Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Pembawa Sial
Dari kejauhan nampak sebuah truk melaju dari tikungan jalan yang menurun dengan kecepatan yang tidak wajar. Supir truk berusaha menginjak pedal rem namun gagal, ia langsung menyadari kalau truk yang ia kendarai mengalami rem blong. Ia membunyikan suara klakson panjang yang terdengar memekakkan telinga, berharap semua orang menyingkir agar tak ada yang terluka.
Dalam keadaan panik, truk melaju semakin kencang menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan depan mini market, di dalamnya terdapat Setyo dan Dicky yang sedang bernyanyi mengikuti irama musik dari radio mobil. Truk semakin tidak terkendali.
DUARRRR!!
Truk menghantam kencang mobil Setyo. Terdengar suara benturan baja dan kaca pecah yang amat mengerikan. Mobil sedan tersebut terdorong ke depan, bagian belakangnya hancur dihantam truk. Semua terjadi begitu cepat, dalam sepersekian detik suasana pagi yang hangat berubah menjadi mencekam.
"TIDAAAAAKKKK!" Tasya tak kuasa menahan dirinya. Ia jatuh terkulai lemas di depan toko. Botol air mineral yang ia beli berjatuhan.
Orang-orang mulai berdatangan melihat kecelakaan yang baru saja terjadi. Petugas mini market juga ikut keluar untuk melihat apa yang telah terjadi di depan tempatnya bekerja.
"Tidak... Dicky! Mas Setyo!" Tasya berusaha berdiri kembali. Ia berlari dengan limbung menuju mobil miliknya yang tertabrak truk.
Kaca mobil pecah berserakan. Tasya bisa melihat ada darah dimana-mana. Tasya berusaha mendekat dan ingin menyelamatkan suami dan anaknya namun ada yang menahannya. "Mbak, banyak pecahan kaca. Mbak jangan mendekat!" kata salah seorang warga.
"Di dalam sana ada suami dan anak saya. Tolong mereka, saya mohon. Selamatkan mereka!" pinta Tasya sambil berlinang air mata.
"Iya. Mbak tenang dulu ya. Sebentar lagi ambulans datang."
Tasya memaksa ingin mendekat namun tetap ditahan. "Dicky! Mas Setyo!" Tasya melihat Setyo dan Dicky sudah tak sadarkan diri dengan posisi Setyo yang terjepit. Pandangan mata Tasya mulai kabur oleh air mata. Ia terus meminta tolong agar anak dan suaminya diselamatkan.
Tak lama terdengar suara sirine mobil ambulans. Tak mudah mengeluarkan Setyo dan Dicky. Saat petugas memberitahu kalau Setyo dan Dicky masih hidup, sebuah harapan besar tumbuh dalam diri Tasya.
.
.
.
Di rumah sakit, Tasya duduk di ruang tunggu dengan penampilan yang kusut. Pada kaos lengan panjang yang ia kenakan nampak bercak darah. Berbeda sekali dengan penampilan cantiknya saat akan berangkat satu jam yang lalu.
Seorang dokter dengan wajah yang serius datang menghampiri Tasya. "Anda keluarga dari Bapak Setyo Wirayudha dan anak Dicky Anugerah?"
Tasya langsung berdiri tegak. "Iya, saya Dok. Bagaimana keadaan anak dan suami saya, Dok? Mereka bisa diselamatkan bukan?"
Sang dokter menghela nafas dalam. Ia menatap Tasya dengan tatapan kasihan. Penampilannya menunjukkan betapa shock Tasya saat ini, apalagi setelah mendengar berita yang akan disampaikan dokter. "Bapak Setyo mengalami patah tulang kaki karena terjepit namun kondisinya stabil namun kami tetap harus melakukan operasi."
Tasya merasa sedikit lega. Suaminya selamat. Sedikit bebannya terangkat. "Bagaimana dengan anak saya Dicky, Dok?"
Wajah Dokter berubah menjadi muram. "Keadaan Dicky tak sebaik Pak Setyo. Dicky mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala. Hal ini menyebabkan efek traumatis yang serius. Dicky harus melakukan operasi. Setelah operasi, ia harus dirawat intensif di ruang NICU."
"Ap-apa? NICU?" Jantung Tasya seolah berhenti berdetak. Dicky kritis.
"Benar, Bu. Dicky harus segera dioperasi secepatnya dan ia juga harus tetap dalam pengawasan 24 jam pasca operasi. Ibu bisa mengurus semua biaya operasi di bagian administrasi baru kami bisa melakukan operasi. Usahakan segera ya, Bu, semakin lama operasi ditunda, kami tak bisa menjamin keselamatannya," pesan dokter sebelum berlalu.
.
.
.
Tasya menunggu dengan harap cemas di depan petugas bagian administrasi rumah sakit yang sedang menghubungi pihak asuransi, berharap asuransi bisa mencover biaya operasi suami dan anaknya.
