Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan piyama yang tertutup rapat, Jelita merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun batin. Namun, tepat sebelum ia memejamkan mata, ia merasakan kasurnya sedikit amblas di sampingnya, seolah ada seseorang yang duduk di sana.
Meskipun sosok Arjuna tidak terlihat secara nyata di siang hari yang terang ini, Jelita merasakan sebuah tangan dingin yang lembut membelai rambutnya yang masih basah.
Bau harum kayu cendana dan dinginnya salju menyelimuti bantalnya, menciptakan suasana yang sangat kontras dengan cuaca luar yang terik.
"Biarkan aku istirahat, Arjuna... kumohon," bisik Jelita pelan, hampir tidak terdengar.
Tiba-tiba, selimutnya bergerak sendiri, menutupi tubuh Jelita hingga ke dada dengan sangat rapi, seolah ada tangan yang menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Suara bariton Arjuna terdengar samar, seperti gema dari kejauhan.
"Tidurlah, Cintaku. Aku akan menjagamu dari dalam bayang-bayang. Tidak akan ada yang berani mengusik mimpimu."
Dalam tidurnya, Jelita tidak lagi dikejar oleh ketakutan. Ia bermimpi berada di sebuah taman mawar berwarna hitam yang sangat indah, di mana matahari tidak pernah tenggelam dan bulan selalu bersinar penuh.
Di taman itu, Arjuna menunggunya dengan pakaian santai kerajaan, tanpa aura mengancam. Mereka berjalan bersisian, dan untuk pertama kalinya, Jelita tidak merasa terpaksa. Kekuatan mistis Arjuna mulai merasuk ke dalam jiwanya, perlahan menghapus rasa benci dan menggantinya dengan keterikatan yang berbahaya.
Jelita mulai menyadari bahwa perjanjian ini bukan hanya soal keselamatan sahabat-sahabatnya, tapi juga tentang hatinya yang mulai goyah oleh pesona sang Pangeran Kegelapan yang begitu memuja dirinya.
Jelita terbangun saat matahari mulai turun ke arah ufuk barat. Cahaya oranye kemerahan masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kamarnya.
Ia melirik jam dinding. Sudah pukul lima sore. Sebentar lagi malam akan tiba, dan ia tahu, sesuai perjanjian, Arjuna akan datang menagih haknya. Tanda di leher Jelita mulai berpendar emas redup, seolah memberikan peringatan bahwa sang pemilik akan segera hadir.
Kini pukul menunjukan 19:00 Jelita sudah bersiap jika memang ini jalan takdirnya maka ia akan menghadapinya.
Hingga tiba-tiba Diana menghampiri Jelita.
" Sayang mari kita makan malam setelah itu kamu boleh lanjut istirahat lagi! "
Jelita tersentak dari lamunannya. Ia menatap jam dinding yang kini tepat menunjukkan pukul 19:00. Jantungnya berdegup kencang: ia tahu bahwa saat matahari sudah benar-benar tenggelam, wilayah kekuasaan Arjuna dimulai.
"I-iya, Bu. Jelita segera turun," jawab Jelita dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia segera mematut diri di cermin. Untuk menutupi tanda emas di lehernya yang kini berdenyut semakin kuat, Jelita mengenakan turtleneck tipis dan membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi bahu. Ia harus bersikap senormal mungkin di depan Ayah dan Ibunya, meskipun ia merasa seolah ada ribuan mata dingin yang mengawasinya dari setiap sudut bayangan kamar.
Di meja makan, suasana terasa hangat bagi Diana dan Burhan, namun bagi Jelita, udara terasa sangat berat. Ayahnya sedang asyik bercerita tentang pekerjaannya, sementara ibunya sibuk menyendokkan sayur ke piring Jelita.
"Kamu pucat sekali, Sayang. Apa alerginya masih terasa?" tanya Diana sambil menatap wajah putrinya dengan cemas.
"Sudah agak mendingan, Bu," bohong Jelita, sambil berusaha menyuapkan nasi yang rasanya hambar di lidahnya.
Tiba-tiba, sebuah kejadian aneh terjadi. Kursi kosong di samping Jelita—yang biasanya tidak diduduki—sedikit bergeser, menciptakan suara decitan halus di lantai kayu. Burhan dan Diana tidak menyadarinya, tapi Jelita merasakannya dengan jelas. Udara di sampingnya mendadak menjadi sedingin es.
Jelita merasa ada tangan tak kasat mata yang dengan posesif melingkar di pinggangnya di bawah meja makan. Sentuhan itu sangat kuat dan menuntut, seolah Arjuna ingin mengingatkan Jelita bahwa meskipun ia sedang bersama keluarganya, ia tetaplah milik Sang Pangeran.
Jemari Arjuna yang dingin merayap naik, mengusap punggung Jelita di balik pakaiannya, membuat Jelita hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang.
"Jangan terlalu lama dengan mereka, Ratuku. Aku sudah tidak sabar untuk membawamu kembali ke pelukanku," bisik suara bariton itu, sangat dekat hingga bulu kuduk Jelita berdiri.
