🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang menghangatkan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Alexa dan Yura akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan yang tampak seperti kamar mereka malam ini. Tenaga keduanya seolah terkuras habis.
Begitu pintu tertutup, Yura langsung mengembuskan napas panjang, sementara Alexa bersandar sejenak pada dinding, sama-sama menikmati kelegaan setelah ketegangan yang panjang.
"Hampir saja aku dituduh hamil duluan gara-gara pernikahan ini," ucap Yura sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas.
Bayangan ibunya yang terus merayunya dengan kata-kata memalukan tentang malam pertama membuatnya semakin gelisah. Padahal ia tahu, hal itu tidak akan terjadi.
Alexa tetap santai berdiri di dekat dinding. Pandangannya kosong, pikirannya kembali pada kata-kata Ranim yang menitipkan Yura padanya, seolah kalimat itu masih menggantung di udara.
"Apa yang dikatakan Papa padamu?" tanya Yura sambil mengambil dua selimut tebal yang tergeletak di lantai. "Apa dia mengancam atau menyuruhmu melakukan sesuatu?"
"Tidak ada," jawab Alexa singkat. "Dia hanya menitipkanmu padaku."
Yura sontak menoleh. "Seperti aku ini barang saja," gumamnya pelan.
Alexa terdiam sejenak, lalu berkata, "Tapi setelah kupikir-pikir, apa yang membuatmu menyukai Rendra? Apa kau tidak tahu soal sahabatmu yang bernama...?"
"Rose," sambung Yura lirih.
Alexa mengangguk. "Aku pernah melihat mereka bersikap romantis di sebuah toko roti." ia menarik napas dalam. "Interaksi mereka saja sudah terlihat berbeda."
Yura kembali menunduk. "Mungkin aku terlalu polos soal percintaan. Rose selalu mendukungku dan tidak pernah membuatku marah. Dia begitu baik."
Alexa hanya mengangguk. "Namun nyatanya, kebaikannya membuatmu membuka hati untuk semuanya."
Yura melirik Alexa sekilas, rasa malu menyusup ke dadanya. "Anda benar. Lebih baik kita tidur saja. Kita juga harus memikirkan bagaimana cara melepaskan ikatan ini." ia menyerahkan salah satu selimut tebal kepada Alexa.
Alexa menerimanya tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kembali pada ucapan Ranim tentang menitipkan putri kesayangannya.
Apalagi kata pulang terdengar begitu hangat, membuatnya merasa betah berada di rumah itu, meski semua berawal dari sebuah kebohongan.
"Apa kau tidak ingin membalas dendam kepada mereka?" ucap Alexa tiba-tiba.
Ucapan itu membuat Yura yang semula hendak duduk kembali berdiri. Ia menoleh dengan cepat, lalu menggeleng pelan.
"Untuk apa?" jawabnya lirih. "Dendam tidak akan mengubah apa pun."
Alexa menatap Yura beberapa detik, seolah ingin memastikan apakah jawaban itu sungguh keluar dari hati Yura.
"Lagipula," lanjut Yura setelah jeda singkat, "Setelah kupikir-pikir, mungkin mereka melakukannya karena memikirkanku juga. Bisa jadi mereka hanya mencari cara untuk menjelaskan sebelum mengatakan semuanya."
"Kau benar-benar berpikir seperti itu?" tanya Alexa datar.
Yura mengangguk kecil. "Aku ingin percaya begitu."
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menahan getaran di dadanya agar air mata tidak jatuh. "Mungkin semua ini memang sudah jalannya."
Ia menoleh ke arah Alexa. "Maaf, Pak. Gara-gara masalah saya, Anda ikut terseret sejauh ini. Saya sungguh minta maaf."
Alexa terdiam. Ia tidak begitu menyukai kata maaf yang keluar dari bibir Yura, terlebih dengan nada setunduk itu. Namun ia menepis perasaan tersebut. Dalam posisi gadis itu, permintaan maaf memang terasa wajar.
"Kau tidak menyeretku," ujarnya singkat.
Yura menatapnya ragu, seolah ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih diam.
Pandangan Alexa kemudian tertuju ke lantai. Ia terkejut melihat alas tidur berupa jerami, bukan kasur tebal seperti yang ia bayangkan.
"Apa kita akan tidur di sini malam ini?" tanyanya ragu. "Tanpa kasur?"
"Ya," jawab Yura tenang. "Memang seperti ini."
Alexa menghela napas pelan. "Tempat ini jauh dari kata layak."
"Namun cukup hangat," balas Yura singkat. "Ini adat keluarga saya dan juga adat desa ini," lanjutnya. "Jika seseorang menikah, maka malam pertamanya harus tidur di atas jerami."
