Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beda!
THE ETERNALLY; our home²⁰🌹
Happy reading ...
...Di kuatkan oleh tekad, ...
...di hancurkan oleh kenyataan....
.......
........
.........
........
.......
...~The Eternally; our home ~...
Brayen memijat keningnya sedikit pusing, sedari tadi adiknya tak henti-hentinya menceritakan tentang Astra.
Setelah sepulang dari pameran tadi sore, sepertinya Adiknya ini menjadi semakin menyukai cowok dingin itu.
"Vio, abang pusing dengerin cerita kamu yang nggak ada habisnya itu. Mending sekarang kamu tidur, udah malam."
Vio menghentikan perkataannya, "Yahh, tapi Vio belum ngantuk bang."
"Nggak, nggak, pokoknya tidur sekarang! " perintahnya dengan tegas.
Dia mendorong bahu Vio agar masuk kedalam kamarnya, lalu memakaikan selimut menutupi tubuh adiknya.
"Minim obat nya dulu," Brayen menyodorkan beberapa pil pada Vio.
Vio menggeleng dengan ekspresi muak, "Nggak mau bang! Vio udah sembuh, nggak perlu minum obat lagi." balasnya menutup rapat-rapat mulutnya.
"Minum atau ... Abang nggak izin kamu ketemu sama sana Astra lagi." ancamnya, dengan cepat Vio merebut pil di tangan kakanya.
Brayen menepuk-nepuk kepala Vio, "Tidur yang nyenyak my little princess." bisiknya.
"Emm... Kak Astra... " racau Vio lirih.
"Maafin Abang dek... "
...~The Eternally; our home~ ...
Dengan kepercayaan diri di atas manusia normal, Satya mengibas-ngibaskan rambutnya bak seorang tamu istimewa di met gala.
Kaki jenjangnya dengan penuh pesona melangkah di koridor bersama dua ajudan yang mengekor di belakang.
"Ajudan, tolong ikatkan tali sepatu saya," perintahnya dengan songong.
Plakk!
"Ajudan mata kau! " seru Jaya tak terima.
"Btw, si Bumi belum dateng? Tumben banget tu anak terlambat," ujar Arka yang sedari tadi menengok ke sana kemari mencari si batu es.
Mereka berdua menggedikan bahunya, "Nggak tau, mending ke kelas aja big bos udah di sana."
Ketiga pemuda tamfan itu melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas.
Sepertinya ada yang tidak beres, si brandal yang biasanya selalu datang terlambat kini sudah duduk anteng di kursinya. Sedangkan si paling rajin belum datang.
"Woyy Tra, si Bumi kaga berangkat?" tanya Satya setelah duduk di kursinya.
"Nggak tau, gue call nggak di angkat,"
Mereka bertiga menganga, apakah benar ini bos mereka yang datar dan irit bicara itu. "T-tra Lo nggak sakit kan?" tanya ragu Arka.
Astra menarik sedikit tersenyum, "Gue ok, Lo nggak perlu khawatir." balasnya lagi, membuat mereka semakin merinding.
"Ar, Jay, ayo bawa dia ke Uks. Gue yakin ada yang salah saka otaknya," panik Satya, tak bisanya si manusia tembok bersikap seperti ini.
"Lo salah makan kah Tra?"
"Atau kita ada salah?"
"Lo lagi frustasi ya?"
Astra menatap tajam ke-tiga teman durjana nya ini, "Diem atau gue robek mulut kalian!" ujarnya pedas, nadanya sudah kembali seperti semula.
Mereka bertiga bernafas lega, "Sumpah tadi lebih serem daripada hantu." bisik Satya pada Jaya, kini mereka duduk berdempetan untuk menggunjingi sang ketua.
"Liat nih, gue sampe merinding." ujar Jaya ikut berbisik menunjukan lengannya yang masih merinding.
"Tapi ... " belum sempat Arka melanjutkan kata-katanya mulutnya sudah di bekap oleh Satya. "Diem aja, nanti gue kasih permen." ujarnya lalu melanjutkan sesi ghibah nya dengan Jaya.
Alhasil Arka si polos namun jago mengumpat serta memancing emosi itu hanya planga-plongo tak paham.
Astra melanjutkan tidurnya, tadi mood nya baik. Tapi setelah emosinya di pancing ke-tiga curut itu mood nya anjlok. Bilang saja dia mood-an, sisi gelap pemuda tampan itu.
"Kak Astra, aku bawa bekal buat kaka, di makan yah." ujar Vio meletakan box makan berisi nasi goreng di hadapan Astra.
