Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BAPER LEVEL MAX, KEBANGKITAN SI MANTAN, DAN UJIAN LOYALITAS
Disclaimer: Bab ini mengandung mantan yang tiba-tiba glow up, insecurity yang bikin mules, dan aksi-aksi receh demi ngebuktiin diri yang sebenernya nggak perlu dibuktiin.
---
Keadaan lagi chill-chill aja. Mereka udah nemu groove-nya: Ardi nge band ama temen-temen kampus bikin lagu, Kinan lagi serius ngerjain proyek desain buat UMKM lokal. Hubungan mereka kayak lagu lo-fi beats yang enak didengerin pas lagi ngerjain tugas ada di background, nyaman, nggak ganggu.
Sampe suatu Selasa sore, Raka muncul lagi. Bukan di DM. Tapi nongol di TV.
Iya, beneran di TV. Acara talkshow pagi, dia jadi bintang tamu. Raka yang dulu youtuber podcaster sepi, sekarang jadi "Digital Detox Influencer" jualan workshop mahal buat orang-orang kota yang mau lepas dari gadget. Wajahnya lebih tajem, style nya minimalis mahal, ngomongnya pake istilah-istilah kayak "mindful scrolling" dan "intentional connectivity".
Kinan nonton di laptop sambil makan sereal. Sendoknya jatuh.
"Loh, itu... Raka?" dia nyeletuk ke Ardi yang lagi bikin kopi.
Ardi nyelonong. "Siapa? Oh, mantan lo yang dulu."
Dia perhatiin. "Wah, glow up banget. Jadi expert digital wellness segala."
Ada nada datar di suara Ardi yang bikin Kinan ngerasa gersang.
"Yaelah, pasti cuma rebranding doang," kata Kinan cepet, tutup laptop.
"Tapi keliatannya sukses. Workshopnya laris katanya."
"Lo ngikutin dia?"
"Enggak. Cuma Bowo yang kemarin ngeshare."
Obrolan berhenti di situ. Tapi benih insecurity udah ketanam.
---
Besoknya, Bencana Instagram terjadi.
Raka post foto lagi workshop di Bali. Pesertanya pada milih-milih, latarnya aesthetic banget. Captionnya panjang lebar soal "menemukan keaslian di dunia digital". Kinan, yang iseng stalk, nemu satu komentar yang bikin dia merem melek:
@creativejourney: "Inspiratif banget Mas Raka! Siapa nih desainer grafisnya? Visualnya keren!"
@rakapratama (verified): "Thank you! Desainnya @kinandcurates loh. Dulu kita sering kolaborasi, sekarang dia udah punya partner sendiri sih. Tapi tetep talent terbaik!"
BA. PER. Level maksimal.
Kinan langsung screenshoot, kirim ke Ardi. "LIHAT NIH. APAAA INI?"
Ardi bales lama. "Ya elah, dia cuma mention lo. Biarin aja."
"TAPI KENAPA DIA SEBUT-SEBUT GUE? KAN UDAH BERES DARI DULU."
"Mungkin dia genuinely appreciate kerjaan lo. Atau sekadar subtweet gue, haha."
HAHA. Itu "haha" yang bikin Kinan pengin ngelempar HP. Ardi keliatannya santai banget. Nggak cemburu, nggak kesel. Padahal mantan pacarnya lagi kode-kodean gitu di publik. Kinan ngerasa sendirian dalam kepanikannya.
Dia jadi overthinking. Jangan-jangan Ardi emang nggak segitu sayang? Jangan-jangan Ardi ngerasa Kinan udah fixed jadi miliknya jadi nggak perlu dilindungi? Atau... jangan-jangan Ardi sebenernya ngerasa Kinan nggak worth it buat diributin?
---
Keputusan Bodoh Level: Expert.
Kinan, didorong insecurity dan sedikit spite, nge-post Instagram Story. Foto buku "Digital Minimalism" yang lagi dia baca, tapi sengaja nunjukkin latar yang mirip banget sama aesthetic Raka kayu putih, tanaman monstera, cahaya natural. Captionnya: "Back to basics, with my favorite person. 💻✨"
Padahal "favorite person"-nya lagi di kamar sebelah, asik nge-debug kode buat game. Tapi itu bukan buat Ardi. Itu buat Raka. Buat nunjukkin: "Gue fine-fine aja. Gue juga aesthetic. Dan gue udah move on."
Ardi liat story itu. Dia nggak komentar. Cuma nge-like. Kinan makin kesel.
---
Ujian Loyalitas yang Sebenernya Nggak Perlu.
Raka nge-DM. Isinya sopan banget.
Raka: "Hey Kin, liat story lo. Buku itu bagus ya? Gue lagi rencana bikin sesi bincang-bincang soal digital wellness bareng beberapa kreator. Tertarik gabung? Bisa online kok."
Kinan baca itu berkali-kali. Ini dia: validation dari mantan yang udah glow up. Undangan profesional. Bukan rayuan. Tapi tetep aja, ada rasa bangga yang nakal. "Nih loh, mantan gue yang sekarang sukses aja masih ngajak gue kolaborasi."
Dia hampir bilang iya. Tapi jempolnya berhenti. Dia inget muka Ardi waktu bilang "haha" tadi. Dingin. Nggak peduli. Apa gunanya dapetin validasi dari mantan kalo pacar sendiri keliatannya nggak care?
