NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lidi dan Bayang-Bayang Otoritas

Angin malam berhembus kencang di balkon tinggi yang menghadap ke arah Sungai Amerta, membawa aroma tanah basah dan samar wangi melati dari kejauhan. Seorang pria berdiri mematung di sana, membelakangi kemegahan bangunan batu yang menjadi pusat kekuasaan Indraloka.

Di tangannya, dia memutar-mutar sebuah benda kecil yang tampak sangat kontras dengan kemewahan pakaian sutra yang dia kenakan.

Benda itu hanyalah sebuah tusuk konde kayu cendana. Permukaannya halus karena sering disentuh, memancarkan aroma wangi yang menenangkan sekaligus mengingatkan pria itu pada sepasang mata tajam yang menatapnya tanpa rasa takut di tengah lereng hutan.

Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh deru angin. "Prosedur keamanan, papan peringatan," gumamnya.

Dia mencoba mengeja istilah itu berulang kali, mencari makna di balik kombinasi kata yang terdengar seperti mantra asing tersebut.

Apakah itu sebuah kode rahasia yang selama ini tidak dia ketahui? Ataukah itu sekadar racauan seorang wanita yang memang sudah kehilangan kewarasannya seperti selentingan yang dia dengar di pasar?

Sebuah senyuman tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Bayangan wanita berwajah putih tebal yang memarahinya habis-habisan karena hampir melepaskan anak panah melintas di benaknya.

Keberanian wanita itu sangat janggal, tapi entah mengapa, terasa sangat menyegarkan di tengah rutinitas istana yang penuh dengan sembah sujud yang membosankan.

Suara derap langkah kaki yang teratur di atas lantai pualam membuat senyuman itu hilang seketika. Wajah pria itu kembali mengeras, sedingin es yang menyelimuti puncak Lembah Kabut di musim hujan. Dia segera menyembunyikan tusuk konde itu ke dalam lipatan jubahnya sebelum berbalik.

"Kakanda Ararya," panggil seorang pria muda yang baru saja melangkah masuk ke balkon.

Penampilannya gagah, dengan rompi bersulam benang perak dan sebilah keris dengan hulu emas bertahta permata yang terselip di pinggangnya.

Pria yang dipanggil Ararya itu menatap adiknya dengan tatapan datar. "Ada apa, Abimanyu?"

Abimanyu terkekeh, melangkah mendekat hingga berdiri di samping kakaknya. "Ayahanda Raja menanyakan keberadaanmu. Sejak pulang dari berburu di lereng tebing, Kakanda lebih banyak menghabiskan waktu menatap rembulan daripada memeriksa catatan upeti rempah dari Balai Dagang."

"Laporan itu akan aku periksa besok pagi," jawab Ararya dingin. "Hutan hari ini sangat sunyi, aku hanya butuh sedikit ketenangan."

"Sunyi?" Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. "Tadi sore aku mendengar ada keributan kecil di pasar bawah. Para pengawal bilang ada seorang nona dari Kediaman Jati Jajar yang mengamuk. Aku penasaran apakah dia orang yang sama, yang mengamuk karena hampir terkena panah nyasar. Apa itu sebabnya Kakanda terlihat begitu ... terganggu?"

Ararya tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke arah kegelapan hutan di seberang sungai, tempat Kediaman Jati Jajar berdiri dengan lampu-lampu minyak yang mulai menyala redup.

Di Kediaman Jati Jajar, suasana seharusnya sunyi karena perintah Citra yang mengurung putri sulungnya di dalam kamar.

Namun, Rosie bukanlah tipe orang yang bisa duduk diam hanya karena selembar kain penutup pintu yang diikat tali. Sebagai manajer yang terbiasa menangani krisis di lapangan, pengurungan ini justru memberinya kesempatan untuk melakukan audit tanpa gangguan.

Dengan langkah yang sangat pelan, Rosie menyelinap keluar melalui celah dinding bambu di bagian belakang kamarnya yang memang sudah agak longgar. Dia mengabaikan rasa perih di pergelangan kakinya yang masih dibalut ramuan jahe.

Tujuannya hanya satu, gudang rempah di bagian belakang. Gudang itu remang-remang, hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang dibawa Jaka. Wira berdiri sigap di depan pintu masuk, sesekali melirik ke arah rumah utama untuk memastikan tidak ada pelayan lain yang terbangun.

"Nona, ini sangat berbahaya. Jika Nyonya Besar tahu, kami tidak akan selamat," bisik Wira dengan suara yang gemetar.

"Ssst! Berisik!" sahut Rosie sambil berjongkok di depan dua karung lada hitam yang tadi sore dia beli. "Aku cuma mau mengecek sampel ini. Bantu aku buka ikatannya."

Jaka dengan cepat memotong tali rami yang mengikat karung tersebut. Begitu terbuka, aroma pedas lada yang tajam langsung menusuk hidung Rosie. Dia mengambil segenggam biji lada, membawanya mendekat ke cahaya lampu, lalu mulai memilahnya dengan teliti.

"Lihat ini, Jaka," ucap Rosie sambil menunjuk butiran lada yang ukurannya tidak seragam. "Ini adalah lada hitam yang aku beli di pasar tadi. Harganya sepuluh keping Aruna per cupak, tapi lihat kualitasnya. Banyak butiran yang pecah dan sudah mulai berjamur karena penyimpanan yang buruk."

