Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"SIAL!" Alyssa tak bisa menahan umpatan saat tangannya menahan dinding. Sudah satu minggu berlalu sejak orang tuanya mengusirnya dari rumah, dan ia kembali tinggal di rumah lama milik Edgar.
Ini tidak mungkin…
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ada satu kesalahan yang ia lakukan sebelum pergi dari rumah Junior, meminum pil.
Sudah dua hari ini ia merasakan gejala kehamilan. Ia sangat mengenalinya. Dulu, saat mengandung Niko, ia merasakan hal yang sama.
Ia panik. Bukan karena ia tidak menginginkan anak itu jika benar-benar hamil, melainkan karena ayahnya. Artinya, seperti Niko, anak yang dikandungnya nanti akan tumbuh tanpa sosok ayah, tanpa pelukan, tanpa ciuman seorang ayah. Ia sudah iba pada Niko, lalu bagaimana dengan bayi ini?
Alyssa berjalan kembali ke kamar seperti mayat hidup. Pikirannya penuh, kacau, tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya ada di sini, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Haruskah ia memberi tahu Junior bahwa ia hamil? Bagaimana jika Junior kembali mencurigainya karena selama lebih dari seminggu ia bersama Edgar?
"Kamu kelihatan banyak pikiran," ujar Edgar saat masuk ke kamar. Alyssa duduk terpaku, sementara Niko tidur pulas di ranjang.
Semua barang mereka sudah terkemas di dalam koper. Besok mereka akan berangkat ke Amerika. Itu pun menjadi beban lain di kepalanya.
Apakah ia benar-benar siap ikut Edgar? Meninggalkan Indonesia?
"Alyssa, aku tahu kamu ragu. Tapi ini untukmu, untuk Niko. Tolong pikirkan masa depan kalian," kata Edgar lembut.
"Edgar… aku tidak tenang. Aku ingin bertemu Junior hari ini. Bisa?"
Edgar menarik napas panjang. Alyssa berusaha menahan tubuhnya yang gemetar. Ia tak ingin terlihat lemah. Ia harus kuat, demi anaknya, demi dirinya sendiri. Namun hatinya tetap menangis karena Junior.
Sebelum pergi jauh, ada satu hal yang harus ia lakukan. Ia harus melihat Junior, meski hanya untuk terakhir kali.
"Kamu yakin?" tanya Edgar sambil mengusap pipi Alyssa.
"Aku rasa… aku hamil," ucap Alyssa pelan. Edgar terkejut. Air mata Alyssa langsung mengalir dan ia terisak.
"Kamu yakin?"
"Iya. Aku merasa begitu. Haruskah aku bilang padanya?"
"Jangan," Edgar menggeleng. "Dia hanya akan mengira akulah ayahnya."
Alyssa menangis lebih keras. "Jadi… bayi ini akan tumbuh tanpa ayah?"
Edgar terdiam. Tak ada kata yang sanggup keluar. Hatinya sakit melihat sahabatnya hancur seperti ini.
"Aku ingin menemuinya," Alyssa memohon. "Sebelum kita pergi. Tolong…"
"Baiklah, Kalau itu yang kamu mau," Edgar akhirnya mengalah. "Tapi jangan katakan apa pun soal kehamilanmu."
"Aku tahu."
Ia tak ingin menambah luka. Cukup Niko yang sudah terluka.
***
Alyssa beristirahat sementara Edgar menyiapkan makan siang. Tak lama kemudian Niko terbangun.
"Mommy…" suara kecil itu lirih. "Kenapa Mommy sedih?" Ia memanjat dan duduk di pangkuan Alyssa.
Hati Alyssa mencelos. Bagaimana menjelaskan luka yang bahkan ia sendiri tak paham?
Ia memeluk Niko erat. "Mommy cuma banyak pikiran, sayang. Mommy baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum tipis. "Mommy mau ke Daddy. Mau ikut?"
Bagaimana jika…
Bagaimana jika mereka bertemu Junior dan ia menerima mereka kembali?
Harapan Alyssa tak pernah padam, demi Niko, demi bayi yang dikandungnya.
"Aku nggak mau lihat Daddy," Niko cemberut. "Aku nggak mau Mommy nangis lagi."
Alyssa menelan ludah. "Bagaimana kalau Daddy berubah? Bagaimana kalau Daddy menerima kita?"
"Aku harap begitu," jawab Niko pelan.
***
Junior mengetuk-ngetukkan pena di atas meja kantornya. Kepalanya penuh masalah.
Ponselnya berdering, Victor.
"Bro."
"Ayahku dan ibu tiriku berpisah," kata Victor.
"Apa rencanamu?"
"Aku akan membawa anaknya."
Junior mengangguk pelan.
Sekretarisnya masuk. "Tuan, Bu Maureen ada di sini."
Junior mengernyit. Tapi ia mempersilakan.
"Hi, sayang!" Maureen langsung memeluk dan mencium Junior.
"Di mana Kairo?" tanya Junior.
"Dengan pengasuhnya," jawab Maureen ceria.
Junior mengangguk. Ia mencoba berbincang dengannya meski pikirannya sedang sibuk.
***
Alyssa berjalan di lorong gedung perusahaan Brixton dengan langkah berat. Dadanya sesak. Semua luka seolah kembali terbuka.
Namun ia harus bertemu Junior.
Ia tak membawa Niko. Ia tahu itu bukan ide baik.
Di ujung lorong, pintu kantor Junior berdiri tertutup. Alyssa ragu.
Jika ia pergi tanpa berpamitan, penyesalan akan menghantuinya selamanya.
Akhirnya, ia mendorong pintu itu.
Dan dunianya runtuh.
Junior dan Maureen. Berpelukan. Berciuman. Tanpa peduli apa pun di sekitar.
Jantung Alyssa seperti ditusuk pisau.
Ia mundur, hampir tersandung. Tapi Junior membuka mata.
"Alyssa?"
Maureen tersenyum sinis. "Oh, kamu menikmati pemandangan ini?"
Alyssa mendekat perlahan. "Aku hanya ingin melihatmu."
"Untuk apa?" tanya Junior dingin.
"Karena…" Alyssa terdiam. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia akan pergi? Bahwa ia hamil? Bahwa ia masih mencintainya?
"Drama lagi," Maureen mendengus.
"Aku cuma ingin tahu kamu baik-baik saja," ucap Alyssa lirih.
"Pergi," kata Junior. "Keluargaku tahu semuanya."
"Aku tahu. Karena itu keluargaku membuangku," suara Alyssa pecah. "Aku nggak punya siapa-siapa selain Edgar."
Maureen mendekat dengan senyum puas. "Akui saja kamu kalah."
Alyssa tersenyum, senyum yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
lalu...plak!
satu tamparan keras mendarat di pipi Maureen.
Plak! sekali lagi.
"Aduh!" Maureen menangis.
Junior terdiam.
"Enak juga menampar selingkuhan," tawa Alyssa getir. "Masih kurang sebenarnya."
"Keluar," kata Junior.
"Aku akan pergi," jawab Alyssa dingin. "Tapi ingat, suatu hari anakmu akan membencimu. Dan aku tak akan menghalanginya."
Ia pergi.
***
Setelah itu, Alyssa dan Niko berangkat ke Amerika bersama Edgar.
Di sana, Alyssa berjanji pada dirinya sendiri dan anak-anaknya untuk memulai hidup baru. Ia akan melindungi bayi di rahimnya, mencintainya lebih dari segalanya.
Edgar bersedia menjadi figur ayah. Kekasihnya pun menyetujui.
Mereka akan membantu Alyssa bangkit, menjadi ibu tunggal yang kuat dan sukses.
Niko melanjutkan sekolahnya di Amerika. Ia semakin cerdas, gemar membaca, dan cepat beradaptasi.