Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. terimakasih.
"Alyssa..." Panggil Brayen pelan menghentikan pembicaraannya dengan sang ibu.
"Ada apa kak?"
"Aku harus pergi kekantor, ada masalah yang harus aku urus. Kamu tidak apa apa aku tinggal disini kan. Setelah selesai aku akan datang lagi kemari." Ucap Brayen sebelum pergi meninggalkan Alyssa.
"Pergilah kak, selesaikan urusanmu. Aku baik baik saja disini bersama ibu."
Brayen mengangguk, ia segera pergi dari sana dengan menjalankan kursi rodanya.
Alyssa menatap punggung sang suami nanar ia baru ingat jika ia belum sempat berterimakasih kepada Brayen.
Laki laki itu sudah meyakinkan ibunya untuk tidak membencinya, mungkin ia harus memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasihnya kepada laki laki itu.
Meskipun ia tidak yakin Brayen mau menerimanya.
"Alyssa..." Panggil sang ibu tidak Alyssa hiraukan. Ia malah asik melamun, manda menggelengkan kepalanya perlahan melihat kelakukan putrinya itu.
"Alyssa..." Panggil Manda sedikit keras hingga menyadarkan Alyssa dari lamunannya.
"Ada apa Bu?" Tanya Alyssa penasaran.
"Ibu memanggilmu sedari tadi tapi kamu sama sekali tidak mendengar panggilan ibu. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" Tanya Manda penasaran.
Alyssa tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Namun gelengan dari anaknya belum cukup ia masih penasaran, ia tidak akan berhenti sebelum mendengar penjelasan dari mulut putrinya.
"Apa kamu sedang memikirkan suamimu." Tanya Manda tersenyum penuh arti.
"Tidak Bu..." Singkat Alyssa namun Manda tidak percaya.
"Ibu tau kamu berbohong, tidak usah malu. Wajar kalau kamu memikirkannya, karena dia suamimu."
Alyssa hanya tersenyum, ia tidak tau harus menjelaskan seperti apa kepada ibunya karena sejujurnya ia memang tengah memikirkan suaminya.
"Pergilah, temui suamimu mungkin dia belum jauh."
"Tapi bagaimana dengan ibu?"
"Ibu sudah tidak apa apa Alyssa, ada suster dan anak buah Brayen disini jadi kamu tidak perlu khawatir."
Alyssa mengigit bibir bawahnya, ia terlihat ragu beberapa kali ia melirik sang ibu.
Manda yang dilirik seperti itu oleh sang anak pun terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya perlahan sebagai dukungan agar sang anak tidak merasa ragu lagi.
Mendapat lampu hijau dari ibunya, Alyssa bergegas menyusul Brayen. Lorong demi lorong Alyssa lalui dengan berlari, nafasnya memburu namun ia tidak ingin berhenti sebelum berhasil menjangkau suaminya.
"Tunggu kak..." Teriak Alyssa kala melihat punggung Brayen bersama pengawalnya dari kejauhan.
"Nona Alyssa memanggil anda tuan." Ucap pelayan tersebut yang mengalihkan perhatian Brayen.
Ia segera memutar kursi rodanya menghadap Alyssa yang kini sudah berlari menghampirinya.
"Ada apa Alyssa, apa terjadi sesuatu dengan ibumu?" Tanya Brayen merasa khawatir.
"Em... Itu." Ucap Alyssa terlihat ragu.
Ia melirik pengawal Brayen yang masih setia berada disisi laki laki itu.
Menyadari kekhawatiran Alyssa Brayen pun memberi kode kepada pengawalnya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Dia sudah pergi... Sekarang katakanlah ada apa, kenapa kamu menyusul ku kesini?" Tanya Brayen penasaran.
"Terimakasih karena kakak sudah meyakinkan ibu. Bahkan kakak rela datang kesini pagi pagi hanya untuk menjelaskan semuanya." Ucap Alyssa dengan senyum tulus yang kini sudah menghiasi bibirnya.
Hati Brayen menghangat, ucapan terimakasih dan senyum yang Alyssa berikan entah mengapa membuat ia merasa senang.
Kini ia bahkan sudah membalas senyuman Alyssa dengan tidak kalah manisnya.
"Aku senang jika apa yang aku lakukan bisa sedikit mengurangi kekhawatiranmu."
Alyssa mengangguk canggung, untuk sesaat mereka terdiam. Bingung harus melanjutkan pembicaraan kearah mana.
