Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Usaha
Yitno bersyukur ibunya tak mencurigainya, segera ia menuju pos ronda sekedar berkumpul bersama warga yang mendapat giliran ronda sekaligus Yitno ingin membuat alibi bahwa dirinya ada disitu malam itu. Malam itu pun ia berada di pos ronda berbincang dan melihat orang bermain gaple.
"Eh..ehh...tau nggak? tadi pas aku ngarit (mencari rumput untuk ternak) di belakang kuburan, aku di samperin Mbah Surip, dia cerita aneh agak ngeri.." Ucap salah satu warga
"Emang cerita apaan, Mbah Surip sama kamu?" Tanya warga lainnya
"Itu.. cerita soal kuburannya si Lastri anaknya Tarman"
"Emang ada apa sama kuburannya?" Tanya warga penasaran.
"Anu, kembang kembang di atas kuburannya tiba-tiba gak ada."
"Halah kena angin mungkin.." jawab seorang warga
"Anu sama patoknya juga agak miring katanya."
"Bisa jadi papan di dalamnya amblas, huh kirain apaan, Mbah Surip terlalu parno padahal udah jadi kuncen puluhan tahun. Mosok masalah gitu aja gak ngerti.." Sahut Yitno berusaha menggiring opini warga agar tidak curiga
"Iya bener tu si Yitno, bisa jadi gitu..." Jawab warga lain membenarkan ucapan Yitno
Diam-diam jantung Yitno berdegup kencang, ia melewatkan sesuatu..ya masalah kembang itu...
"Bener juga, kok aku gak kepikiran masalah kembang itu..aduh semoga gak ada yang curiga." Batinnya waswas
Tak lama, Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan gardu pos ronda. Ya, salah satu warga yang tak lain adalah Pak Tarjo, suami dari bude Sri tukang pecel.
"Wehh...di kampung sebelah lagi geger.." ucap pak Tarjo
"Geger apa Jo.."
"Uang nya Pak Bejo! Juragan gabah itu..hilang hampir 200 juta."
"Apa...!! Yang bener kamu jo??"
"Aku lho dari arah sana, katanya sih gak ada yang rusak. Bisa jadi orang rumah itu sendiri yang ngambil, kalau gak babi ngepet kali ya, pelakunya?" Ujar Tarjo
"Waduh bahaya, kalau sampe masuk kampung kita..."
"Hus..belum tentu babi ngepet...apa ada zaman sekarang hal kayak gitu?"
Obrolan seru dengan teori konspirasi bercampur spekulasi kian berlanjut, Yitno hanya menyimak dan pura-pura tidak tahu. Tepat pukul satu malam Yitno pun pulang dan segera masuk kamar. Ia ingin segera tidur tetapi lagi-lagi ia susah tidur. Dirinya masih dilanda rasa takut sekaligus rasa bahagia. Ia sedang berangan-angan hendak di gunakan untuk apa uang yang baru ia curi tersebut.
"Untuk sementara aku harus berpura-pura merintis usaha agar warga tak curiga. Tapi usaha apa ya? Apa ternak ikan aja ya? 'Kan ada batako, tinggal beli terpal, bibit ikan dan pakan. Sebelah rumah pekarangan masih luas, belakang juga." Batin Yitno
Dokk...dokk...dokk...
Terdengar suara ketukan, tetapi ketukan itu tak seperti di ketuk oleh tangan, itu seperti suara benturan kepala yang di benturkan ke dinding papan rumahnya, sumber suara terdengar tepat di dinding kamar bagian luar. Yitno terkejut dan mulai panik, jantungnya berdegup kencang dengan sekujur tubuh merasakan hawa pekat yang membuatnya takut.
Tiba-tiba angin kencang datang menerobos handuk yang menjadi tirai jendela kamarnya yang tanpa daun jendela itu. Handuk itu jatuh tersapu angin, di balik jendela itu Yitno melihat sesuatu.. tampak sosok wanita dengan wajah pucat pasi sedang memegang kusen jendela dan mendongak menatap Yitno dengan wajah diam tanpa ekspresi
Yitno tercekat dan terpaku, ia begitu terkejut hingga ia tak dapat menggerakkan kakinya. Sekujur tubuhnya tiba-tiba hilang kendali menyisakan rasa takut yang teramat sangat. Hantu Lastri menatapnya dengan ekspresi datar, membuatnya justru semakin menyeramkan.
