Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik yang Tidak Lagi Bisa Ditawar
Arman pulang menjelang malam dengan langkah ringan.
Ada senyum kecil yang tertahan di sudut bibirnya—sisa hari yang berjalan baik. Presentasi diterima, klien puas, dan obrolan singkat dengan Susan di akhir rapat terasa lebih hangat dari biasanya. Tidak penting, tapi cukup untuk membuatnya pulang dengan kepala ringan.
Ia membuka pintu rumah. Sunyi menyambut.
“Ibu?” panggilnya singkat. Tidak ada jawaban. Arman meletakkan tas, membuka jas, melonggarkan dasinya. Senyum itu perlahan memudar, tergantikan ekspresi datar yang selalu muncul setiap kali ia menginjakkan kaki di rumah ini.
“Zizi?” Tidak ada jawaban juga.
Ia tidak tahu bahwa siang tadi, rumah ini penuh suara—dan Zizi jatuh di tengahnya. Ia tidak tahu bahwa istrinya sudah lama menahan sesuatu yang nyaris runtuh.
Dan sementara Arman menikmati sisa hari yang baik, di rumah ini, sesuatu telah bergeser perlahan.
Bukan sakit yang dramatis. Tidak demam tinggi. Tidak pingsan berkali-kali. Hanya tubuh yang terasa berat, kepala yang nyeri, dan dada yang sesak setiap kali ia menarik napas terlalu dalam.
.
Ia tetap bangun pagi itu. Kebiasaan lebih kuat dari rasa sakit. Di rumah ini, sakit bukan alasan.
Zizi berjalan pelan menuju dapur. Langkahnya sedikit goyah, tapi ia menahannya. Anggun tidak menyukai perempuan yang tampak lemah. Anggi lebih tidak peduli.
“Zizi,” suara Anggun terdengar dari ruang makan. “Hari ini ada tamu siang. Jangan bikin malu.”
Zizi berhenti sejenak. “Tamu?”
“Keluarga relasi ayahnya Arman. Istri-istri mereka. Kamu siapkan makan siang yang pantas.”
Zizi mengangguk. “Iya, Bu.”
Ia ingin berkata bahwa kepalanya pusing sejak subuh. Bahwa tubuhnya tidak enak. Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokannya. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum berbicara.
Di ruang tengah, Anggi turun tangga sambil mengenakan seragam sekolah. “Mbak, kaos kakiku mana? Yang putih.”
“Ada di—”
“Yang kemarin kotor. Masa nyuci aja nggak becus.”
Zizi menunduk. “Nanti aku cariin.”
Anggi mendengus dan pergi.
Zizi berdiri sendiri di dapur. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan kompor. Api biru menyala—tenang, tapi panas. Seperti rumah ini.
Ia mengiris bawang. Pedihnya membuat matanya berair. Untuk sesaat, ia berharap air mata itu jatuh karena bawang, bukan karena dirinya sendiri.
Menjelang siang, rumah dipenuhi suara. Tawa perempuan-perempuan yang tidak mengenalnya, tapi merasa berhak menilai. Anggun duduk di tengah mereka, wibawa, bangga. Zizi mondar-mandir membawa piring dan minuman.
“Ini menantuku,” kata Anggun sambil menunjuk Zizi tanpa menoleh. “Masih belajar.”
Kata belajar terdengar seperti hukuman.
Salah satu tamu menatap Zizi sekilas. “Pendiam ya.”
“Pendiam itu bagus,” sahut Anggun cepat. “Biar nurut.”
Zizi tersenyum tipis. Wajahnya terasa kaku.
Saat ia menunduk menuangkan teh, pandangannya berputar. Tangannya goyah. Cairan panas tumpah mengenai punggung tangannya. Rasa perih menjalar seketika—tajam, membakar.
Zizi refleks menarik tangannya, tapi ia tidak berteriak.
“Nanti juga reda,” gumamnya hampir tak terdengar. Seperti luka-luka lain yang selalu diminta sembuh sendiri.
“Zizi!” suara Anggun meninggi. “Apa-apaan ini? Tamu ada!”
“Saya—maaf, Bu,” ucap Zizi cepat. Tangannya memerah, tapi ia menyembunyikannya di balik tubuh.
“Dasar ceroboh. Memalukan.”
Suara-suara di sekeliling Zizi melebur menjadi dengung panjang. Napasnya pendek. Dadanya sesak. Kakinya terasa kosong.
Lalu gelap.
Saat ia membuka mata, Zizi terbaring di sofa ruang tengah. Lampu terasa menyilaukan. Kepalanya berdenyut.
“Kamu bikin malu,” suara Anggun terdengar datar. “Kalau badannya lemah, jangan banyak gaya.”
Zizi mencoba bangkit. Tangannya dibalut kain tipis. Perihnya masih ada.
“Saya pusing sejak pagi,” ucapnya pelan.
“Alasan,” jawab Anggun singkat. “Sedikit-sedikit sakit.”