"Jelita? Kamu kenapa? Kok bengong?" tegur Burhan melihat putrinya yang mendadak kaku.
"Ah, tidak apa-apa, Yah. Jelita cuma... agak pusing. Boleh Jelita langsung ke kamar saja setelah ini?" tanya Jelita buru-buru. Ia tidak tahan lagi dengan permainan Arjuna yang mulai 'berani' di hadapan orang tuanya.
Diana mengangguk maklum. "Ya sudah, habiskan susumu dulu baru naik ke atas."
Begitu Jelita menghabiskan minumannya, ia segera berpamitan dan setengah berlari menuju kamarnya di lantai dua. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu. Namun, ia menyadari bahwa mengunci pintu bagi makhluk seperti Arjuna adalah tindakan yang sia-sia.
Lampu kamarnya tiba-tiba meredup dan berkedip. Kabut ungu tipis mulai merayap dari bawah kolong tempat tidurnya, membawa aroma melati dan cendana yang memabukkan.
"Aku sudah di sini, Arjuna. Sesuai janji kita," ucap Jelita pada kekosongan ruangan.
Perlahan, sosok tinggi besar Arjuna muncul dari kegelapan sudut kamar. Ia tidak lagi transparan. Malam ini, ia tampak begitu nyata, mengenakan jubah hitam dengan detail emas yang memukau. Matanya yang biru gelap menatap Jelita dengan gairah yang tidak tertutup-tutupi.
"Kau sangat cantik malam ini, Ratu Kecilku," sapa Arjuna sambil melangkah mendekat, membuat Jelita mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
Begitu Arjuna melangkah mendekat, ia meraih pinggang Jelita dan menariknya ke dalam dekapan yang erat. Seketika, dinding kamar Jelita seolah mencair, berubah menjadi pusaran bayangan hitam yang sejuk. Dunia manusia di belakang mereka memudar, digantikan oleh pemandangan megah yang belum pernah Jelita bayangkan sebelumnya.
Saat Jelita membuka mata, ia tidak lagi berada di kamarnya yang sempit. Ia berdiri di atas jembatan batu pualam putih yang membentang di atas danau air jernih yang memancarkan cahaya keperakan. Di depannya, sebuah istana megah dengan arsitektur Jawa kuno berpadu dengan kemewahan dunia gaib berdiri dengan kokoh.
Ribuan obor yang menyala dengan api biru berjajar rapi. Begitu langkah kaki Jelita dan Arjuna menyentuh lantai istana, ratusan dayang dan prajurit berpakaian adat kerajaan membungkuk serentak hingga dahi mereka menyentuh lantai.
Suara gamelan yang merdu namun bernuansa magis mengalun di udara, menciptakan atmosfer yang membuat jiwa Jelita merasa tenang sekaligus terhipnotis.
"Selamat datang di rumahmu yang sebenarnya, Gusti Ratu," ucap para dayang secara serempak dengan suara yang halus.
Arjuna menuntun Jelita menuju singgasana emas yang terletak di aula utama. Ia tidak melepaskan tangan Jelita sedetik pun, seolah-olah jika ia melepaskannya, Jelita akan menghilang.
"Lihatlah, Jelita. Mereka semua menunggumu selama ratusan tahun," bisik Arjuna dengan nada bangga.
Dua orang dayang mendekat membawa nampan perak berisi mahkota kecil berbahan emas murni dengan hiasan batu zamrud. Arjuna mengambil mahkota itu dan dengan tangan gemetar karena haru, ia menyematkannya di kepala Jelita.
"Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyebutmu hanya sebagai manusia biasa. Kau adalah belahan jiwaku, penguasa Astina Maya bersamaku," deklarasi Arjuna yang disambut sorak-sorai lirih namun bertenaga dari seluruh penghuni kerajaan.
Jelita merasa seperti berada di dalam dongeng yang gelap. Ia didudukkan di samping Arjuna dalam sebuah perjamuan makan yang sangat mewah. Buah-buahan yang belum pernah ia lihat di dunia manusia tersaji di atas piring emas.
Arjuna mengambil sebutir buah berwarna merah delima, lalu menyuapkannya ke bibir Jelita dengan sangat lembut. "Makanlah, Ratuku. Ini akan membuatmu memiliki kekuatan untuk bisa bolak-balik antara duniaku dan duniamu tanpa rasa lelah."
Jelita menatap mata Arjuna. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lembut dari sang Pangeran. Pria ini bukan hanya sekadar hantu yang haus dendam, tapi sosok yang sangat kesepian dan telah lama mencari cintanya yang hilang.
"Apakah aku akan tetap diizinkan pulang setiap pagi?" tanya Jelita lirih.
Arjuna tersenyum manis, sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan hati siapa pun. "Sesuai janji kita. Aku tidak akan mematahkan sayapmu, selama kau selalu kembali ke sangkar emas ini setiap kali rembulan menyapa."