"Alyssa..."
"Kakak..."
Ucap mereka bersamaan seolah olah tanpa sengaja.
"Kamu dulu..." Ucap Brayen mempersilakan.
"Kakak saja dulu..."
Brayen tersenyum tipis, meskipun tipis tapi itu berhasil menambah ketampanannya hingga Alyssa terpana untuk sesaat.
"Tidak kamu duluan....." Ucap Brayen tidak mau mengalah, Alyssa menghela nafasnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengatakannya kepada Brayen.
"Sebagai ucapan terimakasihku lain hari aku akan memasakkan sesuatu untuk kakak."
"Benarkah, aku jadi tidak sabar menanti hari itu tiba."
Lega itulah yang Alyssa rasakan ketika mendengar apa yang Brayen katakan. Ia pikir Brayen akan marah namun nyatanya tidak laki laki itu terlihat senang dengan niat baiknya.
"Tentu saja, kakak harus menghabiskannya nanti."
"Pasti..." Jawab Brayen tanpa ragu.
"Jadi apa yang ingin kakak katakan?" Tanya Alyssa penasaran.
Brayen terdiam, matanya masih menatap wajah Alyssa.
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa mungkin aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Kamu tau, masih ada wanita lain dalam hatiku."
Deg...
Wajah Alyssa yang semula cerah berubah murung, namun ia berusaha tersenyum.
Ia tidak boleh sakit hati, karena dari awal ia sudah tau jika Brayen masih mencintai istri pertamanya.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, sebisa mungkin aku akan membuatmu bahagia, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti kamu dan aku pastikan kamu tidak akan mengeluarkan air mata lagi..."
Janji Brayen begitu indah ditelinga... Siapapun akan terhibur mendengarnya namun tidak dengan Alyssa. Alih alih senang hatinya justru merasa gelisah.
"Lalu bagaimana jika istrimu kembali kak, akankah kamu mengingat apa yang kamu katakan hari ini.... Atau justru kamu akan melupakannya dan menganggap tidak pernah mengatakannya." batin Alyssa dalam hatinya.
"Alyssa... Alyssa..." Panggil Brayen karena Alyssa hanya diam.
"Iya kak, maaf aku sedikit tidak fokus."
"Tidak apa apa, mungkin kamu kelelahan. Tapi kamu mendengar apa yang aku katakan kan?" Alyssa mengangguk.
"Baik kalau begitu aku pergi dulu, kamu jangan lupa beristirahat." Ucap Brayen kemudian berlalu menghampiri pengawalnya sebelum akhirnya menghilang di pelupuk mata Alyssa.
"Hah..." Alyssa menghela nafasnya perlahan.
Langkahnya panjang meninggalkan lorong rumah sakit menuju kamar dimana ibunya tengah berada saat ini.
"Sedang apa kamu disini." Ucap seseorang menghentikan langkahnya.
Ia membalikan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang menegurnya.
Dan Alyssa sedikit terkejut setelah melihatnya ia tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan mertuanya disana.
"Ah aku lupa, kalau ibumu sedang sakit. Bagaimana keadaanya apa dia sedang sekarat... Kapan dia akan meninggal." Darah Alyssa mendidih mendengar perkataan Lina.
Ibu mertua yang dulu ia hormati itu kini terang terangan mendoakan hal buruk terjadi pada ibunya, tangan Alyssa terkepal erat.
Matanya menyorot tajam kearah Rani dan Rosa yang kini menatapnya dengan tatapan penuh ejek kan.
"Ibuku baik baik saja, kalian tidak perlu mengkhawatirkannya." Singkat Alyssa berusaha menahan emosinya.
"Benarkah....aku pikir dia sudah mati."
"Jaga mulut ibu...." Peringat Alyssa kepada wanita paruh baya dihadapannya itu.
"Kenapa... Apa kamu tersinggung dengan perkataan ku. Jika ia apa yang ingin kamu lakukan. Apa kamu akan memukul ku. Pukul saja aku tidak takut." Tantang Rani karena ia tau Alyssa tidak akan melakukan itu kepadanya, wanita itu lemah.
Selamanya ia tidak akan berani kepada dirinya bahkan jika ia melempar kotoran ke wajahnya ia yakin Alyssa tidak akan membalas namun...
Plak...
Sebuah tamparan yang cukup keras akhirnya mengenai pipinya.
Mata rani melebar sementara tangannya memegangi pipinya yang terasa pedih akibat tamparan tersebut.