Petugas administrasi lalu menjelaskan hasil percakapannya dengan pihak asuransi pada Tasya. "Kami sudah menghubungi pihak asuransi. Untuk Bapak Setyo Wirayudha, dari pihak asuransi mobil akan mengcover sebesar 80 persen dari tagihan rumah sakit namun untuk biaya awal, Ibu harus menyediakan sebesar Rp 15.000.000,-."
Tasya berpikir masih bisa mengusahakan biaya tersebut. Ada uang tabungannya sekitar Rp 20.000.000,- untuk sewa rumah dan cicilan mobil. Namun ternyata Tasya belum bisa bernafas lega karena penjelasan petugas administrasi berikutnya membuatnya tak bisa berkata-kata. "Namun untuk anak Dicky Anugerah, asuransi yang digunakan tidak bisa mengcover untuk kecelakaan lalu lintas. Ibu harus membayar untuk biaya operasi dan ruang NICU secara pribadi. Ibu bisa membayar uang muka dahulu sebesar Rp 100.000.000,-."
"Ap-apa? Seratus juta?" Angka tersebut seolah menghantam Tasya dengan kencang.
"Biaya tersebut belum termasuk biaya lanjutan seperti kamar perawatan, obat dan fisioterapi...."
Tasya tak lagi mendengar penjelasan petugas administrasi. "Apa tak ada keringanan biaya? Saya tak punya uang sebanyak itu," kata Tasya dengan memelas.
Petugas administrasi merasa iba namun tak bisa melakukan apapun karena ini sudah ketentuan dari rumah sakit. "Kami mengerti, Bu. Kami tak bisa menunda operasi untuk anak Dicky Anugerah karena setiap jam sangat berharga."
"Setiap jam sangat berharga? Lantas dimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Dicky?" batin Tasya.
Dengan langkah lunglai, Tasya kembali ke ruang tunggu. Ia mengusap keningnya yang terasa pening. "Darimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Dicky dan Mas Setyo? Ya Allah, tolong aku. Selamatkan dua lelaki yang amat kusayangi. Berikan hamba jalan keluar untuk mendapatkan uang."
Saat sedang memikirkan akan mencari uang kemana, sebuah suara yang amat Tasya kenal terdengar tak jauh dari tempatnya duduk. "Setyo! Dimana Setyo anakku?" Suara Ibu Welas yang menangis histeris membuat Tasya menoleh.
Ibu Welas melihat Tasya. Ia berjalan cepat mendekati menantunya. "Mana Setyo? Mana anakku?" Ibu Welas mengguncang tubuh Tasya, seakan Tasya adalah pelaku semua hal malang yang menimpa anaknya tersebut.
"Mas Setyo sedang menjalani operasi, Bu," jawab Tasya sambil berlinang air mata. Ia menatap Ibu Welas penuh harap. Mungkin ini jawaban atas doanya. Mertuanya yang kaya raya pasti akan meminjamkan uang untuk pengobatan Dicky. Belum sempat Tasya mengutarakan maksudnya, Ibu Welas langsung mencecarnya.
"Bagiamana Setyo bisa kecelakaan? Bukankah kalian mau pergi ke museum? Kenapa kamu bisa baik-baik saja?" Ibu Welas menatap Tasya dari ujung kepala sampai kaki. Menantunya nampak segar bugar meski penampilannya agak kusut dan pakaian yang dikenakan ada noda darahnya.
"A-aku sedang membeli air mineral ketika mobil yang ditumpangi Mas Setyo dan Dicky ditabrak truk-" Belum selesai Tasya menjelaskan, Ibu Welas sudah memotong ucapannya.
"Memang kamu perempuan pembawa sial! Kenapa tidak kamu saja yang terbaring di dalam? Seharusnya kamu yang celaka, jangan anak saya!" Ibu Welas murka. Ia memaki Tasya.
"Bu, ini musibah. Aku juga tidak tahu kalau-"
"Apa? Musibah? Kalau saja Setyo tidak pergi denganmu dan pergi ke rumahku, semua ini tak akan terjadi!" Ibu Welas menatap Tasya dengan tatapan merendahkan. "Anak yatim piatu macam kamu itu memang tak pantas jadi istri anakku. Lihat saja sekarang, anakku celaka karena kamu si pembawa sial!"
Sakit hati Tasya mendengarnya. Ia sudah berusaha menjadi menantu baik selama ini namun ternyata semua tak ada artinya di mata Ibu Welas.
"Maaf, Bu." Tasya menundukkan wajahnya. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah. "Dicky juga kecelakaan. Keadaan Dicky lebih parah dari Mas Setyo."
Tasya menatap Ibu Welas dengan tatapan memohon. Ia singkirkan rasa sakit hatinya. Keselamatan Dicky yang utama. Uang Rp 100.000.000,- bagi mertuanya yang kaya pasti tak ada artinya. "Bu, Dicky harus dioperasi, bisakah Ibu meminjamkanku uang Rp 100.000.000,- untuk biaya operasi Dicky?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