Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapak Mika Masih Sepi
Pagi itu, pasar tetap buka seperti biasa.
Suara motor tua datang dari jalan kecil. Pedagang sayur menggelar terpal. Ikan diturunkan dari ember. Cabai ditata seperti merah yang sengaja dipamerkan.
Sumberjati tidak pernah benar-benar berubah hanya karena satu orang.
Tapi orang-orang tetap memperhatikan.
Lapak Mika kosong.
Tidak ada keranjang jambu. Tidak ada pisang dari kebun Pak Raka. Tidak ada wajah gadis itu yang biasanya tersenyum kecil meski dagangan sedikit.
Hanya ruang.
Dan ruang kosong di pasar desa selalu cepat dibaca.
Bu Sari, yang biasanya membeli dua kilo jambu untuk cucunya, berhenti sebentar di depan tempat itu. “Kok nggak buka?” gumamnya.
Pedagang sebelah mengangkat bahu. “Mungkin sakit.”
Bu Sari menatap lebih lama, lalu berjalan pergi. Tapi ia tidak membeli jambu dari lapak lain. Seolah keputusan itu mendadak terasa rumit.
Di warung kopi pojok pasar, obrolan mulai bergerak pelan.
“Anaknya Pak Raka nggak datang ya?”
“Biasanya rajin.”
“Apa karena orang kota itu?”
Kalimat terakhir diucapkan pelan, tapi cukup untuk membuat dua orang lain saling pandang.
Nama Jovan tidak disebut.
Tapi semua tahu yang dimaksud siapa.
Di desa kecil, rahasia tidak butuh nama. Cukup arah.
Seorang bapak tertawa kecil, suara yang dipaksakan. “Ah, paling cuma kebetulan.” Tapi tawanya tidak menular.
Lapak buah lain mendadak lebih ramai.
Orang-orang membeli dengan cepat, seperti ingin membuktikan bahwa pasar tetap normal.
Tapi setiap beberapa menit, mata mereka melirik ke tempat kosong itu.
Seorang anak kecil berlari kecil, berhenti di depan lapak Mika.
“Mbak Mika mana?”
Ibunya menariknya cepat. “Sudah, jangan tanya.”
Anak itu cemberut. “Tapi aku suka jambunya…”
Ibunya tidak menjawab.
Kadang orang dewasa takut pada sesuatu yang bahkan belum dimengerti anak-anak.
Di sisi lain pasar, seorang pria asing duduk di bangku warung. Bajunya biasa saja. Topinya menutupi sebagian wajah. Ia tidak membeli apa pun. Hanya mendengar. Ia memperhatikan bagaimana desa bekerja.
Hari pertama, mereka menjauh.
Hari kedua, mereka bertanya-tanya. Hari ketiga… mereka akan memilih.
Ia mengisap rokok pelan, lalu bergumam hampir tanpa suara,
“Bagus.”
Lapak kosong lebih efektif daripada ancaman. Karena lapak kosong membuat orang bertanya sendiri. Dan pertanyaan selalu lebih tajam daripada pisau.
Sementara itu, di rumah Pak Raka, Mika duduk di ruang tengah.
Keranjang pasar masih di sudut.
Tidak dipakai.
Ia menatapnya seperti menatap kebiasaan yang tiba-tiba menjadi berbahaya.
“Aku merasa aneh,” katanya pelan.
Jovan duduk di kursi dekat jendela.
“Aneh karena tidak ke pasar?”
Mika mengangguk.
“Aneh karena… aku seperti bersembunyi.”
Jovan menatapnya.
“Kau tidak bersembunyi,” katanya pelan. “Kau sedang dijauhkan.”
Mika menelan ludah.
“Dari siapa?”
Jovan tidak langsung menjawab.
Karena jawaban itu akan membuat desa ini tidak pernah sama.
Pak Raka muncul dari dapur, langkah pincangnya terdengar pelan.
“Pasar itu tempat orang bicara,” katanya singkat.
Mika menoleh.
Pak Raka melanjutkan, suaranya datar tapi berat.
“Kalau kau tidak datang… mereka akan bicara lebih banyak.”
Mika memeluk lengannya sendiri.
“Apa aku salah ?”
Jovan menatap lantai sebentar, lalu berkata, “Tidak.” Ia mengangkat wajahnya. “Justru ini yang mereka mau. Mereka mau melihat apakah kau akan berhenti hidup.”
Mika menegang. “Dan aku tidak mau.”
Jovan mengangguk tipis. “Bagus.”
Di pasar, menjelang siang, kepala dusun lewat.
Ia berhenti sebentar di tempat lapak Mika. Tidak lama. Tapi cukup untuk dilihat orang-orang. Ia bertanya pada pedagang sebelah, “Mika kemana?”
Pedagang itu mengangkat bahu.
“Nggak datang, Pak.”
Kepala dusun mengangguk pelan. Lalu berkata, terlalu santai, “Ya… sekarang harus hati-hati, ya.” Kalimat itu tidak menunjuk siapa pun.
Tapi semua orang mendengarnya seperti arah. Dan arah itu menuju satu rumah. Rumah Pak Raka.
Sore menjelang, pasar mulai sepi.
Lapak Mika tetap kosong.
Namun namanya justru lebih ramai daripada buah-buah yang dijual.
