Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Keinginan
Aluna berdiri di depan Ravindra yang sedang menandatangani dokumen yang baru saja dia antar.
Aluna terlihat begitu gelisah dengan menghentakkan pelan sepatunya. Setelah Ravindra menandatangani dokumen tersebut dan kemudian kembali meletakkan di atas meja agar diambil Aluna, tetapi sayang sekali Aluna tidak melakukannya membuat Ravindra melihat para istrinya itu dengan satu alis terangkat.
"Ada apa lagi?" tanya Ravindra.
"Oh, sudah selesai," ucap Aluna ternyata tidak menyadari dan kemudian dengan cepat mengambil dokumen tersebut.
"Makanya jangan melamun dan fokus kerja!" sindir Ravindra sembari kembali melihat ke layar komputernya.
Ravindra kembali melihat ke arah istrinya, saat sang istri tidak ada pergerakan sama sekali.
"Ada apa lagi? Apa masih ada yang ingin ditandatangani?" tanya Ravindra.
"Oh tidak, tidak apa-apa. Kok," jawabnya.
"Kalau begitu, kenapa masih di sini?" tanya Ravindra.
"Hmmmm, hmmm!" Aluna terbata-bata sepertinya sangat sulit mengeluarkan yang ingin dia sampaikan.
"Katakanlah, aku bukan hanya untuk mengurusmu saja," ucap Ravindra.
"Apa benar ada perjalanan bisnis tahunan?" tanyanya dengan satu tarikan atas.
"Iya," jawab Ravindra.
"Aku masuk daftar untuk berangkat?" tanyanya lagi.
"Aluna, aku di perusahaan ini adalah CEO dan untuk mengurus hal itu bukan urusanku. Jadi jika kamu masuk daftar itu tidak ada kaitannya denganku," jawab Ravindra memang untuk hal-hal seperti itu sudah pasti bukan bagian darinya.
"Tetapi bukankah untuk penentu negara yang akan dikunjungi adalah keputusan dari kamu?" tanya Aluna.
"Iya," jawab Ravindra.
"Kemana perginya?" tanya Aluna penasaran.
"Jepang," jawab Ravindra.
"Jepang!" Pekik Aluna.
Ravindra menaikkan satu alisnya melihat reaksi istrinya terlalu berlebihan.
"Kenapa?" tanya Ravindra.
"Ti-tidak, apa-apa. Ya sudah kalau begitu aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan pekerjaan," ucap Aluna kemudian langsung buru-buru keluar dari ruangan suaminya.
"Kenapa aku melihat wanita itu semakin lama semakin aneh," gumam Ravindra dengan geleng-geleng kepala.
******
"Kamu serius perjalanan tahunannya pergi ke Jepang?" tanya Olivia memastikan saat keduanya berjalan di koridor perusahaan.
"Iya," jawab Aluna.
"Kamu tahu dari mana?" tanyanya lagi.
"Hmmm, itu, aku tapi tidak sengaja lewat dan mendengar pembicaraan pak Ravindra dengan manajer keuangan," jawabnya gugup.
Karena tidak mungkin mengatakan mendengar sendiri dari suaminya.
"Sungguh?" tanyanya lagi.
Aluna menganggukkan kepala.
"Ya, ampun sayang sekali, padahal waktu itu aku mendengar jika kita akan berangkat ke Kanada dan lagi pula tahun ini kita banyak sekali bekerja sama dengan negara Kanada," ucap Olivia terlihat begitu sangat kecewa saat impiannya sepertinya tidak akan terwujud.
"Kalau begitu artinya kita tidak akan jadi berangkat ke Kanada dan Aurora di depan mata tidak akan menjadi terlihat?" tanya Aluna memastikan membuat Olivia mengganggukan kepala.
"Apa perjalanannya tidak bisa diubah?" tanya Aluna sepertinya juga mengharapkan hal yang sama seperti Olivia.
"Kita hanya karyawan, memang kita orang spesial bisa mengajukan kepada atasan untuk menetapkan keberangkatan ke Kanada," jawab Olivia.
"Tetapi apa ada harapan untuk pergi ke Kanada?" tanya Aluna.
"Jelas ada Aluna, Karena perusahaan kita akhir-akhir ini bekerja sama, jadi sudah pasti ada pertimbangan dan sekarang tinggal hanya keputusan dari atasan. Kalau jepang sudah terlalu biasa," jawab Olivia.
"Aku sepertinya harus melakukan sesuatu, sangat jarang sekali mendapatkan kesempatan. Aku juga ingin melihat Aurora, kebetulan aku sudah menikah, jadi aku bisa pergi ke luar negeri tanpa ada larangan dari api. Coba saja aku belum menikah dan sudah pasti Abi tidak akan mengizinkanku untuk pergi sendiri," batin Aluna dengan raut wajah penuh dengan rencana.
