Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Sah.
Aluna benar-benar tidak menyangka jika orang yang dia tunggu berdiri di sana dengan nafas naik turun. Mata Ravindra juga langsung tertuju kepada Aluna yang memperlihatkan wajah pasrah.
"Alhamdulillah Ravindra...." Risma kemudian langsung menghampiri putranya itu.
"Nak, kenapa kamu lama sekali datangnya. Kamu membuat mama dan semua orang khawatir. Kamu juga tidak mengangkat telepon Mama," ucap Risma.
"Maaf jika saya sudah membuat kalian khawatir, tadi ada insiden yang tidak disengaja," ucap Jiya.
"Kalau begitu sebaiknya kita langsung saja melanjutkan acaranya," sahut Haryono.
Ravindra menganggukan kepala dan benar-benar siap untuk menikah. Aluna yang tadinya hanya pasrah, sekarang menghela nafas.
Jiya tadinya sepertinya sangat senang jika pernikahan adiknya tidak jadi dan mungkin saja harapannya memang tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, tetapi siapa sangka Ravindra datang tepat waktu.
Aluna kemudian langsung dituntun untuk duduk di depan penghulu dan begitu juga dengan Ravindra. Walau calon suaminya sudah berada di dekatnya, tetapi Aluna tidak berani untuk menatap Ravindra.
"Kita mulai saja," sahut Abraham membuat semua orang mengangguk dan Ravindra langsung berjabat tangan dengan penghulu.
"Saya nikahkan engkau Ravidnra Erlangga Haryono dengan putri saya Aluna Keira Zayana bint Abraham dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 250 gram tersebut dibayar tunai,"
"Saya terima nikahnya Aluna Keira Zayana binti Haryono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Penghulu memimpin doa atas sahnya pernikahan pasangan pengantin baru tersebut membuat Aluna mengejamkan mata yang tidak percaya jika saat ini dia sudah menjadi istri.
Risma, Wulan juga terlihat begitu lega, padahal Wulan tadinya sudah pasrah dengan apa yang terjadi, tetapi siapa sangka Ravindra ternyata adalah orang yang bertanggung jawab. Pria itu tidak meninggalkan pernikahannya walau sempat terjadi ketegangan dan rasa kepanikan.
Lain dengan Jiya, wajah terlihat lugu dan polos itu tidak bisa bohong bahwa pernikahan itu bukanlah hal yang dia inginkan. Entah apa yang dia pikirkan, padahal Jiya juga sudah menikah dan bahkan menikahi pria yang dicintai adiknya.
Setelah doa selesai penghulu mengarahkan pasangan pengantin baru tersebut untuk memakaikan cincin pernikahan. Ravindra menghela nafas dan mengambil tangan Aluna dengan memasukkan cincin indah itu ke jari manisnya dan hal itu juga dilakukan Aluna pada suaminya.
Dengan tangan bergetar Aluna mencium lembut punggung tangan Ravidnra dan Ravidnra juga mencium kening Aluna.
"Alhamdulillah kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri, ada hukum bagi suami dan juga hukum bagi istri untuk memenuhi tugas dan kewajiban masing-masing pasangan," ucap penghulu memberi arahan singkat dan nasehat kepada pengantin baru tersebut.
Aluna sejak tadi hanya menunduk dan sampai saat ini dia juga belum percaya jika sudah menjadi seorang istri.
Ravidnra melihat ke arah istrinya itu.
"Bagaimana mungkin aku kalah dan justru datang ke tempat ini untuk melanjutkan pernikahan ini," batin Ravindra.
Flashback
"Ravindra kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Egar ketika keduanya berada di dalam mobil berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa aku harus ragu," jawab Ravidnra dengan mata terlihat kejam dan kedua tangannya dilipat di dada benar-benar begitu santai.
"Usia saja sudah tua tetapi kelakuan seperti anak kecil," ucap Egar geleng-geleng kepala membuat Ravindra membuka mata dan melihat serius ke arah temannya itu.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Ravidnra.
"Kau seperti anak kecil yang harus membalas Aluna. Hey kau jangan hanya memikirkan bagaimana marah-mu dan kecewamu kepadanya 3 tahun lalu yang meninggalkan pernikahan kalian dan yang harus kau pikirkan juga orang tuamu yang harus menjadi korban untuk yang kedua kalinya," ucap Egar.
"Jadi kau menyalahkanku dan apa dia tidak memikirkan hal itu sewaktu meninggalkan pernikahan kami?" tanya Ravindra.
