Luna Evelyn, gadis malang yang tidak diinginkan ayah kandungnya sendiri karena sang ayah memiliki anak dari wanita lain selain ibunya, membuat Luna menjadi gadis broken home.
Sejak memutuskan pergi dari rumah keluarga Sucipto, Luna harus mencari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga suatu malam ia bertemu dengan Arkana Wijaya, seorang pengusaha muda terkaya, pemilik perusahaan Arkanata Dinasty Corp.
Bukannya membaik, Arkana justru membuat Luna semakin terjatuh dalam jurang kegelapan. Tidak hanya menginjak harga dirinya, pria itu bahkan menjerat Luna dalam ikatan rumit yang ia ciptakan, sehingga membuat hidup Luna semakin kelam dan menyedihkan.
"Dua puluh milyar! Jumlah itu adalah hargamu yang terakhir kalinya, Luna."
-Arkana Wijaya-
Bagaimana Luna melewati kehidupan kelamnya? Dan apakah ia akan berhasil membalas dendam kepada keluarga Sucipto atau semakin tenggelam dalam kegelapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Murahan
Seminggu telah berlalu. Luna selalu datang lebih pagi dari Arkana. Seperti hari ini, ia merapikan ruang kerja pria itu dengan hati-hati.
Ia juga meletakkan secangkir kopi di meja, kopi hitam yang disukai Arkana. Sebagai sekretaris dadakan, Luna telah mempelajari beberapa hal yang harus ia lakukan untuk melayani kebutuhan Arkana.
Setelah semua selesai, ia pun duduk kembali di meja kerjanya. Namun karena ia merasa bosan, ia pun memutuskan untuk keluar ruangan.
Di depan ruang Arkana, terdapat lobi yang begitu indah dan nyaman. Luna pun memilih untuk duduk di sana, ia berniat membaca buku sambil menunggu Arkana datang.
Baru saja Luna tiba, Radika datang menghampirinya. Luna tercekat, karena ia telah berkali-kali diperingatkan oleh Arkana bahwa Radika adalah keponakannya.
Tapi bagaimana cara membuat Radika menjauh? Sementara pria itu teramat baik kepadanya.
"Kamu sudah datang Lun?" tanya Radika.
Pria itu duduk di samping Luna, dan memberikan susu kotak kesukaannya.
Luna mengangguk, lalu menerima susu itu. "Terima kasih."
Radika tersenyum singkat, lalu menatap Luna.
"Luna, apa kau baik-baik saja bekerja dengannya?"
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Seminggu lalu aku melihat calon tunangan om ku keluar dari ruangannya. Aku ingin bertanya padamu, tetapi ponselmu tidak aktif. Bagaimana hari itu? Apakah kalian terlibat pertengkaran?"
Luna terhenyak mendengarnya, karena selama ini ia tidak pernah bertemu dengan Maya di ruang kerja Arkana.
"Seminggu lalu?"
"Iya."
Luna terdiam. Pikirannya kembali mengingat seminggu lalu, dimana Arkana kembali melecehkan dirinya.
Oh, sepertinya Maya datang saat aku sedang di toilet. Baguslah, aku tidak perlu menghabiskan energiku bertengkar bersama mereka.
"Oh iya, apa kamu akan datang di pertunangan adik tirimu?"
"Entahlah," sahut Luna.
Sejujurnya Luna tidak ingin datang. Ia begitu malas untuk bertemu dengan keluarga Sucipto. Karena setiap kali bertemu, selalu ada pertikaian yang membuat energinya terkuras.
"Bagaimana jika kau datang sebagai pendampingku?"
Luna menoleh. "Maksudmu?"
"Temani aku," ucap Radika.
Luna terdiam. Ia merasa tidak enak untuk menolak, Radika begitu baik dan banyak membantunya. Tapi bagaimana jika Arkana kembali murka?
Tetapi bukankah pergi dengan siapapun adalah hak Luna?
"Bagaimana Luna?"
"Akan aku pikirkan," sahut Luna tersenyum.
Radika pun menyentuh kedua tangan Luna, namun dengan reflek Luna menarik tangannya.
"Maaf Dik, bisakah kita sudahi pembicaraan ini? Aku harus kembali ke ruangan sebelum Tuan Arkana datang," ucap Luna.
Radika pun terhenyak. Ia menatap Luna dengan lekat. Ada kecemasan di wajah cantiknya saat gadis itu menyebut nama Om nya.
"Apa Om ku begitu galak padamu?"
"Tidak, Dika."
"Kenapa kau terlihat takut sekali jika aku masih di sini?"
"Bukan seperti itu, aku hanya menjaga integritas ku sebagai sekretaris nya."
Radika mengerutkan dahi, lalu tak memperpanjang lagi. Meskipun merasa aneh tetapi Radika lebih memilih menuruti Luna agar gadis itu tidak lagi terlihat panik.
