NovelToon NovelToon
Pedang Pembasmi Iblis

Pedang Pembasmi Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: FAUZAL LAZI

Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Han Chuan yang baru sampai di depan pintu masuk desa langsung terkejut melihat keadaan desanya porak poranda. Api membakar rumah-rumah, asap hitam mengepul ke langit, dan para warga berjuang sekuat tenaga untuk menghalangi para monster. Namun kebanyakan usaha itu sia-sia. Satu demi satu warga menjadi santapan makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliaran di sana.

Monster itu muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang berkaki empat dengan kepala seperti kelopak bunga yang terbuka, memperlihatkan deretan gigi tajam berkilau basah. Ada yang melata di tanah dengan tubuh penuh duri, ada pula yang berlari cepat dengan tubuh mirip anjing berbulu hitam dan rahang besar siap merobek apa pun. Suara raungan, jeritan manusia, dan dentuman bangunan runtuh bercampur jadi satu, menciptakan neraka hidup di desa kecil itu.

Han Chuan melangkah masuk dengan raut wajah pucat, matanya bergetar tak percaya. “I-i-ini… desaku…” bisiknya pelan.

Saat kakinya menginjak sesuatu, terdengar suara krek. Ia menunduk, dan seketika tubuhnya gemetar. Yang ia injak adalah tubuh warga desa, tergeletak dengan setengah badannya sudah hilang. Darah masih mengalir, membasahi tanah di sekitarnya. Han Chuan jatuh terduduk, napasnya tercekat, matanya melebar.

Namun suara teriakan membuyarkan keterkejutannya.

“AAAAHHHH! Tolong!”

Han Chuan menoleh cepat. Di depannya, ia melihat seorang wanita dengan susah payah berusaha melawan seekor monster. Wanita itu menangkis dengan sebilah pisau dapur yang kecil, sementara monster berkepala kelopak bunga terus mendesaknya. Rahangnya terbuka lebar, suara klik-klik-klik terdengar setiap kali gigi-gigi tajamnya saling beradu.

“Bibi Mei!” Han Chuan berteriak, matanya membelalak. Tanpa pikir panjang, ia meraih sebatang kayu seukuran lengannya yang tergeletak di tanah.

“HIYAAAHHH!”

Dengan seluruh tenaga, ia berlari sekencang-kencangnya. Kakinya menghantam tanah, debu beterbangan di belakangnya. Ia mengayunkan kayu itu tepat ketika monster hendak menerkam Bibi Mei dan memukul nya dengan penuh tenaga menghantam sisi kepala monster. Makhluk itu terpental ke belakang, tubuhnya terhempas keras ke tanah, menimbulkan suara dentuman berat.

Bibi Mei jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal, matanya dipenuhi ketakutan.

“Kau… tidak apa-apa, Bibi Mei?” ucap Han Chuan dengan napas terengah, masih menggenggam erat kayu di tangannya. Tangannya bergetar, namun sorot matanya menunjukkan keberanian yang tak pernah ia sadari sebelumnya.

Monster itu mengeluarkan raungan mengerikan, bangkit perlahan dengan kepala yang bergetar. Giginya beradu lagi, mengeluarkan suara krek-krek-krek yang menusuk telinga. Han Chuan menggertakkan giginya, mengangkat kayu dengan kedua tangan, siap menghadapi serangan dari monster tersebut.

Monster yang sudah bangun langsung meraung keras, lalu melesat ke arah Han Chuan. Nafas busuk dari mulutnya terasa menyengat saat jaraknya tinggal sejengkal di depan mata Han Chuan.

Namun tiba-tiba, monster itu berhenti. Tubuhnya tersentak ke belakang, tertarik oleh sesuatu.

“Lari, Han Chuan! Cepat lari!” teriak Bibi Mei dengan suara serak. Dengan susah payah ia menarik tubuh monster itu, berusaha menahan agar makhluk itu tidak melahap Han Chuan. Tangannya bergetar, wajahnya pucat, tapi tatapannya penuh tekad.

Akan tetapi, semua itu sia-sia. Monster itu berbalik ganas, rahangnya terbuka lebar, lalu dalam sekali sambar, ia menelan tubuh Bibi Mei utuh.

“BIBIII MEEEIII!!!” teriak Han Chuan.

Mata Han Chuan membelalak, tubuhnya gemetar hebat. Namun seketika sorot matanya berubah tajam. Napasnya tersengal, giginya terkatup rapat, dan tangannya menggenggam kayu dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.

Dengan teriakan penuh amarah, “AAAAAHHHHH!!!” ia berlari kencang ke arah monster itu. Kayu panjang di tangannya diangkat tinggi-tinggi, lalu ia melompat ke atas tubuh monster.

Monster itu pun meraung keras, dan ikut berlari, mengaum menantang Han Chuan.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Han Chuan sudah siap mengayunkan kayunya ke kepala monster tersebut.

Namun tiba-tiba tanah di bawahnya bergetar keras.Retakan tanah terbuka, dan dari dalam muncul seekor monster berbentuk cacing raksasa. Tubuhnya menjulang tinggi, sisiknya hitam mengkilap, mulutnya lebar penuh deretan gigi melingkar berlapis-lapis,dan mengeluarkan suara yang mengerikan.

