NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

perwakilan perusahaan

Keesokan harinya, suasana kantor Asyura Group kembali dipenuhi ritme kerja yang padat. Sejak pagi, karyawan sudah lalu-lalang membawa map dan tablet, wajah-wajah serius tampak memenuhi koridor lantai atas. Aroma kopi dan suara ketikan keyboard menjadi latar yang menandai dimulainya hari baru, hari yang tanpa disadari akan kembali mempertemukan Rayya dan Devan dalam satu kantor yang sama.

Pagi itu, rapat besar digelar di ruang konferensi utama. Agenda utamanya adalah proyek baru hasil kerja sama Asyura Group dengan perusahaan milik Tommy. Proyek prestisius itu baru saja dimenangkan melalui tender ketat, dan pemilik proyek meminta dua orang perwakilan utama untuk menghadiri pertemuan lanjutan di Singapura.

Rayya duduk di sisi kanan meja panjang, membuka berkas presentasi dengan raut wajah profesional. Sekilas ia melirik ke arah Devan yang duduk di seberang. Pria itu tampak tenang seperti biasa, setelan jasnya rapi, ekspresinya sulit ditebak. Rayya segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin pikirannya kembali berkelana ke hal-hal di luar pekerjaan.

Ketika nama-nama calon perwakilan mulai dibahas, Rayya refleks menggeleng pelan. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin ikut. Bukan karena tugasnya, melainkan karena satu nama lain yang hampir pasti akan disandingkan dengannya.

“Saya rasa, untuk pertemuan di Singapura nanti, perwakilan dari Asyura sebaiknya dipilih berdasarkan kontribusi terbesar saat tender,” ujar salah satu direktur.

Beberapa kepala mengangguk setuju.

Nama Rayya mulai disebut-sebut. Ia langsung mengangkat tangan.

“Maaf, saya keberatan,” katanya tegas namun tetap sopan.

“Saya pikir masih banyak rekan lain yang bisa menggantikan saya.”

Beberapa orang saling pandang. Namun sebelum ada tanggapan lebih lanjut, nama Devan juga muncul dalam diskusi. Suara terbanyak dengan cepat mengarah pada dua nama itu, Rayya dan Devan, karena keduanya dianggap paling berperan dalam kemenangan tender.

Rayya menunduk pelan. Dadanya terasa sedikit sesak. Ia bingung, bukan soal kemampuan, tapi soal perasaannya sendiri. Ia takut, jika harus sering bertemu dan bekerja intens dengan Devan, hatinya tidak akan bisa diajak kompromi.

Sementara itu, Devan justru terlihat santai. Ia mengangkat bahu ringan.

“Kalau  bu Rayya keberatan,” ujarnya tenang,

“saya tidak masalah jika ada yang menggantikan saya sebagai perwakilan.”

Ucapan itu membuat beberapa peserta rapat terkejut. Rayya pun refleks menoleh.

“bukan itu maksud saya pak devan,” Rayya langsung menimpali.

“Saya hanya menyampaikan pertimbangan saya. Lagipula, keputusan bukan di tangan kita berdua saja.”

Nada suara Rayya terdengar profesional, tapi cukup tajam. Devan menatapnya, alisnya sedikit terangkat.

“Justru karena keputusan bukan di tangan kita, sebaiknya kita siap menerima apa pun hasilnya,” balas Devan, tak kalah tenang.

Suasana rapat mulai memanas. Beberapa argumen saling berbalasan. Rayya memberikan interupsi atas poin yang disampaikan Devan terkait teknis presentasi proyek, sementara Devan mengoreksi strategi yang diajukan Rayya. Adu argumen itu membuat ruangan senyap, bukan karena tidak setuju, melainkan karena keduanya sama-sama kuat dan masuk akal.

Akhirnya, pimpinan rapat mengetuk meja pelan.

“Cukup,” katanya.

“Justru dari diskusi ini terlihat jelas kenapa proyek ini bisa kita menangkan. Karena kerja keras dan pemikiran kalian berdua.”

Keputusan pun diambil. Tidak ada perubahan. Rayya dan Devan ditetapkan sebagai dua perwakilan resmi untuk pertemuan di Singapura.

Rayya menarik napas panjang. Ia mengangguk, meski di dalam hatinya masih ada kegamangan.

“Baik, saya terima keputusan rapat,” ucapnya.

Devan juga mengangguk singkat.

“Saya siap.”

Rapat ditutup, satu per satu peserta mulai meninggalkan ruangan. Rayya merapikan berkasnya dengan gerakan sedikit lebih cepat dari biasanya, berusaha menenangkan pikirannya. Sementara Devan menatapnya sekilas, lalu bangkit dari kursinya.

