Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disusul Amel
*****
Mobil mewah itu memasuki halaman rumah mewah. Rocky memarkirkan mobil nya dengan baik dan masuk ke dalam rumah.
CEKLEK
Tidak ada siapa - siapa yang menyambut kedatangan Rocky kali ini. Bahkan sang mama yang biasa nya cerewet kalau Rocky tidak pulang, akan menunggu Rocky di ruang tengah. Tapi sekarang, suasana rumah itu begitu sunyi.
" Dari mana kamu?" Tanya Rizal dengan kuat, bahkan sampai membuat Nelly yang berada di kamar tamu segera keluar dari kamar nya.
" Papa." Ujar Rocky.
" Papa tanya, kamu dari mana? Kamu tahukan kalau semalam itu acara pertunangan kamu? Dan seenaknya saja kamu malah pergi gitu aja, clubing dengan teman - teman kamu. Apa tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan selain mabuk - mabukan?" Amuk Rizal menatap nyalang pada Rocky. Tapi di akhir ucapan nya dia mengerlingkan sebelah mata nya.
Rocky hanya menggeleng pelan melihat sikap papa nya barusan.
" Aku minta maaf, pa." Ucap Rocky tertunduk.
Yusnita yang sedang menyiapkan sarapan di dapur, bergegas mencuci tangan dan mencari tahu penyebab suami nya sudah menjerit pagi - pagi gini.
" Maaf, maaf. Hanya itu yang bisa kamu ucapkan? Kamu nggak pikirkan bagaimana perasaan Nelly. Dia kebingungan mencari kamu kemana - mana."
Nelly berdiri di ambang pintu kamar nya. Menatap perdebatan Rocky dan Rizal dengan tatapan sinis.
" Dasar anak dan ayah sama - sama munafik. Bisa - bisa nya mereka bersandiwara sok berantem. Pake gaya marahin Rocky lagi. Padahal di belakang gue, dia malah mendukung hubungan Rocky dengan perempuan sialan itu." Gumam Nelly.
Nelly membuang nafas nya kasar.
" Baiklah, Nelly. Sudah saat nya kamu memainkan peran tambahan di sini". Gumam Nelly merapikan pakaian nya.
Nelly sedikit berlari menghampiri Rocky dan menengahi mereka.
" Oom, sudah Om. Aku nggak papa kok. Jangan marahin Rocky lagi. Aku sudah lupa kok soal tadi malam." Ucap Nelly menatap Rizal.
" Tapi dia ini sudah keterlaluan. Main pergi gitu aja. Nggak bilang mau kemana. Apa kamu pikir urusan dengan teman - teman kamu itu lebih penting dari pada keluarga?" Jerit Rizal lagi.
" Sudah Om sudah. Nama nya juga anak muda. Aku juga nggak keberatan kok kalau memang Rocky mau pergi dengan teman - teman nya. Dia juga punya privasinya sendiri kan, Om?" Bela Nelly lagi.
" Aku minta maaf, pa." Ucap Rocky.
" Hanya maaf?" Tanya Rizal marah.
" Apa an sih pa?" Yusnita keluar dari dapur dan berada di tengah - tengah Rocky dan Rizal.
" Kamu ini apa an sih, pa? Anak nya baru pulang, bukan nya di tanya sudah sarapan atau belum, malah di marahin. Sudah nggak sayang kamu sama anak kamu?" Omel Yusnita menatap nyalang ke arah Amelia.
" Tapi dia salah, ma." Jawab Rizal.
" Aku tahu, Rocky salah. Tapi dia masih capek. Nanti saja di marahin. Nelly sayang, tolong bawa Rocky ke kamar ya." Kata Yusnita.
" Iya, tante. Ayo, beb." Nelly menggandeng tangan Rocky dan membawa nya ke lantai atas.
" Aku ke kamar dulu ma, pa." Ucap Rocky pelan.
" Iya, sayang." Sahut Yusnita.
" Kamu jangan terlalu memanjakan Rocky. Lihat tuh kelakuan nya. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu saja bertindak sesuai kemauan nya. Kapan dia dewasa nya, kalau kamu terus saja membela dia. Lama - lama dia jadi besar kepala." Kata Rizal.
