NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Imun Terhadap Pesona Kampus

Semester satu berjalan menuju pertengahan. Udara di Fakultas Ilmu Budaya semakin hari semakin dipenuhi oleh aroma hormon remaja yang meletup-letup. Selain tugas kuliah dan makalah diskusi yang menumpuk, topik pembicaraan di kantin, selasar, maupun grup WhatsApp angkatan mulai bergeser ke satu hal yang klise namun abadi: lawan jenis.

Siang itu, kantin fakultas terasa lebih gerah dari biasanya. Kipas angin yang berputar malas di langit-langit tidak banyak membantu mengusir hawa panas yang bercampur dengan asap masakan.

Di meja favorit mereka meja kayu panjang di dekat penjual jus Hannah, Rere, dan Sinta sedang istirahat makan siang. Namun, alih-alih membahas morfologi bahasa atau sejarah sastra, Rere sedang sibuk menjadi "radar" berjalan. Matanya liar memindai setiap pengunjung kantin.

"Arah jam dua! Arah jam dua!" desis Rere heboh sambil menyikut lengan Hannah cukup keras, nyaris membuat sendok bakso Hannah meleset dari mulut.

"Apa sih, Re? Tumpah nih kuahnya," protes Hannah sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu, sedikit kesal karena acara makannya terganggu.

"Itu lho! Lihat dulu! Itu Kak Bayu, kakak tingkat angkatan 2020. Gantengnya nggak ada obat, Masya Allah!" seru Rere dengan mata berbinar-binar, menatap seorang mahasiswa senior yang sedang berjalan masuk ke kantin bersama gerombolannya.

Sinta, yang biasanya pendiam dan fokus pada buku, ikut membetulkan letak kacamatanya dan melirik malu-malu. "Eh, iya. Kak Bayu emang populer banget. Katanya dia anak teater, makanya gayanya artsy gitu."

Hannah menoleh sekilas, hanya sekilas, demi menghargai antusiasme teman-temannya. Ia melihat sosok yang dimaksud: seorang pemuda jangkung mengenakan kemeja flanel merah kotak-kotak yang kancing atasnya dibuka, celana jeans robek di lutut, dan rambut agak gondrong yang diikat asal. Ia berjalan dengan gaya santai, menyapa sana-sini, tebar pesona.

Hannah kembali fokus pada mangkuk baksonya. "Biasa aja," komentarnya datar, tanpa ekspresi kagum sedikit pun.

Rere melongo, seolah Hannah baru saja menghina presiden. "Biasa aja?! Mata lo katarak, Han? Itu definisi cool tau! Liat tuh, cewek-cewek se-kantin pada nengok semua. Cuma lo doang yang malah sibuk ngaduk sambel."

Hannah mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ya emang biasa aja, Re. Rapi juga enggak, rambutnya berantakan gitu. Celananya juga sobek-sobek."

"Itu namanya style, Hannah! Grunge aesthetic!" bela Rere berapi-api. "Emang selera lo kayak gimana sih? Perasaan selama dua bulan kita temenan, lo nggak pernah naksir siapa-siapa. Padahal yang nanyain nomor WA lo ke gue tuh banyak banget, tau! Lo tuh kayak tembok es. Tiap ada cowok nyapa, jawaban lo cuma 'ya', 'tidak', 'permisi'."

Hannah tersenyum simpul, menyembunyikan geli di hatinya.

Bagi Rere dan Sinta, Kak Bayu dan mahasiswa-mahasiswa keren itu mungkin terlihat mempesona. Tapi bagi Hannah? Mereka terlihat seperti... anak kecil yang baru belajar jadi dewasa.

Bagaimana Hannah bisa terpesona pada pemuda yang celananya robek-robek dan bangga karena bolos kuliah demi nongkrong, ketika di rumah ia memiliki Muhammad Akbar?

Hannah membandingkan dalam benaknya. Kak Bayu mungkin populer di kalangan maba, tapi apakah Kak Bayu punya visi masa depan yang jelas? Apakah Kak Bayu bisa memimpin rapat direksi dengan tegas lalu pulang ke rumah dan memijat kaki istrinya dengan lembut? Apakah Kak Bayu memiliki aroma musk mahal dan wibawa yang meneduhkan seperti Akbar?

Jawabannya jelas: Tidak.

Standar Hannah sudah terlalu tinggi. Ia sudah memiliki "emas murni" di rumah, sehingga "kuningan yang dipoles" di kampus tidak lagi menarik perhatiannya.

"Aku normal kok, Re," jawab Hannah tenang. "Cuma lagi nggak tertarik pacaran aja. Mending fokus kuliah, banggain orang tua."

"Yaelah, Ustadzah Hannah mode on," cibir Rere, tapi kemudian tertawa. "Tapi beneran deh, Han. Sayang banget muka cantik lo dianggurin."

Tiba-tiba, suasana meja mereka berubah tegang. Sosok Kak Bayu sang idola kantin berjalan mendekat ke arah meja mereka. Rere langsung merapikan rambutnya panik, mengeluarkan bedak padat. Sinta menunduk pura-pura baca buku dengan intens.

Kak Bayu berhenti tepat di samping Hannah.

"Permisi," suara berat khas anak muda terdengar. "Boleh pinjam kursi kosong ini? Meja sebelah kurang kursi buat temen gue."

Rere langsung menyahut dengan suara yang dibuat-buat manis, "Bo... boleh banget, Kak! Ambil aja! Orangnya juga boleh diambil kalau mau."

Sinta menyenggol kaki Rere di bawah meja, memberi kode agar temannya tidak terlalu memalukan.