Yitno yang ketakutan itu hanya bisa saling pandang. Ia berusaha memejamkan matanya dan sekuat tenaga menggerakkan kakinya...akhirnya ia mampu..dengan cepat ia masuk ke kamar ibunya dan ia peluk erat-erat.
"Lailahaillallah....Yiit....!!!!"
"Ha..hantu Mak...ha..hantu ada hantu di kamarku..."
Ibunya bangun dan memukul-mukul punggung Yitno yang tengkurap ketakutan..
"Banyak nonton film horror apa kamu hah...!! Jadi laki kucur amat kamu ini..!!!" Ibunya bangkit, di lihatnya kamar Yitno tidak ada apa-apa hanya jendela saja yang terbuka karena handuk penutup jendela yang jatuh.
"Apa beneran Yitno ngeliat hantu ya...? Kok aku juga merinding di dalam kamar ini?" Batin ibunya..
Hhhiii....hhhiiiikkkk....hhhiiii....
Terdengar suara tawa cekikan di kejauhan...
"Astaghfirullah.... Suara apa itu? Kun...Kunti..!!!" Ucap ibu Yitno yang kembali masuk ke kamarnya, ia tidur meringkuk bersama Yitno anaknya dalam ketakutan. Mereka berdua ketakutan hingga pagi menjelang...
Pagi hari, Yitno dan ibunya berada di dapur, Yitno meminum kopi sembari menonton ibunya yang lagi memasak..
"Yit, Jum'at depan ambil giliran jatah yasinan, rumah ini lama gak di yasinin mungkin, mamak denger suara mbak Kunti tadi malem. Kamar kamu di bersihin, di pel sana! Seneng hantu kalau kamarmu jorok begitu." Ujar sang ibu
"Iya Mak...hmm batako di depan aku pake boleh gak Mak?"
"Buat apa? Itu lho tabungan buat bangun rumah, kalau kalau nanti ada rezeki."
"Buat ternak ikan Mak, aku mau usaha ajalah. Nunggu kerjaan dari orang gak pasti, jadi gak tentu kayak gini."
"Emang kamu punya modal?"
"Ada Mak dikit, kemarin temenku pulangin uang yang dia pinjem, sama tambahan simpenanku, pikirku buat mas kawin kalau kalau ada perempuan yang bisa di nikahin. Tapi udahlah buat modal aja." Ujar Yitno berbohong
Ibunya yang mendengar tampak sedih melihat anak laki-lakinya tersebut. Ia membolak-balik sayur tumis kangkung cukup lama sebelum menjawab ucapan Yitno...
"Ya udah kalau untuk usaha ya udah gak papa, mamak doain semoga berhasil, emangnya kamu mau ternak ikan apa?"
"Yang gampang jualnya aja Mak, Nila."
"Ya udah, nanti mamak mau kepasar, kamu titip apa?"
"Terpal Mak, sama Sanyo.."
"Hah...?? Sanyo?"
"Lah ngisi kolam nimba ya capek lah Mak..kan buat mandi juga jadi kita gak nimba lagi Mak."
"Alhamdulillah...mamak udah lama pengen beli lho... Tapi mamak bawa pipanya gak bisa lah"
"Naek becak Mak, kita gak punya kendaraan."
"Ya udah sini duitnya.."
Yitno beranjak pergi ke kamarnya mengambil uang satu juta setengah di berikan kepada ibunya..
"Banyak banget Yit?"
"Kalau-kalau kurang Mak, kan sama pipanya..tanya aja di toko besi pada tau ukurannya. O.. iya Mak terpalnya enam biji ukuran 3x4.."
"Banyak banget, kamu mau buat berapa kolam?"
"Tiga Mak, mau ku double takutnya getas bocor nanti"
Seharian Yitno begitu sibuk memindahkan batako dari halaman depan rumah ke samping rumah. Ia pun membersihkan area yang akan di jadikan kolam ikan nila yang akan ia pelihara, ak lupa ia membuat saluran pembuangan air. Malam harinya ia begitu kelelahan, ia tertidur pulas tanpa gangguan..