NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Tentang Mimpi

Anin.... Ia sangat kewalahan saat Zura terus tantrum seperti ini. Sejak sampai rumah, ia sudah berusaha untuk menidurkan anaknya itu dengan melakukan berbagai cara–menawarkan untuk di-asihi tapi ditolaknya, ia bahkan sudah berusaha untuk menaruhnya diayun tapi Zura malah kian mengamuk dan ingin melompat.

Hingga akhirnya Anin yang merasa buntu akhirnya memilih diam sambil menyaksikan bagaimana bayi yang bentuk wajahnya lebih mirip ke Harsa itu bergulat sendiri.

“Ayolah, nak. Zura sebenarnya kenapa?”

“Jangan gini dong sayangnya Mama.” Dengan berdiri di sisi tempat tidur Anin terus memerhatikan Zura. Jujur ia takut jika sudah seperti ini. Rasanya ia jadi trauma dan kapok kalau membawa Zura keluar dan melewatkan jam tidurnya.

Air mata Anin perlahan menetes kala pikirannya makin kacau saat segala kemungkinan yang terjadi pada Zura bercokol di kepala.

Apa dia sakit perut?

Apa ada bagian tubuhnya sakit?

Apa sebelumnya ia salah makan?

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terlintas di kepala menebak apa penyebabnya.

Zura terus menyebut namanya, tapi saat ia ingin meraih–bocah itu kembali menangis sambil menggesek-gesekkan kaki di kasur. Lalu setelahnya akan memanggil Papanya.

“Papa kerja, nak. Papa gak bisa pulang.”

“Tolong jangan gini ya, nak.” Anin masih membujuk. Ia duduk di tepi kasur tanpa berani meraih Zura. Lalu saat terlintas dipikirannya untuk mengirimkan apa yang terjadi pada anak mereka, Anin lekas mengambil ponsel dan merekam Zura lalu mengirimkan pada Harsa. Sebenarnya ia tak ingin mengganggu, takut jika fokus suaminya akan terpecah, tapi tak ada pilihan lain sebab ia berharap Harsa bisa menghubungi disela jam istirahat meski hanya sebentar dan berharap Zura bisa tenang.

Dan sesuai dugaannya, Zura memang sedang ingin ditemani Papanya. Kini Zura akhirnya terlelap juga, ia pun bisa bernapas lega.

“Capek banget tau, mas,” keluhnya pada sosok di balik layar yang masih setia menemani di sela kesibukan. Anin merasa bersalah karena telah menyita waktu istirahat suaminya. Meksi tak tiap hari, tapi ada kalanya ia memang butuh Harsa di saat seperti ini.

Dan sosok Harsa yang tengah duduk sambil mengunyah gula-gula itu hanya berdehem lalu tampak menguap setelahnya.

“Kamu pasti capek juga, ya? Hehe.” Anin malah terkekeh saat menyadari jika tak hanya dirinya yang lelah, tapi laki-laki berkemeja biru dongker yang lengannya masih tergulung hingga siku itu pasti juga lebih lelah. Mereka sama-sama lelah.

Harsa mengangguk sembari mencebik yang membuatnya tampak gemas di mata Anin. “Capek pikiran, capek ini,” ujarnya sembari menunjuk punggung yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.

“Sebenarnya pengen rebahan aja ....” Harsa menjeda kalimatnya sambil terkekeh lalu kembali berkata, “tapi sadar ada manusia lain yang harus dinafkahi.”

“Siapa tuh manusianya? Soalnya aku sama Zura sih Bidadari.”

Harsa lantas memutar mata, mencibir istrinya yang tingkat percaya dirinya terlalu tinggi. “Iya deh si paling bidadari.”

“Tapi emang bener, kan?”

“Iya, suka-suka Yang Mulia ibu Anin aja gimana.”

Anin lantas terkekeh melihat ekspresi terpaksa suaminya, masih sambil mencibir. Ia selalu merasa istimewa setiap kali Harsa mencoba menunjukkan sisi dirinya yang lain padanya, sementara ia tahu betul bagaimana kepribadian suaminya yang dikemas jika bersama orang lain. Anin senang karena bersamanya Harsa mau membuka diri dan mengusahakan menjadi asyik sebagaimana janjinya dahulu saat berusaha meyakinkan untuk menerimanya sebagai suami.

“Punggung aku sakit banget, ah,” keluh laki-laki itu sembari menepuk-nepuk punggungnya. Membuat Anin prihatin.

“Hmmm, nanti aku pijitin deh kalau udah pulang.”

Ucapan Anin membuat Harsa tersenyum.

“Hari ini agak berat tau, Nin. Semua gak berjalan sesuai ekspektasi.” Harsa merebahkan tubuh di sofa, sekali lagi ia tampak menguap.

“Gak berjalan gimana tuh?” Anin bertanya seraya pelan-pelan membalik tubuh, ia berusaha meminimalisir gerak agar Zura yang susah payah ia tidurkan tidak terbangun secepat kilat lalu kembali fokus menatap suaminya.

“Gak tau, intinya aku kayak ngerasa ada bukti yang direkayasa padahal aku yakin itu gak sesuai ... Entahlah, mungkin itu hanya praduga ku aja.”

“Nanti deh kita cerita di rumah.”

Anin manggut-manggut mendengar perkataan suaminya yang tiba-tiba bicara setengah-setengah, ia paham mungkin takut ada yang mendengar kecurigaannya. Ia tahu jelas maksudnya, bila sudah seperti ini kemungkinan ada hal lain yang ingin ditutupi atau mungkin agar si terdakwa mendapat vonis ringan.

“Tapi kamu udah makan, kan mas?” tanya Anin memastikan saat hampir dua menit mereka saling diam dan hanya saling tatap tanpa suara. Namun, jawaban berupa gelengan yang Harsa beri membuatnya jengkel.

Anin berdecak kesal, “kebiasaan banget sih!” serunya kesal.

“Nanti kalau maag kamu kambuh lagi baru deh kapok.

“Ya, jangan dido'ain juga kali bu Anin yang terhormat.”

Anin memutar mata malas, jengah pada laki-laki yang memang kadang-kadang keras kepala dan susah dikasih tahu ini.

“Ya, lagian Pak Harsa yang terhormat juga gak mau dikasih tau.”

“Saya nggak ngedo'ain bapak, tapi kelakuan bapak sendiri yang bakal bikin akhirnya sampai ke sana.” Anin nyerocos ketus yang membuat Harsa hanya bisa garuk kepala sambil manggut-manggut. Kalau Anin sudah mode ngomel on, maka ia tal punya celah dan tak boleh membantah.

“lima menit lagi, Mam!”

“Lima menit lagi waktu istirahat habis, jadi mari kita bekerja sama untuk menciptakan kedamaian yang ...”

“Hallah, bacot banget anda Pak Harsa Adiwijaya.”

Sial! Rasanya Harsa ingin tutup telinga kalau istrinya sudah begini. Bahkan usahanya untuk atur damai malah disambut ketusan yang menyayat sanubari. Sungguh Anin galaknya bagai titisan Sumala. Harsa hanya bisa melengos saat Anin kembali mencerca.

“Pokoknya nanti kalau kambuh gak usah merengek di depan aku. Liat aja!”

Ancaman Anin bagai ancaman nuklir yang teramat menakutkan. Harsa jadi mati kutu, diam seribu bahasa tanpa berani menginterupsi. Dan ternyata memang benar, suami idaman adalah suami yang takut istri. Lagi, Harsa hanya bisa manggut-manggut mendengar suara batinnya.

“Iya, iya, nanti kalau sakit aku langsung ke rumah sakit aja biar merengeknya sama suster aja. Kan istri gak mau rawat.”

Emosi Anin makin memuncak mendengar perkataan tersebut. Baru ia kembali ingin mengomel tapi Harsa malah memutus panggilan tanpa kata. Membuat Anin makin kesal dan berujung misuh-misuh sendiri.

“Bener-bener ya tu orang!” Anin mengomel heran, ia kesal sekali dengan laki-laki satu itu yang katanya menganut sistem hidup sehat, nyatanya makan saja tak dijaga dan kadang telat waktu. Hallah, pantek! Anin ingin sekali mengumpat. Namun, suara notifikasi membuat ia lekas mengecek ponsel.

Suami Siapa Ini? : Jangan marah bu bos, aku gak sengaja matiin kok. Tadi kepencet

Tapi pas aku mau telepon ulang, eh ternyata waktu istirahat udah habis.

Miane ajumma. (emot finger love)

Sepanjang membaca pesan dari suaminya yang nama kontaknya memang ia namai aneh itu Anin tak henti-hentinya mencebik. Bagaimana tidak, ia tahu itu jelas alasan palsu, aslinya Harsa memang sengaja memutus panggilan karena tak suka mendengar omelannya.

Belum lagi panggilan terakhir Harsa yang sok-sokan berbahasa Korea tapi sangat menyebalkan. Ya, Anin tahu ini akibat ia selalu sering berusaha mempengaruhi Harsa untuk menyukai segala hal berbau Korea. Seperti kadang saat luang mengajaknya menonton drakor bersama, mengajak Harsa nonton reels IG-nya yang isinya rata-rata tentang Korea. Ah, tidak, bukan mengajak. Lebih tepatnya ia memaksa Harsa untuk menurut, jadi inilah akibatnya ia malah dipanggil asal tanpa tahu arti sebenarnya. Ahjumma? Yang benar saja, ia jelas bukan tante-tante. Tapi terserah Harsa saja, Anin malas karena Anin sedang kesal padanya!

Anin : Hallah, akal-akalan barat!

Balasnya dengan ekspresi ketus. Jika Harsa di rumah mungkin sudah habis ia aniaya. Hmmm.

Suami Siapa Ini? : Akal-akalan aku yang di barat.

(Foto)

Sungguh Anin ingin sekali terkekeh melihat jawaban ngasal suaminya. Apalagi saat melihat pap yang dikirim, dimana laki-laki itu terlihat sedang berjalan dengan poses love setengah di pipi, pakaiannya bahkan sudah memakai jubah kebesaran seorang Jaksa. Sial! Anin jadi salah tingkah, ia terkekeh menyadari betapa menggemaskannya seorang Harsa. Pria matang itu selalu berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali dengan cara yang paling sederhana.

Anin : “Tua - tua keladi, tua-tua makin jadi!”

Suami Siapa Ini? : Eh, gak baik ya ngatain orang gitu. Aku belum setua itu, aku cuma terlalu mateng buat adek yang masih bocil.

Dahlah, Cil. Aku udah mau masuk ruang sidang ini. Mending kamu tidur juga gih, mumpung anak kamu lagi tidur.

Sekali lagi pesan sederhana itu mampu membuat Anin berdebar. Perhatikan kecil yang membuatnya berbunga-bunga.

Anin : Iya deh mas-mas mateng yang kematengan.

Semangat sayang.(Emot tangan mengepal)

Setelahnya Harsa tak lagi membalas pesan itu. Ia jelas sudah berada di ruang sidang. Sementara Anin, ia dengan perasaan membuncah dan berbunga-bunga hanya karena chat singkat dengan suaminya masih menjadi rasa yang tak ingin Anin alihkan. Ini terlalu manis dan mendebarkan.

Di saat merasa paling dicintai seperti ini. Rasanya ia jadi penguasa Bumi. Dunia seakan berpihak padanya, keberuntungan ini jelas adalah anugerah langka kala cinta yang diharapkan mendekap sesui harap. Maka tak ada hal yang perlu dikuatirkan.

Dan di saat seperti ini pula, hati yang pernah patah bisa dipastikan jelas benar-benar telah pulih. Ikhlas yang dahulu sulit ditemukan kini dengan sendirinya mencuat kepermukaan. Sebab, terkadang hati yang tenang dan ikhlas tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melewati beberapa fase hingga sampai pada titik benar-benar ikhlas saat luka yang dahulu membalut berganti dengan hal yang sepadan dan lebih dari cukup.