"Baiklah, aku akan pergi. Oh iya, jangan lupa pikirkan tawaranku," ucapnya lalu menghilang di balik pintu.
Luna hanya menghela nafasnya panjang. Ia akan memikirkan apakah harus datang ke acara pertunangan itu, atau lebih baik tidak usah. Ia pun kembali ke ruang kerjanya yang berada di satu tempat dengan Arkana.
Baru duduk beberapa detik, tiba-tiba saja Arkana telah ada di hadapannya. Pria itu menatapnya tajam dan dingin.
"Luna Evelyn, bukankah aku sudah beberapa kali memperingatkan mu untuk tidak mengganggu Radika, kenapa kau masih menentang perintahku? Apa kau sengaja memancing emosiku?" tanya Arkana dengan penekanan.
Melihat pertikaian itu, Bayu pun terkesiap. Ia segera pergi dari ruang tersebut dan menutup rapat pintunya untuk memberikan waktu yang intens bagi Tuannya.
Setelah kepergian Bayu, Arkana langsung menarik tangan Luna yang masih duduk hingga wanita itu berdiri. Ia pun mencengkram dagu Luna dengan keras.
"Tuan Arkana, kau memang berkali-kali memperingatkan aku, tetapi bukankah aku juga berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak mengganggunya?" jawab Luna.
Arkana menyipitkan matanya menatap Luna.
"Kami hanya berteman. Dia bahkan tidak pernah menyentuhku seperti kamu menghancurkan harga diriku. Dan aku nggak berniat menjalin hubungan dengannya, apa kau puas mendengar ini?"
"Jika kamu masih terus menuduhku menganggu keponakanmu, maka aku akan benar-benar melakukannya!" tegas Luna.
"Apa kau bilang?"
"Aku akan mendekati Radika dan menjadikannya kekasihku. Siapa tahu dengan begitu dia bisa membuatku lepas darimu dan sekaligus membantuku lulus kuliah tanpa harus berinteraksi menjadi sekretarismu yang seperti sampah ini!" ucap Luna dengan lantang.
Seketika emosi Arkana pun bertambah. Tanpa aba-aba Arkana menekan tubuh Luna hingga membentur dinding.
Luna meringis, hal itu tentu saja sakit, tapi ia berusaha menahannya.
"Kau tidak bisa menentang ku, Luna!"
Arkana melempar tubuh Luna ke atas meja. Ia pun mulai mengukung tubuh Luna dengan tubuhnya.
"Ingat, wanita murahan sepertimu tidak pantas mendampingi Radika!"
Luna tercengang, hinaan dari Arkana berhasil menembus jantungnya.
"Kau yang membuatku menjadi murahan! Jika bukan denganmu, tidak ada yang melihat aku murahan, Arkana!"
Pria itu menarik sudut bibirnya. "Sekali murahan tetaplah murahan. Kau hanya wanita yang aku bayar untuk memuaskanku. Jangan menganggap dirimu tinggi Luna."
"Brengsek!"
Arkana pun mulai mencium Luna dengan kasar. Dan menyentuh titik-titik sensitifnya dengan kuat.
"Kamu menyakitiku, Arkana!"
"Sakit?"
Luna terhenyak, ia menatap Arkana yang dipenuhi kemarahan.
"Ini meja, Arkana! Kau menyakitiku!!"
"Tidak ada tempat lain yang pantas untukmu, Luna. Ranjang di dalam ruang pribadiku adalah ranjang yang akan aku gunakan untuk wanita yang aku nikahi. Bukan untuk seorang pelacur."
Seketika itu juga dada Luna seperti diremukkan. Hinaan Arkana menusuk jantungnya lebih tajam dari sebuah belati.
Dengan sisa kekuatannya, Luna pun menampar wajah Arkana dengan kuat. Hingga suara tamparan itu menggema di ruang megah tersebut.
Seketika Arkana terdiam, ia menatap gadis di bawahnya dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
Luna tahu apa yang ia lakukan penuh resiko. Ia tahu Arkana bisa melakukan apapun terhadapnya saat ini. Tapi harga dirinya tidak bisa ia biarkan diinjak terlalu dalam.
Ia menendang milik Arkana dengan kuat, lalu mendorong tubuh pria itu hingga menjauh darinya.
"Jangan lupa Tuan Arkana Wijaya, kamu lah yang membuat aku menjadi wanita murahan! Kamu memaksaku untuk melayani nafsumu bahkan saat kamu telah mengusirku. Bukankah disini kau yang lebih murahan?" ucap Luna dengan penuh penekanan.
"Kamu mengancam ku, mengusirku dari hidupmu, memintaku untuk menghilang. Tetapi kamu juga yang menyeretku kembali terlibat dengan hidupmu. Sebenarnya kau ingin aku pergi darimu, atau justru membutuhkan kehadiranku?"
ga tegas