"Aneh," gumam Alexa. "Mengapa tidak sekalian tidur di kandang saja." suaranya terdengar datar, tetapi ada kesan tidak percaya.
"Seharusnya begitu, ya, Pak," sahut Yura tanpa emosi. "Setidaknya lebih sesuai dengan komentar Anda."
Alexa berdeham kecil. "Kau masih memanggilku Pak."
Yura terdiam.
"Padahal Oma tadi mengatakan kau seharusnya memanggil namaku," lanjut Alexa. "Kalau di kantor, aku tidak keberatan. Namun di luar itu, panggil saja namaku."
Yura menatap Alexa, terkejut. "Apa Anda salah makan hari ini?"
"Apa itu terdengar aneh bagimu?"
"Sedikit," jawab Yura jujur.
Alexa tidak menanggapi. Ia kembali menatap jerami di lantai. "Lebih baik kita tidur di lantai daripada di atas jerami itu. Rasanya tidak masuk akal."
"Anda harus tahu alasannya," ujar Yura pelan. "Bagi mereka, malam pertama dianggap sesuatu yang sensitif."
Alexa menoleh.
"Cairan yang keluar seperti darah tidak boleh mengotori kain," lanjut Yura dengan nada tetap tenang, meski pipinya mulai memanas. "Karena itu jerami digunakan, lalu segera dibakar agar pernikahan, menurut kepercayaan, terikat selamanya." ia menunjuk jerami itu sekilas.
"Lagipula, udara malam di sini sangat dingin. Anda tidak bisa membayangkan dinginnya nanti."
"Kepercayaan yang merepotkan," gumam Alexa.
"Namun mereka menjaganya dengan sungguh-sungguh," balas Yura.
Yura lalu melirik kain tebal di tangannya. "Begini saja. Jika Anda tetap tidak mau, kain ini untuk Anda saja." ia membentangkannya di atas jerami. "Silakan tidur, Alexa."
Sekejap dada Alexa bergetar saat namanya disebut. Ia berdeham untuk menyembunyikan debar itu. "Kalau begitu, kau bagaimana?"
"Aku sudah terbiasa," jawab Yura singkat. "Dingin bukan hal baru bagiku."
"Kau selalu menjawab seperti itu," ujar Alexa pelan.
"Karena memang begitu kenyataannya."
Yura kemudian berbaring. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bergerak. Tanpa sadar, ia memunggungi Alexa.
Tak lama kemudian, Alexa ikut berbaring di atas jerami itu. Ia terkejut karena alas tersebut ternyata cukup hangat dan tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia pun menyelimuti dirinya, lalu melirik Yura yang tampak menahan dingin.
"Lebih baik kau tidur di sampingku," ucap Alexa akhirnya. "Aku tidak ingin kau sakit."
Yura menoleh. "Apa Anda tidak keberatan?"
"Daripada kau berpura-pura kuat sambil menahan dingin."
"Ah, tidak masalah—" ucapan Yura terhenti ketika tubuhnya sudah ditarik dan kini berada dalam dekapan lengan Alexa.
Detak jantung mereka berdetak tak beraturan.
"Anda ini—" Yura terdiam, napasnya sedikit tercekat.
"Tenang saja," ujar Alexa pelan. "Aku tidak akan melakukan apa-apa."
"Baiklah," ucap Yura gugup, berusaha bercanda. "Jangan salahkan saya jika nanti Anda menjadi bantal kaki saya."
"Selama kau tidak menendangku," balas Alexa singkat.
Ia memalingkan wajahnya, lengannya menutupi sebagian wajah yang memanas. "Lebih baik kau tidur. Aku sudah sangat mengantuk."
Padahal, ia tahu, malam ini ia tidak akan mudah terlelap.
Yura mengangguk pelan. "Selamat malam… Alexa."
Alexa tidak menjawab. Namun ia tidak melepaskan pelukannya.
Yura menarik selimut, memejamkan mata, dan berusaha menenangkan napasnya di tengah keheningan malam yang dingin.
ku harap rose kena karma dr perbutany sdri.trus rendra jg bs kebka mata hatiy d sukur2 sadar d bs ninggalin rose.
km dilepeh ros km menyesal tlh bersikap kejam ma yura stlh tau kebenarany ...trus km mlh pindah haluan ke yura....siap2 aj km dislepet ma alexa🤭
jadi kangen si cipit😁😁😁😁
Semangat ya otor update nya 🔥💪🥰
Apa Rose punya kelainan yg menyimpang ... seperti menyukai sesama jenis 🤔🤔 kalau itu benar sungguh menjijikan dan Rendra akan benar-benar dapat kejutan yang besar dan akan menyesal sudah menolak Yura 😩 demi seorang Rose wanita jadi"an 😅😅