Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Penolakan Halus
Bab 14
Penolakan Halus
Dua hari kemudian.
Sesuai jadwal, Dika pulang ke kota hari itu. Lyra menjalani hari seperti biasa dan Dika menyiapkan rencana, apa saja yang akan ia lakukan bersama keluarga kecilnya selama dalam perjalanan. Dika ingin mengambil hati Novia agar istrinya itu tidak menyimpan kecurigaan padanya.
Malam hari, selepas Isya Dika tiba di rumah. Ibra menyambutnya hangat seperti biasa. Novia pun juga menyambut seperti biasanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Novia mencoba tersenyum seperti biasanya. Tetapi begitu Dika tidak melihat, Novia langsung membuang senyumnya itu. Novia ingat kata-kata Desi, agar menutupi semua kegundahan hatinya dan membuat Dika tidak mencurigai kalau ia mengetahui sesuatu.
"Sudah makan Mas?" Tanya Novia sembari meletakkan tas kerja Dika.
"Belum," jawab Dika singkat sambil melepas pakaian yang sudah seharian ia pakai karena gerah.
"Kalau begitu kita makan sama-sama ya?"
"Ya sayang. Mas mandi dulu kalau begitu."
Novia mengangguk. Dika lali masuk ke kamar mandi, dan Novia melangkah keluar kamar menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Namun begitu Novia sudah selesai, Dika masih berada di dalam kamar mandi.
"Mas, belum selesai mandi?" Tanya Novia setengah berteriak dari dalam kamar mereka.
"Iya, tunggu sebentar," jawab Dika dari dalam kamar mandi.
"Baju Mas aku siapin di atas tempat tidur ya."
"Terima kasih sayang."
Seperti biasanya, pulang ke rumah Dika tidak lagi membawa baju kotor. Hal ini menambah lagi kecurigaan Novia kepada suaminya. Ia ingat dulu waktu baru-baru Dinas di luar kota, setiap Dika pulang, pasti ada beberapa helai pakaian kotor yang suaminya itu bawa.
Kenapa aku nggak terpikir hal ini? Batin Novia setelah mengingat perihal pakaian kotor.
Novia lalu mengalihkan pandangan. Mata nya tertuju pada handphone Dika yang terletak di atas bantal. Ia teringat lagi handphone Dika yang selalu berganti pola di setiap kali lelaki itu pulang. Novia ingat kata-kata Kakaknya, "Jika Dika mengganti sandinya lagi, itu artinya kamu memang tidak di bolehkan untuk membuka hapenya."
Novia bergeser mendekati handphone Dika. Dengan cepat ia meraih handphone itu dan mencoba membukanya dengan menggunakan sandi yang terakhir kali di beritahukan oleh Dika. Dan lagi-lagi, sandi sudah di rubah. Novia tidak bisa lagi membuka handphone milik Dika.
Novia merasa sakit hati. Dugaan Dika selingkuh pun semakin kuat. Dadanya terasa bergemuruh menahan gejolak amarah yang belum bisa meledak karena belum pasti dugaannya itu benar atau tidaknya.
Baiklah Mas. Sepertinya, aku memang harus mendatangi mu disana, batin Novia.
Novia beranjak meninggalkan kamarnya. Ia duduk di kursi meja makan sambil memaikan handphonenya. Sesekali Novia memeriksa media sosialnya, dan melihat status-status yang membuatnya sedikit terhibur.
"Ibra mana sayang?"
Dika sudah terlihat segar dan berjalan mendekati.
"Kayaknya masih di kamarnya, Mas."
Dika berhenti lalu memutar balik tubuhnya dan mendekati kamar Ibra yang tidak jauh darinya.
"Ibra...? Ibra...?"
"Ya Pa." Sahut Ibra dari kamar. Bocah itu pun segera membuka pintu kamarnya. "Ada apa Pa?"
"Ayo kita makan. Mama sudah siapin masakan enak buat kita." Ujar Dika.
"Iya Pa."
Ibra menutup pintu kamar, dan mengikuti langkah Dika menuju dapur. Disana Novia sudah menyimpan handphonenya dan menyimpan piring yang di isi nasi untuk anak dan suaminya.
Mereka makan dengan lahap. Ibra seperti biasanya, berceloteh riang ngobrol dengan papanya. Sedangkan Novia lebih banyak diam.
-
-
-
"Mas perhatikan kamu banyak diamnya." Kata Dika membuka obrolan ketika mereka sudah di tempat tidur.
Dika yang tadinya merebahkan diri dengan terlentang perlahan mengubah posisinya miring menghadap Novia.
"Aku lagi nggak enak badan saja Mas." Jawab Novia sekenanya. Matanya menatap langit-langit kamar tanpa memperhatikan wajah suaminya yang berbicara menatapnya.