Dia mendongakkan kepalanya menatap Vio, lalu menatap kotak bekal di hadapan nya. "Thanks, nanti gue makan." balasnya dengan nada datar.
Vio menganggukan kepalanya lalu kembali ketempat duduknya, sekarang bangkunya berada di urutan paling depan, tepat di depan meja guru. Karena dia sedikit mengalami gangguan di pengelihatannya.
Astra menyimpan kotak itu dalam laci mejanya.
Bu Maya masuk ke kelas yang isinya terkenal dengan para berandalnya, murid paling susah untuk di atur, lihat pak Ardan sampai botak menangani kerusuhan mereka. .
"Astra! Bangun atau keluar dari pelajaran saya! " seru Bu Maya menggebrak papan tulis.
Semua murid di kelasnya itu terjengat kaget, termasuk pemuda yang berada di pojok paling belakang, "Apa Bu?" tanyanya santai.
"Kamu tidur di jam pelajaran saya Astra? Sifat kamu ini sangat berbeda dengan Lintang, contoh dia yang mengharumkan nama sekolah tidak sepertimu." kata Bu Maya mulai membandingkan ke-dua anak itu, memang Bu Maya ini sangat suka membandingkan murid nya.
Astra menatap datar guru di depannya ini, "Saya keluar dari pelajaran anda!" ujarnya singkat lalu keluar begitu saja dari kelas.
Ya, dia memang brandal dan sulit diatur, tapi pantaskah seorang guru yang harusnya menasehati serta mengayomi muridnya berkata seperti itu?
Suasana kelas menjadi hening setelah Astra meninggalkan kelas, "Bu, ibu emang guru tapi apa pantas seorang guru membanding-bandingkan muridnya?" ujar Satya menohok dengan beraninya.
"Meski mereka kembar tapi mereka punya passion nya masing-masing, dan jika ibu berfikiran seperti itu. Lalu apa beda ya ibu dengan orang di luar sana yang suka menghakimi orang lain?." lanjutnya semakin membuat bu Maya tak bisa berkata apa-apa.
"Kerjakan halaman 120-124, saya tunggu Minggu depan." Bu Maya lantas keluar dari kelas begitu saja.
"Eh, eleh, si Maya itu mulutnya lemes banget jirr!" ujar Jaya pada dua temannya.
"Kek nya pengen nyobain sambel buatan gue tuh mulutnya," timpal Satya.
Arka memasukan bukunya kedalam tas, "Susul Astra yuk," ajaknya.
Merek bertiga keluar dari kelas mencari kemana perginya big bos mereka.
Sedangkan Astra tengah bersantai di WAMUD dengan secangkir kopi susu serta vape rasa coklat miliknya.
"Kenapa mas bro? Mukanya kusut banget," ujar Mang Jali meletakan sepiring pisang goreng lalu duduk di hadapan Astra.
"Biasa mang urusan anak muda."
"Hidup itu berat yah mas bro, waktu saya muda juga kayak kamu ini," katanya sembari menerawang jauh ke masa lalu.
"Ya iya lah mang, mamanya juga hidup."
"Cerita lah mas bro, nggak baik nyimpen masalah sendiri, cerita noh ke para buntut mas bro." ujarnya menunjuk ketiga pemuda yang baru sampai di WAMUD.
"Saya nggak ada masalah kok mang, tenang aja."
Suasana yang tadinya tenang berubah seketika saat kehadiran ketiga pemuda rusuh itu.
"Tau nggak Tra, tadi hampir aja gue cocolin ke sambel tuh mulut guru lemes!" kata Satya dengan menggebu-gebu sembari memakan pisang goreng.
"Nggak lo jahit sekalian? " celtuk Arka.
Satya berfikir sejenak, "Ide bagus, boleh di coba." katanya dengan senyuman Evil khas miliknya.
"Sikopet lu anjir!" muak Jaya meraup wajah Satya.
Berakhirlah seperti bisa ribut lagi dan ribut lagi, Astra hanya melihat sembari menahan diri untuk tidak menendang satu-persatu mereka ke luar angkasa.
Tentunya jika asa Bumi Mereka akan lebih sedikit terkendali, si leader lagi mode males jadi biarlah mereka bertengkar sesuka hati, kalau capek nanti juga berhenti sendiri.
Dalam pertemanan ribut-ribut kecil atau saling sindir itu hal biasa, asal setelah bertengkar mereka kembali akur. Bumbu-bumbu seperti itu yang membuat persahabatan semakin erat terjalin.
...🌹TBC🌹...
...Jangan lupa bahagia 🍀 ...
...Vote, komen juga jangan lupa yah. ...