" Dia itu anak kita satu - satu nya. Memang salah kalau aku memanjakan dia? Kalau bukan kita yang memanjakan dia siapa lagi? Mungkin orang lain di luar sana? Tidak kan?"
" Tidak salah. Tapi jangan terlalu berlebihan."
" Terserah aku lah. Aku ibu nya. Kamu, urus saja pekerjaan kamu. Biar urusan Rocky menjadi urusan aku."
" Termasuk membuat rencana pertunangan Rocky dengan Nelly secara mendadak?"
" Kalau iya kenapa? Kenapa jadi kamu sih pa, yang keberatan? Rocky saja tidak." Tanya Yusnita, pandangan Yusnita seakan siap menerkam apa yang ada di hadapan nya.
" Memang kamu pernah tanya, dia setuju bertunangan dengan Nelly atau tidak?"
" Apa maksud kamu bertanya seperti itu?" Tanya Yusnita curiga.
" Kita tidak tahu kan? Mungkin saja di luar sana ada wanita yang dia cintai selain Nelly." Jawab Rizal.
" Kamu tahu apa tentang cinta? Lihat saja, bukti nya kita bisa bahagia kan? Kita juga di jodohkan. Nggak ada beda nya dengan Rocky sekarang. Pilihan orang tua itu nggak pernah salah."
" Itu kan menurut kamu. Sekarang semua nya sudah berubah. Kita tidak bisa lagi memaksakan perjodohan di antara kita dulu pada Rocky. Mungkin dia sudah punya pilihan nya sendiri."
" Aku ibu nya. Aku tahu yang terbaik untuk anak ku. Dan Nelly adalah pilihan yang tepat untuk Rocky. Dia tidak akan protes, kalau sudah saya yang tentukan."
*
*
*
Di lantai atas, Nelly mengantar Rocky masuk ke dalam kamar nya sampai menutup pintu itu rapat. Lalu dia memperhatikan Rocky yang sadang membuka jas nya.
" Terima kasih untuk drama kamu hari ini. Kedepan nya, kamu tidak perlu melakukan nya di depan ku. Aku tidak butuh pembelaan dari mu. Aku bisa membela diri ku sendiri." Ucap Rocky.
" Siapa juga yang membela kamu. Aku hanya sedang memainkan peran ku di sini. Peran seorang calon menantu yang kehilangan tunangan nya di malam pertunangan mereka. Tunangan nya yang malah pergi dengan perempuan lain." Ucap Nelly menatap Rocky.
" Tapi nggak masalah. Perempuan simpanan kamu itu bebas memainkan peran nya. Aku dengan peranku. Aku sudah terbiasa berada di tengah persaingan seperti ini. Tapi aku rasa... Persaingan ini terlalu gampang. Karena perempuan simpanan kamu itu nggak selevel dengan aku. Hanya perempuan biasa yang bermimpi menjadi nyonya Mahendra." Tambah Nelly .
" Kamu terlalu percaya diri. Dia itu bukan perempuan simpanan aku. Dia calon istri ku."
" Owww ... Calon istri Rocky? Aku sampai kaget mendengar nya. Bisa mendadak sakit jantung nih. Baby... Kamu yang terlalu percaya diri, bukan aku. Jangan coba bermain api dengan ku Rocky. Sesuatu yang kamu rasa nggak mungkin, bisa terjadi kapan saja sesuai keinginan aku. Termasuk soal pertunangan kita tadi malam. Kamu nggak nyangka kan? Sebuah planning yang kamu abaikan, pecah tadi malam." Kata Nelly menatap Rocky dengan nyalang.
" Harus nya mama melihat bagaimana asli nya kamu sekarang. Seorang wanita yang ambisius. Penuh obsesi."
" Salah? Kalau aku mempertahan kan apa yang seharus nya menjadi milik ku? Tidak kan?" Tanya Nelly.
" Salah. Karena mama memilih perempuan ular seperti kamu." Jawab Rocky menunjuk wajah Nelly.
" Jangan marah dong, beb. Ular - ular gini, keluarga aku sudah menyelamat kan nyawa papa kamu. Tanpa papa aku, papa kamu mungkin sudah meninggal sekarang, Rocky. Jadi ini balasan dari kamu atas nyawa cadangan yang sudah di berikan papa aku buat papa kamu? Iya?" Nelly menaikkan nada suara nya sedikit.
Rocky merasa malas jika sudah membahas soal ini. Karena dia juga tidak bisa memungkiri nya. Berkat papa nya Nelly, Rizal bisa bertahan sampai sekarang.
" Aku capek. Malas berdebat dengan mu. Sekarang keluar lah. Aku mau mandi. Aku harus segera ke kantor." Usir Rocky menyudahi percakapan mereka.
" Kamu mengusir aku keluar?" Tanya Nelly dengan suara yang lembut, langkah nya perlahan maju mendekati Rocky.
" Tapi kamu harus keluar, aku mau mandi." Jawab Rocky tersenyum.
Nelly sudah berhadapan dengan Rocky. Tangan nya berhasil menyentuh roti sobek itu.
" Bagaimana kalau aku temani kamu mandi? Kita mandi berdua." Ajak Nelly, bahkan suara nya terdengar mendesah.
Nelly dengan gerak cepat kemudian melumat bibir Rocky dengan rakus nya. Sedang tangan nya bergrilya dengan bebas di dada bidang Rocky.
" Nelly, jangan Nelly. Kita tidak boleh melakukan ini." Tolak Rocky ketika ciuman mereka terlepas.
" Kenapa tidak boleh? Bukankah kita akan segera menikah?"
" Kalau gitu, kita akan melakukan nya setelah kita menikah nanti."
Nelly kembali mencium Rocky. Menghisap dan mengulumnya, dan bahkan sesekali lidahnya pun bermain - main di dalam rongga mulut pria itu.
" Mmm..." Rocky berusaha merapatkan bibir nya. Dia sama sekali tak berniat mengimbangi perbuatan nakal Nelly. Dia malah terus menolak, dan bahkan sempat menjauh kan tubuhnya dari Nelly.
Namun Nelly sama sekali tak pantang menyerah. Kini giliran bibirnya pun mendarat di rahang, telinga, bahkan dia meletakkan tangan Rocky di dua gundukan besar itu.
" Cukup Nelly." Rocky melepaskan paksa tangan Nelly dan menarik nya keluar dari kamar.
" Jangan paksa aku melakukan kekerasan pada mu." Kata Rocky sebelum pintu kamar itu benar - benar telah tertutup.
Setelah mengunci pintu, Rocky berbaring di atas ranjang nya dan mengusap wajah nya dengan kasar.
Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika tadi dia sampai melakukan nya pada Nelly.
Nelly hanya bisa mengendus kesal karena perlakuan Rocky pada nya. Dia tidak terima saat Rocky menolak sentuhan lembut nya.
" Awas saja, Rocky. Kita lihat saja nanti, sampai kapan kamu bisa menahàn godaan tubuhku ini. Dan sampai saat itu tiba, maka kamu tidak akan bisa lepas lagi dari cengkraman ku." Gumam Nelly pelan.
*
*
*
Setelah mandi, Ariana memakai baju yang sudah di beliakan Rocky tadi untuk nya. Baju yang kebih nyaman dia pakai selama dia di sana menunggu Rocky kembali.
Setelah berpakaian, seseorang menekan bel dari luar. Setelah mengintip dari lobang kecil, Ariana pun membukakan pintu untuk Amelia.
" Kakak sakit apa? Amel sampai panik tadi malam waktu kak Rocky bilang kakak sakit. Padahal tadi malam Amel mau nyusul kakak, tapi kak Rocky bilang besok saja, malam ini biar kak Rocky yang jaga." Tanya Amelia begitu dia masuk ke dalam kamar hotel.
" Kakak cuma kurang enak badan aja kok. Tapi sekarang sudah mendingan." Jawab Ariana dengan suara lembut nya.
" Sudah berobat? Mau Amel periksa? Tapi Amel nggak bawa alat - alat nya."
" Terima kasih, bu dokter. Tapi nggak perlu, saya sudah baikan kok." Ucap Ariana tersenyum.