"Sakit? Apa yang sakit?"
"Hanya sakit perut."
Dika perlahan mendekat dan memeluk Novia dari samping. Ia mulai mencium Novia, mulai dari bahu wanita itu, kemudian lehernya.
Novia hanya memejamkan mata tetapi itu merespon. Bahkan terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulutnya.
"Mas..., aku sedang datang bulan." Kata Novia berbohong.
Seketika kegiatan Dika berhenti. Ia terlihat kecewa, lalu perlahan kembali pada posisinya.
Dika meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya seolah-olah menjadi bantal untuk kepalanya. Pikirannya pun lalu teringat pada Lyra sesaat, setelah Novia tidak bisa di sentuhinya.
Novia sedang tidak mau di sentuh Dika oleh karena hatinya yang sedang terluka. Hatinya merasa berat harus melayani pria yang saat ini ia duga sedang mengkhianatinya. Karena itu Novia menjadikan datang bulan hanya sebagai alasan saja.
Novia tahu Dika merasa kecewa. Karena itu ia berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kalau ia sedang kesal dengan mencari alasan yang tepat agar Dika tidak curiga.
"Mas, bagaimana kalau besok ke main ke rumah ibumu? Rasanya sudah lama kita nggak pernah main ke sana."
Tiba-tiba ide itu terlintas di kepala Novia. Dan ia yakin Dika tidak akan menolak karena suaminya itu menyayangi ibunya.
"Kamu benar. Besok kita main ke rumah Mama aja. Mama pasti kangen Ibra."
"Iya Mas."
Novia perlahan membuang napas lega. Idenya di terima dan ia pun bisa lepas dari pelukan Dika untuk malam ini. Memang tidak ada yang berubah dari sikap Dika jika ia pulang ke rumah. Tetap mesra, tetap hangat dan perhatian kepada keluarga. Hanya saja, kejanggalan-kejanggalan yang di rasakan Novia tak dapat ia tepis begitu saja. Apalagi mulai ada dinding pembatas kebebasan ketika hendak menyentuh barang paling privasi milik suaminya, yaitu handphone Dika. Ada apa di dalam benda pipih hitam itu? Pikir Novia yang tak dapat ia sembunyikan kegelisahannya.
-
-
-
Matahari cukup cerah hari itu. Ibra tidak sabar menemui kakek dan neneknya yang tinggalnya cukup jauh dari rumah mereka. Mereka bertiga pun berangkat menuju Kabupaten Xx yang berjarak 75 km dari tempat tinggal mereka setelah sarapan, menemui orang tua Dika yang sudah lama tidak di kunjungi selama 2 bulan terakhir.
"Nanti kita singgah di perempatan sana ya Mas, belikan Ibu dan Bapak oleh-oleh. Nggak enak rasanya datang dengan tangan kosong." Ujar Novia.
"Iya sayang."
Mobil pun bergerak perlahan setelah pagar rumah di tutup rapat. Musik di setel pelan dan menambah suasana perjalanan terasa tenang dan menyenangkan.
"Mas, apa yang nggak berat harus pulang pergi ke kuar kota setiap minggu begini?" Tanya Novia tiba-tiba.
Dika mengerutkan dahinya. "Tumben nanya begitu?"
"Ya, aku kepikiran aja Mas. Takut terjadi apa-apa. Apalagi perjalanan ke luar kota sangat jauh."
Dika menghela napas panjang.
"Mas sudah terbiasa. Kamu nggak perlu khawatir."
"Tapi Mas, akan lebih baik kalau Mas di dekat kami. Waktu kita untuk kumpul bersama jadi lebih banyak. Apa Mas nggak ingin mengajukan pindah saja?"
Apa yang di katakan Novia memang banyak benarnya. Tapi, Dika tidak mungkin mengajukan pindah. Apalagi ada Lyra sang pujaan hati yang menunggunya disana. Tentunya itu merupakan keputusan paling berat yang harus Dika ambil. Tapi Dika tidak mau itu. Ia tidak mau berpisah dari Lyra, dan akan mempertahankan hubungan mereka bagaimana pun caranya.
"Mas tahu kamu begitu mengkhawatirkan Mas. Tapi sungguh, Mas nggak apa-apa kok. Mas akan berhati-hati setiap pulang dan pergi. Jadi kamu nggak perlu khawatir ya? Setiap akhir pekan, Mas pasti ada buat kalian." Ucap Dika sungguh-sungguh. Dan memang itu keputusannya serta niatnya, agar hubungannya dengan Lyra baik-baik saja, demikian pula hubungan rumah tangganya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra