Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik senyum terpaksa
Elara menunduk.
Matanya memandangi ujung sepatunya yang mulai basah oleh sisa hujan.
“Aku melihat caramu menatap Tuan Marquis,” lanjut Eryn dengan suara pelan, tertahan.
“Dan… caranya memandangimu...”
"aku baik-baik saja, Eryn." ucap elara tegas. Langkah gadis itu kembali, menyusuri jalanan menuju kediaman kaelmont. Pondok kecil tempatnya pulang.
**
Keesokan harinya…
Langit cerah.
Pelajaran selesai lebih cepat.
Elara berjalan pulang sambil menuntun sepedanya.Rantai sepedanya sempat terlepas, membuatnya memilih mendorong daripada menaikinya. Tas sekolah menggantung di bahunya.
Rambutnya tergerai, sedikit berantakan tertiup angin.
Tanpa Elara sadari…
Di jalan utama…
Sebuah mobil hitam mewah melaju perlahan.
Di dalamnya…
Marquis duduk di kursi belakang.Di sampingnya, Frash—sahabatnya sejak kecil—bersandar santai.
Frash menoleh ke luar jendela.
Lalu tersenyum lebar.
“Bukankah dia gadis di hutan itu?” katanya sambil menunjuk samar.
Marquis mengikuti arah pandangnya.
Dan seketika…matanya tertuju pada sosok Elara yang sedang mendorong sepeda. Sendirian.
“Sepertinya dia tumbuh dengan sangat baik. Sangat cantik.” lanjut Frash.
Marquis hanya melirik, sekilas. Lalu memalingkan wajah,tidak menjawab, tidak bereaksi. Seolah tak peduli.
Frash terkekeh.
“Pantas saja kau tergila-gila padanya.”
Marquis mengernyit tipis.
“Jaga ucapanmu, Frash.”
Namun suaranya datar. Tanpa amarah.Tanpa bantahan. Dan mobil itu terus melaju.
Meninggalkan Elara yang masih menuntun sepedanya.
**
Sore itu, rumah utama Valenborg dipenuhi tamu.
Kereta-kereta bangsawan berjejer rapi di halaman.Lentera kristal menyala.
Aroma teh mahal dan bunga segar memenuhi aula.
Hari itu, Nyonya Marianne mengadakan jamuan kecil untuk para bangsawan wilayah sekitar.
Dan entah bagaimana…
Elara ikut dipanggil.
Elara berdiri canggung di sudut ruangan.
Mengenakan gaun sederhana, bersih, rapi.
Namun jelas berbeda dari para bangsawan di sekitarnya.
Tangannya saling menggenggam.Matanya menunduk.
Marianne duduk anggun di kursi utama.
Dengan senyum yang sempurna.
“Ah…Ngomong-ngomong…” katanya sambil menoleh pada seorang tamu.
“Gadis itu yang berdiri di sana…”
Menunjuk Elara dengan kipas tangannya.
“Adalah anak yang diasuh almarhum Alden. Kasihan, bukan?”
Beberapa tamu menoleh.Memandang Elara dari ujung kepala sampai kaki.Dengan tatapan menilai.
“Dia yatim-piatu,” lanjut Marianne.
"Hidupnya hanya bergantung pada belas kasihan keluarga kami.”
“Untung saja kami cukup berbaik hati untuk tidak mengusirnya.”
Elara membeku.
Dadanya sesak.
Namun Elara tetap menunduk. Menahan air mata.
Salah satu bangsawan wanita tersenyum kecil.
“Oh… jadi begitu.”
“Pantas saja caranya berjalan agak… canggung.”
Tawa kecil terdengar.
Di sisi lain ruangan…
Lady Seraphina berdiri anggun di dekat Marquis.
Wajahnya tenang. Namun matanya memperhatikan segalanya. Wanita itu melangkah perlahan mendekati Elara.
Lalu teenyumnya lembut.
“Elara, kau baik-baik saja? Kau pasti lelah berdiri lama.” ucapnya manis.
“Kenapa tidak membantu di dapur saja?”
“Pekerjaan seperti itu… lebih cocok untukmu, bukan?” Ucapannya terdengar ramah.
Beberapa tamu mengangguk setuju.
Elara menggigit bibir.
“Iya, Lady…” jawabnya pelan. Elara hendak melangkah pergi.
Namun…
Tok.
Sebuah suara kecil terdengar.
Kipas tangan milik Nyonya Marianne terjatuh ke lantai marmer.
Elara terdiam. Menatap kipas itu.
“Elara. Ambilkan.”Katanya dingin.
“Cepat,hangan membuat aku menunggu.”
Dengan langkah gemetar…Elara maju. Gadis itu menurunkan tubuhnya. Berlutut di lantai dingin. Tangan kecilnya meraih kipas itu.
Saat itulah…
sebuah suara
“Cukup.”
Semua orang terdiam. Marquis melangkah maju. Wajahnya dingin. Tatapannya tajam.
“Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat untuk mempermalukan orang?”
Marianne terkejut.
“Marquis, Ibu hanya—”
“ Ibu sedang merendahkannya.” potong Marquis.
Marquis menatap pada tamu.
“Gadis ini, adalah orang yang dibesarkan dengan kehormatan.”
“Lebih terhormat dari banyak orang yang hanya bergantung pada nama keluarga.”
"Marquis kau keterlaluan!"
“Yang keterlaluan adalah mempermalukan seseorang di depan umum.” katanya sambil menoleh pada Elara.