"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Maaf, Pak Rama. Mau ke cluster lain yang lebih besar dari ini, atau mau saya cek ulang siapa tahu ada pemilik yang mau take over atau batal ambil? "
"Berapa lama kira-kira? "
"Saya usahakan secepatnya, Pak. Maaf saya hari ini buru-buru jadi cuma bisa tunjukkan cluster di rumah Pak Rama seperti rencana awal."
"Tunda aja dulu, bang. Kita nggak lagi buru-buru kan? " minta Aya. Dia juga sudah tak sabar ketemu umi Haura.
"Baik, Pak. Segera kabari saya lagi. Mohon maaf sudah mengganggu waktunya, " ujar Rama sambil bersalaman.
"Tak masalah, Pak Rama sudah jadi tugas saya. Kebetulan saja saya juga ada perlu. Segera saya kabari."
Mereka kembali ke mobil masing-masing. Saat berada di dalam, Aya melirik Rama. Penasaran dengan kejadian yang tak ia duga.
"Abang kenal sama yang namanya Alya tadi? " tanyanya menyelidik.
"Perempuan itu sahabat Amel. Aku tak menyangka dia istri siri pengusaha. Aku tak mau kamu bertemu dengannya. "
"Syukurlah, " jawab Aya lega.
Perjalanan pagi menjelang siang itu tetap terasa hangat. Apalagi Aya sangat rindu dengan uminya. Moodnya sedang bagus hari ini, meski masih merasakan nyeri di tubuhnya.
Aya bersandar lelah, matanya menatap jalan setengah melamun.
"Persiapan resepsi sudah 95%. Usahakan jangan lembur ya dalam minggu ini. Undangan yang belum di sebar hanya untuk kantor kita. Rencana baru H-1. Kalau bisa hari jumat ajukan cuti."
"Bang aku perlu perjelas, pertama yang bikin aku lelah ini karena abang yang ajak aku lembur. Bukan kerjaan kantorku. Kedua, Bos ku itu nggak suka anak buahnya lembur nggak ada tambahan fee katanya, jadi aku nggak bakal lemburan kantor. Ketiga, aku ini baru pindah beberapa hari, masa iya sudah minta cuti. Aku usahakan minta ijin pulang lebih awal saja, mungkin jam empat sore aku usahakan sudah pulang."
Rama terkekeh, hampir semua yang dikatakan Aya benar.
"Oke-oke, aku akui yang pertama. Aku senang soal yang kedua, seharusnya memang begitu. Tapi yang ketiga, aku mau hari jumat kamu tetap di rumah. Nanti aku yang bilang ke bayu."
Aya tertawa getir, kesal karena Rama bersikeras. Yang Aya khawatirkan hanya reaksi rekan kerja yang lain. Tau dia istri putra pemilik perusahaan saja sudah akan banyak kehebohan, apalagi harus menerima perlakuan khusus seperti itu.
Rama menatap Aya sekilas, reaksi kesal dalam diamnya terbaca oleh Rama.
"Kenapa? Kamu khawatir jadi omongan? "
"Itu abang tahu, tapi masih tetap juga maksa aku nggak kerja hari jumat."
"Ya sudah, setengah hari ya. Jam dua belas sudah di rumah. Aku juga rencana setengah hari."
Aya akhirnya mengangguk.
"Jangan kesel lagi dong, " bujuk Rama sambil mencolek pinggang Aya.
Spontan Aya terkejut dan mencubit lengan Rama sampai ia menjerit keras di mobil.
Suasana kembali menghangat, meski Rama harus rela mendapat cubitan kekesalan.
***
"Mel, gimana semalam? Kamu dapat berapa dari John? "
"Lumayan lah, cukup untuk seminggu lagi di sini. Aku mau pesan tiket pulang dulu sebelum habis buat belanja."
"Wah, enak banget kamu? Petter cuma kasih aku sedikit. Belikan aku tiket sekalian dong, Mel. Masa iya aku kamu tinggal sendirian di sini? "
"Kamu, nggak minta papi lagi aja? kan kamu nggak apes kayak aku ketahuan Rama. Papi taunya kamu kan cuma liburan? "
"Haduh, boro-boro. Belanja kemarin aja pakai uang bulanan ku. Papi di todong liburan juga sekeluarga sama bini nya. Aku cuma di jatah sedikit liburan ini. Ayolah, Mel. Kamu enak Rama masih belum kasih bininya, lah aku beda nasib sama kamu."
"Oke-oke aku traktir tiket pulang aja. Makan seminggu tanggung sendiri."
"Sip deh. Makasih, yak. Eh ngomong-ngomong, kalau kalian putus berarti dia bakalan serius dong sama bininya? kamu masih bakalan dapat bulanan nggak? "
"Iya juga ya, aku harus cari cara buat Rama balik lagi sama aku. Wah mana lagi nggak ada job."
"Apes banget kita ya belakangan ini?"
"Padahal aku sudah susah payah membuat dia bertahan sejak drama penyelamatan kuliah dulu. Akhirnya pengaruh ku mulai luntur gara-gara cewek kampung itu."