" Kak Rocky bilang kakak belum sarapan. Mau sarapan apa, biar Amel pesan?"
" Nanti saja. Kakak belum lapar. Kamu sudah sarapan?"
" Sudah. Ya ampun kak, kamar nya bagus banget. Tempat tidur nya empuk lagi." Ucap Amel ketika dia duduk dan berbaring di tempat tidur hotel.
" Ini kamar nya pasti mahal ya kak? Berapa an satu malam? Ini kak Rocky yang bayar kan? Boleh dong kita nginep satu malam lagi di sini. Amel belum pernah tuh nginap di hotel semewah ini. Setiap kali tour dari kampus, pasti nginap nya di hotel murah. Banyak nyamuk, bau lagi. Ini nyaman banget kak, harum, ac nya dingin lagi." Oceh Amelia panjang lebar.
Ariana hanya tersenyum sambil geleng - geleng kepala melihat kelakuan adik nya yang malah berkeliling di kamar itu. Bahkan Amelia mengabadikan semua gaya nya di ponsel pintar nya.
" Kamar mandi nya, ya ampun kak Ari. Ini mah kalah besar nya sama kamar kost kita. Kok malah lebih nyaman kamar mandi ini ya dari pada kamar kost kita. Luas, ada bathup nya lagi. Nanti Amel mau mandi di sini ah." Sambung Amel menatap kagum saat dia di dalam kamar mandi.
" Sudah ah, Amel. Norak nih kamu. Nanti biar kakak bilang sama kak Rocky, supaya kamu bisa nginap satu malam lagi di sini. Jadi kamu bisa pakai semua fasilitas hotel ini sampai kamu puas."
" Bener ya kak?" Tanya Amelia, memastikan ucapan Ariana.
" Iya, iya..." Jawab Ariana mendusel.
" Kalau pesan makanan di hotel, nanti kita di suruh bayar nggak kak?" Tanya Amelia lagi.
" Ya nggak lah, Mel. Kan semua pembayaran nya sudah di bayar kak Rocky di awal."
" Kalau gitu Amel mau pesan makanan yang enak - enak dong kak."
" Ya sudah, kamu telpon saja sendiri. Tekan 05, nanti langsung nyambung ke dapur."
Amelia langsung beranjak dari posisinya menuju meja telpon hotel. Dia menekan nomor yang di katakan Ariana tadi.
" Halo, saya mau pesan makan dong. Chicken melanies, thousand salad, beef gordon bleu, merry chicken, omlette, dan jus jeruk nya dua, lemon tea nya satu. Terima kasih." Ucap Amelia langsung menutup sambungan telpon itu.
" Nggak salah pesan sebanyak itu? Emang bakal habis?" Tanya Ariana heran.
" Ya di habisin dong, kak. Semua makanan yang Amel pesan tadi itu mahal - mahal, pasti enak. Jadi harus kita habisin. Kalau kurang, kita pesan lagi. Gampang." Jawab Amelia santai, dia kembali berbaring telentang di atas tempat tidur.
Ariana kembali menggelengkan kepala nya. Heran dengan kelakuan adik semata wayang nya itu yang berhasil membuat Ariana tidak habis pikir saat ini.
Dia memesan banyak makanan. Seakan dia akan berpuasa selama seminggu ke depan nya.
" Oh ya kak. Tadi Kaka Rocky nyuruh Amel beresin semua pakaian kita. Kata nya kita mau pindah. Bener?"
" Kakak juga nggak tahu. Tapi tadi Rocky juga bilang begitu. Dia bilang tunangan nya sudah tahu alamat kont kita. Dia takut kalau tunangan nya melakukan hal yang aneh - aneh sama kita. Makanya kita harus pindah."
" Pindah ke kost yang lain apa pindah rumah?"
Ariana menggeleng.
" Kakak juga nggak tahu kita bakal pindah kemana. Kita tunggu kak Rocky saja lah nanti."
" Yah... Baik lah. Tapi nanti Amel mau minta pindah ke rumah yang besar. Sebesar kamar hotel ini." Gumam Amelia dengan riang nya.