Cacing raksasa itu muncul tepat di hadapan Han Chuan. Tubuhnya yang melompat terhenti di udara, dan seketika ia kehilangan keseimbangan.

“U-UGH!” Han Chuan terjatuh, tubuhnya melayang menuju rahang menganga monster cacing itu. Mulut besar makhluk itu terbuka lebar, liurnya menetes deras, siap menelan Han Chuan bulat-bulat.

Saat Han Chuan hampir saja masuk ke mulut monster cacing raksasa, tiba-tiba cahaya biru terang melintas dari kejauhan.

Sebuah sabit raksasa berwarna biru berputar cepat di udara, menembus kegelapan. Senjata itu menghantam tubuh cacing raksasa dengan sangat angat cepat

Tubuh cacing itu terbelah dua, darah hitam muncrat ke segala arah, dan makhluk itu mengeluarkan raungan terakhir yang memekakkan telinga sebelum ambruk ke tanah.

Di saat yang sama, sesosok wanita melesat secepat kilat. Rambutnya putih berkilau, melayang indah diterpa angin malam. Dua tanduk mirip rusa tumbuh anggun di kepalanya, memancarkan aura suci bercampur dengan energi spiritual yang luar biasa kuat. Dengan satu gerakan ringan, ia menangkap tubuh Han Chuan di udara, mendekapnya erat agar tidak terhempas jatuh ke tanah.

Han Chuan terdiam, matanya melebar. Nafasnya tercekat, tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena terkejut melihat siapa yang menyelamatkannya.

Wanita itu tersenyum kecil, lembut, lalu tangannya mengelus wajah anaknya.

“Ibu…” ucap Han Chuan lirih. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca. Baginya, ibunya adalah sosok penuh kasih yang selalu menemaninya setiap hari. Ia tidak pernah menyangka, sosok lembut itu ternyata menyimpan rahasia besar.

Ya, ibunya bukan hanya ibu biasa. Dia adalah seorang Dewa Bulan.

Sosok itu menatap Han Chuan dengan hangat, cahaya biru dari matanya berpendar lembut. “Ya, A’Chuan… tunggu Ibu sebentar lagi. Pasti Ibu akan kembali,” ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan.

Namun seketika, auranya berubah. Mata birunya menyala terang, dan energi spiritual yang memancar dari tubuhnya membuat udara bergetar. Ia melesat meninggalkan Han Chuan, tubuhnya bagai cahaya biru yang menembus kegelapan malam.

Sabit biru yang tadi memotong cacing kini berputar sendiri di udara, bergerak liar seperti memiliki jiwa. Senjata itu menebas, menembus, dan memenggal monster-monster yang masih berkeliaran di desa.

Raungan monster terdengar jelas, bercampur dengan suara sabit yang berputar di udara dan menghantam tubuh mereka. Setiap tebasan sabit memekakkan telinga, menghasilkan gelombang cahaya biru yang menyapu puluhan monster sekaligus. Tanah bergetar keras, rumah-rumah yang terbakar runtuh berkeping-keping, dan jeritan makhluk-makhluk itu memenuhi udara malam.

Yue ling melesat cepat, tubuhnya hampir tidak terlihat oleh mata biasa. Dalam sekejap, satu pukulannya menghantam dada seekor monster raksasa.yang membuat tubuh makhluk itu terhempas ke belakang, menghancurkan dinding batu sebelum akhirnya ambruk tak bergerak. Monster lain yang mencoba menerkam dari sisi kanan pun langsung menerima hantaman telapak tangannya dengan hantaman telapak tangan tersebut tubuh monster itu pecah seketika, dan darah hitam menyembur liar ke tanah.

Gerakannya lincah namun brutal. Ia menendang, memukul, lalu berputar dengan energi spiritual yang memancar deras dari tubuhnya. Udara di sekeliling bergetar, menimbulkan suara di setiap kali ia bergerak.

Sesekali, ia mengangkat tangan kanannya ke udara. Sabit bulan biru miliknya bergetar, lalu melesat kembali menghampirinya, dengan gerakan halus, ia melemparkan sabit itu ke langit. Senjata itu berputar cepat, lalu menukik turun bagai kilatan biru, dan puluhan monster langsung terbelah dua, tubuh mereka jatuh berserakan dengan darah hitam yang menyembur panas ke tanah.

Sabit itu terus berputar liar, melesat dari satu titik ke titik lain, membelah tubuh-tubuh makhluk buas yang berani mendekat. Sementara itu, Yue ling sendiri tetap bertarung di daratan, menebar tinju, tendangan, dan pukulan energi spiritual yang membuat setiap monster yang menghadapinya hancur dalam satu serangan.

Akhirnya, semua monster di desa telah dihabisi, kecuali satu makhluk gemuk dengan tubuh pendek yang masih tersisa. Monster itu tampak ketakutan, namun tiba-tiba membuka mulut lebarnya dan menyemburkan api ke arah Ibu Han Chuan yang menyambar ganas, membakar udara dan reruntuhan di sekitarnya.

