Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menagih Sertifikat Rumah
Sebagai sesama perempuan, MJ tau sakitnya menjadi Bu Nia. Dulu ibunya juga sempat mengalami hal serupa saat harus menghemat uang demi biaya kuliah Rama.
" Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Rama! Demi Allah sakit hatiku kehilangan anak yang aku kandung dan lahirkan dengan taruhan nyawa!
Apa kamu tau Rama? Kandunganku bermasalah dan butuh obat yang tidak di cover asuransi. Tapi biadabnya Pak Toha selesai menekan suamiku untuk membayar terapi mu yang mahal.
Kamu dan Toha akan mempertanggungjawabkan semua di akhirat. Aku sebagai istrinya tidak ridho dunia akhirat atas uang yang dikeluarkan Kang Abdul untukmu! pergi kamu pembvnuh!" maki Bu Nia sambil menunjuk-nunjuk Rama
MJ langsung merangkul tubuh Bu Nia yang terlihat emosi, bukan ia membela tapi lebih kepada empatik.
" Istighfar Bu, ayo masuk ke dalam" ajak MJ
Tangis Bu Nia terasa sangat memilukan, MJ langsung membawa paksa Bu Nia yang hancur dengan wajah yang berantakan. Sementara Rama di hujam dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Ia bukan hanya menghancurkan Ibu Sintia dan MJ, tapi juga membuat Bu Nia tertekan sejak masa kehamilannya.
Puncaknya adalah Kenzo meninggal saat Pak Abdul memperjuangkan kesehatan Rama di RS. Dan hal itu sangat membuat Rama merasa terpukul dan merasa bersalah.
Dengan langkah gontai ia pergi meninggalkan rumah masa kecilnya. Kali ini ia akan benar-benar pergi dan tak kembali lagi, mungkin ia akan pergi ke luar kota hingga tak ada alasan bagi kakek Toha untuk memeras Pak Abdul lagi.
" Minum dulu bu" MJ memberikan segelas air putih
Ia melihat tubuh Bu Nia gemetaran seperti sedang mendapatkan serangan panik yang luar biasa. Kesedihannya benar-benar membuat MJ iba, karena bagaimanapun Kenzo adalah adiknya meski terlahir dari rahim berbeda.
" Sakit rasanya kehilangan anak yang kita perjuangkan sejak dalam kandungan, Neng. Sejak hamil, aku selalu stress karena ayahmu membagi gajinya lebih banyak untuk Rama.
Aku juga berhak atas penghasilan Kang Abdul apalagi bayiku butuh vitamin khusus. Saat kemarin aku mendapatkan video darimu, aku marah besar dan bersumpah akan pergi jika ayahmu masih mengurusi anak aib itu" ucap Bu Nia dengan tatapan penuh amarah.
MJ hanya mendengarkan saja tanpa memprotesnya, curahan hati yang begitu dalam kebersamaan dengan duka mendalam seorang ibu.
Sekarang ia tau kenapa almarhum ibu begitu gigih mempersiapkan tabungan untuk MJ tanpa sepengetahuan ayah. Itu karena Kakek Toha benar-benar dzalim dan ayah adalah tipe lelaki yang nggak enakan.
" Ibu istirahat saja ya dikamar, banyak-banyak istighfar dan dzikir supaya pikiran nggak kosong" ucap MJ
Setelah mengurusi Bu Nia, MJ buru-buru kerumah Sisil untuk menyerahkan motor yang dipinjam. Ia juga janjian sama Mas Gilang disebuah resto dekat balaikota, ini adalah tempat yang aman untuk bertemu dari jangkauan Bu Emma dan Pak Hasan.
" Terus gimana keadaan kakek tua itu? mati nggak?" tanya Mas Gilang
" Aku nggak denger info lagi, Mas. Sejak pergi ke Madiun, aku kan ganti nomor ponsel jadi nggak sekontak sama keluarga kakek Toha dan para uwak lagi" jawab MJ
" Kasihan sih Bu Nia, terlepas dari sikap menyebalkannya, dia tetaplah tanggung jawab Pak Abdul yang tak bisa di abaikan. Lagian kenapa sih bapak lo lemah banget jadi laki, mau aja di manfaatin sama Pak Toha"
" Iya Mas, aku juga geregetan sama ayah. Nyalinya ciut banget kalau berhadapan sama kakek. Dia lebih milih di cap jadi suami dzalim yang penting nama baik aman"
" Terus mau kamu gimana sekarang, Je?"