"Aluna saat itu baru lulus kuliah dan bahkan belum satu minggu lulus kuliah sudah diperintahkan orang tuanya untuk menikah dan usianya juga masih 20 tahun. Anak remaja yang baru beranjak dewasa dan harus dinikahkan dengan. Kau coba pikirkan saja bagaimana mentalnya saat itu dan memilih untuk tidak melanjutkan pernikahan itu," ucap Egar.
"Masalahnya Aluna meninggalkan pernikahan itu hanya karena ingin menikah dengan laki-laki lain," sahut Ravindra.
"Terserah kamu deh, itu semua urusan kamu, masa bodo," sahut Egar sudah tidak tahu harus berkata apa-apa kepada sahabatnya itu.
Ravindra tampak berpikir sejenak. Ravindra menghela nafas dan kemudian menegakkan posisi duduknya dan lihatlah apa yang dilakukan pria itu menyetir secara tiba-tiba.
"Hey mau kemana kau?" tanya Egar
"Mau menikah mau ngapain lagi," jawabnya dengan ketus.
Pria 32 tahun itu memang memiliki rencana untuk membatalkan pernikahannya, Ravindra bahkan sudah mengatur rencana agar tidak satu rombongan dengan keluarganya. Dia juga menggunakan sahabatnya untuk membantunya.
Tetapi siapa sangka dengan cepat Ravindra berubah pikiran dan mungkin saja dia memikirkan kedua orang tuanya yang harus menanggung perbuatan.
******
Setelah acara pernikahan selesai Aluna masih berada di kediaman rumah orang tuanya dan sekarang duduk di depan cermin membuka riasannya.
"Aku pikir beliau tadi akan membalas ku dan tidak hadir dalam acara pernikahanku, tetapi ternyata beliau hadir juga, katanya dia akan membalasku, lalu apa yang dia balas," batin Aluna terus saja memikirkan apa yang terjadi.
Ceklek.
Pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba membuat Aluna kaget dan refleks berdiri dari tempat duduknya dan siapa sangka jika orang yang masuk ke dalam kamarnya tak lain adalah Ravindra dan semakin membuat Aluna kaget.
"Ka-kamu ngapain ma-ma masuk ke dalam kamarku?" tanyanya dengan terbata-bata dan wajahnya terlihat semakin panik.
Ravindra menghela nafas dengan menutup pintu kamar dan membuka jasnya semakin membuat Aluna kaget dengan mata melotot.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya refleks mundur.
Ravindra tidak menjawab dan melangkah mendekati Aluna membuat Aluna terus saja mundur dan sialnya tubuhnya sudah tertahan dengan dinding meja rias.
Ravindra mendekatinya dan meletakkan kedua tangannya di sisi kedua meja rias tersebut dan menatap Aluna begitu dalam. Ravindra juga memajukan wajah untuk membuat Aluna refleks mundur.
"Kamu mau apa?" tanyanya begitu panik.
"Jangan pikir aku tidak bisa membalasmu. Pelajaran yang aku maksud bukan melakukan hari yang sama seperti apa yang kau lakukan. Itu sangat murahan jika memberimu pelajaran mempermalukan dirimu di hari pernikahan ini?" tegas Ravindra dengan suara dingin.
Aluna tidak merespon apapun dengan jantungnya berdebar begitu kencang, bagaimana tidak pria di dekat nya itu adalah alasannya sekarang benar-benar sangat dekat dengannya membuatnya semakin takut.
"Kau dengarkan Aluna. Aku tidak akan pernah bisa melupakan perbuatanmu. Aku saat ini masih kesal dengan apa yang kau lakukan!" tegas Ravidnra.
Aluna tidak berani berkutik dan sejak tadi dia mengalihkan tatapan Dirga yang benar-benar menakutkan.
Dirga memperhatikan wajah itu secara dekat, entah apa maksudnya sebenarnya dan mungkinkah dia hanya ingin mengerjai Aluna.
Ceklek.
Pintu kamar mereka terbuka secara tiba-tiba dan ternyata Jiya yang membuka kamar itu dan membuatnya kaget dengan pemandangan di depannya.
"Maaf!" Jiya langsung mengalihkan pandangannya dan sementara Aluna mengambil kesempatan mendorong Ravindra.
Ravidnra menghela nafas dan membalikkan tubuhnya.
"Saya tidak tahu jika kamu berada di kamar adik saya," ucap Jiya.
"Walau seperti itu dan seharusnya membiasakan diri mengetuk pintu sebelum masuk kamar!" tegas Ravidnra tampak begitu kesal dan Memberi teguran kepada Jiya.
"Saya meminta maaf," ucap Jiya.
Bersambung....