Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Tempaan di Balik Kabut Abadi
Fajar di Jurang Ketiadaan tidak pernah membawa sinar matahari. Yang ada hanyalah perubahan warna langit dari kelabu pekat menjadi abu-abu pucat.
Namun, tepat saat lonceng kota yang karatan berdentang sekali, Jian Wuyou sudah berdiri di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu tajam, beberapa kilometer dari Kota Tanpa Nama.
Di depannya, Jian An dan Jian Han berdiri tegak. Mereka mengenakan pakaian latihan yang ringkas. Wajah mereka yang masih kekanak-kanakan kini dipenuhi keseriusan yang melampaui usia mereka.
"Dunia luar adalah tempat yang kejam, tapi Jurang Ketiadaan jauh lebih buruk," suara Jian Wuyou terdengar dingin, bergema di antara tebing batu. "Di sini, udara yang kau hirup mencoba meracuni meridianmu. Tanah yang kau pijak mencoba menyerap Qi-mu. Jika kau lemah, tempat ini akan memakanmu sebelum musuh sempat menemukanmu."
Jian Wuyou mengangkat tangannya. Seketika, aura perak-ungu terpancar dari tubuhnya.
"Domain Kehendak: Penjara Gravitasi!"
BUM!
Tanah di sekitar Jian An dan Jian Han amblas sedalam sepuluh sentimeter. Kedua bocah itu terperanjat, lutut mereka gemetar hebat. Rasanya seolah-olah ada gunung raksasa yang tiba-tiba diletakkan di atas pundak mereka.
"Ayah... ini... berat sekali!" Jian An mendesis, giginya bergeletuk. Keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya.
"Jangan gunakan ototmu untuk menahannya," bentak Jian Wuyou. "Gunakan Qi kalian! Alirkan dari inti menuju setiap pori-pori kulit. Jika kalian tidak bisa mempertahankan aliran Qi di bawah tekanan ini, kalian tidak akan pernah mencapai ranah Penyatuan Roh yang stabil, apalagi Jiwa Sejati!"
Jian Han, yang memiliki dasar Inti Qi yang lebih kokoh, mencoba mengatur napasnya. Ia memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada pusaran energi di perut bawahnya. Perlahan, cahaya biru tipis mulai menyelimuti tubuhnya, membantu menopang beban berat tersebut.
Melihat kakaknya berhasil, Jian An tidak mau kalah. Sebagai anak dengan darah asli ayahnya, energinya lebih liar. Cahaya ungu mulai berderak di sekelilingnya seperti kilat kecil. Namun, karena terlalu emosional, alirannya justru menjadi kacau.
"Jian An! Kendalikan emosimu! Energimu adalah pedang bermata dua. Jika kau tidak menguasainya, ia akan menghancurkan organ dalammu sendiri!" peringat Wuyou dengan tajam.
Setelah dua jam menahan beban gravitasi, Jian Wuyou tidak membiarkan mereka istirahat. Ia melemparkan dua pedang besi berat ke arah mereka.
"Sekarang, bertarunglah. Gunakan teknik Pedang Pemutus Awan yang kuajarkan, tapi tetap dalam tekanan Domain-ku. Siapa pun yang jatuh atau menjatuhkan pedangnya, harus mengulang dari awal tanpa makan siang."
Jian An dan Jian Han saling pandang. Mereka tahu Ayah mereka tidak sedang bercanda. Dengan gerakan yang terasa sangat lambat karena beratnya gravitasi, mereka mulai mengayunkan senjata.
CLANG!
Bentrokan pedang mereka menghasilkan percikan api. Setiap gerakan terasa seperti menyeret ribuan ton besi.
Jian An mengandalkan kecepatan refleksnya, mencoba mencari celah di pertahanan Jian Han. Namun, Jian Han berdiri seperti karang di tengah badai; setiap tangkisannya stabil dan terukur.
"Kurang cepat! Kurang bertenaga!" teriak Jian Wuyou. Ia sesekali melepaskan jentikan jari yang mengirimkan gelombang energi kecil, memaksa anak-anaknya untuk menghindar di tengah kelelahan mereka.
Di kejauhan, di bawah sebuah pohon tua yang meranggas, Li Hua dan Mei Lian memperhatikan dengan hati yang berdenyut pedih.
Li Hua berkali-kali meremas sapu tangannya saat melihat Jian An jatuh tersungkur atau Jian Han yang tangannya mulai berdarah karena menggenggam pedang terlalu keras.
"Nona, tenanglah. Tuan Wuyou tahu batas mereka." bisik Mei Lian sambil menyiapkan ramuan pemulihan dalam botol-botol kecil.
Begitu matahari "pucat" berada di puncaknya, Jian Wuyou akhirnya mengepalkan tangan, menghilangkan tekanan Domain-nya.
BRUK!
Kedua bocah itu langsung jatuh telentang di atas tanah, napas mereka terengah-engah seperti ikan yang keluar dari air. Paru-paru mereka terasa terbakar.
Li Hua segera berlari mendekat. Ia tidak membawa pedang, tapi ia membawa kehangatan. Ia berlutut di antara kedua anaknya, mengusap wajah mereka dengan kain basah yang dingin.
"Ibu... aku... aku masih hidup kan?" igau Jian An dengan mata setengah tertutup.
Li Hua tertawa kecil meski matanya berkaca-kaca. "Iya, Sayang. Kalian sangat hebat hari ini."
Jian Wuyou mendekat, menatap kedua putranya yang kelelahan. Wajah dinginnya sedikit melunak. Ia menyerahkan botol ramuan dari Mei Lian kepada mereka.
"Hari ini kalian tidak menyerah. Itu adalah syarat pertama untuk menjadi pendekar besar," ucap Wuyou. Ia kemudian menatap langit kelabu yang mulai bergejolak. "Beristirahatlah selama satu jam. Setelah itu, kita akan melatih Manifestasi Roh. Aku ingin kalian bisa merasakan keberadaan musuh bahkan sebelum mereka muncul di depan mata kalian."
Jian Han duduk dengan susah payah, meminum ramuannya. "Kami siap, Ayah."
Jian An ikut duduk, menyeringai meski sudut bibirnya terluka. "Aku akan menjadi lebih kuat dari Ayah, lihat saja nanti!"
Jian Wuyou tersenyum tipis. Di tempat yang paling gelap di semesta ini, ia melihat dua cahaya kecil yang mulai bersinar semakin terang. Namun di dalam batinnya, ia berkomunikasi dengan Jiwu:
"Jiwu, apakah kau merasakannya? Ada aura asing yang mengawasi kita dari balik kabut sejak tadi."
"Ya, Kak," jawab Jiwu dari dalam jiwa Wuyou. "Sepertinya 'tikus-tikus' Jurang Ketiadaan mulai tertarik dengan latihan anak-anakmu. Kita harus waspada."