Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi itu, Dokter Fatih melangkah menuju sayap VVIP rumah sakit. Di depan kamar nomor 01, dua orang pria berbadan tegap yang merupakan staf keamanan keluarga besar Tasya memberikan anggukan hormat.
Di dalam ruangan, suasana terasa hangat namun tenang.
Tasya sedang bersandar di tumpukan bantal, sementara kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya sedang berbincang pelan di sofa sudut ruangan. Ayah Tasya, seorang pengusaha properti yang disegani, langsung berdiri menyambut kedatangan Fatih.
"Selamat pagi, Dokter Fatih. Terima kasih sudah menyempatkan waktu di tengah jadwal operasi Anda yang padat," sapa sang Ayah dengan jabat tangan yang mantap.
Fatih mengangguk sopan, wajahnya tetap menunjukkan profesionalisme yang kaku. "Sudah menjadi jadwal kontrol rutin saya, Pak. Bagaimana perkembangan Tasya sejak terapi saraf terakhir?"
Ibu Tasya mendekat ke arah ranjang, mengusap lembut tangan putrinya. "Dia jauh lebih ceria, Dok. Meski terkadang masih ada keluhan di punggungnya saat mencoba duduk terlalu lama."
Fatih kemudian mendekati tempat tidur Tasya. Perempuan itu tampak anggun dengan piyama sutra berwarna pastel. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, membingkai wajahnya yang cantik namun memiliki gurat kelelahan akibat penyakit menahun yang ia idap sejak masa SMA.
"Mari kita periksa refleksnya sebentar, Tasya," ucap Fatih lembut sambil menyiapkan alat pemeriksa sarafnya.
Tasya tidak banyak bicara. Saat Fatih menyentuh titik-titik saraf di pergelangan tangannya untuk mengecek motorik, Tasya hanya menatap Dokter muda itu dengan senyum yang tampak malu-malu. Ada rona tipis di pipinya yang pucat, sebuah ekspresi yang sangat kontras dengan julukan Pangeran Es yang disandang Fatih.
Keluarga Tasya memperhatikan interaksi itu dengan senyum penuh arti. Mereka tahu betapa sulitnya Tasya membuka diri sejak ia terpaksa berhenti sekolah dan kehilangan masa-masa remajanya karena kondisi fisiknya. Bagi mereka, kehadiran Fatih yang cerdas dan tenang adalah sebuah harapan besar.
"Dokter Fatih," suara Tasya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. "Terima kasih sudah sangat telaten merawat saya selama ini."
Fatih menghentikan gerakannya sejenak, menatap mata Tasya yang jernih. Untuk sesaat, ia teringat bahwa Tasya adalah sebaya dengan Raisa, perempuan yang belakangan ini mengusik logikanya. Namun, melihat sikap Tasya yang begitu santun dan pemalu, Fatih hanya memberikan respon singkat.
"Kepatuhan Anda pada jadwal terapi adalah faktor utamanya, Tasya. Pertahankan itu," jawab Fatih datar, meski tangannya bergerak sangat hati-hati agar tidak menimbulkan rasa sakit pada pasiennya.
Setelah memberikan instruksi dosis obat baru kepada perawat dan berdiskusi singkat dengan kakak Tasya mengenai rencana fisioterapi lanjutan, Fatih berpamitan.
"Kami sangat mengandalkan Anda, Dokter," ucap Ayah Tasya sebelum Fatih keluar dari pintu.
Fatih hanya mengangguk, lalu menutup pintu kamar dengan rapat. Ia berdiri sejenak di koridor yang sepi, menghela napas panjang.
Sosok Tasya yang lemah namun cantik, dukungan keluarganya yang luar biasa, dan tugas besarnya untuk memulihkan saraf perempuan itu menjadi beban profesional yang berat.
Namun, di tengah semua itu, entah mengapa bayangan Raisa yang sedang berdiri dengan berani melawan orang tua Rendi di sekolah justru kembali terlintas di benaknya. Fatih menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
......................
Pintu kamar VVIP itu tertutup rapat, meninggalkan keheningan sejenak sebelum akhirnya pecah oleh helaan napas lega dari Ibu Tasya. Ia kembali duduk di tepi ranjang, merapikan anak rambut putrinya dengan tatapan penuh kasih.
"Dokter Fatih itu... semakin hari kelihatannya semakin dewasa ya, Pa?" ujar Ibu Tasya sambil melirik suaminya.
Ayah Tasya yang sedang melipat kembali koran bisnisnya mengangguk setuju. "Dia dokter muda terbaik di rumah sakit ini. Tidak heran keluarga besar kita mempercayakan kesembuhan Tasya padanya. Orangnya tidak banyak bicara, tapi kerjanya nyata. Sangat presisi."
Tasya, yang sejak tadi hanya diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya memainkan ujung selimut rumah sakit yang halus. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang sejak Fatih menyentuh pergelangan tangannya untuk memeriksa denyut nadi tadi.
"Tapi kaku sekali ya, Pa," celetuk Kakak laki-laki Tasya sambil terkekeh pelan dari sofa. "Tadi saja pas Tasya bilang terima kasih, jawabannya seperti sedang membaca jurnal medis. Datar sekali."
"Justru itu yang kita butuhkan, Aris," sahut sang Ayah dengan nada serius. "Laki-laki yang mengutamakan logika dan dedikasi pada pekerjaan. Dia bukan tipe pria yang suka mengumbar janji atau kata-kata manis. Di dunia bisnis maupun medis, orang seperti Fatih itu aset langka."
Ibu Tasya tersenyum kecil melihat reaksi putrinya yang terus menunduk malu. Ia tahu benar bahwa selama bertahun-tahun menjalani pengobatan, Tasya jarang sekali menunjukkan ketertarikan pada siapa pun.
Penyakit yang membuatnya harus berhenti sekolah telah membangun tembok besar di sekeliling hatinya. Namun, kehadiran Fatih secara rutin tampaknya mulai memberi celah kecil pada tembok itu.
"Tasya sayang," panggil Ibunya lembut. "Bagaimana menurutmu Dokter Fatih? Dia tidak terlalu galak kan saat memeriksa?"
Tasya mengangkat wajahnya sedikit, namun matanya tetap menghindari tatapan keluarganya. "Tidak, Ma. Dokter Fatih... dia sangat baik. Meski bicaranya singkat, tangannya sangat hati-hati. Tasya merasa... aman kalau dia yang menangani."
Kakaknya, Aris, bangkit berdiri dan mendekati adiknya, lalu mengacak rambutnya pelan.
"Aman atau nyaman, nih? Hati-hati, Dokter Fatih itu punya banyak penggemar di rumah sakit ini. Tapi tenang saja, Kakak akan pastikan dia memberikan perhatian ekstra untuk adik kesayangan Kakak ini."
"Kak Aris! Apa sih," protes Tasya dengan suara pelan, wajahnya kini merah padam karena godaan kakaknya.
Ayah Tasya hanya tertawa kecil melihat interaksi itu, namun matanya menyiratkan rencana yang lebih dalam. "Kita lihat saja nanti. Yang penting sekarang Tasya fokus untuk pulih. Kalau kondisi sarafnya membaik, mungkin kita bisa mengundang Dokter Fatih makan malam di rumah sebagai tanda terima kasih resmi dari keluarga besar kita."
Tasya tidak menjawab, namun ia menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum tipis ke arah jendela. Di pikirannya, bayangan wajah serius Fatih saat sedang fokus memeriksa reflektor sarafnya tadi kembali terputar, memberikan secercah semangat yang sudah lama hilang dari hidupnya.
......................
Di sebuah ruangan kantor yang mewah namun terasa mencekam, Pak Baskoro berdiri di balik meja kerjanya yang luas. Amarahnya masih membekas setelah pertemuan di sekolah tadi. Ia tidak terbiasa mendapatkan perlawanan, apalagi dari seorang guru yang menurutnya tidak memiliki kekuatan apa pun.
Ia menekan tombol interkom di mejanya. Tak lama kemudian, seorang pria tegap dengan setelan hitam masuk dan berdiri dengan sikap sempurna di hadapannya.
"Ada perintah, Pak?" tanya pria itu dengan nada rendah.
Pak Baskoro memutar kursinya, menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. "Guru bernama Raisa itu... dia terlalu berani mencampuri urusan keluarga saya. Dia pikir integritas bisa mengalahkan kekuasaan saya."
Ia terdiam sejenak, memberikan jeda yang penuh tekanan. "Saya tidak ingin dia terus melangkah lebih jauh dengan kasus ini. Cari tahu segala hal tentang dia. Di mana dia tinggal, siapa keluarganya, dan ke mana saja dia pergi setelah mengajar."
"Anda ingin kami melakukan tindakan fisik?" tanya anak buahnya memastikan.
"Jangan gegabah," potong Pak Baskoro dengan suara dingin. "Tindakan fisik hanya akan membuatnya terlihat seperti pahlawan. Saya ingin kalian memberinya tekanan mental. Pastikan dia merasa tidak aman ke mana pun ia pergi. Berikan dia peringatan halus agar dia tahu bahwa pilihannya untuk melawan saya adalah sebuah kesalahan besar."
Pak Baskoro meletakkan sebuah foto Raisa di atas meja. "Goyahkan ketenangannya. Buat dia merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk membela siswi itu akan memiliki konsekuensi bagi hidupnya sendiri. Saya ingin dia datang sendiri ke hadapan saya dan memohon untuk menghentikan semuanya."
"Baik, Pak. Kami mengerti. Kami akan mulai mengawasinya sejak malam ini," jawab pria itu sebelum membungkuk dan keluar dari ruangan.
Pak Baskoro kembali menatap ke luar jendela, menyeringai tipis. Baginya, ini hanyalah permainan catur, dan ia tidak akan membiarkan seorang bidak kecil seperti Raisa merusak rencana besarnya untuk masa depan Rendi.