"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Akan Bangun
"Brengsek!" Geram Dariush.
Bella datang membawa kopi americano ke hadapan suaminya ini. "Kenapa sayang?" Tanyanya, heran.
"Dimana rumah sahabatmu itu? Sepertinya Sean macam macam dengan dia!" Ucap Dariush tanpa menoleh.
"Kita kesana sekarang tapi kita sarapan dulu aku lapar." Rengek Bella dengan manja.
"Astaga! Maafkan aku babe, aku lupa kalau sekarang kamu hamil. Kita sarapan dulu, aku harus menyiapkan tenaga untuk menghajar Sean." Tutur Dariush sambil memeluk istrinya.
Bella tertawa lepas mendengarnya. Ia setuju atas perkataan suaminya. Dariush membawa Bella ke pangkuannya. "Jangan di sini. Nanti mommy daddy lihat kan malu." Rengek Bella.
"Aku semakin mencintaimu sayang." Kata Dariush sambil mencium lembut bibir istrinya yang candu baginya.
"Hmm aku juga."
Saat keduanya tengah berciuman di atas kursi, tiba tiba saja Lorraine dan Dave datang. "Astaga kalian!" Geram Dave.
Sontak Bella dan Dariush jadi salah tingkah. Bella berdiri dan tersenyum kikuk. "Ayo sarapan pagi. Tolong Dariush, ini bukan di negaramu." Ucap Lorraine dengan memperingati menantunya ini.
"Oke mommy. I'm sorry." Jawab Dariush cuek sambil menaikan kedua tangannya.
"Ck... Kenapa kamu berbeda dengan ayahmu, Dariush? Setahu ku, Damian sangat dingin dan tidak pecicilan seperti mu." Gerutu Dave.
"Come on, dad. Masih pagi ini, ayo kita sarapan." Sergah Bella.
Jika tidak di hentikan kemungkinan Dariush dan Dave akan adu mulut dan tidak ada yang mau mengalah. Keempatnya sarapan bersama pagi itu tanpa ada yang bicara lagi.
-
-
-
"Nat." Teriak Bella.
Bella dan suaminya sudah ada di dalam apartment Natasha. Ia bisa masuk ke dalam dengan akses yang ia punya.
"Bell."
Kedua wanita ini berpelukan hangat. Sedangkan Dariush menatap tajam adiknya. Namun yang di tatapnya memasang wajah cueknya sambil memakan roti ditangannya.
"Apa Sean_"
"Tidak Bell. Justru semalam dia menolongku dari Dylan. Ayo kita sarapan. Gimana kehamilan mu?" Tanya Natasha.
"Dylan? Ada apa dengan dia?" Tanya Bella penasaran.
Dariush hanya mengikuti kemana istrinya berada. Sean menceritakan kejadian semalam saat Dylan datang. Bella cukup terperangah ia tidak menyangka jika Dylan akan berkata buruk pada sahabatnya ini.
Namun Natasha sama sekali tidak menceritakan tentang malam panasnya bersama Dylan. Matanya melirik ke arah Sean yang daritadi memperhatikannya.
"Ehm." Dariush berdeham kencang, ia melihat jika Sean dan Natasha saling curi pandang.
Baik Sean dan Natasha jadi salah tingkah. Bella sendiri merasa jika sahabatnya ini berbeda.
"Nat, aku titip butik yah. Nanti siang atau sore aku kesana." Ucap Bella.
"Oke boss, butik aman bersamaku." Jawab Natasha.
Selesai menemui Natasha, kini Bella dan suaminya juga Sean pamit dari sana. Sean sendiri tidak bisa berlama lama di sana karena Dariush memintanya pulang.
-
-
-
"Kamu ngidam apa sayang?" Tanya Dariush yang memeluk istrinya di dalam mobil.
Sean yang duduk di belakang merasa geli atas sikap Dariush. "Ck... Sejak kapan kau seperti itu?"
"Sejak istriku hamil." Jawab Dariush datar.
Sontak mata Sean membelalak dan melihat wajah Bella dengan tatapan tak terbaca. "Serius?" Ucap Sean.
"Hmm, kamu akan jadi uncle Sean." Celetuk Bella.
"Hey! Aku juga ingin punya anak, apa aku menikah saja hari ini dengan Natasha?" Sahut Sean.
Dan itu mendapat tatapan maut dari Dariush. "Jangan macam macam Sean! Jangan mempermainkan perempuan!"
"Oke oke baiklah! Padahal aku serius!" Tutur Sean dengan cueknya.
Bella tertawa kecil melihat perdebatan suami dan adik iparnya. Ia mengecup sekilas bibir suaminya. Kepalanya semakin di tenggelamkan di dada bidang suaminya.
"Aku ingin bicara dengan daddy-mu nanti malam." Ucap Dariush.
"Hmm, tapi jangan sampai bertengkar yah, janji?" Kata Bella.