"Cari tahu aja dimana dia kerja, labrak tempat kerjanya kali Mel. Biar si cewek mundur, minta cere."
"Pinter juga idemu Al. Coba ku tanya-tanya sama Alex."
Amel menyeringai, ia yakin cewek yang akan ia hadapi tak segarang dirinya. Apalagi, ia duluan yang bersama Rama.
***
Raka duduk malas di sofa dengan TV yang masih menyala. Ia jadi tak mengantuk karena terlalu lama tidur. Di tambah lagi, ia sudah berjanji akan menunggu motor baru Aya yang akan di antar pihak dealer.
Raka teringat semasa SMA dulu. Ia sering curi-curi pandang menatap gadis yang duduk di baris tengah itu. Melihat jilbabnya yang selalu terulur ke dada saja sudah membuat hatinya hangat, apalagi melihat saat Aya tersenyum malu atau bercerita penuh semangat dengan teman dekatnya di kelas. Hatinya seakan meleleh.
Raka bukannya sepi penggemar, dia justru penasaran dengan gadis yang memandangnya biasa saja seperti Aya. Seolah tak tertarik pada kepopulerannya.
Sayang, gadis yang diidamkannya justru menikah dengan abangnya. Seandainya ia tahu sejak awal soal amanat itu. Ia akan bersemangat menawarkan diri menikahi Aya untuk memenuhi amanat papanya.
Raka menghela nafas, meratapi nasib yang selalu tak berpihak padanya. Bukan hanya soal jodoh, pendidikan, prestasi, posisi kerja ia selalu nomer dua dari abangnya.
Rama yang bisa kuliah di Australia karena kepandaiannya, dan dirinya yang bisa tembus ke kampus brunei saja.
Secara beban moral, memang abangnya selalu dituntut sempurna oleh kedua orang tuanya, tak seperti dia yang bebas memilih. Tapi dia selalu merasa jadi nomer dua di keluarganya.
TINGTONG
Bunyi bel dari pagar luar berbunyi keras membuyarkan lamunan Raka. Ia bergegas mendekati layar monitor.
"Ya, siapa? "
"Dari dealer, Mas. Mau antar motor."
"Oke sebentar saya bukakan pagarnya."
Raka menekan tombol khusus membuka pagar otomatis dari dalam rumah. Lalu keluar untuk menyambut barang.
Mobil pick up berisi sebuah motor berhenti di depan rumah. Pekerja dealer itu dengan sigap menurunkan motor dari atas mobil.
"Atas nama pak Rama , ya Mas? "
"Iya betul. "
"Bisa tanda tangani disini."
Raka mengambil pulpen dan menandatangani di bagian yang ditunjuk pekerja.
"Ini kuncinya, yang lain ada di dalam bagasi jok. Kalau ada apa-apa hubungi dealer kami."
"Baik, terima kasih."
Pekerja itu masuk ke dalam mobil dan pergi.
Raka membiarkan motor terparkir di teras dan kembali masuk ke dalam.
Mobil pickup keluar sepenuhnya, Raka menekan tombol untuk menutup pagar secara otomatis.
[Bang, motor sudah sampai. Kunci ku gantung di tempat biasa. Aku tinggal tidur ya.]
[ Oke, Terima kasih de]
Raka berjalan gontai ke kamar setelah mematikan TV. Ia perlu istirahat yang cukup sebelum bertemu dengan pihak HRD besok.
***
"Motor sudah sampai, " ujar Rama pada Aya yang masih gelayutan di tubuh Umi Haura.
"Sudah? Alhamdulillah. Aya ke kantor naik motor baru mulai besok Mi."
"Oh ya? wah alhamdulillah. Umi senang dengarnya. Terima kasih Rama, umi jadi nggak enak sudah nahan motor Aya disini."
"Sudah seharusnya Umi. Nggak apa-apa, Umi juga butuh kendaraan. Rama kebetulan nggak bisa antar jemput karena jam pulang nggak bisa di prediksi."
"Iya Rama, amannya begitu biar Aya nggak pulang kemalaman. Yang penting hati-hati ya selama di jalan, " ujar Haura dan disambut anggukan cepat dari Aya dan Rama.
"Jadi sabtu besok, Umi dan keluarga dari rumah langsung ke gedung aja kan ya, Ram? "
"Iya, Mi. Papa, mama dan adik juga dari rumah. Cuma Aya sama Rama aja dari Villa dekat acara. Biar lebih leluasa MUA nya kerja rias Aya."
"Villa? abang belum cerita soal itu. "
"Memang sengaja, kejutan. Makanya abang minta kerja setengah hari, karena kita bermalam disana jumat malam itu."
"Jadi, bulan madu keduanya disana? " tanya Umi menggoda.
Rama tersipu, Aya tercekat.
"Sebenarnya masih bulan madu pertama Umi. Yang dua bulan kemarin, Rama masih di anggurin."
"Abang!! " seru Aya sambil mendengus kesal.
Haura terkejut menatap Aya, Rama tertawa puas.