Di desa kecil, ketidakhadiran bisa lebih berisik daripada kehadiran.
Dan jauh di luar keramaian itu…Levis menerima pesan singkat.
Dia tidak ke pasar. Mereka mulai menghindar.
Levis membaca, lalu tersenyum tipis. “Bagus,” gumamnya. “Kalau mereka mulai menghindar… berarti mereka sudah merasa.”
Ia menutup ponselnya.
Hari ini bukan serangan.
Hari ini hanya bayangan.
Tapi bayangan yang cukup untuk membuat satu desa menahan napas.
.
Pagi berikutnya, Mika bangun seperti biasa.
Keranjang kembali disiapkan.
Buah jambu yang kemarin dipetik sudah ditata rapi, sebagian dibungkus daun pisang agar tidak memar.
Tidak ada yang berubah di dapur, tidak ada yang berubah di rumah.
Tapi Mika tahu desa sudah mencatat. Ia menatap Jovan yang duduk di kursi dekat jendela. “Kau tidak perlu ikut,” katanya.
Jovan mengangkat wajahnya sedikit. Bahunya masih kaku, tapi sorot matanya tetap tajam.
“Aku tidak akan masuk pasar,” jawabnya. “Aku hanya memastikan kau pulang.”
Mika tidak membantah.
Pak Raka keluar pelan, “Hari ini jual seperti biasa,” katanya singkat. “Jangan lihat kiri-kanan.”
Mika mengangguk.
Dan mereka berangkat.
Pasar Sumberjati tidak besar.
Hanya deretan lapak sayur, ikan, bumbu, dan buah-buahan yang ditata seadanya.
Biasanya Mika datang dan langsung disapa. Tapi hari ini…
Sapaan itu terlambat.
Beberapa orang melihat dulu, baru tersenyum tipis.
Seolah mereka sedang memastikan sesuatu.
Mika menata jambu-jambu itu di lapaknya. Tangannya bergerak rapi, tapi dadanya tidak. Ia merasa seperti berdiri di tempat yang sama, namun dengan udara berbeda.
Lapak sebelah, Bu Rini menjual cabai. Ia melirik Mika sebentar, lalu berdehem kecil. “Kemarin tidak jualan, ya?”
Mika tersenyum. “Iya. Sebentar saja.”
Bu Rini mengangguk pelan. “Pasar sepi kalau kamu tidak ada.” Kalimatnya terdengar baik. Tapi ada sesuatu yang menggantung di ujungnya.
Pembeli pertama datang.
Seorang ibu muda dengan anak kecil. Ia berhenti, melihat jambu di lapak Mika.
Bagus. Ranum. Tapi ia tidak langsung mengambil. Matanya melirik ke arah jalan. Lalu ia mundur pelan. “Maaf, nanti saja…”
Mika terdiam. “Nanti saja kenapa, Bu?”
Ibu itu gugup. “Tidak apa-apa. Aku… mau lihat-lihat dulu.”
Ia pergi.
Mika berdiri kaku. Lapaknya tetap penuh.
Di ujung pasar, Jovan berdiri di bawah atap seng warung kopi.
Ia tidak mendekat.
Tidak perlu.
Ia melihat pola.
Orang-orang yang berhenti.
Orang-orang yang mundur.
Orang-orang yang berbicara pelan lalu diam saat Mika menoleh.
Ini bukan kebetulan. Ini diarahkan. Dan Levis selalu suka cara seperti ini.
Beberapa jam kemudian, akhirnya satu pria tua mendekat. Pak Wiryo, pembeli tetap Mika. Ia mengambil dua buah jambu tanpa ragu. “Ini manis,” katanya sambil menimbang.
Mika hampir ingin tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Wiryo menatapnya sebentar. Lalu suaranya turun.
“Kau hati-hati, Nak.”
Mika membeku. “Kenapa?”
Pak Wiryo tidak menjawab langsung. Ia hanya memasukkan uang, lalu berkata pelan, “Kalau pasar sudah disuruh diam… artinya ada orang yang bicara dari belakang.”
Ia pergi sebelum Mika sempat bertanya lagi.
Siang hari, Mika pulang dengan keranjang setengah. Tidak kosong. Tapi cukup untuk terasa.
Pak Raka duduk di teras ketika Mika datang. Ia melihat isi keranjang itu tanpa komentar panjang. Hanya satu napas keluar dari hidungnya. “Masih ada yang beli,” kata Pak Raka.
Mika menelan. “Sedikit.”
Pak Raka mengangguk. “Berarti mereka belum sepenuhnya berani.”
Mika menatap ayahnya.
“Ayah… ini akan sampai kapan?”
Pak Raka tidak menjawab cepat.
Ia hanya berkata, “Sampai orang itu bosan… atau sampai Jovan berhenti jadi rahasia.”
.
Di dalam rumah, Jovan berdiri dekat pintu.
Tatapannya tidak ke Mika. Tapi ke jalan. Ia berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri.
“Dia tidak menyentuhku.”
“Dia menyentuh hidupmu.”
Mika mendengar itu.
Dan untuk pertama kalinya…ia benar-benar paham. Bahwa tinggalnya Jovan di desa bukan hanya membawa luka. Tapi membawa perang yang tidak memakai senjata dulu.
Hanya memakai pasar.
Hanya memakai orang-orang.
Dan itu jauh lebih sulit dilawan.