Dia bales: "Thanks undangannya. Tapi gue lagi fokus sama project lokal sama partner gue. Sukses ya buat eventnya!"
Balasan Raka cepet banget: "Partner? Oh, yang itu? Yang motornya sering rusak itu? Good for you. Keep it real ya."
BACOT. LU BACOT.
Kinan langsung nge-screenshot, tapi kali ini nggak dikirim ke Ardi. Dia simpen sendiri. Buat ngingetin bahwa mantan tuh emang harusnya jadi sejarah, bukan jadi pembanding.
---
Konfrontasi yang Akhirnya Meledak.
Malam itu, Ardi baru pulang dari band practice. Kinan udah nungguin di dapur, muka masam.
"Kinan? Kenapa?" tanya Ardi, lemas.
"Lo kenapa sih santai banget?" tembak Kinan.
"Apaan?"
"Tadi Raka mention gue. Lo cuma bilang 'haha'. Dia DM gue nawarin kolab, lo keliatannya nggak peduli. Apa lo nggak cemburu? Apa lo nggak kesel?"
Ardi ngelus-ngelus jidat. "Kinan... kita udah berapa bulan lewatin gempa, lewatin cemburu buta, lewatin perbedaan dunia kita. Sekarang lo mau gue ributin sama mantan lo yang cuma sekedar mention?"
"Tapi itu nggak biasa! Dia pasti ada maunya!"
"Ya udah, biarin aja. Yang penting lo nggak mau. Kalo lo nggak mau, buat apa gue ribut?"
"KARENA GUE PENGIN LO PEDULI! GUE PENGIN LO KESEL! ITU BUKTI LO SAYANG GUE!"
Ardi diam. Matanya menyipit. "Jadi selama ini... lo ngetes gue?"
"Bukan ngetes! Tapi... gue butuh reassurance."
"Reassurance apa? Bahwa gue bakal marahin mantan lo? Bahwa gue bakal maki-maki dia di DM? Itu namanya ego, Kin. Bukan sayang."
Kinan nangis. Dia ngerasa bodoh. Tapi juga kesel. Karena Ardi bener. Tapi juga karena Ardi terlihat terlalu... dewasa. Dan Kinan ngerasa kayak anak kecil yang lagi ngamuk.
"Gue cuma... takut," bisik Kinan. "Dia sekarang sukses, keliatan perfect. Gue takut lo bandingin."
Ardi mendekat, pelan. "Kin. Waktu gempa, siapa yang nyetir 150 km buat pastiin lo aman? Raka? Waktu lo patah hati karena dikhianatin algoritma, siapa yang nemenin lo? Raka? Waktu minyak goreng lo habis, siapa yang beliin martabak? RA-"
"JANGAN DIULANG!"
"Intinya, dia ada di mana pas lo butuh? Dia cuma muncul pas lo udah kuat, buat numpang glow up. Jangan dikasih hati."
Kinan nangis lagi. Tapi sekarang nangis lega. Dia peluk Ardi. "Gue goblok ya."
"Iya. Tapi gue sayang gobloknya lo."
"Gue juga sayang lo yang terlalu pinter sampe bikin gue malu."
---
Epilog: Win With Class (Baca: Nyolot Tapi Elegan).
Beberapa hari kemudian, Kinan nge-post project desain UMKM nya. Bukan yang aesthetic high-end. Tapi desain banner warung bakso, logo tempat cuci motor, packaging keripik tempe. Captionnya panjang, tentang arti desain yang sesungguhnya: "Bukan cuma buat yang mewah. Tapi buat yang bermanfaat."
Raka komen: "Keren! Konsisten dengan nilai ya."
Kinan bales: "Makasih! Belajar dari pengalaman sih, bahwa yang authentic itu nggak perlu dijual mahal." Subtweet level dewa.
Tapi aksi paling savage malah dari Ardi. Diam-diam, dia bikin lagu baru, judulnya "Mantan yang Sok Jadi Buddha". Liriknya receh banget, nyindir influencer detox yang jualan mahal padahal dulu demen nge-gym selfie. Dia upload di Soundcloud, kirim link-nya ke Kinan. "Ini buat lo. Jangan dibagiin, bahaya dituntut."
Kinan dengerin sambil ketawa ngikik. Lagu itu jelek, beats-nya norak, liriknya kampungan. Tapi itu adalah tanda cinta yang paling dimengerti Kinan: bukan bunga, bukan kata-kata puitis, tapi sindiran receh yang cuma mereka berdua yang ngerti.
Dan Kinan sadar, inilah perbedaan antara cinta yang dipamerin sama cinta yang dialamin: Yang satu pake caption inspirasional di Bali, yang satu bikin lagu jelek di kamar kos berantakan, cuma buat bikin kamu ketawa.
---
LAST LINE: Sejak hari itu, Kinan nggak pernah lagi nge-stalk Raka. Bahkan unfollow. Dia juga nggak pernah lagi nuntut Ardi buat cemburu. Karena dia udah tau, loyalitas bukan dibuktikan dengan teriakan di medsos, tapi dengan kehadiran di saat yang nggak aesthetic: saat lo lagi insecure, saat lo nangis gara-gara mantan, saat lo butuh seseorang yang mau bikin lagu jelek buat boost mood lo. Dan itulah yang Ardi punya. Sisanya? Cuma white noise yang nggak penting-penting amat. 🔇🙏🏻