Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran Aneh
"Kita pergi dari sini!" ajak Zavian sambil berdiri.
"Loh, katanya mau nunggu Mbak Stella di sini?"
"Saya berubah pikiran. Ayo!"
Sejenak Zavian mengedarkan pandangannya, memeriksa keberadaan Marissa di restoran tersebut. Namun, sepertinya wanita itu sudah tidak ada.
"Baguslah," gumamnya dalam hati.
Zavian mengulurkan tangannya, lalu membimbing Ayra keluar dari restoran setelah ia menyelesaikan tagihan. Tanpa banyak tanya, Ayra pun mengikuti langkah lebar lelaki itu.
Tapi Zavian tidak tahu bahwa sebenarnya Marissa masih berada di dalam restoran. Ia hanya sedang ke toilet. Saat kembali dari toilet, Marissa terkejut menyadari meja Zavian dan Ayra sudah kosong. Ia merasa kesal, padahal niatnya hari ini adalah mengikuti ke mana pun mereka pergi.
"Jangan-jangan mereka akan ke kantor polisi untuk mendatangi Julian?"
Sejenak ia berpikir, lalu seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Untung saja aku sudah mengultimatum dia. Kalau sampai buka mulut, habislah kau, Julian!" desisnya pelan.
Setelah itu, Marissa segera menelepon seseorang.
"Halo. Temui Julian. Katakan ancamanku tidak main-main. Jadi jangan coba-coba buka mulut!"
Marissa menutup teleponnya secara sepihak. Detik itu juga, ia mengubah kembali raut wajahnya menjadi tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
***
Zavian mengubah tempat pertemuannya dengan Stella menjadi di apartemen pribadinya. Ia tidak ingin pembicaraan mereka terganggu oleh apa pun.
"Mas, kok ke sini? Mau ngapain?" Ayra mengerutkan kening dengan sorot mata tajam. Kejadian traumatik semalam langsung membayangi pikirannya.
Zavian mengelus kening Ayra dengan lembut. "Ubah ekspresimu dan jangan punya pikiran macam-macam. Sebentar lagi Stella dan Bryan akan datang ke sini juga."
"Tapi..."
"Ayo, turunlah. Saya ini bukan predator," ucap Zavian sambil membukakan pintu untuk Ayra. Dengan ragu, wanita itu menurut. Ia menapakkan kaki jenjangnya di lantai hotmix area parkir.
"Lambat sekali, ayo cepat!" Zavian menarik tangan Ayra menuju lift.
Setelah berada di dalam, Zavian menekan angka 56, lantai tertinggi di apartemen mewah itu. Saat tiba di penthouse milik Zavian, Ayra terkagum-kagum melihat kemewahan arsitekturnya. Ia merasa begitu kecil di tengah kemegahan itu.
"Duduklah!"
Dengan ragu, Ayra menduduki salah satu sofa. Ternyata, ini adalah sofa terempuk yang pernah ia duduki seumur hidupnya. Sesaat, Ayra kembali berpikiran buruk pada lelaki itu.
"Sebenarnya dia kerja apa? Rumahnya sangat mewah dan sudah pasti sangat mahal. Apa jangan-jangan dia seorang... pengedar?" Ayra bergidik tanpa sadar.
Hal itu tak luput dari penglihatan Zavian. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum miring.
"Pikiranmu kejauhan," ucap Zavian seakan tahu apa yang sedang melintasi kepala Ayra. "Kalau mau minum, kamu bisa ambil sendiri, kan? Anggap saja rumahmu sendiri. Nanti kalau kamu sudah menjadi..."
Tiba-tiba terdengar bunyi bel, memotong ucapan Zavian. Lelaki itu segera berdiri dan membukakan pintu. Di hadapannya, sudah berdiri Stella dan Bryan.
"Masuk," ucap Zavian singkat sambil membuka pintu lebih lebar.
Stella dan Bryan melangkah masuk ke dalam penthouse. Stella sempat melirik Ayra yang duduk kaku di sofa, lalu memberikan senyum tipis seolah ingin menenangkan. Mereka kemudian duduk di area ruang tamu yang suasananya mendadak dingin.
Zavian tidak basa-basi. Begitu semua duduk, ia langsung menatap tajam ke arah Stella dan Bryan bergantian.
"Siapa laki-laki itu? Siapa yang berani menyentuh Ayra di pesta pertunangan kalian?" tanya Zavian dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Stella menggeleng kuat, wajahnya tampak pucat.
"Mas, aku benar-benar tidak tahu siapa dia. Sumpah, aku tidak mengenal laki-laki itu."
