NovelToon NovelToon
Visionaries Of The Sacred

Visionaries Of The Sacred

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Slice of Life / Keluarga / Action / Persahabatan / Fantasi / Tamat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Nakuho

menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

datang nya malapetaka

Tangan tanah muncul tanpa henti.

Satu demi satu mencuat dari tanah, mencengkeram, memukul, mencoba meremukkan tubuh Toma dari segala arah.

Namun Toma berhasil menghindari itu dengan melompat dan hanya menghindar saja.

Tiba–tiba Gravem merapal mantra.

“Sihir tanah: Golem tanah.”

Golem tanah mengayunkan lengannya berulang kali, menghantam dengan kekuatan brutal seolah tak mengenal lelah.

Toma berlari ke arah kanan dan meninggalkan kloning tanah itu.

Karena kalau hanya meladeni kloning itu Toma tak akan bisa menemukan inti sihir kloning element Lucyfer.

Pedang matahari berkilat setiap kali ia menebas—tanah terbelah, lengan hancur, bongkahan beterbangan.

Panas matahari membakar tanah basah, menghasilkan uap yang menyengat hidung.

Namun saat Toma menoleh ke arah bunga mawar layu itu—

Bunga tersebut bergerak.

Kelopaknya menutup, batangnya melengkung, lalu—

kabur.

Toma terbelalak.

“Ahh keparat…”

“Bunga itu pura-pura layu!”

Ia mengertakkan gigi.

“Berarti aku salah fokus.”

“Aku harus menjatuhkan kloning tanah ini dulu—”

Namun sebelum ia bisa kembali menyerang—

Gravem itu… menghilang secara tiba tiba.

Tanpa suara. Tanpa jejak.

Seolah tugasnya telah selesai.

Di tempat lain—

di ruang tak kasatmata, di antara pikiran dan sihir—

Lucyfer duduk dengan tenang.

Sebuah papan catur melayang di hadapannya. Bidak-bidak hitam dan putih bergerak sendiri, mengikuti kehendaknya.

Ia memegang bidak ratu hitam, lalu menggesernya perlahan.

G7.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Luar biasa, Toma…”

“Kau benar-benar bisa menebak taktikku.”

Bidak hitam lain meluncur ke depan ratu,

membentuk perlindungan sempurna.

“Kau memaksa ku mengeluarkan kartu yang seharusnya belum kugunakan.”

Matanya menyipit, dingin, penuh antisipasi.

Kembali ke hutan.

Toma berlari sekuat tenaga, mengejar aroma mawar yang semakin samar.

Tanah lembap, akar-akar pohon menjulur seperti ingin menjegal kakinya.

Alven menyusul di sampingnya, napasnya terengah-engah.

“TOMAA!!”

“KITA HARUS LARI!!”

Toma menoleh, terkejut dan bertanya tanya apa maksud Alven menyuruh nya lari.

“Hah?! Apa maksudmu?!”

Alven berteriak lebih keras, suaranya nyaris pecah.

“SESUATU AKAN MUNCUL!!”

“POKOKNYA KITA KEJAR DAN HANCURKAN BUNGA MAWAR KONYOL ITU!!”

Toma mengangguk dan mempercepat langkah.

Alven menarik busurnya, menembakkan panah satu per satu.

BOOM!

Ledakan kecil menghantam tanah di sekitar bunga itu—namun bunga tersebut menghindar, bahkan berbelok di udara seolah punya kesadaran sendiri.

Alven melotot.

“HAAA?!”

“SEJAK KAPAN BUNGA BISA BEGITU?!”

Namun tiba-tiba—

Sesuatu melesat dari balik semak-semak.

Lebih cepat dari mereka berdua.

Udara mendadak berat.

Toma merasa napasnya tertahan di tenggorokan.

Tekanan luar biasa menghantam dadanya—bukan serangan fisik, melainkan aura.

Semak-semak di sekitarnya layu.

Daun-daun menghitam dan gugur hanya karena keberadaan makhluk itu.

“Si… siapa…?”

“Cepat sekali…”

“Auranya…”

Toma menelan ludah seperti sesuatu yang mengerikan mulai muncul.

“Ini bukan kloning biasa.”

Bunga mawar itu berhenti di balik semak.

Dan dari balik semak yang sama—

seseorang meloncat ke udara, berlatar rembulan malam.

Saat ia mendarat—

Satu mata berwarna berbeda menatap mereka.

Hijau.

Aura kayu dan kehidupan bercampur dengan tekanan kematian.

Makhluk itu berdiri tegak, rambut hitam nya berkibar pelan, tubuhnya dikelilingi oleh sulur akar tipis yang bergerak seolah hidup dan siap menerima perintah.

“Kalian…”

“Manusia sang perusak alam.”

Suaranya dingin, berat, menusuk langsung ke dada.

“Akan kuhukum kalian atas ketidakadilan ini.”

Tekanan auranya semakin kuat.

Tanah retak halus.

Tumbuhan mati seketika karena aura nya mematikan.

Toma menggenggam pedang mataharinya.

Sementara Alven gemetar hebat, panahnya hampir terlepas dari tangan.

Kedua nya keringat dingin dan mulai membasahi pipi dan dahi kedua nya.

Makhluk itu melangkah ke depan dengan langkah pasti.

Tap– Tap– Tap

“Aku adalah kehendak hutan.”

“Gabungan dari tanah, kabut, api, dan angin.”

mata hijau itu menyala bersamaan.

Dia adalah kloning terkuat Lucyfer yaitu.

Sylva sang Kloning Kayu, kloning terkuat Lucyfer.

Ia menatap tajam.

“Wahai manusia yang merusak lingkungan.”

“Kalian membabat hutan.”

“Mengusir hewan dari rumah mereka.”

“Menanam keserakahan demi perut kalian sendiri.”

Akar-akar di tanah bergerak liar.

“Dan kini—”

“kalian mencoba menghancurkan bunga tak berdosa yang ukuran nya lebih kecil dari telapak bayi.”

Tekanan suaranya membuat lutut Alven hampir ambruk.

“Gawat... Aura nya membuat aku nyaris ambruk dan kaki ku tak berhenti gemetar.” kata alven dalam hati nya

“Jawab aku.”

“Apakah aku salah menilai, manusia?”

Toma terdiam lama.

Lalu… ia melangkah maju.

Pedang matahari tetap di tangannya, namun ujungnya menurun.

“Memang benar,” ucapnya pelan.

“Banyak manusia tamak.”

“Mereka tidak peduli pada hutan.”

Sylva menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi kau mengakuinya.”

Alven menoleh panik.

“Toma… apa yang kau katakan?!”

Toma mengangkat kepala, tatapannya kini teguh.

“Tapi tidak semua manusia seperti itu.”

“Ada yang melindungi.”

“Ada yang melawan.”

“Dan ada yang memilih berdiri meski tahu akan kalah.”

Ia menatap langsung ke mata hijau nya itu.

“Camkan itu.”

Hutan terdiam.

Dan untuk pertama kalinya—

ekspresi Sylva berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!