Mina bertemu dengan Nic saat masih duduk di bangku SMA. Gadis itu tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepada sosok Pria yang berumur sepuluh tahun lebih tua darinya. Tak bertepuk sebelah tangan, Nic ternyata juga menaruh hati pada sosoknya yang sederhana.
Namun, saat mereka hampir bersama, sebuah kesalah pahaman membuat Mina memilih menjauh dari kehidupan Nic. Hingga, Tiga tahun kemudian dia harus kembali bertemu dengan Nic dan terjebak dalam ikatan pernikahan.
Jungkir balik kehidupan mereka menjadi cerita tersendiri.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Melamar
Sengaja, itu kata yang tepat ditujukan kepada Mina. Gadis itu masih dengan santainya duduk di ruang tunggu Bandara menunggu boarding saat semua orang tengah bersiap dengan pertemuan keluarga di rumahnya.
"Aku harus mengerjakan tugas kelompok dulu."
Begitu alasan Mina saat sang mami bertanya kenapa pulang ke rumah tepat di hari keluarga Nic akan datang untuk melamarnya. Sebenarnya bisa saja Ia tidak pulang dan mengacaukan segalanya. Persetan ataupun pertuyul dengan keluarga laki-laki yang dia juluki bocah tua nakal itu. Mina hanya memikirkan sang papi, orang yang sangat dia cintai.
Mina mendapat info dari Kimi bahwa semua orang yang di tuakan dari keluarga papinya menghujat dan menyalahkan Faraj karena memperbolehkan dirinya kuliah di luar kota sampai terlibat pergaulan bebas.
"Dasar primitif, pikirannya selalu negatif," gerutu Mina.
Menatap biru dan luasnya mega, tiba-tiba Mina ingin pesawat yang ditumpanginya jatuh dan hilang untuk sementara, tapi ia berharap pada ada akhrinya pesawat ditemukan dalam keadaan utuh, semua penumpang beserta kru selamat karena diselamatkan oleh Ultramen Gaya.
Mina tertawa geli merutuki pikirannya. Bagaimana bisa mahasiswa berpikiran konyol seperti itu dan juga sebentar lagi bisa dipastikan ia akan memiliki suami.
"Hah? A—pa? suami? yakin?"
Mina sudah berencana menjadikan Nic tambang emasnya, tak peduli dia akan dijuluki gold digger asal bisa membuat hidup Nic sengsara.
"Aku akan membuat rekor pernikahan tercepat dalam sejarah, lihat saja!" oceh Mina.
***
Keluarga besar Nic sudah menunggu sekitar dua puluh menit di rumah Faraj, Adam pun sudah mulai berbincang menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke sana. Nic terlihat grogi, jelas ini kali pertama Ia berhadapan secara langsung dengan orangtua gadis yang Ia sukai. Bahkan saat bertemu dengan orangtua Hanoi, ia tak merasa setakut ini.
Meninggalkan acara di dalam yang tidak dia mengerti, Evan memilih duduk manis di teras. Bocah itu memandang kupu-kupu yang hinggap dari satu bunga ke bunga lain sampai fokusnya tiba-tiba teralihkan dengan turunnya seorang gadis dari dalam taksi.
Evan terkesiap, Ia masih mengingat sosok gadis yang pernah ditemuinya tiga tahun yang lalu, kakak cantik di bimbingan belajar. Anak bungsu Damri itu berdiri lalu menepuk bagian belakang celananya, ia merapikan kemejanya dan tersenyum manis.
"Halo," Evan menaikkan telapak tangannya.
"Hai, kok ga masuk?" tanya Mina.
"Nah itu dia datang!"
Suara orang yang berseru dari ruang tamu membuat Mina mengalihkan pandangan ke dalam rumah. Ia membenarkan letak tasnya di pundak, Mina tak membawa satupun baju apalagi koper. Gadis itu tidak berencana lama-lama berada di rumah.
Masuk dengan raut wajah aneh, Mina menatap Nic yang diakuinya terlihat tampan mengenakan kemeja batik berwarna navy. Mereka terlibat adegan saling pandang, CEO ABI TV itu mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat calon istrinya yang masih seperti bocah, kaos putih, ripped jeans dan sneakers yang belum dilepas.
Sara langsung berdiri, meminta maaf dan izin undur diri sebentar kepada tamunya. Digandengnya sang anak tiri naik ke lantai atas.
"Bisa-bisanya kamu tidak siap-siap!" Sara melotot, Ia beranggapan setidaknya Mina sudah memakai dress atau baju batik agar terlihat sopan.
"Lha kan kalau dipakai dari Jogja ntar kusut Mi," kelakarnya.
"Dasar kamu ya, Mami tahu kamu pasti sengaja!" Sara membuka lemari baju Mina, melihat apakah ada baju yang bisa sang puteri kenakan segera.
"Pakai ini!" perintah Sara.
Mina menekuk bibirnya, gadis itu langsung mengganti bajunya dengan dress yang dipilihkan sang mami tanpa berniat mendebat lagi.
"Mami sama papi serius tega mau nikahin Mina sama dia?"