Bersamaan dengan itu tangan Anin tergerak mencari pusat blokir di ruang chat. Cintanya dengan Harsa jelas tak ada tandingan. Ia jadi percaya diri dan melepaskan satu tawanan yang sebelumnya ia singkirkan karena tak ingin dihantui bayang-bayang. Anin yakin, toh dia yang di sana juga jelas sudah lupa, kalaupun dia hadir kembali Anin pun akan biasa saja, ia tak lagi terjebak masa lalu karena yang kini mendampingi sudah lebih dari apa pun.

“Sekarang kamu bebas. Aku gak ada dendam, aku udah gak benci lagi.” Anin bergumam sembari membebaskan nomor dan akun sosial media orang yang sempat ia blokir selama dua tahu lebih itu.

“Justru sekarang aku bertanya-tanya kenapa dulu bisa sebegitunya sih?” Ia meringis mengingat bagaimana ia menderita karena patah hati. “Rasanya sia-sia banget nangisin dia, nguras energi banget mikirin orang yang bahkan gak ada effort buat perjuangin hubungan.”

Ya, orang yang Anin maksud adalah sosok yang sama–sosok dari masa lalu yang hadir dalam mimpinya malam tadi. Anin terkekeh mengutuki kebodohannya yang pernah begitu berlebihan karena cinta sendiri. Sialan! Jika bertemu Harsa lebih dulu, mungkin ia tak akan merasakan itu.

“Ih, sumpah jijik banget kalau keinget bagaimana dulu aku galau dan nangis cuma karena dia.” Anin masih bergidik ngeri mengingat bagaimana ia dulu, rasanya merinding sebadan-badan.

Tangan Anin lalu tergerak membuka feed Instagramnya. Ia mengklik sebuah foto dengan latar belakang Gunung Bromo, dimana saat itu ia dan Harsa liburan sebelum akhirnya tahu jika ia tengah mengandung Zura. Anin ingat, saat itu Harsa sempat marah dan menyesal pergi. Katanya andai ia tahu Anin sudah hamil, mungkin ia tak akan mengajak ke gunung. Itu terlalu berbahaya dan beresiko.

Anin terus menggeser foto demi foto. Kali ini foto pernikahan mereka. Lalu menggeser lagi hingga pada foto maternity yang ia unggah mulai dari usia kandungan satu hingga sembilan bulan, semua ia susun rapi hingga tampilan feed postingannya tampak aesthetic.

Lalu, Anin menggeser lagi, kali ini pada sorotan dengan judul “my world” yang isinya adalah foto Harsa dan Zura.

Di slide pertama ada foto Harsa yang tengah menyetir, hanya menampakkan tangan yang memegang kemudi dan satu lagi menggenggam tangannya. Di slide kedua ada foto saat ulang tahun suaminya, di mana ia memberi kejutan tengah malam–di foto itu Harsa nampak tersenyum menutup mata dengan memakai topi kerucut, memegang kue dan wajahnya penuh dengan belepotan. Sementara slide ketiga–foto Harsa yang tidur di pahanya sembari satu tangan memegang perutnya yang seperti bola saat kehamilan delapan bulan. Anin menggeser lagi, menampakkan Harsa sedang menggendong Zura yang saat itu baru lahir dan masih banyak lagi tapi tidak ia geser habis karena air matanya sudah lebih dulu menetes.

Ia terharu.

Anin tersadar ...

Cinta yang benar itu memang seperti ini. Dia yang mau mengusahakan, dia yang mau memperjuangkan dan tidak membuatmu merasa sendirian. Cinta adalah saat seseorang merasa yakin, saat kita merasa tenang dan utuh walau keadaan mungkin menggoyahkan, saat kita merasa dihargai saat semua dunia mengabaikan, dan semua itu Anin dapatkan hanya dari Harsa.

Anin mengutuki mimpi yang sangat mengusik itu, tak senang karena dalam mimpi ia malah membuat Harsa sakit. Bisa-bisanya ia bermimpi demikian! Anin mengutuk tak suka.

“Dulu aku emang bodoh, tapi satu yang pasti aku gak akan sebodoh di mimpi itu. Menggadaikan ketulusan suamiku hanya demi kamu yang gak bisa dibandingkan dengan Harsa. Level kalian jelas beda!”

.... . ....

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!