******
Aluna berada di dalam mobil bersama dengan Ravindra seperti biasa menyetir. Aluna beberapa kali menoleh ke sebelahnya seakan-akan ada yang ingin dia sampaikan kepada suaminya.
Tangannya terlihat saling memencet di atas dressnya, wajahnya juga tampak gelisah.
"Ada apa?" tanya Ravindra menyadari pergerakan sang istri.
"Hmmmm, tidak apa-apa," jawab Aluna.
"Lalu kenapa curi-curi pandang padaku?" tanya Ravindra.
"Aku melakukan hal itu?" tanya Aluna.
"Jika ingin menanyakan sesuatu, maka tanyakan dah jangan sampai aku berubah pikiran yang tidak akan menjawab dan tidak mengizinkannya untuk bicara!" tegas Ravindra.
Aluna menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, kepalanya tegak dengan mata menatap suaminya.
"Kenapa tidak berangkat ke Kanada dan harus ke Jepang?" tanya Aluna.
"Maksudnya?" Ravindra mengerutkan dahi.
"Aku mendengar sebelumnya, rekomendasi perjalanan bisnis tahunan itu diadakan di Kanada dan kenapa tiba-tiba harus berubah ke Jepang?" tanya Aluna.
"Lalu apa hubungannya denganmu?" tanya Ravindra.
"Aku dan teman kerjaku sudah memiliki harapan jika perjalanan bisnis menuju Kanada, impian kita akan terwujud. Kenapa harus di ganti?" tanya Aluna.
"Impian apa yang ada di Kanada sampai membuatmu harus memperhatikan kepadaku?" tanya Ravindra.
"Melihat Aurora," jawabnya.
"Hah!" Ravindra mendengus seperti tertawa mengejek membuat Aluna mengerutkan dahi.
"Apa yang lucu?" tanyanya.
"Kamar penuh dengan warna-warni dan sekarang melihat Aurora. Aluna kau itu sudah dewasa dan bukan anak remaja lagi, jangan terlalu lebay," ucap Ravindra.
"Apa hubungannya dengan kamar berwarna-warni dan juga Aurora, memang impian melihat Aurora itu hanya untuk anak remaja, orang dewasa tua renta tidak memiliki impian untuk melihat Aurora. Apa kabar dengan tuan Ravindra, bukankah juga memiliki keinginan untuk melihat Aurora bersamanya," ucap Aluna secara tiba-tiba dan mampu membuat Ravindra menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Apaan sih, aku hampir saja kejedot!" kesal Aluna.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Ravindra menatap istrinya begitu tajam.
Aluna kesulitan menelan ludahnya, percuma berbohong, tatapan suaminya itu sudah mengetahui apa yang telah dia lakukan.
"Aku hanya mencari obat di saat tanganku terkena pisau, jadi aku tidak sengaja menemukan tulisan itu," jawab Aluna.
Flashback
"Percuma bertanya padanya, pasti tidak akan memberitahu, lebih baik cari sendiri," Aluna menggoyang-goyangkan jarinya yang berdarah.
Aluna membuka buka laci untuk mencari kotak obat dan sementara Ravindra tampak beraktivitas di kamar mandi karena terdengar suara air.
"Huhhhh, akhirnya menemukannya," Aluna merasa lega mengambil kotak obat tersebut.
Tetapi matanya salah fokus ketika melihat kertas berwarna pink dilipat sangat rapi yang membuat Aluna penasaran.
Tanpa berpikir panjang Aluna membuka kertas tersebut, tulisan tangan yang terlihat begitu indah dengan harum tampak khas pada kertas tersebut, terdapat jepitan bintang di tengahnya.
"Aku akan bahagia jika bisa melihat Aurora," hanya kalimat pendek itu yang dibaca Aluna dan kemudian dengan cepat kembali melipat kertas tersebut ketika mendengar pergerakan suaminya ingin keluar dari kamar mandi.
Flashback off.
Aluna senyum-senyum ketika kembali mengulang kalimat yang telah dia baca.
"Hmmmm, tuan Ravindra seperti anak remaja saja memiliki impian untuk melihat Aurora," ejek Aluna.
"Hmmm, atau jangan-jangan itu bukan keinginan tuan Ravindra, mungkin itu udahlah kiriman surat dari mantan kekasih?" tebak Aluna.
Aluna merasa puas mengejek suaminya dan sementara wajah Ravindra tampak begitu marah.
"Astaga, aku tidak percaya jika wajah menakutkanmu bagaikan seorang mafia ternyata berhati hello Kitty, tulisan indah dengan lembaran kertas berwarna pink dan keinginan untuk melihat Aurora," ejeknya lagi sembari tertawa menggemaskan.
Di tengah tawanya tiba-tiba saja Ravindra mencengkram lengannya begitu kuat sampai membuat Aluna kaget.
Aluna kesulitan menelan ludah dengan mata saling bertatap pada sang suami, menyimpan amarah seolah-olah ingin menerkamnya.
Bersambung.....