalah seorang pengecut yang takut gagal, takut tidak cukup, takut ditinggalkan. Jadi, aku membangun tembok. Dengan pekerjaan, dengan image, dengan... dengan Yuni."

"Semuanya untuk menutupi fakta bahwa di dalam, aku hancur. Dan aku membiarkan kamu—orang yang paling aku cintai—merasa bahwa kamulah yang tidak cukup, bahwa kamulah penyebab kehancuran kita, padahal itu adalah aku. Selama ini."

Pengakuan itu keluar seperti darah dari luka yang sudah terlalu lama dibebat. Tidak dramatis, tidak memohon simpati. Hanya jujur. Dan dalam kejujurannya yang pahit itu, Amara melihat kebenaran yang tertinggal.

"Kamu mengorbankan kami, untuk melindungi ego-mu," gumam Amara, bukan sebagai tuduhan, tapi sebagai pemahaman.

"Iya. Dan itu adalah pilihan terburuk dalam hidupku." Air mata akhirnya jatuh, meluncur melalui janggutnya yang kusut.

"Aku sedang belajar untuk jujur, bahkan jika itu menyakitkan. Dan aku mau kamu tahu, aku sangat menyesal. Bukan hanya menyesal karena ketahuan. Tapi menyesal karena telah menjadi orang yang bisa menyakiti seseorang seperti kamu. Menyesal karena telah merampas tahun-tahun bahagiamu. Menyesal karena membuat Luna melihat ayahnya sebagai seorang penipu."

Dia berdiri, gemetar. "Aku tidak datang ke sini untuk memintamu kembali. Aku tidak pantas. Aku datang karena... karena kamu adalah orang yang paling mengenal aku, sebelum aku sendiri mengenal diriku. Dan aku perlu mengatakannya pada seseorang yang tahu betapa besarnya pengakuan ini. Bahwa aku hancur. Dan itu salahku sendiri."

Amara duduk terdiam, badai emosi mengamuk di dalamnya. Kemarahan masih ada, tapi sudah tidak membara—lebih seperti bara yang padam. Rasa iba menguat, tapi itu berbahaya.

Yang paling kuat adalah sebuah rasa... kepedihan yang dalam untuk manusia di depannya, dan untuk diri mereka berdua yang telah tersesat begitu lama.

"Kamu harus sembuh, Rafa," ucapnya akhirnya, suaranya lembut. "Bukan untuk aku. Bukan juga hanya untuk Luna. Tapi untuk dirimu sendiri."

"Apakah... apakah mungkin?" tanyanya, dengan keraguan seorang anak.

"Aku tidak tahu. Tapi kamu harus mencoba. Karena jika tidak, penyesalan ini akan memakanmu hidup-hidup. Dan Luna butuh ayah yang utuh, bukan hantu."

Rafa mengangguk pelan, seperti menyerap kata-katanya. "Aku akan mencoba. Aku berjanji padamu. Dan... terima kasih. Untuk mendengarkan."

Dia berbalik menuju pintu, lalu berhenti.

"Studio-mu sangat mencerminkan dirimu. Kuat. Penuh warna. Tidak sempurna, tapi... sangat hidup. Aku senang kamu memilikinya."

Kemudian dia pergi, menuruni tangga basah, menghilang dalam gerimis sore.

Amara tetap duduk di kursinya untuk waktu yang lama. Hujan telah reda, meninggalkan udara yang dingin dan segar. Dia melihat titik-titik air di lantai beton tempat Rafa tadi berdiri, perlahan-lahan menguap.

Dia tidak memaafkannya. Tidak malam ini. Tapi sesuatu telah bergeser. Dinding yang selama ini dia bangun untuk melindungi dirinya dari Rafa, tiba-tiba terasa tidak lagi diperlukan.

Karena ancamannya bukan lagi dari luar. Ancaman terbesarnya sudah berlalu. Dan yang tersisa adalah dua orang yang luka, masing-masing berusaha sembuh dengan cara mereka sendiri.

Dia mengambil ponsel, mengirim pesan pada Ibu Marni: "Rafa baru saja ke sini. Dia bicara. Dia terdengar jujur. Tolong terus dukung terapinya."

Balasan datang cepat: "Terima kasih, Amara. Aku akan."

Lalu, dia melihat ke moodboard di depannya. Di antara potongan kain dan gambar, ada sebuah foto polaroid lama yang dia selipkan: dirinya dan Rafa di pantai, tertawa, matahari terbenam di belakang mereka.

Dia mengambil foto itu, memandanginya sebentar. Lalu, dengan hati-hati, dia merobeknya menjadi dua, tepat di tengah-tengah tubuh mereka. Dia menyimpan bagian dirinya sendiri, dan meletakkan bagian Rafa di samping, tidak dibuang, tetapi dipisahkan.

Itu bukan sebuah tindakan kemarahan. Itu adalah sebuah pengakuan. Mereka pernah menjadi satu gambar utuh. Sekarang mereka adalah dua bagian terpisah.

Dan mungkin, dengan masing-masing bagian itu, mereka bisa membentuk gambar baru yang berbeda—mungkin tidak lagi bersama, tapi setidaknya, utuh pada diri mereka sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Amara berdoa untuk kesembuhan Rafa. Bukan karena dia mencintainya lagi, tapi karena dia menginginkan kedamaian—untuk ayah putrinya, untuk mantan suaminya, dan pada akhirnya, untuk dirinya sendiri juga.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!