NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 - Makam yang bernapas

Perjalanan dari kamp bandit memakan waktu berjam-jam. Yang terpikir hanya bagaimana cara agar cepat sampai ke tempat aman, bahkan nasib para pedagang yang terpisah sudah tak lagi kupikirkan.

Kami tiba di pinggiran Paleside saat tengah malam. Kegelapan pekat menyelimuti, hanya dipecah oleh cahaya dari kejauhan. Pohon-pohon Palliton yang menjadi benteng alami desa itu seharusnya berpendar rapi, namun kini cahayanya tampak ompong. Ada bagian-bagian gelap yang menganga di barisan pohon itu.

Saat kami semakin dekat, firasat buruk menyergapku.

Gerbang desa dijaga ketat oleh barikade kayu kasar yang didirikan dengan tergesa-gesa. Cahaya ‘ompong’ itu ternyata karena batang-batang Palliton yang patah dan tumbang

Beberapa obor yang menyala di atasnya menampakkan wajah para penjaga berseragam Sentinel Corps. Pakaian biru tua mereka sobek dan kotor, beberapa lengan terbalut perban darurat. Dari postur dan wajah mereka yang masih sangat muda, aku bisa melihat ini bukanlah pasukan veteran, melainkan kadet-kadet yang belum berpengalaman, terlempar ke dalam situasi yang jauh di luar keseharian mereka.

"Berhenti! Siapa kalian?" seru seorang kadet dari atas barikade. Suaranya berusaha terdengar tegas namun getar ketakutan di dalamnya tak bisa disembunyikan.

"Aku seorang Tarker. Dia warga desa sini, bagian dari rombongan dari Wayford!" sahutku. "Kami baru melarikan diri dari tawanan bandit hutan!"

Pemuda di atas barikade itu menatap kami tajam. "Kalian rombongan logistik?"

Ia mengenali wajah Fiora. Ekspresi pemuda itu berubah pahit, campuran antara lega dan sedih. Ia memberi isyarat pada rekan kadetnya.

"Buka jalan untuk mereka."

Saat kami melangkah masuk melewati celah barikade, Fiora mencengkeram lenganku erat-erat. Matanya membelalak ngeri.

Suasana di dalam desa jauh lebih buruk dari bayangan terliar kami.

Tak tampak lagi sebuah desa, lebih seperti sebuah makam yang masih bernapas. Bau hangus yang menusuk hidung dan bau anyir darah bercampur dengan aroma samar Elixir oles. Banyak rumah hanya menyisakan kerangka-kerangka hangus yang mencuat ke langit malam seperti jari-jari hitam yang kurus.

Jalanan yang dulu rapi kini dipenuhi puing—pecahan genteng, kayu yang patah, dan perabotan rumah tangga yang hancur. Warga desa yang kami lewati bergerak seperti bayangan di antara reruntuhan, mata mereka kosong dan langkah mereka berat, seolah jiwa mereka telah ikut terbakar bersama rumah mereka.

Pemuda yang tadi menyapa kami dari atas barikade menghampiri kami. Wajahnya pucat dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang merah karena kurang tidur.

"Aku Percival Ironhelm, Kadet Senior Sentinel Corps" katanya memperkenalkan diri. Tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya terlihat sedikit gemetar. “Aku yang memegang komando sekarang."

"Bukankah harusnya ada Aegis Legion yang menjadi komandan?" tanyaku, merasa janggal dengan situasinya.

"Beliau Tewas," jawab Percival singkat, tatapannya kosong. "Decurion kami tewas saat mencoba melindungi warga di gerbang."

“Bagaimana dengan kepala Desa?”

“Kepala Desa menghilang saat kejadian, baru ditemukan tadi pagi tak bernyawa, sekitar 100 meter di belakang desa.” Jawabnya lesu.

Aku terdiam.

