Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Udara pegunungan Utara yang dingin menusuk tulang menyambut kedatangan rombongan Aslan saat mereka melewati celah sempit di antara tebing batu raksasa.
Di depan mereka, sebuah lembah tersembunyi yang dijaga oleh menara kayu sederhana namun kokoh mulai terlihat. Itulah markas utama kelompok tentara bayaran Serigala Perak, basis operasi sementara yang kini menjadi benteng terakhir bagi para loyalis Raja Elian.
[Sistem: Pemindaian area selesai. Unit kawan terverifikasi: 142 personil aktif. Status keamanan: Sangat Tinggi.]
Jenderal Elara berdiri tegak di depan gerbang utama. Jubah peraknya berkibar ditiup angin kencang pegunungan. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Aslan yang memimpin rombongan di barisan paling depan.
Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, Elara menghunuskan pedang melengkungnya dan menancapkannya ke tanah. Ia berlutut dengan satu kaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada pewaris sah takhta Valerion.
"Selamat datang kembali, Tuan Aslan. Kelompok Serigala Perak telah mengamankan perimeter sesuai perintah Anda," ucap Elara dengan nada bicara yang penuh loyalitas.
Seluruh tentara bayaran yang berada di atas tembok pertahanan mengikuti tindakan pemimpin mereka. Suara denting senjata yang beradu dengan perisai bergema di seluruh lembah. Mereka adalah para petarung profesional yang kini telah mempertaruhkan nyawa demi visi sang pangeran.
Aslan turun dari kudanya. Ia menoleh ke belakang, memastikan Baron Krow yang tampak pucat dan gemetar di atas kudanya tetap dalam pengawasan.
"Bawa Baron Krow ke ruang logistik. Pastikan semua dokumen legalitas yang ia bawa segera diproses untuk menutupi jalur suplai kita dari mata-mata Kael," perintah Aslan kepada Bayangan Merah.
Baron Krow hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu posisinya sebagai tawanan sekaligus aset sangat bergantung pada kegunaannya di mata Aslan.
Di sisi lain, sepuluh loyalis yang diselamatkan, termasuk Lord Hektor, turun dari gerobak dengan bantuan para prajurit Elara. Mata mereka berkaca-aca melihat bendera kerajaan lama yang masih terpasang secara sembunyi-sembunyi di dalam tenda utama.
"Bangunlah, Elara," kata Aslan sambil menyentuh bahu sang jenderal. "Waktu kita untuk bersembunyi hampir habis. Berikan laporan situasi perbatasan segera."
"Intelijen kami mendeteksi pergerakan masif Harimau Putih di sektor perbatasan bawah. Mereka mulai mencurigai jalur distribusi kita, Tuan," lapor Elara sambil berjalan mendampingi Aslan memasuki markas.
Si Tangan Besi segera memarkirkan gerobak logistiknya di area bengkel mekanis. Ia mulai mengarahkan para teknisi setempat untuk membongkar artileri uap dan ranjau yang tersisa.
"Kita tidak punya banyak waktu. Pastikan semua unit mekanis ini terintegrasi dengan kavaleri Elara dalam empat puluh delapan jam!" teriak Si Tangan Besi.
Jax segera mengambil posisi di menara pengintai tertinggi. Ia mulai memetakan koordinat tembakan bagi para pemanah baru, memastikan setiap sudut lembah berada dalam jangkauan busur mereka.
Di sudut lain, Kiko mulai memanajemen logistik makanan agar cukup untuk menampung tambahan personil baru. Kiko menggunakan catatan infrastrukturnya untuk mengatur sirkulasi udara di gudang penyimpanan bawah tanah markas.
Aslan berdiri di depan meja peta besar di dalam tenda utama. Cahaya lampu minyak menerangi garis-garis wilayah Valerion yang kini dikuasai pengkhianat.
[Sistem: Protokol sinkronisasi taktis aktif. Mengunduh data pertahanan terbaru dari memori Lord Hektor. Estimasi kesiapan tempur: 85%.]