" Nggak tau Mas, justru aku minta ketemu buat bahas ini. Kepalaku buntu Mas, liburan semesteran berasa dapat project Mahabarata ini"
Hahahhahh!
Gilang tertawa lepas sambil mengacak rambut adiknya.
" Semua tergantung ayahmu mau gimana, kalau mau diperas terus ya monggo, tapi ia akan kehilangan semuanya. Karena pasti Wak Asrul dan Wak Baim akan mempersalahkan tindakan kamu yang memicu sakit jantung kakek"
" Waduh Mas! Kira-kira aku di penjara ngga ya?" MJ ketar ketir
" Enggak bakalan dek, mana mungkin mereka berbuat sejauh itu. Tapi aku yakin mereka akan terus menekan bapakmu untyi bertanggung jawab. Ohya, pengobatan si Rama gimana?"
" Nggak tau Mas, tapi dia kelihatan ringkih tadi. Aku aja nggak tega lihatnya, aku yakin makian dari Kanjeng ratu akan membuat mental A Rama makin down"
" Itu ungkapan hati terdalam seorang ibu yang kehilangan anaknya. Setidaknya dia lebih baik daripada ibu kandungku, Je. Sampai detik ini dia enggan memeluk dan mengakui ku meski diam-diam" ujar Mas Gilang yang sebenarnya sedih dengan keadaannya
" Sabar ya Mas Gilang, suatu saat nanti Tante Sarah akan menyesal dengan perbuatannya di masa lalu" ujar MJ
Gilang tersenyum hangat, ia sudah ikhlas dan malah bersyukur. Sebab jika ia tidak diambil oleh Bu Emma, mungkin hidupnya akan berantakan
" Its ok nggak apa-apa, aku sudah cukup bahagia dengan Bu Emma dan Pak Hasan" ujar Gilang
*****
" Jadi si Rama itu anak selingkuhan bapak? Memalukan!" ujar Wak Asrul yang baru tau dengan fakta itu
Wak Asrul dan Wak Baim hanya tau tentang status Pak Abdul yang merupakan anak angkat orang tuanya, tapi mereka tidak tau jika Rama adalah anak hasil hubungan gelap Pak Toha dan Bu Lina.
Dulu Pak Toha memang mengarang cerita bahwa Rama adalah anak Abdul dari wanita jalang setelah cerai dari Sarah. Dan untuk status Gilang, Wak Asrul dan Wak Baim tidak tau karena berita itu memang ditutupi atas permintaan Bu Emma dan Pak Hasan.
" Aku sadar jika aku harus balas budi atas kebaikan bapak, tapi ini malah menjadikan keluargaku hancur Kang. Sekarang Nia hampir depresi karena kehilangan anak, dan aku akan diliputi rasa bersalah seumur hidup karena mengabaikan Kenzo sejak dalam kandungan.
Mulai sekarang, aku angkat tangan atas biaya pengobatan kanker Kenzo. Ada hal yang harus aku prioritaskan sekarang, yaitu Nia dan biaya kuliah Tari" ujar Pak Abdul yang nekad datang ke RS karena ingin menyelesaikan semuanya
Wak Asrul mengangguk paham, ia juga kecewa dan tak habis pikir dengan kelakuan ayahnya yang dzalim.
" Aku sempat curiga kenapa bapak begitu sayang sama Rama, padahal dia bukan cucu kandungnya. Ternyata ini menjawab semua kecurigaanku selama ini" ujar Wak Asrul
" Aku pikir Kang Asrul dan Kang Baim tau"
" Demi Allah aku tidak tau, Dul. Kalau tau dari dulu bapak mengkhianati ibu, kita berdua pasti berang dan tidak terima" ujar Wak Baim, ayahnya Rania
" Aku akan menjauh dari Bogor, mungkin minta mutasi ke Karawang agar Nia bisa pulih kembali" ujar Pak Abdul
" Loh, terus rumah yang disini mau kamu kontrakkan atau bagaimana?" tanya Wak Baim
" Baiknya aku jual saja Kang, maka dari itu aku sekalian mau ambil sertifikat yang dititip ke Kang Asrul. 3/4 uangnya untuk kuliah Tari, aku hanya ambil 1/4 bagian saja untuk mengontrak di tempat baru. Tari sudah setuju Kang Asrul, maka dari itu aku mau mengambil sertifikat itu" ujar Pak Abdul
Wajah Wak Asrul sudah tegang nggak karuan, bagaimana caranya dia bisa mengembalikan sertifikat itu kalau sang istri menjaminkan ke koperasi. Masih ada sisa tenor 3,5 tahun lagi untuk lunas.