"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di bagian lain kapal, suasana kontras terjadi di kamar Alex.
Suara barang pecah terdengar nyaring saat Alex membanting vas bunga dan menghancurkan semua barang di atas mejanya.
Nafasnya memburu, matanya merah karena amarah yang memuncak.
"Gagal semuanya! Sialan!" teriaknya frustrasi.
Alex menyambar botol minuman keras, membukanya dengan kasar, dan menenggaknya langsung dari botol.
Rencananya untuk menghancurkan reputasi Arkan dan mendapatkan Gladis hancur total setelah pengakuan resmi sang Kapten.
Kini, ia bukan hanya kehilangan kesempatan, tapi juga terancam oleh kekuasaan Arkan yang tak terbatas di atas kapal ini.
Malam harinya, di kabin Kapten yang tenang, cahaya rembulan masuk melalui jendela besar, menyinari dua orang yang baru saja terjaga dari tidur lelap mereka.
Gladis membuka matanya perlahan, merasakan tangan kokoh Arkan masih melingkar protektif di pinggangnya.
Ia menoleh dan mendapati Arkan sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat lembu dan tatapannya yang hanya dikhususkan untuknya.
Gladis memberikan senyum tipis yang tulus, sebuah senyum yang menandakan bahwa ia telah menyerahkan seluruh hatinya.
"Terima kasih, Sayang untuk semuanya," bisik Arkan seraya mengecup kening Gladis lama.
Arkan kemudian duduk dan mengusap wajah istrinya.
"Malam ini, aku ingin kita makan malam dengan para kru senior dan Gerald di ruang makan pribadi. Aku ingin mereka menyambutmu secara resmi sebagai Nyonya besar di kapal ini. Kamu mau?"
Gladis menganggukkan kepalanya pelan, merasa sangat dihargai.
"Iya, aku mau."
Melihat wajah Gladis yang masih tampak sedikit lemas namun bahagia, Arkan tidak membiarkannya turun dari tempat tidur sendiri.
Dengan gerakan sigap dan penuh kasih, Arkan membopong tubuh mungil istrinya itu dalam pelukannya.
"Arkan, aku bisa jalan sendiri..." protes Gladis malu-malu sambil melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Arkan terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar sangat seksi di telinga Gladis.
"Tidak untuk malam ini. Kita mandi bersama, Sayang. Aku tidak ingin melepaskanmu sedikit pun."
Arkan membawa Gladis masuk ke dalam kamar mandi mewah mereka, di mana air hangat sudah mulai mengisi bathtub.
Di bawah uap air yang hangat, mereka memulai malam itu dengan keintiman baru, siap menghadapi dunia sebagai pasangan yang tak terpisahkan.
Uap air hangat masih menyelimuti kamar mandi saat Arkan dengan lembut mengeringkan tubuh Gladis menggunakan handuk sutra yang halus.
Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka, yang ada hanyalah rasa saling memiliki yang begitu dalam.
Setelah kembali ke area utama kabin, Arkan membuka lemari khusus miliknya.
Ia telah menyiapkan sebuah gaun pesta yang luar biasa indah dimana sebuah long dress berwarna emas sampanye dengan potongan off-shoulder yang menonjolkan tulang selangka Gladis yang indah.
Gaun itu bertabur payet halus yang akan berkilauan di bawah lampu kristal ruang makan.
"Pakailah ini, Sayang. Malam ini adalah malammu," bisik Arkan sambil mengecup bahu Gladis sebelum ia sendiri bersiap-siap.
Arkan mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan setelan jas hitam custom-made.
Ia merapikan jam tangan mewahnya dan menyisir rambutnya ke belakang, menampilkan dahi dan rahang tegasnya yang sempurna.
Penampilannya malam ini bukan lagi sekadar nakhoda, melainkan seorang raja yang siap memperkenalkan ratunya.
