Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sia-sia
"Bodohnya aku, si@l!" Kesalnya dengan tinju di udara.
"Ini rencana yang matang Tuan."
"Benar, tapi Daddy masih belum sadar juga. Kalau aku lebih cepat meminta dan bergerak, ini tidak akan terjadi! Dia begitu dekat dengan ku! Sangat dekat! Si@l!" Gerutunya.
"Tuan tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah berusaha."
"Tidak! Masih belum! Aku sungguh terkecoh! Lihat saja! Setelah aku temukan dan bawa my little ku. Habis dia!"
"Tapi apakah Daddy tuan akan mendengarkan?"
"Semoga saja tidak lagi! Sudah cukup buta dan tulinya itu! Semuanya sudah terjadi. Andai saja.... Aku tidak pergi Sam....."
"Tuan, tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Ini bukan karena Tuan."
"Tapi tetap saja. Tapi, aku akan menebus nya. Iya.... Aku akan menebus nya. Dengan membawa nya kembali."
********************
"Langsung kesana! Tidak perlu acara sarapan atau istirahat!" Jelasnya cepat membuat asisten nya mengangguk saja.
"Bagaimana kalau makan sandwich diperjalanan tuan?"
"Pokoknya aku harus sampai ke Giethoorn! Sekarang juga!" Titah nya.
"Baik tuan."
"Cepatlah! Ini sudah mengulur waktu beberapa hari."
"Ya, tapi mau bagaimana lagi Tuan. Kita tidak punya pintu ajaib." Ujar Sam kecil.
"Wisatawan ya?" Seorang pemilik perahu mendatangi keduanya dengan ramah.
"Bukan, kami ada perlu."
"Menemui sanak saudara!" Jelas Sam karena tuannya hanya diam menghitung menit.
"Tentu, mau ke rumah yang mana?" Tanya pemilik perahu.
"Yang ini! Tolong cepat! Sedikit." Keindahan alam dan keheningan tempat itu nyatanya tidak mampu membuat ketenangan dalam dirinya. Matanya terus melihat kanal dan rumah-rumah yang tersusun rapi. Melihat dan tak sabar melangkah masuk ke rumah yang dicarinya.
"Tegang sekali. Aku jadi takut untuk terus mendayung." Canda pemilik perahu melihat ketegangan dan wajah penuh keseriusan disana.
"Maklum, sudah lama tidak bertemu." Jelas Sam berusaha ramah.
"Nah, sudah sampai!" Sam berpegangan pada sisi perahu karena tuannya yang tidak sabaran untuk turun, menciptakan goyangan dari perahu yang mereka naiki.
"Maaf ya, ini uang nya. Terimakasih." Jelas Sam mengambil langkah cepat dan membuat pemilik perahu itu menggelengkan kepalanya.
"Tuan, tunggu dulu....."
"Diam! Sekarang panggil dan ketuk pintu nya!" Titahnya.
"Iya Tuan." Sam mengangguk patuh dan mengangkat tangannya, dia mengetuk pintu perlahan.
"Permisi..... Permisi." Ujarnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.
"Mungkin, keluar Tuan. Apa bekerja?" Tanya Sam.
"Ketuk dan panggil lagi! Aku akan menghubungi hotel." Jelas bos nya.
"Permisi, nona Elina.... Nona Elina....no....na."
"Hei, mau diketuk sampai besok pagi pun tidak akan ada hasilnya." Ucapan itu membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Kenapa nek? Memang, pemilik rumah nya...."
"Pergi! Dia sudah pergi!" Jelas nenek itu kembali dari perahu nya.
"Kemana?"
"Tidak tau, tapi yang jelas ke luar negeri! Ada yang meninggal, jadi dia pergi dengan terburu-buru. Kasihan sekali dia." Jelas nenek itu.
"Apa ini orang nya?" Tangan berurat itu mengeluarkan selembar foto.
"Iya, dia.... Elena. Wanita cantik itu."
"Siapa yang meninggal?"
"Ah, sepertinya bibi nya. Aku kurang tau pasti. Tapi sepertinya begitu. Telfon saja, sudah ya. Aku mau....."
"Eh, tunggu nek! Kira-kira kapan kembali nya?" Nenek itu menyipitkan matanya sambil memperbaiki posisi topinya.
"Tidak tau, telfon saja." Nenek itu melaju perlahan melewati kedua pria itu.
Panggilan tampak terhubung, langsung saja suara tegasnya bertanya. "Apa elena tidak masuk hari ini?"
"Tidak tuan, dia izin cuti. Ada keluarga nya yang meninggal tuan."
"Kemana?"
"Aku tanya kemana!" ulang nya lagi.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