Seorang Decurion adalah komandan regu—pangkat komando tertinggi di pos terpencil seperti Paleside ini. Kepala pemerintahan juga tidak ada. Aku melirik ke arah para kadet lain yang berjaga; jumlah mereka jauh lebih sedikit dari yang seharusnya, dan perlengkapan mereka tampak usang. Beban pertahanan seluruh desa kini jatuh di pundak anak-anak muda yang kelelahan dan ketakutan ini.

Fiora tidak lagi mendengarkan.

Ia langsung berlari menyusuri jalanan yang gelap menuju area rumahnya. Tanpa pikir panjang, aku mengikutinya dari belakang.

Kami berlari melewati jalanan utama yang kini lebih mirip jalur rintangan. Kakiku harus lihai menghindari puing genteng tajam dan balok kayu yang masih berasap. Fiora berlari dipenuhi kepanikan membabi buta, hanya fokus pada satu tujuan: rumahnya.

Sementara, mau tidak mau, mataku yang terlatih sebagai Tarker, menyerap detail mengerikan di sekeliling kami.

Saat kami melewati fondasi sebuah rumah kecil yang telah rata dengan tanah, hanya menyisakan tumpukan arang dan abu, sesuatu menarik perhatianku. Tergeletak miring di atas tanah yang menghitam, sebuah mainan kayu kecil berbentuk Kuda Batu. Salah satu kakinya telah patah, catnya yang dulu ceria kini melepuh dan mengelupas, dan separuh badannya hangus terbakar.

Pemandangan itu, terasa lebih menghantamku daripada melihat seluruh rumah yang terbakar. Kehancuran dalam skala besar terasa abstrak, tapi entah kenapa, satu mainan yang hangus ini terasa begitu nyata.

Kami tiba di sebuah jalan kecil, dan Fiora berhenti mendadak.

Rumahnya... atau apa yang tersisa dari rumahnya... telah hancur.

Dinding depannya roboh, memperlihatkan bagian dalam yang porak-poranda. Kayu-kayu penyangga atap hangus menghitam. Fiora berlari masuk, langkahnya terhenti di ambang sebuah kamar.

Aku melihat ke dalam. Itu kamar tidur yang rapi, kini dipenuhi serpihan kayu dan debu. Tempat tidur di sudut ruangan, yang biasanya menjadi tempat ibunya beristirahat, kini kosong dan sebagian rangkanya patah.

Fiora berdiri mematung, tampak bingung. Namun, ia berusaha keras untuk tegar, menahan air matanya agar tidak tumpah.

"Pasti... pasti Ibu ada di balai desa," bisiknya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Dia pasti mengungsi ke sana."

Aku hanya mengangguk, meskipun penuh ragu.

Kami berdua pun langsung berlari menuju balai desa. Semakin dekat kami, semakin jelas suara-suara penderitaan yang coba diredam.

Saat kami tiba di balai desa yang terbuka lebar, pemandangan di dalamnya membuat perutku terasa mulas. Tempat yang seharusnya menjadi pusat komunitas yang hangat itu kini telah berubah menjadi pengungsian darurat yang menyedihkan.

Udara terasa berat dan pengap, dipenuhi bau Elixir oles yang tajam, aroma anyir darah, dan keputusasaan. Toples air berisi Ikan Mas Mata Pijar, yang memberikan penerangan putih susu dari pancaran matanya yang besar. Ada juga lentera minyak yang digantung seadanya memancarkan cahaya kuning yang gemetar, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan menakutkan di dinding.

Di atas lantai kayu, puluhan warga desa terbaring di atas tandu darurat atau tumpukan jerami yang dilapisi selimut, rintihan pelan dan isak tangis yang tertahan menjadi musik latar dari tragedi ini.

Fiora berdiri terpaku sejenak, wajahnya pucat pasi melihat skala kehancuran ini. Lalu, dengan napas yang tertahan, ia mulai bergerak mencari.

Matanya memindai setiap wajah dengan panik. Ia melewati seorang kadet Sentinel yang sedang dengan canggung mencoba membalut luka seorang pria tua. Ia melangkahi puing-puing kursi yang hancur.