Melihat serangan itu,Yue ling segera mengangkat tangannya. Sabit bulan biru miliknya berputar kencang di depan tubuhnya, membentuk pusaran cahaya biru yang menahan semburan api.yang menghasilkan percikan dan gelombang panas membuat tanah hingga retak.

Setelah beberapa saat, semburan api itu berhenti. Monster gemuk itu terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam pekat dari mulutnya.

Dalam sekejap, Yue ling melesat ke depan, Sabit birunya kembali ke genggamannya. Ia menebas cepat, menangkis, dan menyerang dengan gerakan yang sengit. Tubrukan senjata dengan daging monster menimbulkan suara dan bentrokan energi.

Han Chuan hanya bisa terpaku. Matanya melebar, tubuhnya gemetar, dan pikirannya kacau. Ia tidak pernah membayangkan ibunya yang lembut bisa bertarung sebrutal itu.

Monster itu terpojok, tubuhnya penuh luka. Dengan kecepatan luar biasa, Yue ling kembali mengayunkan sabitnya sekali lagi.dan tubuh makhluk itu terbelah dari atas ke bawah, darah hitamnya menyembur deras, membanjiri tanah.

Selesai bertarung, ia berbalik. Wajahnya lembut, senyuman tipis terukir. Ia berjalan perlahan mendekati Han Chuan, lalu berjongkok di depannya. Tangan halusnya terulur, hampir menyentuh wajah anaknya.

Namun tiba-tiba, Sebuah tentakel raksasa menerobos dari belakang, menembus tubuhnya hingga darah segar muncrat ke udara. Han Chuan terkejut, matanya membelalak.

Tubuh ibunya ditarik kasar ke belakang, lalu ditelan bulat-bulat oleh sebuah mulut mengerikan yang terbuka di bagian perut sosok iblis besar. Itu adalah iblis yang sebelumnya bertarung dengan ibunya di atas bukit.

“tidak!!!” teriak Han Chuan, suaranya pecah oleh rasa tidak percaya dan amarah yang meluap.

Iblis itu tertawa rendah, suaranya dingin dan penuh kesenangan. “Hmmm… tubuh dewa memang sangat lezat,” ucapnya sambil menjilat bibir, lalu membalikkan badan dan mulai berjalan pergi.

Han Chuan yang diliputi kemarahan segera meraih sebilah golok yang tergeletak di tanah. Ia menggenggamnya erat, urat-urat tangannya menegang. tubuhnya mendidih, matanya penuh amarah. Dengan teriakan penuh keberanian, ia berlari ke arah iblis itu.

“AAARRRGGHHH!!!”

Namun semua usahanya sia-sia. Tiba tiba Sebuah tentakel menghantam tubuhnya dengan brutal. Han Chuan terhempas ke udara, lalu terjun keras ke arah batang kayu runcing. Yang membuat Kayu itu menembus tubuhnya, darah muncrat ke segala arah. Napasnya terengah, matanya melemah.

“Dasar bocah berisik,” ucap iblis itu dengan dingin sebelum melangkah pergi, meninggalkan Han Chuan yang tergantung tak berdaya.

Han Chuan masih tertancap di kayu runcing itu, tubuhnya berlumuran darah dan napasnya semakin melemah. Pandangannya mulai kabur, dunia di sekitarnya terasa jauh dan samar.

Tiba-tiba, di dalam alam bawah sadarnya, sebuah cahaya biru muncul. Dari dalam tubuhnya, perlahan terbang keluar seekor kupu-kupu berwarna biru terang. Sayapnya berkilau indah, seolah terbuat dari energi murni.

Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya lembut, menyebarkan percikan cahaya biru ke udara. Tak hanya satu, semakin banyak kupu-kupu bermunculan dari tubuh Han Chuan. Puluhan, ratusan, semuanya bersinar cerah, sayap mereka memancarkan kilauan biru yang menari-nari di udara malam.

1
Nanik S
Long Shen..untung sdh datang
Nanik S
Ilusi Iblis
Nanik S
Gaaaas Poooool
Nanik S
Han Chuan.... memang lumayan konyol... 🤣🤣🤣
Nanik S
Jatah membunuh Binatang Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis lagi... Bantai saja semua Han Chuan
Nanik S
Siapa sebenarnya Long Shen
Nanik S
Bsi Ling ditelan Harimau Iblis
Nanik S
Mantap Poooool 💪💪💪
Nanik S
Joooooooooss 👍👍👍
Nanik S
Para Orang Tua juga ikut tegang
Nanik S
God Job
Nanik S
Lha kenapa Han Chuan tidak ada reaksi di balik tentang Inti Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis
Nanik S
Mengapa mesti ada Kontrak hidup mati
Nanik S
Bsi Ling... Dendam karena kalah dan malu
Nanik S
Apa mereka tdk menyadari adanya kelompok sekte Iblis
Nanik S
Han Chuan... 💪💪💪
FAUZAL aut
kristal?
Nanik S
Han Chuan... jenius krn Anaknya Dewi Bulan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!