Kak Bayu tertawa renyah, lalu matanya tertuju pada Hannah yang tetap asyik makan tanpa menoleh sedikit pun. Merasa tertantang karena dicuekin biasanya maba akan salah tingkah jika ia sapa Bayu justru penasaran.

"Kamu anak Sasindo angkatan baru ya?" tanya Bayu langsung pada Hannah, mengabaikan Rere yang sudah siap diajak ngobrol.

Hannah terpaksa berhenti makan. Ia meletakkan sendok, lalu mendongak sedikit tanpa menatap mata Bayu, ia menatap arah dagu pemuda itu.

"Iya, Kak," jawab Hannah singkat, sopan, namun menutup celah percakapan lebih lanjut.

"Kenalin, gue Bayu. Gue sering liat lo di perpus kalau gue lagi latihan teater. Namanya siapa?" Bayu mengulurkan tangan kanan, gestur mengajak berkenalan yang biasanya membuat mahasiswi lain kegirangan.

Rere di sebelahnya sudah melotot, memberikan kode mata 'Sambut woy! Sambut! Jangan malu-maluin!'.

Namun, Hannah tidak mengulurkan tangan. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum tipis. Sangat santun, tapi tegas menolak sentuhan fisik dengan non-mahram.

"Hannah, Kak. Maaf tangannya kotor bekas pegang kerupuk," alibi Hannah cerdas, padahal tangannya bersih memegang sendok.

Bayu menarik tangannya kembali, sedikit canggung tapi makin penasaran dengan sikap 'mahal' gadis ini. "Oke, Hannah. Salam kenal. Kapan-kapan kalau mau nonton pementasan teater kampus, bilang gue ya. Gue kasih tiket VIP."

"Insya Allah. Makasih tawarannya, Kak," jawab Hannah. Titik. Tidak ada 'minta nomor WA', tidak ada 'boleh minta ID Line'.

Bayu akhirnya mengangguk, mengambil kursi kosong itu, dan pergi membawa kursi itu ke mejanya dengan wajah sedikit bingung. Ia baru saja ditolak secara halus oleh maba polos yang kelihatannya tidak tahu siapa dia.

Begitu Bayu pergi, Rere meledak.

"HANNAH HUMAIRA! LO GILA YA?!" pekik Rere gemas sambil mengguncang bahu Hannah. "Itu Kak Bayu ngajak kenalan! Dia ngulurin tangan! Dia nawarin tiket VIP! Dan lo tolak mentah-mentah? Ya ampun, mubazir banget sih hidup lo!"

Hannah tertawa kecil, kembali menyendok baksonya yang mulai dingin. "Kan aku udah bilang, Re. Tanganku kotor."

"Alasan! Gue liat lo makan pake sendok dari tadi!" Rere mendengus kesal. "Sumpah ya, gue curiga selera lo tuh yang gimana sih? Yang kayak pangeran Arab? Atau yang kayak oppa Korea?"

Hannah terdiam sejenak. Bayangan Akbar yang sedang memakai kemeja kerja rapi, menyetir mobil dengan satu tangan, dan tersenyum padanya melintas di kepalanya.

"Seleraku..." gumam Hannah pelan, matanya menerawang dengan binar lembut yang tak dipahami teman-temannya. "Seleraku yang dewasa. Yang nggak banyak tebar pesona, tapi bertanggung jawab. Yang kalau ngomong nggak cuma janji, tapi bukti. Dan yang pasti... yang halal."

Rere dan Sinta saling pandang, bingung dengan deskripsi Hannah yang terdengar terlalu serius dan spesifik untuk anak umur dua puluh tahun.

"Berat banget kriteria lo," komentar Sinta. "Emang ada cowok umur 20-an yang kayak gitu di zaman sekarang?"

Hannah tersenyum misterius. "Ada kok. Di suatu tempat."

Sore harinya, saat jam kuliah berakhir.

Hannah berpisah dengan Rere dan Sinta di lobi. Teman-temannya itu heboh membahas rencana nonton bioskop bareng gebetan Rere. Mereka mengajak Hannah, tapi Hannah menolak halus dengan alasan "ada acara keluarga".

Hannah berdiri di titik jemput biasa. Tak lama kemudian, mobil SUV hitam milik Akbar merapat.

Saat Hannah masuk ke dalam mobil, suasana yang jauh berbeda menyambutnya. Tidak ada bising kantin, tidak ada asap rokok, tidak ada godaan receh. Yang ada hanya keheningan nyaman, AC yang sejuk, dan lantunan murottal pelan dari audio mobil yang menenangkan hati.

"Assalamualaikum, Istriku. Gimana kuliahnya?" sapa Akbar. Pria itu terlihat lelah, dasinya sudah dilonggarkan, tapi senyumnya tetap hangat menyambut Hannah.

"Wa’alaikumsalam, Mas Akbar," Hannah meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan itu tangan yang halal dan penuh keberkahan untuk ia sentuh, berbeda dengan tangan Kak Bayu tadi.

Hannah menatap wajah suaminya. Ada kerutan halus di dahi Akbar, tanda ia berpikir keras seharian demi menafkahi keluarga. Bagi Hannah, kerutan lelah itu jauh lebih menarik daripada gaya rambut gondrong manapun di kampus.

"Mas..." panggil Hannah tiba-tiba saat mobil mulai melaju.

"Ya, Dek?"

"Terima kasih karena sudah mau menjemput Hannah."

"Dek Hannah istri Mas dan sudah sepatutnya Mas menjemput Hannah."

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!