"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Gladis meminum es jeruk itu dengan sangat nikmat.
Suara es batu yang beradu dengan gelas kaca menjadi musik paling merdu bagi Arkan saat ini.
Gladis meminumnya hampir setengah gelas sekaligus, membiarkan rasa asam dan dingin yang segar membasahi tenggorokannya yang sempat perih karena air garam.
"Alhamdulillah... segarnya..." ucap Gladis sambil menghela napas panjang.
Tiba-tiba...
Heerrrppp!
Gladis bersendawa cukup keras. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak malu, sementara pipinya yang tadi pucat kini berubah menjadi kemerahan.
"Maaf, aku tidak sengaja," gumam Gladis malu-malu di balik telapak tangannya.
"Sayang..." ucap Arkan dengan nada rendah.
Arkan tidak marah atau merasa terganggu. Sebaliknya, ia menatap Gladis dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan cinta, kelegaan, dan rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ia meraih tangan Gladis yang menutupi mulutnya, lalu mencium telapak tangan itu berkali-kali.
"Katakan padaku apa pun yang kamu mau setelah ini. Ikan bakar lagi? Es krim? Atau apa pun. Asalkan kamu tetap di sini, tetap bernapas, dan tetap bersamaku," bisik Arkan. Suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.
Gladis tersenyum kecil, ia bisa merasakan betapa takutnya Arkan kehilangan dirinya tadi.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Kapten. Aku punya dua penumpang kecil yang harus aku jaga di kapal ini."
Arkan menyandarkan keningnya ke kening Gladis. "Kamu hampir membuat jantungku berhenti tadi. Tapi melihatmu bersendawa dan meminta es jeruk, aku tahu istriku yang cerewet dan manja sudah kembali."
Gladis tertawa pelan, lalu menyodorkan sisa es jeruknya ke bibir Arkan.
"Minumlah sedikit, Arkan. Wajahmu sangat pucat, kamu pasti lelah setelah berenang mengejarku di laut tadi."
Di sudut ruangan, Dokter Sarah dan Gerald hanya bisa tersenyum tipis.
Mereka memutuskan untuk keluar dan memberikan privasi bagi pasangan yang baru saja melewati maut itu.
Arkan melangkah dengan aura yang begitu gelap. Setiap langkah sepatunya di lantai besi koridor menuju sel tahanan bawah kapal terdengar seperti lonceng kematian.
Gerald yang berjalan di sampingnya bisa merasakan amarah yang membara di balik wajah tenang sang Kapten.
Begitu pintu besi berat itu terbuka dengan suara berderit, pemandangan di dalam sel langsung menyambut mereka.
Vera duduk terikat di sebuah kursi besi, rambutnya berantakan, dan matanya melotot penuh kebencian.
Mulutnya disumpal kain putih agar teriakannya tidak mengganggu ketenangan kapal.
Begitu melihat Arkan masuk, Vera meronta-ronta, mencoba melepaskan ikatan sambil mengeluarkan suara erangan yang tidak jelas dari balik sumpalannya.
Arkan berhenti tepat di depan wanita itu. Ia melepaskan topi kaptennya dan memberikannya kepada Gerald, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Vera.
Tatapan mata Arkan begitu dingin, seolah mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Sumpalnya jangan dibuka, Gerald. Aku tidak ingin mendengar satu kata pun keluar dari mulut kotornya," suara Arkan rendah namun sangat menekan.
Arkan menarik kursi kayu di depan Vera dan duduk dengan tenang, menatap wanita itu seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis.
"Kamu tahu? Aku baru saja hampir kehilangan istriku. Dan yang lebih penting, kamu hampir membunuh dua nyawa sekaligus di dalam perutnya," bisik Arkan.
Mata Vera membelalak kaget mendengar kata "dua nyawa". Ia tidak tahu kalau Gladis hamil kembar.
"Kamu pikir kau bisa lolos setelah mendorong istri Kapten ke tengah samudera?" Arkan tersenyum miring, sebuah senyuman yang sangat mengerikan.
"Kamu tidak akan diserahkan ke polisi sekarang. Kau akan berada di ruangan gelap ini tanpa cahaya, tanpa suara, sampai kita bersandar di pelabuhan internasional. Di sana, aku pastikan kau akan membusuk di penjara seumur hidupmu atas percobaan pembunuhan berencana."
Vera mulai menangis ketakutan, rontaannya melemah saat ia menyadari bahwa ia tidak hanya berurusan dengan seorang suami yang marah, tapi dengan seorang penguasa samudera yang punya kuasa penuh atas hidupnya selama berada di atas kapal ini.
"Gerald, pastikan dia hanya diberi air putih dan roti tawar. Tidak ada lampu. Biarkan dia merasakan gelap dan sunyinya dasar laut, persis seperti yang dia inginkan untuk istriku," perintah Arkan tegas.
Arkan berdiri, merapikan seragamnya, dan berbalik meninggalkan sel tanpa menoleh sedikit pun ke arah Vera yang terus merintih di balik sumpalannya.