Setelah Gladis selesai merias wajahnya dengan polesan tipis namun elegan, Arkan berdiri di belakangnya, memasangkan sebuah kalung berlian yang berkilau indah di leher istrinya.
"Sempurna," gumam Arkan, menatap pantulan Gladis di cermin.
Ia kemudian mengulurkan lengannya. Gladis menyambutnya dengan senyum manis, melingkarkan tangannya di lengan kekar suaminya.
Saat pintu kabin terbuka, Gerald dan dua orang penjaga berseragam lengkap sudah berdiri di sana, memberikan hormat yang paling dalam.
"Malam ini, seluruh kru di dek satu telah siap, Kapten. Perayaan kecil untuk merayakan pernikahan Anda sudah dimulai," lapor Gerald dengan nada bangga.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor. Setiap kru yang berpapasan dengan mereka langsung berhenti dan membungkuk hormat, memberikan ucapan selamat yang tulus.
Gladis yang sebelumnya merasa terasing, kini berjalan dengan kepala tegak, merasakan kekuatan dan cinta Arkan yang melindunginya di setiap langkah.
Di ruang makan pribadi yang sudah dihias dengan bunga-bunga segar dan lilin aromatik, para kru senior, Dokter Sarah, dan Vita sudah menunggu.
Begitu pasangan itu masuk, denting gelas kristal dan tepuk tangan meriah menyambut mereka.
Malam itu, di bawah taburan bintang yang terlihat dari jendela kaca besar kapal, Arkan mengangkat gelasnya.
"Untuk Gladis Maulana, wanita yang telah menyelamatkan nyawaku dan sekarang menguasai hatiku."
Semua orang bersorak, merayakan kebahagiaan sang Kapten yang selama ini dikenal dingin.
Namun, di tengah kemeriahan itu, tak ada yang menyadari bahwa Alex sedang berada di lantai bawah, di ruang mesin yang gelap, dengan mata yang liar karena pengaruh alkohol dan dendam yang membara.
Alunan musik klasik yang lembut mengalir di ruang makan pribadi tersebut.
Arkan mengulurkan tangannya dengan gaya seorang ksatria sejati.
"Bolehkah aku berdansa dengan istriku yang cantik malam ini?" tanya Arkan lembut.
Gladis menyambut tangan itu, dan mereka mulai bergerak mengikuti irama.
Arkan memeluk pinggang Gladis dengan protektif, sementara Gladis menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkan yang kokoh.
"Aku mencintaimu, Gladis," bisik Arkan tepat di telinganya.
Gladis mendongak, matanya berkilat jahil meski wajahnya merona merah.
"Aku juga mencintaimu, Ayah," godanya dengan nada manja yang sengaja.
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang jarang didengar oleh siapa pun di kapal itu.
Ia mengeratkan pelukannya dan mencubit hidung Gladis gemas.
"Dasar nakal," ucap Arkan penuh kasih.
Namun, momen manis itu hancur seketika saat suara sirine berbunyi
WUUUUUUNGGG! WUUUUUUNGGG!
Suara sirine darurat melengking membelah keheningan malam, diikuti oleh guncangan hebat yang membuat gelas-gelas kristal di atas meja bergetar hebat.
Lampu-lampu di dalam ruangan sempat berkedip sebelum akhirnya berubah menjadi lampu darurat kemerahan.
Wajah Arkan berubah drastis. Sisi romantisnya menghilang, digantikan oleh ketegasan seorang Kapten yang sedang menghadapi krisis.
"Gerald! Laporan!" teriak Arkan melalui radio di bahunya.
"Kapten, badai besar datang lebih cepat dari perkiraan! Gelombang mencapai tinggi sepuluh meter dan ada gangguan anomali pada panel mesin di dek bawah!" suara Gerald terdengar panik di sela deru angin yang mulai terdengar masuk.
Arkan memegang bahu istrinya dengan sangat kuat.
"Gladis, dengarkan aku. Kamu harus segera ke lounge utama sekarang. Berkumpul dengan penumpang lain di bawah pengawasan Vita dan tim keamanan. Di sana area paling stabil."
