NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Arkan menghadapi kelima pria itu dengan posisi tubuh yang terlihat sedikit kaku, sengaja menunjukkan celah agar ia tidak tampak seperti ahli bela diri profesional. Saat pemimpin geng itu melayangkan pukulan pertama, Arkan menangkisnya dengan gerakan yang agak lambat, membiarkan sebuah tendangan mendarat cukup keras di lambungnya.

"Uhuk!" Arkan terhuyung jatuh ke aspal. Ia bisa saja mematahkan leher pria itu dalam tiga detik, tapi ia tahu Naura mungkin masih mengawasi dari kejauhan. Ia harus tetap berada dalam perannya sebagai "siswa SMA yang nekat tapi terbatas".

Satu pukulan mentah mengenai rahangnya, membuat sudut bibirnya berdarah. Arkan tersungkur, berpura-pura kehilangan tenaga untuk bangkit kembali.

"Cuma segini kemampuan pahlawan sekolah?" ejek pria itu sambil bersiap melayangkan tendangan terakhir ke arah kepala Arkan.

Namun, suara raungan mesin motor lain dan sorot lampu terang dari kejauhan menghentikan mereka.

Naura tidak benar-benar lari ke pos satpam, ia berhenti di balik tembok dan segera bertindak dengan satu-satunya cara yang aman bagi penyamarannya, menghubungi Najam.

"Kak! Tolong! Aku di jalan dekat kafe, Arkan... Arkan dikeroyok orang!" suara Naura di telepon terdengar pecah dan penuh kepanikan, sebuah akting yang sempurna padahal tangannya yang lain sedang mengepal kuat, menahan geram melihat Arkan dipukuli.

Melihat ada mobil Najam yang datang dengan kecepatan tinggi, geng motor itu panik.

"Cabut! Ada orang lain datang!" teriak mereka sambil memacu motor meninggalkan lokasi.

Najam mengerem mendadak dan langsung keluar dari mobil, wajahnya pucat pasi. Ia menemukan Arkan terkapar di jalan dengan luka lebam, sementara Naura berlari mendekat dengan wajah yang tampak sembap karena tangis buatan.

"Arkan! Lo nggak apa-apa?!" Najam memapah Arkan, sementara Naura membantu memegang lengan Arkan yang lain.

"Gue... nggak apa-apa, Jam. Cuma agak pusing," gumam Arkan pelan. Matanya yang sedikit terpejam melirik ke arah Naura. Ia melihat gadis itu tampak sangat khawatir, tapi Arkan bisa merasakan genggaman tangan Naura di lengannya tidak gemetar sama sekali. Dingin dan stabil, pikir Arkan.

"Ayo masuk mobil sekarang! Kita ke rumah sakit," perintah Najam tegas.

Di dalam mobil, Naura duduk di kursi belakang bersama Arkan, membersihkan luka di bibir Arkan dengan tisu. "Makasih ya, Arkan... harusnya lo nggak usah sejauh itu buat gue," ucap Naura dengan suara lembut yang sangat meyakinkan.

Arkan menatap mata Naura lekat-lekat di tengah kegelapan mobil. "Sama-sama. Tapi lain kali, jangan pulang selarut ini sendirian, Naura. Dunia luar itu berbahaya... penuh dengan orang yang suka memalsukan identitas."

Naura tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bagi Najam terlihat seperti rasa terima kasih, tapi bagi Arkan, itu adalah balasan tantangan yang nyata.

......................

Najam tidak membawa Arkan ke rumah sakit karena Arkan bersikeras bahwa lukanya hanya luka ringan. Akhirnya, Najam memutuskan untuk membawa Arkan kembali ke rumah mereka agar bisa diobati dengan lebih santai.

Sesampainya di ruang tamu, Najam segera mengambil kotak P3K dari lemari. Ia menoleh ke arah Naura yang tampak ingin segera masuk ke kamarnya.

"Ra, tolong obatin Arkan ya," pinta Najam sambil menyodorkan kotak itu. "Kakak harus angkat telepon dari kantor dulu, ini penting banget. Lagian kan Arkan begini gara-gara nolongin kamu."

Naura menghentikan langkahnya, wajahnya menunjukkan keberatan yang tertahan. "Tapi Kak, aku nggak biasa..."

"Nggak ada tapi-tapi," potong Najam tegas namun tetap lembut, sedikit memaksa adiknya. "Dia teman Kakak dan dia sudah berkorban. Masa kamu tega diemin? Obatin ya, Ra. Kakak ke belakang sebentar."