"Jangan bercanda. Itu pesta kalian! Kalian yang memegang daftar tamu dan mengontrol semuanya!" bentak Zavian. Suaranya mulai meninggi dan tajam. Tapi Stella tetap bungkam. Ia tak berani mengungkapkan kalau dirinya memiliki kecurigaan pada kakaknya, Marissa
Zavian kini mengunci tatapannya pada Bryan. "Bryan, sebagai tuan rumah, bagaimana bisa ada orang asing menyelinap ke area VIP tanpa terdeteksi tim keamananmu? Kamu bilang semua sudah diatur dengan sempurna."
Bryan mengembuskan napas berat, tampak tertekan.
"Itu yang sedang aku selidiki, Mas. Petugas keamanan bilang semua yang masuk sudah di-scan undangannya. Tapi nama laki-laki itu memang tidak ada dalam data tamu kami. Seolah-olah ada yang memberinya akses khusus."
"Akses khusus?" Zavian menyipitkan mata. "Hanya orang-orang tertentu yang punya akses tanpa harus di-scan."
"Aku serius, Mas," Stella menyela dengan suara bergetar.
"Aku juga bingung. Keamanan tidak akan membiarkan siapa pun lewat tanpa tanda pengenal atau barcode undangan."
Zavian terdiam, rahangnya tampak mengeras. "Kalau dia bukan tamu dan bisa menembus pengamanan ketat kalian, berarti ada seseorang yang sengaja membukakan jalan untuknya."
""Jelaskan padaku, Stella. Kenapa rekaman CCTV di koridor toilet itu hilang?" Zavian menuntut dengan nada mengintimidasi. "Aku sudah mengeceknya semalam, dan bagian saat Ayra keluar dari toilet sama sekali tidak ada. Yang tersisa cuma rekaman saat dia masuk, setelah itu kosong. Seseorang sengaja melenyapkannya dari server."
Zavian mencondongkan tubuh, mengunci tatapannya pada Stella dan Bryan secara bergantian, menuntut kejujuran yang sejak tadi ia cari.
Stella tertunduk, tidak berani menatap mata kakaknya. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memberikan pengakuan yang mengejutkan.
"Aku yang meminta staf keamanan untuk menghapus rekaman di area itu dari server utama, Mas," aku Stella dengan suara yang nyaris tertelan keheningan ruangan.
Zavian mengepalkan tangan di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. "Jadi benar kamu pelakunya? Kamu sengaja melenyapkan bukti pelecehan terhadap Ayra?!"
"Bukan begitu, Mas! Dengarkan dulu penjelasanku," sela Stella cepat, berusaha meredam emosi kakaknya yang mulai meluap. "Aku menghapusnya dari sistem supaya tidak ada orang lain atau staf yang bisa melihatnya. Aku takut kalau Mas Zavian melihat rekaman itu di tengah pesta, Mas akan mengamuk dan keadaan jadi tidak terkendali. Aku hanya ingin menyelamatkan pesta pertunanganku."
Zavian mendengus sinis, matanya berkilat penuh amarah. "Jadi bagimu, pesta itu jauh lebih penting daripada keselamatan Ayra?"
"Tentu tidak, Mas! Makanya aku tidak benar-benar membuangnya," Stella buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan sebuah flashdisk.
"Aku sudah memindahkan rekaman aslinya ke sini sebelum kuhapus dari server. Aku menyimpannya sebagai barang bukti kalau Mas memang mau memperkarakannya nanti. Aku hanya menunggu waktu yang pas untuk memberikannya padamu."
Zavian tidak menyahut. Ia langsung menyambar flashdisk itu dari tangan Stella dengan gerakan kasar.
Zavian menggenggam flashdisk itu erat-erat. Tatapannya beralih pada Ayra yang masih tampak tegang, lalu kembali pada Stella dan Bryan.
"Ayo berangkat!" ucap Zavian pendek sambil bangkit dari duduknya.
"Ke mana, Mas?" tanya Stella bingung, sementara Ayra hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Zavian meraih kunci mobilnya di atas meja dengan gerakan cepat.
"Kita ke kantor polisi. Saya ingin menemui laki-laki yang menyerang Ayra semalam. Sekarang!"
Stella dan Bryan saling pandang, lalu ikut berdiri dengan patuh. Sebagai pihak yang mengadakan pesta pertunangan tersebut, mereka juga meras bertanggung jawab untuk membantu Ayra dan Zavian dalam menyelesaikan tragedi itu.
Zavian kemudian memberikan isyarat agar Ayra mengikutinya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah lebar menuju pintu keluar. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk mengorek keterangan dari laki-laki itu, sekaligus mencari tahu siapa yang sudah sengaja membukakan jalan baginya.