"Ibu?" bisiknya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan oleh rintihan para korban.

Kepanikannya mulai terlihat jelas saat ia bergerak semakin dalam, mencari sosok yang dikenalnya di antara deretan tubuh yang terluka.

Hingga akhirnya, di sebuah sudut yang redup, ia menemukannya.

Di atas sebuah tandu sederhana, Ibu Fiora terbaring. Lengannya diperban dengan kain bersih, dan meskipun wajahnya pucat dan tampak lebih tua dari yang diingat Fiora, matanya terbuka. Saat mata mereka bertemu, sebuah senyum lega yang luar biasa letih terukir di bibir Ibunya.

"Ibu!"

Teriakan Fiora menjadi sebuah ledakan kelegaan. Ia berlari, menerobos sela-sela antara korban lain, dan jatuh berlutut di samping tandu ibunya. Tangannya terulur, namun ragu untuk menyentuh, seolah takut akan menyakitinya lebih jauh.

"Ibu... Ibu tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Lukamu..." rentetan pertanyaan itu keluar tak beraturan di antara isak tangisnya.

Ibu Fiora mengangkat tangannya yang tidak terluka dan dengan lembut mengelus pipi putrinya.

"Sshh, Ibu tidak apa-apa" bisiknya, suaranya lemah namun penuh kehangatan. "Hanya sedikit tergores. Yang penting kau ada disini sekarang... Ibu sangat mengkhawatirkanmu."

Fiora tidak bisa menahannya lagi. Ia memeluk Ibunya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di bahu sang Ibu, dan tangisnya pun pecah, menumpahkan semua rasa takut, duka, dan kelegaan yang telah ia pendam selama perjalanan.

Saat memeluk putrinya, Ibu Fiora menatapku yang masih berdiri di belakang Fiora. Ia tidak mengenalku, tapi ia memberiku sebuah senyuman letih dan anggukan terima kasih yang dalam. Aku hanya bisa balas mengangguk kaku, merasa seperti seorang penyusup yang menyaksikan momen itu.

Setelah memberi mereka waktu sejenak, Percival menghampiriku.

"Maaf, kita belum sempat berkenalan dengan benar di tengah kekacauan tadi," katanya. "Aku Percival Ironhelm. "

"Zane Elian Kareem. Tarker."

Alis matanya sedikit terangkat kaget. "Tarker, ya. Itu menjelaskan banyak hal."

Ia menatapku serius, nada suaranya berubah mendesak.

"Sekarang, ceritakan padaku. Apa sebenarnya yang terjadi pada rombongan kalian di hutan?"

1
Blueberry Solenne
Suara siapa itu, dan karena apa ya dia berteriak, jadi penasaran...
Blueberry Solenne
waduh menghambat perjalanan ini, harus bawa sol sepatu kemaa-mana ini bang🤭
Serena Khanza
semakin bagus ceritanya, ayo semangat lanjut terus thor 💪🏻💪🏻💪🏻
Serena Khanza
kek manalah ya biskuit tapi kek batu 😭😭 tuh gigi gak rontok ya 🤣
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
studibivalvia
rendang adalah fav akuu 😭
Murdoc H Guydons: d buku 3 nanti, kita bikin deskripsi yg lebih sedap ya...hahaha..
total 1 replies
studibivalvia
blum dijelasin yaa tarker itu apaan
Murdoc H Guydons: Lanjut Kak.. ada di episode 3.. 😀
total 1 replies
Fra
Yah, begitulah masalah
Pas kita lari, dia datang
Murdoc H Guydons: kaya angkot.. 🤭
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Serem banget mereka berdua ini thor
Mau betumbuk kah mereka?😭
Murdoc H Guydons: Ada di episode selanjutnya Kak.. 👍🏻😀
total 1 replies
Murdoc H Guydons
Iya Kak.. Premis utamanya memang Zane mencari adiknya.. 😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!