Najam segera pergi ke ruang kerja, meninggalkan keheningan yang canggung sekaligus mencekam di antara dua orang dewasa yang sedang menyamar itu.

Naura menghela napas panjang, lalu duduk di sofa tepat di hadapan Arkan. Ia membuka kotak P3K dengan gerakan yang sangat efisien, jauh lebih cekatan daripada seorang siswi SMA biasa. Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik.

"Sini," perintah Naura dingin. Tidak ada lagi nada "adik yang lembut".

Arkan mendekatkan wajahnya. Ia memperhatikan bagaimana jemari Naura bergerak. Meski wajah gadis itu terlihat kesal, sentuhannya saat mengusap luka di sudut bibir Arkan sangat stabil dan terukur.

"Lo sengaja kan?" bisik Naura sangat pelan agar tidak terdengar hingga ke ruang kerja Najam. "Gue tahu tipe orang kayak lo nggak akan kalah cuma sama lima preman kelas teri itu."

Arkan meringis sedikit saat antiseptik menyentuh lukanya, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Naura. "Sama seperti lo yang sengaja 'ketakutan', kan? Padahal gue tahu lo sanggup matahin tangan mereka sebelum mereka sempat turun dari motor."

Naura menekan kapas itu sedikit lebih keras pada luka Arkan sebagai bentuk peringatan. "Jangan sok tahu, Arkan."

"Gue nggak sok tahu. Naura," balas Arkan dengan suara yang hampir tidak terdengar, namun berhasil membuat gerakan tangan Naura membeku seketika. "Gue cuma penasaran, apa yang dicari seorang lulusan Oxford di SMA biasa ini?"

Suasana menjadi sangat sunyi. Naura menatap Arkan dengan tatapan yang bisa membunuh, sementara Arkan hanya memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan di balik luka lebamnya.

Arkan memejamkan matanya sejenak, mengeluarkan suara ringisan tertahan yang terdengar sangat meyakinkan di telinga orang awam. Namun, di balik aktingnya itu, detak jantungnya tetap tenang dan stabil. Luka lebam dan perih di wajahnya hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan berbagai luka yang pernah ia alami sebelumnya.

"Pelan-pelan, Naura. Gue baru aja selamatin lo, bukan mau disiksa lagi," gumam Arkan dengan nada serak, masih mempertahankan perannya sebagai korban yang kesakitan.

Naura tidak tertipu. Ia bisa merasakan otot rahang Arkan yang tetap rileks, bukan tegang seperti orang yang benar-benar menahan sakit. Ia tahu pria di depannya ini sedang mempermainkan emosinya di bawah atap rumah kakaknya sendiri.

"Kalau sakit, artinya lo masih hidup," balas Naura dingin. Ia mengambil plester dan menempelkannya di pelipis Arkan dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah sedang melakukan prosedur bedah yang presisi. "Lain kali, kalau nggak bisa berantem, mending telepon polisi daripada sok jadi pahlawan."

Arkan membuka matanya, menatap Naura yang jaraknya hanya beberapa sentimeter darinya. "Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa, Ra. Apalagi di depan rumah Najam. Bisa habis gue sama kakak lo kalau adek kesayangannya lecet sedikit aja."

Tepat saat itu, langkah kaki Najam terdengar mendekat dari arah dapur. Naura segera mengubah ekspresi wajahnya. Ketajaman di matanya menghilang, digantikan dengan raut wajah "adik kecil" yang tampak telaten dan peduli. Ia sedikit menjauhkan posisinya agar tidak terlihat terlalu intim.

"Gimana? Udah selesai?" tanya Najam sambil membawa dua gelas air putih.

"Sudah, Kak. Untung cuma luka luar," jawab Naura lembut, suaranya kembali manis seperti madu. Ia membereskan kotak P3K dengan rapi. "Aku ke kamar dulu ya, Kak. Ngantuk banget."

Sebelum benar-benar berbalik, Naura memberikan satu tatapan terakhir yang penuh peringatan kepada Arkan, sebuah pesan tanpa kata yang mengatakan: 'Permainan kita baru saja dimulai.'

Najam duduk di samping Arkan dan menepuk bahunya. "Sori ya, Arkan. Naura itu emang agak kaku kalau sama cowok baru, tapi dia anaknya baik banget. Makasih banyak ya udah jagain dia malam ini."

Arkan meminum air yang diberikan Najam, matanya menatap pintu kamar Naura yang tertutup rapat. "Nggak masalah, Jam. Gue rasa... gue bakal sering-sering 'jagain' dia mulai sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!