"Lord Hektor, tugas Anda adalah memastikan para loyalis lain di luar sana tahu bahwa pangeran mereka telah kembali," ucap Aslan. "Legitimasimu akan menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang manapun saat kita menyerang balik."
Aslan menatap Elara. "Mulai besok pagi, aku akan memimpin pelatihan simulasi tempur secara langsung. Tidak ada lagi tentara bayaran yang bertarung tanpa koordinasi sistem saraf. Kita akan menjadi satu unit yang tak terhentikan."
Mata biru Aslan berpendar tipis dalam remang tenda. Di bawah perintahnya, markas Serigala Perak kini resmi berubah dari tempat pengungsian menjadi pusat komando perang yang mematikan.
Malam itu, bengkel mekanis di sudut markas menjadi tempat paling sibuk. Suara dentuman palu Si Tangan Besi beradu dengan deru mesin uap portabel yang baru saja dirakit.
"Tambahkan tekanan pada piston ini! Kita butuh daya dorong lebih besar untuk menembus zirah berat Harimau Putih!" Si Tangan Besi memberi komando pada dua teknisi Serigala Perak yang berkeringat deras.
Aslan berjalan mendekati tumpukan peti logistik yang sedang diperiksa oleh Baron Krow di bawah todongan belati Bayangan Merah. Pangeran itu mengambil sebuah stempel resmi kerajaan yang sebelumnya disita dari rumah sang Baron.
"Setiap gandum dan amunisi yang masuk ke lembah ini harus tercatat sebagai pesanan resmi garnisun perbatasan Kael. Kau mengerti, Baron?" suara Aslan terdengar dingin namun tenang.
Baron Krow menyeka keringat di dahinya. "S-saya sudah menandatangani surat jalannya, Pangeran. Tapi jika auditor pusat memeriksa buku besar di ibu kota..."
"Maka kau harus memastikan auditor itu tidak pernah sampai ke sana," potong Aslan sambil menyerahkan kembali stempel itu. "Jax akan membantumu 'membereskan' hambatan birokrasi tersebut."
[Sistem: Analisis psikologis subjek Baron Krow. Tingkat kepatuhan: 92%. Risiko pengkhianatan: Rendah selama ancaman fisik dipertahankan.]
Di tengah lapangan markas, Elara mulai mengumpulkan para perwira senior Serigala Perak. Mereka menatap Aslan dengan campuran rasa hormat dan skeptis. Bagi mereka, pangeran ini masih sangat muda untuk memimpin perang sesungguhnya.
Aslan menyadari tatapan itu. Ia melangkah ke tengah lingkaran dan menarik pedang panjangnya. Ujung pedangnya menggores tanah pegunungan yang keras.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan," ujar Aslan dengan suara yang menjangkau seluruh sudut lapangan. "Kalian adalah Serigala Perak. Kalian bertarung untuk emas. Tapi emas tidak akan bisa membeli kembali kehormatan kalian yang hilang sejak Kael mengambil alih negeri ini."
Ia memberikan isyarat pada Si Tangan Besi. Sebuah proyektil kecil berbahan bakar uap diluncurkan dan meledak di udara, menerangi langit malam dengan cahaya kemerahan.
"Mulai hari ini, kalian bukan lagi sekadar tentara bayaran. Kalian adalah ujung tombak pembebasan Valerion. Siapa pun yang meragukan visi ini, silakan tinggalkan markas sekarang. Tapi bagi yang bertahan, aku menjanjikan lebih dari sekadar emas. Aku menjanjikan tempat di sejarah sebagai pahlawan yang meruntuhkan tirani pengkhianat."
Keheningan menyelimuti lapangan. Satu per satu, para perwira Serigala Perak menghunuskan senjata mereka ke udara. Elara adalah yang pertama berteriak, diikuti oleh raungan ratusan prajurit lainnya yang menggetarkan lembah.
Aslan memejamkan matanya sejenak. Sistem di kepalanya memberikan notifikasi terakhir sebelum ia beristirahat.
[Sistem: Moril pasukan meningkat 40%. Sinkronisasi pemimpin-bawahan berhasil dibangun. Memulai mode siaga satu.]