Keduanya menerima keputusan itu dengan sikap profesional. Namun, jauh di dalam hati masing-masing, mereka tahu, perjalanan ke Singapura nanti bukan hanya soal pekerjaan.

Sesampainya di ruangannya, Rayya menutup pintu agak lebih keras dari biasanya. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menghela napas panjang. Dadanya terasa penuh, ada kesal yang belum juga luruh sejak rapat tadi. Bayangan Devan yang menanggapinya dengan nada tenang namun menusuk kembali terlintas di kepalanya. Entah mengapa, sikap pria itu membuatnya merasa seolah-olah dipojokkan di hadapan banyak orang, meski secara profesional ia tahu Devan tidak sepenuhnya salah.

Rayya menjatuhkan diri ke kursinya, memijat pelipisnya pelan.

“Kenapa sih harus dia…” gumamnya lirih.

Pikirannya lalu beralih pada satu hal lain, perusahaan Tommy. Ia yakin, dalam pertemuan sebesar itu, perusahaan Tommy pasti juga mengirimkan perwakilan. Hampir tanpa ragu, Rayya merasa orang itu pasti Tommy sendiri. Membayangkan Tommy berada di sana, mendampinginya di Singapura, membuat sudut bibir Rayya terangkat. Setidaknya, jika Tommy ada, ia tidak perlu merasa canggung atau kikuk. Ada rasa aman yang selalu muncul setiap kali ia bersama pria itu.

Dengan perasaan sedikit lebih ringan, Rayya meraih ponselnya dan langsung menelepon Tommy.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

“Rayya?” suara Tommy terdengar ceria.

“Ada apa?”

Rayya langsung to the point, menanyakan soal perwakilan ke Singapura. Ia menunggu jawaban dengan perasaan penuh harap, bahkan tanpa sadar jarinya saling bertaut di atas meja.

Namun jawaban Tommy justru membuat harapan itu runtuh perlahan.

“Singapura?” Tommy terdengar sedikit ragu.

“bukan aku, Ray. Aku sudah dijadwalkan berangkat ke Swiss minggu depan. Ada pembukaan kerja sama dengan salah satu perusahaan elit di sana. Jadwalnya nggak bisa diubah.”

Rayya terdiam beberapa detik. Senyumnya memudar, digantikan raut kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan meski suaranya tetap berusaha terdengar normal.

“Oh… gitu ya,” jawabnya pelan.

“Ya sudah, nggak apa-apa.”

Tommy masih berbicara, berusaha menjelaskan dan meminta maaf, namun Rayya hanya mendengarkan setengah hati. Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan ponselnya perlahan di atas meja. Rasa kecewa itu nyata, meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukan kesalahan siapa pun.

Namun di balik kekecewaan itu, muncul perasaan lain yang jauh lebih mengganggu, rasa bersalah. Rayya bersandar di kursinya, menatap langit-langit ruangan. Adegan rapat tadi kembali terputar di kepalanya. Nada suaranya saat menginterupsi Devan. Tatapan Devan yang sempat berubah, meski hanya sesaat. Ia baru menyadari, mungkin ia memang terlalu keras. Terlalu defensif. Terlalu terbawa emosi yang seharusnya tidak masuk ke ranah profesional.

“Apa aku keterlaluan?” bisiknya pada diri sendiri.

Sementara itu, di ruangannya sendiri, Devan juga tidak berada dalam kondisi yang jauh berbeda. Layar laptopnya sudah menyala cukup lama, namun dokumen di hadapannya tak kunjung ia baca. Pikirannya melayang entah ke mana. Berkali-kali ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menghela napas.

Rapat tadi terus terngiang di kepalanya. Ia mengingat nada Rayya, sorot matanya yang tajam, dan caranya membantah argumennya di depan banyak orang. Devan mengusap wajahnya kasar. Ia tahu Rayya hanya bersikap profesional, tapi ia juga sadar dirinya mungkin terlalu menekan. Terlalu dingin. Terlalu keras.

“Aku seharusnya bisa lebih halus,” gumamnya lirih.

Ia bersandar di kursinya, menatap jendela besar yang menghadap ke luar gedung. Untuk pertama kalinya setelah perjalanan itu, Devan merasa ada sesuatu yang mengganggu fokusnya, bukan soal proyek, bukan soal target, melainkan satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Rayya.

Devan menyesal. Bukan karena argumen mereka, melainkan karena cara ia menyampaikannya. Ia takut, tanpa disadari, ia telah melukai Rayya, bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai seseorang yang entah sejak kapan mulai ia perhatikan lebih dari seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!