"Tapi Arkan, bagaimana denganmu? Kapal ini berguncang sangat hebat!" seru Gladis dengan wajah ketakutan.
Arkan mencium kening Gladis dengan cepat namun penuh penekanan.
"Aku harus ke anjungan. Ini tanggung jawabku sebagai Kapten. Jangan pergi ke mana pun tanpa tim keamanan. Aku akan kembali, aku berjanji."
Tanpa menunggu jawaban, Arkan memberi isyarat pada dua pengawal untuk segera membawa Gladis.
Sementara itu, Arkan berlari kencang menuju pusat kendali, tidak menyadari bahwa di ruang mesin, Alex sedang tertawa gila melihat air mulai merembes masuk akibat sabotase yang ia lakukan di tengah amukan badai.
Suasana di lounge utama berubah menjadi neraka.
Jeritan penumpang memekakkan telinga saat kapal Ocean Empress miring tajam akibat hantaman gelombang raksasa.
Anak-anak menangis histeris, memeluk orang tua mereka yang tak kalah ketakutan.
"Tetap tenang! Pakai pelampung kalian!" teriak Gerald sambil membagikan pelampung dengan cepat, tangannya gemetar namun ia berusaha tetap profesional.
Gladis berdiri mematung di tengah kerumunan, matanya menatap kosong pada HT yang tergeletak di meja dekat Gerald.
Suara statis terdengar, diikuti teriakan kru yang memecah jantungnya.
"Man overboard! Kapten jatuh! Kapten Arkan jatuh ke laut di sisi dek kiri! Arus terlalu kuat—"
"Tidak, Arkan!" Gladis menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dunianya seakan runtuh dalam sekejap.
Vita segera memegang lengan Gladis dengan erat.
"Nonya, tetap di sini! Sangat berbahaya di luar!"
"Lepaskan aku, Vita! Aku harus mencari suamiku!" Gladis menyentak tangan Vita.
Tanpa mempedulikan teriakan peringatan dari tim keamanan, ia berlari menerjang pintu keluar dek, melawan angin kencang yang hampir menerbangkannya.
Begitu sampai di pagar dek yang basah, Gladis melihat kegelapan laut yang mengerikan.
Di bawah sana, di antara buih putih ombak yang mengganas, ia melihat sekilas tubuh Arkan yang terombang-ambing. Tanpa ragu, tanpa rasa takut sedikit pun, Gladis melompat.
BYURRR!
Air laut yang dingin menusuk tulang menyambut tubuhnya.
Gladis berjuang melawan arus yang menariknya ke bawah.
Ia adalah perenang yang handal, namun samudra malam ini adalah lawan yang mematikan.
"ARKAN! ARKAN!" teriaknya setiap kali kepalanya muncul di permukaan.
Garam laut menusuk matanya, namun ia terus mengayunkan lengannya.
Di kejauhan, ia melihat sosok yang mengapung tak berdaya.
Arkan tampaknya sempat terbentur sesuatu sebelum jatuh dan kini pingsan.
Sementara itu, kapal pesiar raksasa itu melaju meninggalkannya karena mesinnya yang tersabotase dan arus yang terlalu kuat.
"Aku datang, Sayang!" Gladis akhirnya berhasil menjangkau kerah baju Arkan.
Ia melingkarkan lengannya di bawah ketiak Arkan, berusaha menjaga kepala suaminya tetap di atas air.
Mereka kini benar-benar hanya berdua, titik kecil di tengah kegelapan Samudra Hindia yang luas, ditinggalkan oleh kapal megah yang tadi merayakan cinta mereka.
"Aku akan menyelamatkanmu, bertahanlah, Arkan. Jangan tinggalkan aku!" bisik Gladis di tengah raungan badai, sambil terus berenang sekuat tenaga mencari apa pun yang bisa mereka jadikan sandaran hidup.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget