"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindrom Couvade
Ava masuk ruangan atasannya dengan langkah tergesa. Kedua matanya membola sempurna begitu melihat suaminya tergeletak tak berdaya di lantai. Ia segera mendekat dan berusaha membangunkan suaminya. Tapi, sebelum itu ia meminta maaf pada Nero.
"Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Nero seraya beranjak dari duduknya, membantu Ava mengangkat Pedro dan merebahkannya ke sofa.
"Kata dokter dia mengalami Sindrom Couvade," jawab Ava, sembari menggosok telapak tangan suaminya agar segera sadar.
"Sindrom Couvade?" beo Nero dengan lirih.
Ava mengangguk, "iya, kehamilan simpatik yang artinya dia mengalami gejala seperti wanita hamil, seperti ngidam, perubahan emosi, pusing, mual dan muntah." Ava memberikan penjelasan pada atasannya itu.
Nero mengangguk tapi tangannya menggaruk pelipisnya dengan raut bingung.
Ava berdecih sebal saat melihat ekspresi Nero. "Anda ini hanya cerdas dalam berbisnis. Masalah seperti ini pasti tidak paham, 'kan?" cibirnya sambil membuka beberapa kancing kemeja suaminya.
"Paham!" Nero menjawab lantang dan penuh percaya diri. Ia tentu gengsi mengakui kekurangannya.
Ava geleng-geleng kepala sambil memutar kedua matanya malas. "Semoga saja Nona Elle tahan dengan pria kaku seperti Anda," ejek Ava, menahan tawa.
"Hei, Nona Rusia! Kau pikir aku ini patung?! Tentu saja dia tahan bersamaku. Karena aku kaya dan tampan paripurna." Nero segera menyahut dengan segala rasa percaya diri yang sangat tinggi sembari membentangkan kedua tangannya, lalu tertawa angkuh dengan kepala sedikit mendongak.
"Tuan tidak semua hal bisa di ukur dengan uang dan ketampanan," balas Ava, menatap serius.
"Benarkah?"
"Iya, kau akan tahu nanti," jawab Ava, tersenyum simpul saat melihat suaminya sudah sadar.
"Nyatanya dengan uang aku dapat membeli segalanya," gumam Nero, dalam hati.
*
"Argh, kepalaku pusing sekali," keluh Pedro begitu membuka mata lalu memijat kepalanya.
Ava membantunya duduk.
"Kau pingsan," ucap Ava, mengambilkan air untuk suaminya.
Pedro menerima segelas air dari istrinya lalu meneguknya sampai tanda. Kemudian, menatap istrinya dengan dalam. "Maafkan aku, Sayang. Aku selalu merepotkanmu," kata Pedro merasa bersalah dan tidak berguna karena selalu membuat istrinya repot belakangan ini.
"Tidak masalah, berkatmu aku tidak merasakan morning sickness yang menyiksa," jawab Ava, terkekeh pelan.
"Ah, kau menggemaskan sekali. Aku mencintaimu, Ava Winters." Pedro langsung menarik istrinya ke dalam dekapannya.
Ava tersenyum membalas pelukan suaminya. Pasangan itu sampai melupakan Nero yang berdiri di tengah ruangan itu.
Nero geleng-geleng kepala, meskipun agak jengah melihat pasangan itu tapi ia tidak menegur malah membiarkan. Ia segera keluar ruangan itu menuju rumah sakit, menjemput Elle.
*
Lobi rumah sakit. Elle dan kedua orang tuanya menunggu Nero datang menjemput.
"Mungkin dia lupa, Mom. Kita sudah menunggu hampir setengah jam di sini," ucap Elle pada ibunya.
"Dia sangat sibuk, jadi maklumi saja. Dia sibuk juga untuk masa depanmu, 'kan," sahut Ben, menasehati putrinya agar lebih pengertian dan bersabar.
"Sebenarnya dia mencintaiku tidak?" gumam Elle tapi masih terdengar ditelinga kedua orang tuanya.
"Zaman sekarang cinta itu tidak penting, yang penting adalah uang," sahut Gloria yang langsung mendapatkan lirikan suaminya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Benarkan yang aku ucapkan tadi? Cinta bukan yang utama karena uang lebih dari segala-galanya," imbuh Gloria, nyengir lebar.
Sedangkan Ben mengangguk setuju, seraya mengecup puncak kepala istrinya.
Elle melirik kedua orang tuanya bergantian, "apa kalian menikah tanpa cinta?"
"Iya, bisa dibilang begitu." Ben yang menjawab.
"Jadi, Daddy tidak mencintai Mommy?"
"Tentu saja kami saling mencintai," jawab Ben dan Gloria bersamaan.
"Lalu kenapa kalian mengatakan hal tersebut padaku kalau cinta bukan segalanya!" balas Elle, agak jengkel sambil cemberut kesal pada orang tuanya.
Ben dan Gloria nyengir lebar sebagai jawaban.
Tak berselang lama mobil mewah Nero berhenti di depan lobi rumah sakit.
"Itu dia datang. Sana, hampiri Nero." Ben mendorong putrinya agar segera melangkah maju.
Dengan malas Elle mendekati mobil Nero.
Nero segera turun dari mobil, membuka pintu untuk kekasihnya. ia tertegun sejenak saat melihat kekasihnya sudah buka perban.
"Kenapa?!" Elle sewot karena tidak nyaman di tatap seperti itu.
"Kau cantik," puji Nero, tersenyum tulus seraya mengelus pucuk kepala kekasihnya dengan gemas.
Deg!
Elle membeku sejenak, jantungnya berdetak sangat cepat.
Kepalanya yang di elus tapi hatinya yang berantakan. Baper akut. Semurah inikah dirinya? Padahal dari kemarin ingin ngambek lebih lama, tapi nyatanya tidak bisa, huaaa🤣
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