"Kenapa ga? Nic bilang dia suka sama kamu kok pas papi nanya tadi," ucap Sara yang berdiri sambil bersidekap memperhatikan sang anak.
Mina mencebikkan bibirnya, gadis itu berpikir bahwa sang mami pasti sedang berbohong kepadanya.
"Mami ga bohong, makanya datang on time. Papi tadi nanya banyak sama Nic dan kedua orang tuanya."
"Tapi mi, Mina masih ga mau nikah. Oke katakanlah mami sama papi nerima lamaran dia tapi bisa ga nikahnya ga sekarang?" tawar Mina.
Sara mendekat ke arah sang anak, membenarkan tatanan rambut Mina agar terlihat lebih rapi, wanita itu tersenyum karena meskipun tanpa riasan, gadis itu masih terlihat begitu cantik.
"Nikahnya kan emang ga sekarang, tapi tanggal satu bulan depan," ucap Sara enteng.
"What Mi? kalau gitu tiga minggu lagi? astaga mami!"
Mina terperanjat sampai tak sadar berteriak dengan suara keras. Secepat kilat Sara membungkam mulut anaknya, sambil melotot.
"Iya, Nic juga sudah setuju kok, kamu nih," gerutu Sara.
Turun dari lantai atas setelah berganti baju, Mina dengan sopan menjabat lalu mencium tangan Adam dan Seri, wajah gadis itu tersenyum hangat, tapi saat berhadapan dengan calon suaminya ekspresi Mina berubah, Ia tetap menjabat tangan Nic meski dengan setengah terpaksa dan tentunya tanpa memberikan ciuman di punggung tangan.
"Dicium donk!" goda Seri.
Demi rasa sopan sekaligus menutupi rasa kesalnya, Mina mengulas senyum sambil menatap sang calon mama mertua. Gadis itu tak sadar bahwa kedepannya wanita yang Ia tatap itu akan menghalalkan segala cara agar dirinya dan Adam cepat mendapatkan cucu.
Setelah acara basa-basi ala protokol lamaran pada umumnya, akhirnya sebuah cincin tersemat ke jari manis Mina begitu juga dengan Nic. Mereka saling pandang seolah mencoba menyelami perasaan masing-masing.
Aku bersumpah akan membuatmu kesal setiap hari!
Sepertinya mengerjaimu setiap pagi akan menyenangkan. Nic menatap gadis yang sukses membuatnya jatuh cinta itu.
Sementara tawa bahagia langsung menggema dari seluruh anggota keluarga yang menjadi saksi acara itu. Mina menekuk bibirnya melihat saudara papinya.
Dia pasti salah satu pembuli papi dan penggunjing diriku, gumamnya dalam hati.
Mina hanya bisa duduk diam setelah perbincangan keluarga itu menyisakan acara pamungkas yaitu makan-makan sambil mengobrol santai. Ia merasa rikuh karena ada tiga pasang mata yang mengarah kepadanya sekarang. Adam, Seri dan juga Evan, sedangkan Nic dengan santainya mencicipi hidangan yang disuguhkan Sara sambil mengobrol santai dengan Kimi sang calon ipar.
Evan kurang lebih sudah tahu bahwa Mina akan menikah dengan sang kakak, bocah itu sesekali melirik ke Mina lalu Nic dengan tatapan kesal, otak cerdasnya berkata tak ada yang bisa ia lakukan.
"Bisa kita bicara?" Mina berbisik di samping Nic dan langsung berlalu.
Melihat calon istrinya bertingkah lucu seperti itu Nic tertawa lalu mengekor Mina menuju halaman samping.
"Apa kamu sudah membaca perjanjian yang aku kirim?" Tanya Mina setelah memastikan pembicaraan mereka aman.
"Hem... "
"Kenapa hanya hem? kamu harus membubuhkan tanda tangan di atas materai," ucap Mina sok bossy sambil menyilangkan tangannya ke depan dada.
"Untuk apa?"
"Supaya legal, kamu jelas tahu aku tidak menyukaimu bahkan aku membencimu." ketus Mina.
"Tapi aku menyukaimu, aku akan membuatmu mengakui perasaanmu dalam waktu kurang dari tiga bulan," ucap Nic santai.
"Apa? Hah... " Mina berkacak pinggang, rasa kesalnya sudah mencapai ubun kepalanya.
"Jangan memanggil aku dengan sebutan kamu, itu tidak sopan!" Nic mendorong kening Mina dengan jari telunjuknya.
"Panggil aku kakak atau kalau kamu mau panggil sayang juga boleh," ucap Nic sambil menunduk menatap wajah Mina.
Anak sulung Damri itu tertawa lalu kembali menggoda gadis di hadapannya, "Pipimu merah," ucap Nic kemudian berlalu pergi meninggalkan Mina dengan jantung yang berdebar.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Otor : Kalian mau datang kondangan ga?
Reader : Bawa amplop ga?
Otor : Ga usah yang penting kalian :
...KOMEN yang banyak...
...VOTE...
...RATE BINTANG LIMA...
...ADD FAVORITE...
...matur nuwun 🥰...
ada dewa anaknya bu dewan,ada aqilla dan adara anaknya bu Erin istrinya raja minyak pak rhoma klo gak salah hihihiiiii