Zizi memejamkan mata. Ada sesuatu yang padam di dalam dirinya. Bukan sedih. Bukan marah. Hanya… lelah.
Arman pulang malam itu.
Ia mendapati Zizi duduk di kamar, lampu redup, tangan masih terbalut.
“Kamu kenapa?” tanyanya sambil melonggarkan dasi.
“Aku pingsan siang tadi,” jawab Zizi.
“Oh,” Arman mengangguk. “Ibu cerita. Kamu kecapekan.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Zizi menatapnya lama. “Arman, kalau aku nggak ada di rumah ini… kamu bakal cari aku?”
Arman menghela napas. “Jangan mulai drama. Aku capek.” Kata itu jatuh pelan. Tapi cukup.
Malam semakin larut. Arman tertidur dengan punggung membelakangi Zizi. Ponselnya menyala sesaat—pesan kerja masuk. Zizi tidak menoleh.
Ia duduk di tepi ranjang. Tangannya masih perih, tapi pikirannya terasa jernih untuk pertama kalinya.
.
Keesokan paginya, Zizi bangun lebih awal. Ia membuka lemari dan mengambil map tipis berisi salinan dokumen pernikahan. Ia tidak ingat kapan mulai menyimpannya terpisah. Mungkin naluri.
Tidak hari ini, pikirnya. Tapi segera. Ia kembali ke kamar. Arman sudah berangkat tanpa pamit.
Zizi duduk sendiri di ranjang yang kosong. Sunyi menyelimuti. Tidak lagi menakutkan.
Ia mengambil ponsel lamanya. Satu nama masih ada di sana.
Danu.
Zizi menekan tombol panggil.
“Aku butuh bantuan,” katanya pelan saat sambungan terangkat. “Dan kali ini… aku tidak mau kembali.”
Di ujung sana, suara Danu terdengar tenang. “Di mana kamu sekarang?”
Zizi menarik napas. Napas yang utuh. “Di tempat yang akan aku tinggalkan.”
Dan di saat itu, tanpa teriakan, tanpa pertengkaran, Zizi mengambil keputusan pertama yang tidak bisa ditarik kembali.
.
Malam semakin larut, tapi rumah tetap sunyi.
Arman sudah berganti pakaian dan berbaring di ranjang. Ia menggulir layar ponselnya, membaca pesan-pesan kerja yang masih masuk. Beberapa notifikasi dari Susan muncul, soal revisi laporan dan jadwal besok pagi. Arman membalas singkat, lalu tersenyum kecil tanpa sadar.
Zizi memperhatikan itu dari ujung ranjang.
Bukan cemburu yang ia rasakan. Bukan marah. Hanya sebuah kesadaran pahit: Arman masih punya energi untuk dunia lain, tapi tidak pernah untuknya.
“Lampunya matiin,” kata Arman tanpa menoleh.
Zizi bangkit perlahan dan mematikan lampu. Kamar tenggelam dalam temaram. Ia kembali duduk, kali ini tidak langsung berbaring.
Tangannya masih berdenyut. Luka bakar di punggung tangannya mulai terasa perih setelah efek dingin air menghilang. Tapi yang lebih sakit adalah sesuatu yang tidak terlihat.
“Arman,” katanya lagi, suaranya hampir berbisik.
“Hm?”
“Kamu tahu nggak,” Zizi berhenti sejenak, memilih kata, “kalau hari ini aku sempat mikir… kalau aku nggak ada di rumah ini, mungkin nggak ada yang benar-benar berubah.”
Arman menghela napas. Ada nada tidak sabar di sana. “Kamu terlalu banyak mikir. Fokus aja sama tugas kamu.”
Tugas ?
Kata itu terdengar jelas. Terlalu jelas.
Zizi tersenyum kecil dalam gelap. “Iya.”
Ia berbaring membelakangi Arman. Di antara mereka, jarak terasa lebih lebar dari ukuran ranjang.
Pikirannya melayang pada hari-hari awal pernikahan. Pada janji yang diucapkan dengan suara mantap. Pada keyakinan bahwa waktu akan mengajarkan Arman mencintainya. Kini ia sadar—waktu tidak mengajarkan apa-apa pada orang yang merasa tidak perlu belajar.
Air mata mengalir tanpa suara, satu saja. Bukan karena sedih. Karena pamit.
.
Keesokan paginya, Zizi terbangun lebih awal dari biasanya. Badannya masih lemah, tapi pikirannya terasa jernih. Terlalu jernih.
Ia mandi, berpakaian rapi, lalu duduk di meja rias. Wajah di cermin tampak asing. Mata itu—tidak lagi memohon. Tidak lagi berharap.
Di luar kamar, suara Anggun terdengar memberi perintah pada pembantu. Suara Anggi menyela, menuntut ini dan itu. Rumah berjalan seperti biasa.
Dan untuk pertama kalinya, Zizi tidak merasa menjadi bagian dari putaran itu.