Rosie kemudian mengambil lidi-lidi hitung milik Mbok Sum yang ada di atas meja kayu. Dia meletakkan beberapa butir lada di atas meja, membentuk kelompok-kelompok kecil.

"Kita akan pakai sistem sederhana. Satu lidi untuk setiap karung lada kualitas utama, dan satu batu untuk setiap karung yang kualitasnya menurun," instruksi Rosie. "Aku butuh kalian mencatat ini setiap kali ada pasokan masuk. Kita harus tahu berapa banyak penyusutan atau kerugian yang kita alami sebelum barang ini dikirim ke kerajaan."

Wira dan Jaka melongo melihat cara Rosie bekerja. Mereka belum pernah melihat seseorang menggunakan batu dan lidi dengan cara yang begitu sistematis untuk menghitung kerugian.

"Tapi Nona," sela Jaka pelan. "Masalah lada di pasar tadi, bukankah pedagang itu curang karena tekanan upeti raja? Tadi sore Nona sendiri yang mendengar itu."

Rosie menghentikan gerakannya, teringat wajah ketakutan pedagang lada yang timbangannya tidak akurat. "Iya, aku tahu. Pajak, maksudku upeti kerajaan yang terlalu tinggi membuat orang-orang di pasar melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Tapi itu bukan alasan bagi pedagang untuk membohongi kita soal timbangan di gudang ini."

"Nona harus berhati-hati," bisik Wira dengan nada memperingatkan. "Membicarakan kekuasaan raja dan kebijakan upeti adalah hal yang tabu. Titah raja adalah hukum tertinggi di Indraloka. Kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya."

"Iya deh, iya," jawab Rosie sambil memutar bola mata, sebuah kebiasaan yang tidak pernah hilang. "Aku enggak akan demo di depan istana sekarang. Tapi seenggaknya kita harus tahu di mana kebocoran uang kita. Jika pedagang curang itu mengambil keuntungan dua cupak dari setiap sepuluh karung, itu namanya korupsi kecil-kecilan."

Di balik bayangan tumpukan karung cengkeh yang berbau tajam, Putih berdiri mematung. Dia telah mengikuti Rosie sejak tadi, bersembunyi di balik kegelapan dengan napas yang tertahan.

Wajahnya tampak bingung. Biasanya, jika Merah sedang marah atau kesal karena dikurung, dia akan memanggil Putih hanya untuk menyuruhnya memijat kaki atau mencuci tumpukan kain sutra yang sebenarnya tidak kotor.

Namun malam ini, kakaknya justru sibuk dengan debu gudang, karung lada, dan lidi-lidi hitung. Merah yang sekarang terasa begitu jauh.

Tidak ada lagi suara lengkingan yang menghina kasta atau kemiskinannya. Yang ada hanyalah seorang wanita yang tampak sangat serius menghitung butiran lada seolah itu adalah butiran emas.

"Kenapa dia tidak memarahiku?" bisik Putih dalam hati dengan raut wajah yang tampak sangat terganggu. "Apa yang sedang dia rencanakan dengan semua debu ini?"

Putih menatap tangannya yang bersih, lalu menatap punggung Rosie yang kini terkena noda arang dari lidi hitung. Ada rasa cemas yang tidak bisa dia jelaskan, seolah-olah panggung sandiwara yang selama ini dia kuasai mulai bergetar karena langkah-langkah baru yang dibuat oleh kakaknya.

Rosie tidak menyadari keberadaan adiknya. Dia terus mencatat di atas lembaran buku baru, menggunakan cahaya lampu minyak yang mulai meredup. Baginya, setiap angka yang dia temukan malam ini adalah langkah awal untuk melakukan audit total terhadap takdirnya di Indraloka.

1
Hana Agustina
y Allah.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: jangan dong, lagi bulan Ramadhan soalnya🤭
total 1 replies
Sita Sakira
ahhh gemes deh sama kelakuan putih😭🤣
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭cubit aja
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪💪💪 lanjut
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
alah sok peduli
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
akhirnya ibu mengakui merah
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu: sama-sama min
Samagat terus min
total 2 replies
lin sya
bagus putih teruslah bermain halus dan mengamati gerak gerik Rosie alias bawang merah, klo baca alurnya knp skrg yg antagonis siputih thor bkn simerah lgi, hrusnya sft antagonis gk melulu jahat tpi pertahanan diri buat bertahan hidup, ini kayaknya sirosie pinter iya bodoh iya julukan nya trmsuk karakter menye menye bkn thor gk bsa liat musuh dlm selimut kyk putih dan melati apa hrus dibikin mentalnya terpuruk baru sadar, greget tau 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤣 hahaha
kasian rosie dikatain mulu
bener, antagonis gak selalu jahat
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍 ada pangeran
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪
fril bunny🌼
lama²gw sleding juga ni si melati,suka banget memprovokasi si putih🗿💢
🍃🌸sativa🌸🍃
harus nya up gila gilaan sih thorr 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 2 bab perhari itu dah gila menurutku yg biasanya up 1 bab perminggu
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
rosie mah gitu, gak ad curigaan dikit kek ke putih
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
lah malah nyalahin orang, itu mah salah elu
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara putih nih, nambah beban rosie kan
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
kasian rosie, baru juga mau bahagia
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
tuh kan, jadi bawa bencana deh buat keluarga
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
itu bukan emas lah, oon luh
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara si ular rupanya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
emang dasar si bawang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!