"Iya sayang, tidak akan! Aku mencintai anaknya, yaitu kamu."
Sean berdecak sebal melihat kemesraan kakaknya. Hari ini Bella akan memeriksakan kandungannya. Karena sebelumnya kondisinya tubuhnya tak memungkingkan.
Sesampainya di rumah sakit, Bella langsung di periksa oleh dokter tampan yang membuat raut wajah Dariush berubah saat itu juga.
Dokter tampan yang sudah cukup matang itu bernama Andrew. Ia menjelaskan tentang kehamilan Bella dan juga memberikan vitamin juga obat.
"Terima kasih banyak ya dok." Ucap Bella dengan tersenyum manis.
"Sama sama bumil, semoga sehat selalu yah." Jawab dokter Andrew dengan lembut, tak lupa senyumnya yang teduh membuat Dariush semakin meradang.
Bella menoleh pada suaminya. "Kamu kenapa?" Tanyanya.
Saat Bella menoleh, Dariush tengah mengepalkan tangannya dan menatapnya tajam. Ia mencoba menenangkan suaminya. Karena ia tahu jika Dariush cemburu.
"Sudah kan?" Ucap Dariush datar.
"Hmm sudah sayang."
Hanya Bella yang berpamitan pada dokter tampan itu. Sedangkan Sean menunggu mereka di lobby. "Sudah?" Tanya Sean.
"Hmm." Jawab Dariush datar.
Ketiganya pergi lagi hari itu kebetulan di hari ini Bella akan di sibukkan dengan pekerjaannya. karena akan ada klien yang ingin mencoba design-nya.
"Kenapa tidak suruh sahabat mu itu?" Celetuk Dariush.
"Dia juga bekerja, tapi aku harus tetap mengawasinya. Ini klien penting." Jawab Bella sambil menatap lekat suaminya.
Mau tak mau Dariush mengalah pada istrinya. Ia meminta Fabio mencarikan rumah baru untuk mereka tempati. Namun Bella enggan jika harus pindah dari rumah orang tuanya.
"Kita harus mandiri sayang." Tutur Dariush.
"Tapi kasihan mommy dan daddy kalau aku keluar dari rumah. Kan kita sudah beli rumah di Italy." Lirih Bella
Mata Dariush memandang istrinya dengan penuh arti. Ia menganggukan kepalanya pelan. Namun ia akan tetap membeli rumah di negara ini untuk tempatnya beristirahat jika ia dan istrinya pulang.
"Oke deal. Aku setuju kalau seperti itu. Pak Roni, kita ke tempat Rega dulu yah." Ucap Bella pada supirnya.
"Baik non."
Rega adalah salah satu teman dekat Bella semasa kuliah. Ia juga yang sudah memilihkan apartment untuknya. Usahanya di bidang property sangatlah pesat.
"Pria?" Tanya Dariush penasaran.
"Iya pria, sudah ku ceritakan siapa dia. Jadi kamu tidak perlu cemburu lagi sayang." Tutur Bella dengan eyes puppy-nya.
"Ck...mana mungkin Dariush tidak cemburu? Kau dekat denganku saja dia tantrum hahaha." Ucap Sean dengan meledek.
Mereka yang ada di dalam mobil tertawa kecil merasa terhibur akan celotehan Sean yang semakin absurd.
Mobil mereka sampai di sebuah gedung property milik Rega. "Hai Bella, apa kabar?" Sapa Rega dengan manis.
Saat Rega akan mengecup pipi Bella, ada tangan yang menahannya. Siapa lagi kalau bukan Dariush. "Jaga sikapmu! Dia istriku!" Ucap Dariush penuh penekanan.
"Ops... Sorry! Tega kamu, Bell. Menikah enggak bilang bilang." Celetuk Rega.
Bella tersenyum kikuk menanggapinya. Ia mengenalkan suami dan adik iparnya, juga Fabio pada Rega temannya. Rega membawa Bella dan yang lainnya ke dalam untuk memilih beberapa rumah yang ia rekomendasikan.
"Interesting." Sahut Dariush.
"Jadi yang mana?" Tanya Bella.
"Yang paling mahal." Jawab Dariush sambil menunjuk satu miniatur rumah mewah di depannya dengan konsep classic elegant.
Sean dan Rega spontan bertepuk tangan, keduanya lalu tertawa atas kekompakkan mereka. "Pilihan mu terbaik. Oke aku siapkan semuanya." Ucap Rega yang berjabat tangan Dariush.
Bella tersenyum simpul melihat Dariush yang antusias memilih rumah untuk dirinya. "Terima kasih ya...dad." Sahut Bella di telinga suaminya.
"Come on, babe! Suaramu memancing sesuatu yang akan bangun." Keluh Dariush dengan manja.
"Hahahaha, bukan urusanku." Celetuk Bella.