"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adinda Memilih Mundur
Cahaya lampu neon di kamar mandi apartemen berdengung pelan, menyinari pantulan diri Adinda di cermin.
Wajahnya pucat. Ada lebam ungu kebiruan yang mulai muncul di sudut bibir dan tulang pipi kirinya. Tubuhnya terasa remuk, terutama punggungnya yang tadi dihantam pentungan karet.
Adinda mendesis pelan saat menempelkan handuk dingin ke perutnya yang memar.
"Kami butuh kau paham posisimu."
Kalimat preman tadi terus bergaung di kepalanya, lebih menyakitkan daripada luka fisiknya.
Adinda duduk di tepi bathtub, menatap lantai keramik yang dingin. Otaknya yang logis mulai menyusun kepingan puzzle yang selama ini ia abaikan.
William yang tidak membalas pesan selama berhari-hari.
Wajah William yang terlihat lelah dan keras di berita TV.
Dan sekarang, serangan fisik yang dikirim oleh "keluarga" William.
"Bodoh," bisik Adinda pada dirinya sendiri. "Kamu benar-benar bodoh, Adinda."
Selama ini ia berpikir bahwa diamnya William adalah bentuk kesibukan kerja. Ternyata bukan. Diamnya William adalah tanda bahwa pria itu sedang dikepung. William sedang berperang melawan orang tuanya sendiri—perang yang dipicu oleh keberadaan Adinda.
Adinda berjalan terpincang-pincang menuju meja belajarnya. Di sana, tergeletak pensil 2B hijau yang dikembalikan William di taman kampus. Benda murah yang menjadi simbol harapan Adinda akan sebuah hubungan normal.
Adinda mengambil pensil itu, memutarnya di jari.
Dulu, tugas Adinda sebagai bodyguard adalah menyingkirkan segala ancaman yang membahayakan William. Ia dilatih untuk mendeteksi bahaya dan menetralkannya agar William tetap aman dan sukses.
Dan ironisnya, malam ini Adinda sadar: Ancaman terbesar bagi William saat ini adalah dirinya sendiri.
Keberadaan Adinda membuat hubungan William dan orang tuanya retak.
Keberadaan Adinda membuat posisi William di perusahaan terancam.
Keberadaan Adinda membuat William tidak fokus dan menjadi target kemarahan keluarganya.
"Kalau aku terus maju... William akan hancur," gumam Adinda.
Jika Adinda memberitahu William soal penyerangan malam ini, William pasti akan murka. Pria itu akan mendatangi ayahnya, mengamuk, mungkin memutus hubungan keluarga, atau bahkan melakukan hal nekat yang akan menghancurkan reputasi bisnisnya yang sudah ia bangun susah payah.
Adinda tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau menjadi alasan William kehilangan segalanya.
Cinta itu tidak harus memiliki. Kadang, cinta itu berarti tahu kapan harus mundur agar orang yang kita cintai bisa terus melangkah maju.
Adinda menarik napas panjang, menahan perih di rusuknya. Ia membuka laci meja, mengambil sebuah kotak kecil.
Ia memasukkan pensil 2B itu ke dalam kotak.
Ia memasukkan secarik kertas sketsa wajah William yang ia gambar diam-diam.
Ia meletakkan semua kenangan "masa pendekatan" yang singkat itu ke dalam kotak tersebut.
"Aku bukan Cinderella, William," ucap Adinda lirih, seolah bicara pada sosok bayangan pria itu di seberang ruangan. "Cinderella punya ibu peri yang mengubah labu jadi kereta kencana. Sedangkan aku? Aku cuma punya tinju dan masa lalu yang gelap."
Adinda menutup kotak itu rapat-rapat.
Ia mengambil ponselnya yang layarnya retak. Ia membuka aplikasi pesan. Masih ada pesan terakhirnya yang tidak dibaca William.
Adinda: Liat kamu di TV barusan. Ganteng pake helm proyek...
Adinda menatap pesan itu lama. Air matanya menetes jatuh ke layar retak itu.
Dia tidak akan memblokir William. Itu terlalu kekanak-kanakan. Tapi dia akan melakukan sesuatu yang lebih permanen: dia akan menghilang dari radar.
Mulai besok, dia akan kembali menjadi Adinda yang dingin. Adinda yang sibuk. Adinda yang tidak bisa dijangkau. Dia tidak akan membalas pesan, tidak akan mengangkat telepon, dan akan menghindari pertemuan.
Dia akan membiarkan William berpikir bahwa Adinda-lah yang bosan. Biarlah William membencinya karena "berubah sikap", daripada William hancur karena membela dirinya.
"Maafkan aku, Tuan Bagaskara," bisik Adinda, suaranya bergetar hebat. "Perisaimu harus pergi. Karena kalau perisai ini tetap ada, justru dia yang akan melukaimu."
Adinda mematikan lampu kamar. Ia berbaring di tempat tidur dalam kegelapan, memeluk tubuhnya yang kesakitan.
Malam itu, di lantai 30 apartemen mewah itu, seorang gadis merelakan hatinya patah demi menjaga keutuhan hidup pria yang dicintainya. Dia sadar diri. Dia hanyalah kerikil di sepatu William, dan sudah saatnya kerikil itu keluar agar sang pangeran bisa berlari kencang lagi.
lanjut thor
lanjuuut