Langkah kaki Arkan yang tadi begitu berat dan penuh kemarahan saat di penjara bawah, seketika berubah menjadi sangat halus begitu ia melintasi ambang pintu ruang medis.
Ia mendapati Gladis sudah dipindahkan kembali ke kabin utama mereka agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman dan tenang.
Lampu kabin sengaja diredupkan. Di atas ranjang besar itu, Gladis tampak tertidur sangat pulas.
Sisa-sisa es jeruknya masih ada di meja nakas, dan selimut tebal membungkus tubuhnya hingga sebatas dada.
Wajahnya yang tadi pucat perlahan mulai merona kembali, mencerminkan ketenangan seorang ibu yang tahu anak-anaknya aman.
Arkan duduk perlahan di tepi ranjang. Ia memperhatikan istrinya dalam diam selama beberapa menit.
Ada rasa sesak yang kembali muncul di dadanya saat membayangkan betapa hampirnya ia kehilangan napas bagi hidupnya ini.
"Maafkan aku, Sayang... Aku gagal menjagamu hari ini," bisik Arkan sangat pelan, hampir tak terdengar.
Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Gladis dengan sangat lembut agar tidak membangunkannya.
Tangannya yang lain merayap menuju perut Gladis yang masih tertutup selimut.
Ia meletakkan telapak tangannya di sana, mencoba merasakan keberadaan dua nyawa kecil yang disebut Dokter Sarah sebagai "nakhoda kecil".
Keajaiban itu terasa begitu nyata. Di tengah amuk badai dan pengkhianatan, dua detak jantung itu tetap bertahan.
Tiba-tiba, Gladis bergerak sedikit dalam tidurnya. Ia bergumam tidak jelas, namun tangannya secara naluriah mencari tangan Arkan.
Begitu jemari mereka bertautan, Gladis mengembuskan napas panjang yang lega dan kembali terlelap lebih dalam. Ia seolah mengenali kehadiran pelindungnya bahkan dalam mimpi.
Arkan memutuskan untuk tidak kembali ke anjungan malam ini. Ia melepas sepatu dan jasnya, lalu berbaring dengan sangat hati-hati di samping Gladis.
Ia memeluk istrinya dari samping, menyatukan detak jantung mereka dalam keheningan malam di tengah samudera.
Mata Gladis perlahan terbuka di tengah remang kabin. Perutnya terasa keroncongan, memberikan sinyal lapar yang sangat kuat.
Ia mencoba duduk, yang langsung membuat Arkan yang terjaga di sampingnya sigap membantu.
"Sayang, kamu bangun? Lapar lagi?" tanya Arkan lembut sambil mengusap pipi istrinya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku telepon dapur sekarang, mereka bisa antarkan langsung ke sini. Kamu harus banyak istirahat."
Gladis menggelengkan kepalanya dengan pelan namun tegas.
"Aku tidak mau makan di sini, Arkan. Aku merasa sesak kalau terus-terusan di kamar. Aku mau ke dapur... maksudku, ke restoran di atas. Aku mau makan di sana."
Arkan sempat ragu, mengingat kejadian traumatis yang baru saja mereka alami. Namun, melihat binar di mata Gladis yang tampak sangat menginginkan hal itu, ia tidak tega menolak.
"Baiklah, tapi kita pakai kursi roda ya? Aku tidak mau kamu kelelahan," tawar Arkan.
"Tidak mau, aku kuat jalan kok," bantah Gladis manja.
"Aku mau Koloke, Mie Goreng, dan Capjay. Sekarang, Arkan... nakhoda kecilmu yang minta."
Arkan akhirnya menyerah dengan senyuman pasrah.
Ia membantu Gladis mengenakan jaket tebal dan syal untuk melindunginya dari angin malam, lalu dengan sangat protektif menggandeng tangan istrinya menuju restoran utama kapal.
Sesampainya di sana, suasana sudah sepi karena hari sudah sangat larut. Namun, para koki yang sedang bertugas di dapur pusat langsung sibuk begitu mendengar Kapten dan istrinya datang.
Tak butuh waktu lama, aroma harum bawang putih dan saus asam manis mulai tercium.
Pesanan Gladis datang: sepiring Koloke yang renyah dengan saus merah merona, Mie Goreng yang mengepul panas, dan semangkuk besar Capjay penuh sayuran segar.
"Wahhh... ini dia!" seru Gladis senang. Ia langsung menyambar sumpitnya, seolah lupa bahwa beberapa jam yang lalu ia baru saja bertarung nyawa di tengah laut.
Arkan duduk di hadapannya, hanya memesan kopi hitam sambil memperhatikan Gladis makan dengan sangat lahap.
Sesekali ia membersihkan sisa saus di sudut bibir istrinya.
"Pelan-pelan, Sayang. Tidak akan ada yang mengambil makananmu," goda Arkan.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys