NovelToon NovelToon
Jodoh Wasiat Suami

Jodoh Wasiat Suami

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: el nurmala

"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-

"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-

Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.

Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.

Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?

Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?

------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perdebatan di ruang makan

Happy reading...

Malam semakin larut, namun Murni belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Kelebatan sikap manis Niko pada Anna mengganggu pikirannya. Wanita berusia senja itupun akhirnya turun dari tempat tidurnya untuk menelepon Viona, menantunya.

Setelah beberapa menit, Murni mengakhiri panggilannya.

"Ternyata memang benar, Niko sudah mengetahui kebenarannya." Gumamnya.

Entah Murni harus merasa lega atau sebaliknya. Namun yang pasti, ia merasa senang bisa melihat sisi lain dari cucu kesayangannya malam ini.

"Nenek yakin kamu akan jadi pria yang bertanggung jawab, Niko." Batinnya.

***

Hari berganti, dan itu artinya persalinan Anna semakin dekat. Anna yang kini tengan terduduk di tempat tidurnya hanya bisa terdiam dalam kecemasan yang melanda hatinya.

Sesekali tatapannya tertuju pada perutnya yang semakin membesar. Benjolan kecil akibat gerakan bayinya terkadang mengusik naluri keibuannya. Ada keinginan untuk menyentuhnya, namun sebisa mungkin Anna menahannya.

"Mas, Anna benar-benar merasa bersalah pada keluarga ini. Kakek, Nenek dan juga Niko sangat baik pada Anna. Tapi Anna justru membohongi mereka, Mas." Gumamnya.

Sedangkan di ruang makan, ketiga anggota Rahardian akan menikmati sarapan. Walaupun sikap Kakek melunak pada Anna, tetap saja pria itu tidak ingin satu meja dengan wanita beda kasta yang akan menjadi cucu menantunya.

"Anna belum bangun, Bi?" tanya Nenek.

"Belum, Nyonya."

"Ya sudah biarkan saja," ujar Nenek.

"Heh pemalas," decih Kakek.

"Apa yang kau harapkan dari wanita yang sedang hamil tua, Suamiku? Kau ingat, saat aku mengandung Rian dulu? Kakiku sampai bengkak karena kurang gerak. Kalian para pria tidak akan memahaminya. Semakin dekat dengan waktu melahirkan, maka kenyamanan tidur si ibu akan semakin berkurang." Nenek menuturkan sambil sesekali melirik pada Niko.

"Kek, Niko akan minta Mama datang kesini untuk menemani Anna."

"Siapa maksudmu, Viona? Tidak akan ku ijinkan," ucap Kakek ketus.

"Tidak ada yang bisa melarang Mama untuk datang ke negara ini. Niko akan pastikan itu," tegas Niko.

"Apa maksudmu, hah! Sejak kapan kau jadi pembangkang!" ujar Kakek dengan tatapan tidak suka.

"Kalau Mama tidak di izinkan berada di mansion ini, Niko akan membawa Anna pindah dari sini."

"Niko!" seru Nenek.

"Niko hanya mencoba memahami perasaan Anna, Nek. Saat dia akan menjadi seorang ibu, pastinya dia juga menginginkan ibunya ada di sampingnya."

"Lalu kenapa harus Viona? Kenapa bukan pelayan itu saja?" tanya Kakek sinis.

"Karena bukan hanya Anna, Niko juga ingin bersama Mama." Pungkasnya.

Niko berlalu meninggalkan ruang makan dengan perasaan kesal. Ia melirik ke kamar Anna saat melewatinya. Kamar itu tidak tertutup rapat.

"Apa Anna mendengar semuanya?" batin Niko.

Niko pun berlalu dengan tekad akan mengusahakan Mamanya datang.

"Suamiku, sudahlah. Turunkan egomu. Biarkan Viona datang kesini untuk menemani Anna," pinta Murni.

"Anna dan Anna. Apa istimewanya bekas wanita buta itu? Dia sama saja seperti Viona. Sama-sama wanita penggoda," decih Rahardian.

"Bukan mereka yang wanita penggoda. Tapi Anak dan cucumu yang tergoda walau tanpa digoda." Murni bergumam namun masih terdengar oleh suaminya.

"Kau tidak pernah mendukungku," gerutu Rahardian.

"Aku pernah mendukungmu. Apa kau lupa? Aku mendukung keputusanmu menjodohkan Rian dengan Helena. Aku juga mendukungmu menjodohkan Niko dengan Alexa. Tapi lihatlah hasilnya, tidak satupun dari pilihanmu yang membuat mereka bahagia."

Mendengar pernyataan istrinya, Rahardian hanya bisa menghela nafasnya. Mau tak mau ia pun mengakuinya. Egonyalah yang membaut Rian putranya menjauh darinya. Walau ia tahu putranya itu tak pernah terlewat menanyakan kabarnya pada Murni, istrinya. Dan Niko, ia tak ingin cucunya itu juga menjauh darinya.

"Katakan pada Niko, ia bisa membawa wanita itu kesini. Asalkan Rian juga kesini," ujar Rahardian pada akhirnya.

Murni tersenyum mendengarnya. Wanita berumur itu bahkan sampai meneteskan air mata. Karena setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan putra tercintanya.

"Sejak kapan kau menjadi cengeng," ujar Rahardian ketus.

"Aku tidak cengeng. Aku hanya sedang bahagia," sahut Murni.

Diam-diam Rahardian tersenyum tipis. Bukan hanya Murni yang ingin bertemu putranya, tapi ia juga.

Sementara itu dikamar Anna, wanita itu sedang termenung. Tadi ia hendak keluar dari kamarnya, namun urung. Perdebatan di ruang makan dengan jelas bisa di dengarnya.

Beberapa kali Anna mengusap dadanya. Ia berharap agar bisa melewati ini semua.

"Ternyata masih tetap sama," ucap Anna pelan.

"Apa yang tetap sama?"

Suara Nenek membuat Anna terlonjak.

"I-itu, Nek. Ee Anna merasa tidur Anna setiap malam tetap sama. Selalu merasa tidak nyaman," sahut Anna tergagap.

"Ya memang begitu. Apalagi kamu ini pemalas. Pagi-pagi begini harusnya kau sedang jalan-jalan di taman. Bukannya masih diam dikamar," gerutu Nenek.

"Iya, Nenek. Baru pagi ini Anna melewatkannya. Nenek juga tahu kan?" Anna berucap manja.

Nenek Murni hanya memasang wajah kesal namun ada senyum yang tersungging di kedua ujung bibirnya.

***

Indonesia

Viona hampir tak percaya mendengar penuturan ibu mertua yang baru saja di dengarnya. Ayah mertuanya mengizinkan ia datang ke mansion mereka.

Rasanya bagai mimpi yang menjadi nyata. Viona beberapa kali menepuk pelan wajahnya. Tapi ini tidak mungkin mimpi, karena bahkan malam ini ia belum tertidur.

"Belum tidur, Ma?" tanya Rian yang sedang mengucek sebelah matanya. Pria itu menoleh ke arah jam yang berada di atas nakas. Sudah lewat tengah malam.

"Apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang?" tanya Rian sambil merengkuh pinggang istrinya.

"Anna?" Tebaknya.

"Bukan, Mas. Tadi Ibu menelepon. Mas tebak deh, apa yang ibu katakan?" tanya Viona dengan raut wajah bahagia.

"Apa?" Rian balik bertanya dengan kedua alis yang di tautkan.

"Tebak dong, Mas!" pinta Viona manja.

"Apa sayang? Mas nggak tahu. Anna sudah melahirkan?"

"Bukan itu. Tapi karena Anna sudah mau melahirkan, Ayah mengizinkan kita kesana. Ke mansion," ucap Viona dengan mata yang berbinar.

"Oh, ya?" Kali ini Rian tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya. Namun seperti halnya Rahardian ayahnya, ia juga bertahan dengan egonya.

"Mas, cepat urus keberangkatan kita ya! Bibi pasti merasa lega kalau mendengar Anna akan melahirkan ditemani Mama," ucap Viona dengan senyum tak lepas dari wajahnya.

Rian mengangguk cepat. Ia senang melihat Viona kembali ceria. Setelah beberapa bulan ini wanita yang di cintainya itu berduka atas meninggalnya putra mereka.

Keesokan harinya, Viona seolah tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira itu pada Bi Ayu, ibunda Anna. Sesuai dugaan Viona, Bi Ayu terlihat lega dan pastinya bahagia.

Rian yang melihat hal itu, tersenyum bahagia. Ternyata keinginan Riko yang pernah di tentangnya membawa kebaikan bagi keluarga besarnya.

Ya, Rian pernah menolak untuk menyetujui keinginan Riko yang disampaikan Viona. Ia menganggap keinginan putranya itu sesuatu yang konyol.

Namun sekarang ia bersyukur. Berkat keinginan konyol putranya itu ia dan Viona bisa berkumpul lagi dengan Niko serta kedua orang tuanya.

1
juwita
ini kaya ngirim ke kandang singa
juwita
ko di biarka ke amrik sm niko udh tau niko angkuh sombong. trs di Amerika jg niko mau di jodohkan sm cwek lain. kasihan anna sendirian mn dia blm tau dunia luar lg
juwita
harusnya si niko yg meninggal jhn riko. kasihan anna
juwita
mampir
Endang Sulistia
bagus....
Endang Sulistia
papa Rian Ama mama viona majikan tapi perlakuan kayak keluarga ..
Endang Sulistia
bisa aja si ana
Endang Sulistia
ana korban ,trauma berat cuma Riko yg dampingi..Riko udah g ada, mentalnya kembali drop...
Duwie Sartika
walah baik nya km Riko, syng ga panjang umur kisah mu disini
Sri Ariyanti
ok
Ridwan
Luar biasa
Maizaton Othman
Saya sukaaaaaaaaaaaa
snow Dzero
good
Sofi Saja
sedih banget, begitu besarnya cinta Niko../Cry/
Sofi Saja
sedih banget ngebayangin Riko../Cry/
Dyah Shinta
lumayan
Dyah Shinta
lama2 sebel juga sama Ana
Nanina_
Please nangis bangettt 😭😭😭
Atika Darmawati
ok
Meirina Aulia
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!